QUIN membuka bekal yang sudah disiapkan Prim tadi pagi. Terik siang menyengat kebun, dan setelah empat jam bekerja tanpa henti, perutnya pun menuntut untuk diisi.
Sambil menikmati masakan yang disiapkan Prim, matanya menerawang, menatap kebun kol milik ibunya yang luas itu. Kebun itu terletak sekitar tiga kilometer dari rumahnya.
Sedangkan kebun sayur di dekat rumahnya sendiri hanyalah kebun mini punya Quin. Dulu, sebelum ia memutuskan untuk ikut ayahnya ke kota, kebun itu adalah usahanya. Dia yang bersikeras minta dibuatkan kebun mini itu tapi lihat yang merawatnya bukan dirinya.
"Hah," helaan nafas itu memecah hening. Makanan yang masuk di mulutnya kini terasa hambar. Kenapa setiap kali ia ingin menikmati waktunya ada saja yang membuatnya merasa kurang nyaman.
Ingatan masa lalu terus-terusan menyerangnya. Bisakah ia memohon pada Tuhan? Agar tidak terus-terusan dibayangi kenangan pahit itu? Ia hanya ingin hidup tenang.
"Maaf Prim, masakan mu jadi tidak enak." Ia meletakkan bekalnya, lalu melangkah menuju tempayan besar yang permukaannya kini ditumbuhi lumut.
“Masih utuh ya… ku kira sudah pecah,” gumam Quin sambil mengetuk permukaan tempayan tua itu. Setelah mencuci tangannya, ia melangkah menuju para penduduk desa yang sedang bekerja di kebun sayuran miliknya.
"Ehh, nona Quin mau gabung?"
"Selamat siang, nona."
Quin mengangguk ramah, lalu duduk di samping seorang wanita yang diperkiraannya berusia sekitar 30-an. Wajah wanita itu tampak agak tua, mungkin karena terik matahari yang membuat kulitnya terlihat sedikit kusam.
Di samping wanita itu, seorang anak kecil berusia sekitar 5 atau 6 tahun duduk dengan tertib. Mulutnya baru terbuka ketika sang ibu menyuapinya.
"Anaknya bu?" Quin memastikan.
Wanita itu tersenyum, mengangguk mengiyakan. Quin menelan ludah, dan seketika suasana menjadi canggung.
Para pekerja lainya tersenyum dengan riak wajah tak enak. Takut jika gadis muda itu memarahi mereka terutama wanita bisu itu.
"Maaf, dia tidak bisa bicara. Mohon dimaklumi ketidaksopanannya," ucap seorang pria tua itu berhasil menarik perhatian Quin.
Quin menatap wanita itu sekilas lalu tersenyum maklumat. "Ah, gak papa kok. Maaf, sebelum.. bisa nggak jangan memanggil ku nona? Saya agak kurang nyaman," tuturnya lembut.
Mereka saling bertukar pandang, Quin dapat menebak jawaban mereka hanya dari raut wajah mereka.
Apakah dia semenyeramkan itu? Quin menggelengkan kepalanya. Tidak kok. Apa karena mereka merasa tidak enak padanya yang sudah lama tinggal di kota? Jadi pandangan mereka terhadapnya berubah?
Semua gadis kota itu pemarah dan sombong. Apakah julukan itu kini terarah padanya? Quin terkekeh pelan, merasa lucu dengan pemikiran absurdnya sendiri.
Quin bangkit, tersenyum malu. "Ya sudah, aku pulang duluan ya. Lanjutkan makan siang kalian. Maaf sudah mengganggu," kekehnya, pipinya memerah.
Gadis itu perlahan mundur kebelakang, setelah sedikit jauh dari mereka ia langsung berlari. Sungguh ia ingin sekali menggelamkan wajahnya di rawa-rawa.
Dia malu. Ahh memalukan sekali kau Quin, Batinnya mendesak, ia mengayuh sepedanya dengan agak tergesa-gesa.
Niat awalnya untuk ikut bergabung adalah mencoba mengeratkan sedikit hubungan dengan penduduk desa, tapi respons mereka membuatnya merasa minder.
"Sepertinya skill bersosial ku nggak berguna," rutuknya.
"Uhh, apakah aku bisa melakukan ini."
"Ayo Quin... tenang."
"Tenanglah... ini pasti bisa." Quin mengayuh sepeda tua milik ibunya dengan hati-hati. Jalan berliku di lereng bukit menuju rumahnya membuat ia sedikit kesulitan untuk mengimbangi tubuhnya.
"Heh, bibo kembali!"
"Heii, mau ke mana kau?!"
"Kemari, oi! Aku cuma ingin memandikanmu, bukan membunuhmu!"
"BIBOOOOO!"
Dari puncak bukit, seekor anak anjing berlari kencang, telinganya terangkat dan ekornya melambai-lambai, berusaha menghindari kejaran tuannya yang terengah-engah di belakang.
"Hahh, bibo.. ku mohon jangan kabur.. aku sudah nggak kuat mengejarmu," lirihnya.
"Ehh?" Fokusnya teralih pada bunyi kayuhan sepeda. Ia menghentikan langkahnya, saat sosok Quin muncul, dia langsung berteriak.
Quin yang berada di tikungan bukit, sama sekali tak menyadari kehadiran makhluk kecil itu."Ini kok susah banget, ya? Apa karena aku sudah lama nggak naik sepeda?" Fokusnya tertuju pada usahanya menyeimbangkan sepeda tua yang berguncang di jalur menanjak yang licin.
Tiba-tiba, teriakan seorang pria memecah kesunyian. "Nona! Nona, anjingnya, tolong ditangkap!"
Deg!
Quin tersentak. Pandangannya langsung menangkap sesosok kecil berbulu putih lebat yang meluncur turun ke arahnya. Nalurinya membuat ia memutar setang untuk menghindar, tapi kayuhan yang terhenti membuat keseimbangannya goyah.
Sepeda tua itu oleng. Roda depan terhuyung di tepi jalur, dan Quin terjatuh ke sisi jalan. Sakit menusuk pergelangan kakinya. Ia terkilir akibat benturan, sementara anak anjing itu terus berlari, meninggalkan debu dan kekacauan kecil di belakangnya.
“Woi!” serunya refleks, sementara anak anjing itu justru mengira teriakan itu sebagai ajakan bermain. Hewan mungil itu berhenti sebentar, menoleh, lalu menggonggong kecil sebelum kembali berlari zig-zag, seolah sengaja menguji kesabaran Quin.
Quin menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kacau. “Ya Tuhan… ini ujian kesabaran atau apa?” gumamnya.
Suara langkah tergesa-gesa terdengar dari arah atas jalur. Tak lama kemudian, seorang pria muncul. Wajahnya jelas panik, tapi ada sedikit rasa bersalah yang terselip di sana.
“Nona, maaf sekali!” katanya sambil sedikit terengah. “Dia… dia memang suka kabur kalau dengar suara air. Tadi pintu pagar terbuka—”
Quin yang masih duduk di tanah mengangkat tangan, memotong penjelasan itu. “Saya sih nggak masalah anjingnya kabur… tapi dia kayak sengaja nyari gara-gara.”
Pria itu menatap anjingnya yang kini berdiri beberapa meter di depan, lidah terjulur dan ekor bergoyang liar. “Bibo, sini!” panggilnya dengan nada tegas.
Kini fokus Quin diam-diam tertuju pada pria di depannya. Kaos putih, kemeja kotak-kotak, celana jeans dan menggunakan sepatu kanvas itu. Jangan lupakan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Penampilan pria itu terlihat cupu di matanya. Apalagi rambutnya yang dibiarkan begitu saja tanpa sentuhan pomed bahkan tidak rapi.
Ew, masih ada ya pria seperti ini di dunia? Batinnya meneguk ludahnya kasar dengan ekspresi julid yang berusaha ia kontrol.
"Bibo, kemari! Jangan membuatku mengulangi perkataan ku." Ucapan pria itu menyentak kesedarannya. Quin kembali menundukkan kepala, beruntung rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.
"Bibo!" Ok, kali ini anjing itu mendengar ucapannya tapi si bulu putih itu malah mendekati Quin, mengendus-endus lutut celana yang sudah kotor karena tanah.
Quin mencoba menggeser diri, tapi pergelangan kakinya langsung memprotes dengan nyeri yang menusuk. Ia meringis. “Aduh…”
Refleks, pria itu berjongkok di hadapannya. “Kaki anda… terkilir?” tanyanya khawatir.
“Mungkin… sedikit,” jawab Quin setengah mengeluh, setengah menahan gengsi.
Ia mengira pria itu akan panik atau meminta maaf berulang kali. Tapi alih-alih, dia malah tersenyum tipis, lalu berkata, “Kalau begitu… izinkan saya mengantarkan anda pulang. Dan mungkin… sekalian mengembalikan rasa hormat desa yang baru saja Bibo hancurkan.”
Quin terdiam, memandangnya sambil mencoba menebak apakah ini humor atau tawaran serius. Di belakang mereka, Bibo menggonggong kecil, seolah menertawakan situasi.
"Nona sini saya bantu," ucapnya berniat menggendong Quin tapi gadis itu menepis dengan kasar.
"Ah, maaf.. saya nggak bermaksud."
Pria itu tersenyum ramah, memaklumi tindakan Quin barusan. Tidak ada yang langsung merasa nyaman saat bertemu dengan seseorang yang tidak di kenali. Apalagi dia berniat ingin menggendong gadis itu.
"Seharusnya saya yang minta maaf."
"...." Quin berusaha berdiri sendiri karena memang begitu maunya. Namun, rasa nyeri yang menusuk di pergelangan kakinya yang terkilir membuat tubuhnya goyah tepat saat hampir tegak. Ia kehilangan keseimbangan, dan dalam sekejap, tubuhnya hampir terhuyung ke tanah.
Untung saja, sebuah tangan sigap menyambar lengannya. Tarikan itu menghentikan gerak jatuhnya, membuat Quin terjerembab ke dalam pelukan tak terduga.
Ehhhhhh?
Seperti potongan adegan drama Korea, waktu seakan melambat. Pandangan mereka bertemu, terikat dalam keheningan singkat yang sarat kejutan.
Quin terbelalak, tak menyangka pria itu sedekat ini. Namun, pria itu justru terlihat lebih terkejut… seolah kehadiran Quin di hadapannya adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi hari ini.
"Kau?!"
•
•
•