"Aku harus sampai sebelum gelap," gumamnya sendiri, menunduk menghindari air hujan yang menetes dari atap rumah di sekitar.
Hujan masih turun tapi tak sekuat semalam, namun tetap meninggalkan jejak basah di jalan tanah desa Nunuk. Prim berlari sekuat tenaga, sepatu karet yang dipakai menyerap lumpur di setiap langkah. Jantungnya berdetak kencang, campuran lega dan cemas yang tak tertahankan.
Di halaman rumah Quin, ia duduk di anak tangga kayu, memeluk lututnya. Matanya memerah, pipinya masih basah karena air mata yang mengering di wajahnya. Ia menatap lurus ke depan, seolah tak melihat hujan yang menimpa tubuhnya.
Kosong.
Binar ceria di matanya hilang. Ia seperti gadis buta yang tak bisa melihat apa pun di sekitarnya. Aura kehidupannya seakan memudar, terseret oleh rasa ingin menyerah pada takdir. Ibarat bunga yang layu dan mungkin akan mati esok hari.
"Quin!" teriak Prim begitu mendekat, suaranya nyaris tertelan gemericik hujan.
Gadis itu menoleh, mata merahnya menangkap sosok sahabatnya. Sebuah senyum tipis muncul, tapi tak mampu menutupi kelelahan dan kesedihan yang terpancar di wajahnya.
"Prim… kau… datang?" suaranya serak, nyaris berbisik.
Prim segera menyingkirkan mantel basahnya, berlutut di hadapan Quin, menggenggam tangan sahabatnya. "Tentu! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, Quin. Tidak malam ini."
Quin menunduk, menahan isak, jantungnya terasa panas. Semua memori kembali mengalir deras—ayahnya, kembaranya, pengkhianatan yang hampir membuatnya dipenjara, dan terakhir, kehilangan ibunya. Semua itu menumpuk menjadi beban yang terasa begitu berat.
"Aku… aku tidak tahu harus mulai dari mana, Prim," ucap Quin pelan, suaranya tersendat. "Semua… semua kacau."
Prim mengelus punggungnya, lembut tapi tegas. "Gak papa, Quin. Aku mengerti perasaanmu. Kehilangan seseorang yang begitu berarti memang pukulan besar bagimu tapi Quin, kau tidak sendirian. Ada aku dan Jenna. Kami akan selalu di sisimu."
Untuk pertama kalinya setelah semua yang berlaku, Quin merasakan sedikit hangat yang merayap di dadanya. Kehadiran Prim seperti cahaya kecil di kegelapan yang selama ini menelan hidupnya.
"Prim… aku takut," bisiknya, suaranya hampir tenggelam oleh derasnya hujan.
"Aku tahu… tapi kau tidak sendiri lagi. Aku di sini. Kita akan hadapi semuanya bersama."
Quin menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Pandangannya tertuju pada kebun sayur ibunya, bayangan wanita itu seakan tersenyum padanya di sela rinai hujan.
"Quin, ingat pesan ibu...jangan buang waktumu untuk menyesali masa lalu. Lanjutkan hidupmu... dan jadilah orang yang ibu banggakan. Ibu menyayangimu, nak."
Lagi-lagi ucapan itu terlintas di pikirannya. Quin menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
"Ibu..... makasih," katanya lirih. "Prim, maaf... maaf sudah membuatmu khawatir."
"Emm.."
Prim tersenyum, melepaskan genggaman tangannya sedikit, memberi ruang bagi Quin untuk berdiri. Keduanya masuk ke dalam rumah.
Di dapur, aroma masakan sederhana namun hangat terasa menyambut. Rumah itu sepi, tapi tak lagi terasa kosong. Quin menatap sekeliling, mengenali setiap sudut, setiap memori yang tersisa—seolah ibunya masih ada, tersenyum di sudut ruang itu.
"Sudah selesai mandinya?" Quin mengangguk menatap Prim yang tengah menghidangkan makanan di atas meja.
"Makanlah. Aku sudah memasak lauk kesukaan mu."
"Prim… aku…maaf dan makasih ya," ucap Quin lirih, suara penuh haru. Helaan nafas Prim terasa berat. Entah, sudah berapa kali dia mendengar kalimat maaf dari sahabatnya yang satu ini.
"Ayolah, jangan seperti ini. Ini bukan seperti Quin yang ku kenal. Jadi berhenti mengucapkan kata maaf," decaknya mengaru kepalanya yang tidak gatal.
Sungguh situasi macam apa ini. Sangat-sangat canggung. Iya, dia tahu Quin sedang berduka tapi tidak seperti ini juga kan? Untuk apa kata maaf? Seharusnya dia yang meminta maaf kan?
Dia seorang dokter tapi tidak bisa menyelamatkan ibu dari sahabatnya. Jadi apakah ia masih layak mendapatkan permintaan maaf dari Quin? Atau apakah ia masih layak di sebut sahabat?
Prim menggelengkan kepalanya. Kok malah jadi gini sih?
Gadis itu mendekat, menarik Quin untuk duduk di kursi. Lalu mengambil tempat di sebelah gadis itu. "Aku juga, Quin. Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan ibumu."
"Tidak, itu sama sekali bukan kesalahan mu kok. Lagian kau bukan Tuhan," kekehnya membuat Prim merasa sedikit lega. Gadis itu kembali tersenyum walaupun terlihat sedikit pahit.
"Ini salahku... salahku karena tidak pernah menghubunginya. Ibu meninggal karena aku.. ia mengkhuatirkan diriku sedangkan dia..."
"Stop! Jangan menyalahkan diri sendiri. Baiklah, tidak ada yang salah. Ini takdir," sela Prim cepat. Ia tak ingin gadis di depannya kembali pada moment itu.
"Prim.." Quin terdiam menatap tangan Prim yang kembali menggengam erat kedua tangannya. Ia beralih pada wajah gadis itu. Tatapan keduanya terpaku antara satu sama lain.
Prim dengan senyuman manisnya, "Aku mengerti perasaan mu. Kau boleh menumpahkan semua yang kau simpan selama ini. Tidak ada yang akan menilai, aku janji."
Ia melepaskan genggaman tangannya, matanya beralih pada makanan yang mulai dingin. "Tapi sebelum itu, isi dulu perutmu oke? Kau terlihat makin kurus, tau?!"
Quin terkekeh, "Badan ku memang seperti ini tahu. Body goals."
Prim mendelik, "Body goals matamu. Mirip lidi begitu," sinisnya membuat tawa Quin meledak. Akhirnya... gadis itu kembali. Prim sangat bersyukur.
•
•
Bugh!
“Gila! Dasar gila!” teriak Prim sambil menepuk meja sekali. Quin mengelus dadanya, terkejut melihat reaksi sahabatnya setelah mendengar semua yang ia alami.
“Kau… hei, kenapa tidak kau sembelih saja ayahmu itu?” Quin melotot, mulutnya ternganga. Ia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Prim.
“Seharusnya aku apakan si Nara itu, ya? Menyebalkan sekali! Kau bilang dia mencuri identitasmu, terus menggelapkan uang perusahaan atas namamu? Lalu… mencuri tunanganmu juga?! Wah, dia gila, ya?!”
Quin mengangguk pelan. Kepingan-kepingan ingatan buruk itu kembali menari di benaknya, satu demi satu, meninggalkan jejak rasa bersalah dan penyesalan yang menyesak dadanya. Ia membiarkan dirinya hanyut dalam arus emosi itu, meski ingin sekali menepisnya.
Air matanya kembali luruh, ia sangat menyesali keputusannya lima tahun yang lalu. Saat itu, ia lebih memilih menyetujui permintaan sang ayah untuk ikut dengannya dan tinggal bersama di kota bersama kembarannya.
Ia bahkan mengabaikan permintaan sang ibu untuk terus menemani dirinya di desa namun hanya karena tawaran menggiurkan dari sang ayah, ia langsung menolak permintaan ibunya yang sudah menjaga dan bersamanya dari kecil.
Bahkan di saat seperti itu ayahnya dan kembarannya tidak ada bersama mereka di saat susah maupun senang kedua ibu dan anak itu melewati hari-hari mereka di desa yang jauh dari kota.
Dan ia diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri. Dia yang seharusnya mendapatkan pekerjaan malah kembarannya yang menggantikan posisinya. Berpura-pura menjadi dirinya yang pintar dalam segala hal.
Jika menyebutnya pintar dalam segala hal itu sudah pasti. Namun, mengapa ia begitu mudah dibodohi oleh saudaranya sendiri?
Calla Nyx Quinnara,
Dan...
Canna Nyx Quintessa.
Dua nama yang hampir sama.
Ya, wajah keduanya juga tidak ada bedanya. Mereka sangat mirip. Benar-benar mirip. Bahkan jarang ada yang bisa membedakan keduanya. Semua tampak sama. Hanya sifat yang mampu membedakan keduanya. Quin sedikit gengsian dan kekanakan sedangkan Nara ia bersifat dewasa tapi licik.
Jika soal kepintaran, Quin memang yang lebih memenuhi syarat. Namun, entah bagaimana, Nara selalu saja keluar sebagai pemenang dalam segala hal. Kakaknya itu lihai menyusun skenario, licik di balik senyum polosnya. Sikap baiknya membuat siapa pun yang mendekat merasa nyaman, padahal di balik itu tersimpan rencana-rencana yang sering merugikan Quin.
Karena itu jangan menilai sesuatu dari luarannya saja. Belum tentu yang dilihat itu adalah sifat sebenarnya. Setiap kita memiliki sisi yang tidak diketahui oleh orang lain. Catat itu!
Di usianya yang sekarang, Quin seharusnya sudah memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya namun tawaran pekerjaan yang ia dapatkan setahun yang lalu direbut oleh Nara.
Gadis itu berpura-pura menjadi dirinya dan lolos wawancara menjadi manager keuangan di perusahaan MyHealthPlus. Suatu keuntungan baginya karena memiliki wajah yang hampir mirip bahkan susah untuk dibedakan oleh orang lain.
Mengingat kembali hal itu, Quin terkekeh getir. Seharusnya ia lebih berhati-hati saat Nara meminjam ID dan berkas pribadinya. Tapi ia, dengan kekanak-kanakannya, memberikannya begitu saja tanpa menanyakan maksud kakaknya. Esok harinya, Quin hampir saja dipenjara, dituduh sebagai penipu setelah menghadiri wawancara atas namanya.
Sibuk tenggelam dalam ingatan setahun lalu, Quin dikagetkan dengan jentikan jari tepat di depan wajahnya. Ia spontan menoleh ke arah si pelaku.
Prim menatapnya dengan satu alis terangkat. "Hei, kau mendengarku atau tidak sih?" Prim cemberut, Quin menggeleng pelan.
"Maaf, aku hanya sedang mengingat sesuatu,"
Prim mengangguk paham, "Lalu.. apa rencana mu kedepan? Maksudku... bagaimana kau ingin membuktikan bahwa kau tidak salah?"
Quin menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu... aku... entahlah," lirihnya menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Sepertinya… satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah membayar kembali uang yang hilang," gumam Quin pelan, menundukkan kepala.
Prim menatap Quin dengan tatapan sendu. "Aku bisa membantumu. Tapi… maaf, aku hanya mampu membantu sedikit saja karena uang tabungan ku juga tidak banyak," ucapnya pelan, suaranya penuh pertimbangan.
Quin diam.
"Tenang saja, kau bisa menggunakan semuanya."
•
•