QUIN merapatkan kedua kakinya, tangannya tertumpu di atas lutut. Kini ia duduk di ruang tamu rumah pria itu, yang berdiri di puncak bukit, lengkap dengan aroma kayu dan udara sejuk.
Di sisinya, anjing putih berbulu lebat itu menatapnya dengan wajah polos, seolah berkata: “Aku tidak bersalah, sumpah.”
Quin mencondongkan tubuh sedikit, berbisik pada si anjing, “Gara-gara kamu… aku nyaris jatuh berguling sampai ke kaki bukit. Untung saja nyawaku masih utuh.” Ucapannya diakhiri dengan senyum tipis, lebih kepada menenangkan diri sendiri daripada menegur hewan itu.
Dari dapur, terdengar bunyi laci dibuka dan ditutup. Pria berkacamata itu muncul sambil membawa kotak P3K, jalannya agak mirip pegawai pos yang sedang buru-buru. Ia menatap Quin sebentar, lalu berkata dengan nada serius, “Sebelumku obati… izinkan saya menyentuh kaki anda.”
Quin sempat mengerutkan kening. Ini ngobatin kaki atau mau lamaran adat sih? pikirnya. Tapi ia tetap mengangguk.
Pria itu berjongkok dan mulai membersihkan pergelangan kaki Quin, sambil bergumam seperti dukun desa yang sedang merapal mantra. “Ah, begitulah kira-kira kehidupan… kadang kita naik untuk menggapai mimpi, eh malah disandung anjing.”
Quin menahan tawa, lalu menatapnya.
“Maaf,” ucap pria itu tiba-tiba, “gara-gara anjingku… anda jatuh dan terluka.”
Quin hanya mengangguk pelan. Hening sejenak.
“Ngomong-ngomong… siapa namamu?” tanyanya sambil tetap fokus membalut.
Quin mengangkat alis. “Bukankah… seharusnya anda memperkenalkan dirimu lebih dulu?”
Pria itu terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap. “Ah iya! Ibuku selalu bilang, ‘jangan bertanya nama orang sebelum kau menyebut namamu’. Namaku Dixon.” Ia mengucapkannya dengan nada pahlawan dalam film lama, seolah-olah Quin sebagai penonton harus bertepuk tangan.
Aneh... pria aneh!
"Saya Quin." Quin menahan senyum, mencoba mengabaikan gaya dramatis pria di depannya. "Dixon, ya? Nama yang… cukup jarang kudengar. Kedengarannya seperti nama detektif di novel-novel tua.”
Dixon mengangkat dagu sedikit, bangga. “Benar. Saya memang sering memecahkan misteri… seperti misteri kenapa anjingku suka lari tanpa alasan.”
Quin menatap anjing putih di sebelahnya yang sedang menjilat bulu kaki sendiri. “Kalau misteri itu, saya rasa jawabannya sederhana karena dia punya tuan yang aneh.”
Dixon langsung pura-pura terkejut. “Astaga, baru lima menit saling kenal, anda sudah menyerang reputasiku di rumahku sendiri? Nona anda cukup berani, " ucapnya sambil bertepuk tangan.
"Hebat-hebat!"
Quin tersenyum tipis, mencoba menahan tawa. “Kalau begitu, anggap saja ini… balas dendam kecil karena saya jatuh gara-gara anjingmu.”
Dixon menghela napas panjang, lalu mengangguk seperti orang yang baru kalah debat di pasar. “Baiklah, dendam diterima. Tapi sebagai tuan rumah, saya akan menutup pertemuan ini dengan perdamaian.”
Ia menunjuk ke arah dapur. “Sebelum saya menghantar anda pulang, saya akan membuatkan teh hangat. Gratis, tanpa racun, sebagai tanda itikad baik.”
Quin hanya geleng-geleng, tak yakin harus tertawa atau merasa waspada. "Haruskah aku kabur sekarang?"
Tak lama kemudian, Dixon kembali dari dapur. Di tangannya ada nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sebuah piring berisi roti kering yang bentuknya tidak jelas. Setengah mirip bintang, setengahnya lagi mirip telapak kaki ayam.
“Silakan,” ujarnya sambil meletakkan nampan di meja. “Teh ini resep keluargaku. Sangat enak. Lalu roti ini… yah, hasil eksperimenku yang gagal tadi pagi dan terlalu sayang kalau dibuang.”
Quin mengangkat alis, memandangi roti itu sejenak. “Apa roti ini aman dimakan manusia?” tanyanya dengan nada setengah serius. Wajahnya menunjukkan keraguan untuk mencicip roti buatan Dixon.
Dixon pura-pura tersinggung. “Hei, aku sudah mencoba satu tadi dan lihat aku masih hidup. Ah, lupakan formalitas nona. Sekarang kita sudah jadi teman.”
“Baiklah. Ngomong-ngomong kau kelihatan seperti tipe orang yang kebal terhadap racun makanan,” balas Quin, membuat Dixon terkekeh kecil.
Ia menuangkan teh untuk Quin, lalu duduk di kursi seberang sambil menatapnya dengan rasa penasaran yang sulit disembunyikan. “Jadi… Quin,” ia menyebut nama itu untuk pertama kalinya dengan penyebutan hati-hati, “Kau tinggal di desa ini juga?”
Quin mengangguk, menyesap teh perlahan. “Ya. Dan ini pertama kali aku bertemu… seseorang sepertimu.”
Dixon memiringkan kepala. “Seseorang seperti aku?”
Quin tersenyum tipis. “Pria berkacamata di puncak bukit… yang meminta izin sebelum mengobati kaki, tapi tidak meminta izin sebelum membuat orang jatuh karena anjingnya.”
Dixon tertawa lalu mengangkat cangkir teh sebagai tanda kalah. “Touché, Nona Quin. Touché.”
Setelahnya keheningan melanda dua manusia itu.
"Slurupp.." Dixon menyesap tehnya perlahan, matanya sesekali melirik Quin dari atas bibir cangkir. Ada senyum tipis yang sulit dibaca, antara ramah atau ia sedang menyimpan sesuatu.
Saat Quin menatapnya balik, Dixon segera mengalihkan pandangan, pura-pura fokus pada roti kering yang bentuknya tragis itu. “Kau tahu,” katanya ringan, “Aku jarang sekali mendapat tamu di rumah ini. Apalagi… tamu yang jatuh tepat di depan pintu takdir.”
Quin berkedip, bingung. “Pintu takdir?”
Dixon hanya mengangkat bahu, menaruh sepotong roti ke mulutnya. “Ah, itu cuma gaya bicaraku. Abaikan saja.” Tapi sorot matanya berkata lain—ada pengakuan yang ia sembunyikan rapat.
Ada yang aneh dengannya, batin Quin.
Suasana hening sesaat. Di luar, angin bukit meniup lembut dedaunan membuat daun-daun yang layu berguguran.
Quin menyesap tehnya lagi, mencoba memecah keanehan. “Jadi… apa kau tinggal sendirian di sini?”
Dixon menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Ya… sendirian. Setidaknya, sampai hari ini.”
Nada suaranya terdengar terlalu mantap untuk jawaban santai, membuat Quin tanpa sadar menegakkan punggung. Ada sesuatu pada pria ini. Dari cara ia berbicara, cara ia menatap dan terasa seperti ia tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.
"Aku bukan pembunuh lho," gurau Dixon saat melihat bagaimana raut wajah Quin saat ini. Gadis itu tampak sedikit lebih waspada dibanding ia membawanya ke rumah.
"Aku sama sekali nggak berpikir seperti itu lho," balas Quin menggunakan nada yang sama seperti pria di depannya.
Dixon menyandarkan punggung ke kursi, mengaduk tehnya perlahan. “Kalau bukan kerana anjingku, kita mungkin nggak akan duduk di sini.”
Quin meneguk tehnya pelan. Hanya tinggal sedikit, setelah menghabiskan tehnya ia ingin segera pulang. “Ya, dan kalau bukan kerana anjingmu, kakiku nggak akan terkilir.”
Dixon tersenyum kecil, menunduk seolah mengakui kesalahannya, tapi sekilas tatapannya ke arah Quin tampak tajam, lalu menghilang seperti tak pernah ada. “Mungkin memang ada hal-hal yang sengaja diatur… bahkan oleh anjing.”
Quin memiringkan kepala, menatapnya dengan rasa ingin tahu. “Kau memang suka bicara aneh, ya?”
“Bukan aneh,” Dixon menegakkan posisi duduknya, “Aku hanya percaya, setiap pertemuan punya cerita yang sudah menunggu untuk ditulis. Termasuk yang ini.”
Quin tertawa kecil, tidak tahu harus menanggapi serius atau tidak. “Kalau begitu, pastikan kau menulis bab di mana aku pulang dengan selamat.”
Dixon mengangkat alis, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Bab itu belum tentu cepat datang, Nona Quin.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi entah kenapa membuat Quin terdiam. Ia tak tahu, apakah pria berkacamata di depannya hanya sedang bercanda atau sebenarnya menyembunyikan sesuatu yang tidak ia mengerti.
Keheningan kembali tercipta. 15 menit berlalu namun satu pun tidak ada yang berniat membuka suara. Quin dengan pemikirannya dan Dixon dengan tehnya.
"Hahh,"
Dixon menaruh cangkir tehnya di meja, lalu berdiri dengan gerakan mantap seperti baru saja membuat keputusan besar. “Kalau begitu… izinkan aku mengantarkanmu pulang. Dan mungkin… sekalian mengembalikan rasa hormat desa yang baru saja Bibo hancurkan.”
Hadeh, lagi-lagi kalimat itu. Maksudnya apa coba, batinnya tak mengerti.
Quin mengerjap, berdeham pelam. Ia tidak yakin harus tertawa atau mengernyit. “Rasa hormat desa?”
Dixon mengangguk penuh keyakinan. “Ya. Kau tahu… di desa kecil seperti ini, kalau ada tamu jatuh gara-gara anjing tuan rumah, itu bisa jadi bahan gosip selama tiga musim tanam.”
Quin menahan tawa. “Dan kau pikir mengantarku pulang akan… memulihkan reputasimu?”
“Setidaknya aku bisa menunjukkan pada para tetua bahwa aku nggak membiarkan seorang gadis pulang sendiri dengan kaki terkilir. Itu merupakan langkah awal menuju pemulihan nama baik.”
Sambil bicara, Dixon mengambil jaket lusuhnya yang tergantung di belakang pintu. Ia memakainya seperti seorang detektif di film hitam putih, lalu melirik ke arah Quin. “Ayo. Sebelum matahari turun atau sebelum Bibo memutuskan lari keliling desa lagi.”
Quin berdiri perlahan, dibantu Dixon. Meski nada bicaranya kerap konyol, gerakannya tetap hati-hati agar tidak membuat kakinya bertambah sakit. Dan entah mengapa, di balik semua keanehan itu, Quin merasa aman berjalan di sampingnya.
"Makasih," lirih Quin yang hanya mampu didengar oleh pria itu. Dixon tersenyum sedikit menundukkan pandangannya menatap wajah cantik itu dari atas.
"Sama-sama."
•
•
•