LANGKAH kaki yang mantap, diiringi dentingan sepatu yang serempak, menggema di lobi perusahaan. Keramaian yang semula biasa saja mendadak bertambah hiruk saat rombongan orang-orang penting melangkah masuk.
Bisik-bisik cepat menyebar di antara karyawan, pandangan mereka tak lepas dari sosok yang memimpin rombongan menuju lift.
Dion Jane Cannexy Hudson.
Putra kedua keluarga Hudson itu berjalan paling depan. Posturnya tegap, ekspresinya angkuh namun dingin. Wajah tampan, sorot mata tajam, dan aura yang memerintah membuat siapa pun menoleh dua kali.
Di usia baru 26 tahun, Dion sudah menjadi CEO termuda dengan cabang perusahaan di berbagai negara. Deretan penghargaan dari ajang bergengsi dunia menghiasi rekam jejaknya. Namanya bahkan tercatat di majalah Forbes sebagai salah satu pria terkaya di dunia.
"Anakku, berhenti menebar pesona seperti itu. Kau nggak lihat ekspresi karyawan wanitamu, hah?" ucap Hudson, ayahnya, setengah menggoda.
Dion hanya melirik sekilas lalu mengabaikan. Hudson menggeleng sambil tersenyum tipis, bisa-bisanya pertanyaannya diabaikan.
Gadis di sebelahnya terkekeh kecil melihat ekspresi cemberut Hudson. "Paman Hudson, sepertinya paman lupa… orang-orang akan selalu bereaksi seperti itu kalau melihatnya. Apalagi perempuan."
Hudson menghela napas lalu mengangguk. "Kau benar. Aku lupa kalau putraku punya wajah rupawan."
"Ya, sama seperti paman."
Hudson tertawa senang menerima pujian dari Chloe—sahabat putranya yang kini bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Ia mengetuk tongkatnya beberapa kali, membuat Dion meliriknya datar.
"Chloe, jangan terlalu memuji ayahku. Hidungnya bisa membesar nanti," ucap Dion dingin begitu mereka memasuki lift.
Hudson dan Dion saling melempar tatapan tajam. Chloe melirik pria paruh baya di sisi Hudson, mencoba mencairkan suasana.
"Haha… Kakak, keponakanku hanya bercanda. Nggak mungkin dia menolak ketampanan yang diwariskan darimu," sahut pria itu dengan senyum lebar.
Itu adalah Galen Farendra, adik Hudson sekaligus paman Dion. Di usianya yang menginjak 49 tahun, ia masih terlihat gagah. Galen menjabat sebagai wakil direktur, membantu Dion menjalankan perusahaan.
Dion mendengus mendengar godaan pamannya. Ia memutar bola mata, membuat Galen terkekeh. "Benar, kan? Hah, bilang saja kau cemburu karena Chloe memuji ayahmu," tambah Galen.
Chloe melirik Dion dengan sebelah alis terangkat, seolah meminta penjelasan. Dion tetap diam, wajahnya semakin datar.
Cis… si brengs*k ini pasti sengaja, batin Dion.
Dion mengepalkan tangan lalu keluar dari lift tanpa sepatah kata, meninggalkan mereka.
"Hais, anak itu…" Hudson menatap punggung putranya yang menjauh. Ia melirik Chloe dan mengangguk pelan. Gadis itu mengerti isyaratnya dan segera pamit.
"Paman Hudson, Tuan Galen, saya permisi."
Keduanya mengangguk. Galen menatap kepergian Chloe, lalu melirik kakaknya yang tampak melamun.
"Kalian bertengkar?" tanya Galen ketika mereka berjalan menuju ruang Hudson.
Hudson mengerutkan dahi. "Bertengkar? Tidak kok... emm sepertinya tidak."
Galen terdiam sejenak sambil menatap pemandangan kota dari jendela. "Aku rasa… kalian tampak asing sejak kejadian itu."
Hudson memicingkan mata, curiga. "Kau bilang apa?"
"Nggak ada," jawabn Galen singkat. Hudson berdeham, meski masih terlihat agak curiga.
"Oh ya, aku dengar dewan komisaris memberi sedikit waktu kepada Nona Canna untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah."
"Itu benar."
"Lalu, siapa yang memutuskan bahwa dia nggak akan dipenjara jika mampu mengembalikan uang yang digelapkan?" Galen bertanya dengan nada yang terdengar agak tidak setuju.
"Kenapa? Kau nggak setuju?" Hudson mengalihkan pandangannya, kini fokusnya tertuju sepenuhnya pada Galen.
"Bukan hanya saja... bukankah dia sudah melakukan korupsi? 20 miliar bukan angka yang kecil, kak!"
"Benar. Tapi, bagaimana jika dia cuma diperalat? Maksudku… seperti yang disebutkan sebelumnya… dia dituduh?"
Galen terdiam cukup lama, "Lalu... bagaimana kalau dia pelakunya?"
"Maka, Dion yang bertanggungjawab."
"Apa maksud mu?"
"Dialah yang memutuskan semuanya, Galen."
Galen terkekeh tipis, wajahnya kian dingin. Sepertinya ada yang salah dengan keponakannya itu. Dion yang ia kenal adalah orang yang tak kenal ampun. Sekali berbuat curang, hukuman yang menanti tak main-main. Selain pemecatan atau penjara, Dion bisa saja memutuskan untuk memasukkan nama orang itu ke daftar hitam di semua perusahaan.
Tanpa menanggapi ucapan kakaknya, Galen meninggalkan ruangan itu, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
•
•
•
Di ruang CEO.
Chloe berdiri di sisi meja kerja Dion selama hampir 30 menit tanpa suara.
"Bacakan jadwalku," ucap Dion dingin, tak menoleh.
Chloe diam. Dion mendongak, menatap datar.
"Apa kau mau gajimu kupotong?"
Chloe tersenyum kaku dan menggeleng. "Maaf, aku kurang fokus." Ia membuka tabletnya, mencari jadwal yang sudah disiapkan semalam.
"Jangan pikirkan ucapan pria itu," kata Dion sambil menatap keluar jendela.
Chloe terdiam. Hatinya terasa nyeri mendengar kata-kata itu. Mereka sudah berteman sejak kecil, tapi hubungan itu perlahan berubah seiring waktu.
"Kau benar. Itu nggak penting. Aku cuma memikirkan beberapa hal," ucap Chloe akhirnya.
Dion hanya berdeham.
Chloe menarik napas, lalu mulai membacakan jadwal. "Lima belas menit lagi ada rapat dengan klien dari Korea, China, dan Jepang. Setelah itu, wakil presdir dari perusahaan Yo ingin mengajukan kontrak kerja sama."
Dion mengangguk. "Ada lagi?"
"Hanya itu. Ke depannya... tidak akan, ada lagi jadwal yang berat seperti dua minggu terakhir ini di jadwalmu. Selain urusan Nona Canna yang harus segera diselesaikan, tidak ada hal lain. Sekarang, kau sudah bisa beristirahat dengan tenang."
Sekali lagi, Dion mengangguk. Ia berdiri lalu melangkah ke arah jendela kaca besar di kantor. Dari sana, seluruh aktivitas di luar terlihat jelas. Kendaraan yang berlalu-lalang menjadi objek pengamatannya, setiap gerakan tampak tertangkap oleh matanya yang tajam.
"Dion.."
"Hm? Kau merindukannya?" Dion berbalik menatap Chloe dengan senyum tipis. Chloe menundukkan kepalanya, wajahnya sedikit memerah. Walau hanya tipis, senyuman itu mampu menembak hatinya.
"Mengapa kau memberikan kebebasan untuk nona Canna? Maksud... ya, kau tahu," ucapnya pelan.
"Apakah ada alasan lain?" Chloe menatap pria itu, berharap mendapatkan jawapan yang ia mahukan.
"Entahlah… mungkin karena dia cantik," jawab Dion acuh tak acuh. Satu tangannya masuk ke saku celana, matanya kembali menatap keramaian di bawah.
Chloe menekan tablet itu lebih erat di pelukannya, diam-diam merasakan sesuatu yang sulit ia ungkapkan.
"Bagaimana rapatnya? Semua sudah siap?"
"Jangan khawatir. Semua sudah diatur," jawab Chloe.
Dion mengangguk puas, lalu mengambil jasnya. "Ayo, kita ke ruang rapat sekarang." Chloe tak bergeming membuat pria itu menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Ke..."
Chloe mencela duluan, "Dixon..."
"Keputusanmu.... bisa membuat orang lain menyadari keanehan itu," bisik Chloe, menatap tajam ke iris gelap pria di depannya.
"Aku sangat menantikannya," balasnya menyeringai.
•
•
•
Desa Nunuk.
Pagi yang cerah disambut hangat oleh penduduk desa. Dengan semangat, mereka mulai melakukan aktivitas sehari-hari. Anak-anak yang beberapa hari terkurung di rumah karena hujan deras kini tampak kembali bermain, menambah keriuhan di desa yang asri dan tenang itu.
Saat ini, Quin berada di kebun sayuran milik ibunya yang kini menjadi miliknya. Ia ditemani oleh Prim dan beberapa pekerja milik ibunya.
Di saat, Quin sibuk memberikan instruksi pada orang-orang itu, Prim dari kejauhan melihatnya dengan rasa syukur di hati. Keceriaan gadis itu sudah kembali. Walaupun terkadang ia harus memukul kepala gadis itu, agar berhenti mengingat dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada ibunya.
Sibuk memperhatikan Quin, Prim dikagetkan dengan ponselnya yang tiba-tiba bergetar di saku celananya. Melihat sang pemanggil, gadis itu tersenyum seraya mengangkatnya.
"Halo."
"Prim, bagaimana keadaan di sana? Apakah semuanya baik-baik saja?" Suara berat dengan helaan nafas lelah terdengar dari seberang sana.
Prim mengangguk mengiyakan walaupun ia tau sang pemanggil tidak dapat melihatnya. "Dokter, semuanya baik-baik saja. Aku sudah mengurus tugasmu dengan sangat baik," jawabnya.
"Terima kasih, Prim. Maaf sudah merepotkanmu mengurus pekerjaanku," ujarnya pelan. Prim dapat membayangkan raut wajah tak enak milik pria diseberang sana.
"Haha, nggak perlu merasa nggak enak denganku Dok. Lagipula itu juga sudah menjadi kewajibanku kan?"
Terdengar kekehan di sebarang sana. Pria itu mengangguk membenarkan ucapan gadis itu. "Ya, kau benar. Tapi tetap saja aku merasa bersalah denganmu dan penduduk desa. Seharusnya aku ada di sana dan membantu tapi masalah di sini juga penting bagiku..."
Prim terdiam. "Dok kau baik-baik aja kan?" Ia bertanya karena sang pemanggil terdiam cukup lama tanpa suara.
"Ya, aku baik-baik aja kok. Hanya sedikit lelah mengurus beberapa hal," ucapnya.
Prim menghela nafasnya. "Jangan terlalu memaksakan dirimu, dokter. Kau juga butuh istirahat yang cukup. Selesaikan saja urusanmu di sana. Soal rumah sakit ada aku dan Dokter Arlo yang mengurusnya. Beberapa warga desa juga ikut membantu."
"Syukurlah. Aku akan berusaha menghantar pasukan relawan ke sana untuk membantu kalian."
"Hm, terima kasih Dok."
"Ya, sama-sama. Aku akan kembali sore ini."
Prim melebarkan matanya menatap layar ponsel. Tubuhnya refleks bangkit dari kursi kayu di pondok kebun begitu mendengar kabar mendadak itu. "Serius, Dok? Kau benar-benar akan kembali?" tanyanya, nada suaranya meninggi karena sulit mempercayai apa yang baru saja didengar dari pria di seberang sana.
Pria itu terkekeh, "Ya aku akan pulang. Aku merindukan anak-anak kecil yang sering menjenguk ku di rumah sakit. Mereka pasti kangen denganku."
"Iya sih tapi memangnya urusan Dokter sudah selesai?"
"Belum tapi aku sudah mengatakan keinginan ku untuk kembali ke desa. Jika sesuatu terjadi di sini mereka hanya perlu menghubungi ku dan aku akan langsung datang."
"Lagipula sudah terlalu lama aku di sini, sekitar dua minggu."
"Baru dua minggu Dok, bukan dua bulan," ucapnya terkekeh geli.
"Kau benar tapi aku nggak begitu menyukai suasana kota. Menurutku lebih adem dan menyenangkan suasana desa." Prim mengangguk setuju. Benar kata pria itu, suasana desa lebih menyenangkan di bandingkan dengan suasana kota yang ramai.
"Baiklah. Ku tutup teleponnya, aku harus bekerja sekarang. Sampai jumpa, Prim." Prim mengangguk tanpa membalas ucapan sang Dokter.
Tut, sambungan telepon terputus. Prim melihat layar ponselnya lama kemudian beranjak dari kursi setelah bertukar pesan dengan pacarnya yang sedang merajuk karena berada dalam panggilan lain begitu lama.
"Quin, aku berangkat dulu. Semangat bu Boss," teriak Prim melambaikan tangannya. Quin tersenyum membalas lambaian itu dengan semangat.
"Hati-hati," balasnya berteriak.
•
•
•