MALAM itu, dingin merayap tanpa ampun. Quin berdiri di peron stasiun kereta api yang sepi, hanya suara hujan yang jatuh di atap seng dan sesekali peluit petugas yang memecah keheningan.
Kereta terakhir malam ini akan membawanya sedikit lebih dekat ke rumah, desa kecil di lereng bukit, tempat semua kenangannya berdiam.
Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam dari kota, malam itu hujan turun tanpa belas kasihan saat mobil tua yang biasa mengangkut warga desa berhenti di perhentian kecil di pinggiran Desa Nunuk. Kursinya yang usang masih menyimpan bau lembap tanah basah, bercampur dengan aroma karung sayuran yang teronggok di belakang.
"Pak, kok berenti?" liriknya dengan mata terpejam rapat.
Sopir, seorang pria berusia setengah baya itu menggeleng pelan. “Maaf, Nona. Jalan setelah ini licin dan gelap. Mobil bisa terperosok dan saya tidak mahu mengambil risiko. Kau harus jalan kaki,” katanya.
Quin menatap keluar jendela. Di depan sana, jalan tanah berliku membentang, menanjak perlahan menuju bukit. Lampu-lampu jalan sudah lama mati, menyisakan gelap pekat yang hanya diterangi cahaya sesekali dari rumah jauh di lereng.
Ia turun, membawa satu koper kecil. Angin dingin langsung mencambuk kulitnya. Gaun yang ia kenakan, sudah basah kuyup dan menempel langsung di tubuh. Sepasang heels yang masih melekat di kakinya mulai tenggelam di lumpur setiap kali ia melangkah.
“Bagus… hujan deras, heels, dan jalan tanah. Lengkap sudah penderitaan ini,” gumamnya getir sambil mencoba menarik tumit sepatunya yang terbenam.
Setiap langkah adalah perjuangan. Tumit sepatunya tersangkut di tanah becek, membuatnya terhuyung. Hujan tak berhenti, menurunkan tirai air yang memburamkan pandangan. Nafasnya menguap di udara dingin, bercampur dengan aroma tanah basah dan dedaunan.
“Kalau ibu melihat keadaanku sekarang… pasti bilang aku gila,” ucapnya sambil tertawa hambar.
“Pulang dalam keadaan seperti ini…” Quin kembali menghela nafas panjang. "Memalukan sekali."
Setelah hampir setengah jam, Quin akhirnya tiba di halaman rumah peninggalan ibunya. Tidak ada sawah di sini hanya hamparan bunga krisan, lavender, dan mawar putih yang tumbuh subur meski hujan mengguyur. Di sisi lain, kebun sayur kecil berbaris rapi: kol, wortel, dan daun bawang.
Rumah kayu itu berdiri sunyi, catnya mulai memudar dimakan waktu. Quin berdiri di depan pintu, air hujan menetes dari ujung rambutnya. Jemarinya menyentuh gagang pintu yang dingin.
"Quin, selamat ulang tahun ya sayang. Ibu harap kau mendapatkan kado kiriman ibu, nanti jangan lupa di pakai ya? Ibu menyayangi mu nak."
Malam ulang tahunnya… hari ketika ia kehilangan ibunya, memori itu kembali menghantam.
"Baik, bu. Besok aku akan pulang, aku janji!"
"Baiklah, ibu menunggumu."
"Bu... maafin Quin yaa." Quin memejamkan matanya, mengingat kembali kata-kata terakhir sang ibu.
"Quin, ingat pesan ibu...jangan buang waktumu untuk menyesali masa lalu. Lanjutkan hidupmu... dan jadilah orang yang ibu banggakan. Ibu menyayangimu, nak."
"Ibu.. mereka jahat banget sama Quin. Ayah.. hiks, ayah tega banget." Quin kembali mengingat.
Belum genap seminggu setelah pemakaman, ayahnya memaksanya kembali ke kota. Belum sempat gadis itu menapakkan kaki di kediaman Olson, orang-orang itu sudah menyeretnya ke perusahaan raksasa MyHealthPuls dan semua bencana itu pun dimulai.
Pintu berderit saat ia membukanya. Udara lembap dan aroma kayu basah menyeruak. Ia melangkah masuk, menatap setiap sudut rumah yang pernah dipenuhi tawa ibunya.
“Ibu… kalau kau masih di sini, apa ibu akan percaya kalau aku tidak bersalah?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Tapi ia tetap melanjutkan, suaranya bergetar. “Aku lelah… mereka semua seperti ingin menghancurkanku. Aku cuma… ingin pulang... bertemu denganmu... tapi..hahh”
Untuk pertama kalinya sejak hari itu, Quin membiarkan dirinya menangis tanpa henti, membiarkan air mata bercampur dengan sisa hujan di pipinya.
•
•
•
Rumah Sakit, Desa Nunuk, pukul 3.15 sore.
“Ada keluhan lain?”
Prim tersenyum manis memandang gadis mungil di depannya yang kini menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Sang ibu, yang duduk di samping, ikut tersenyum melihat putrinya. Prim menggerakkan kembali bolpoinnya lalu menatap sang ibu.
"Ini resepnya. Jangan lupa untuk selalu meminum obatnya setelah makan."
Wanita paruh baya itu mengambil resep tulisan Prim dari tangan gadis itu. "Terima kasih, dokter."
Prim mengangguk ramah. Ia melihat sang ibu menatap sang anak. "Nia, berterima kasih dulu sama Bu dokter."
Prim memberikan tatapan hangat pada gadis mungil yang meliriknya takut-takut. Dalam hati, ia ingin sekali mengelus pipinya yang menggemaskan. Hah, melihat Nia dia jadi merindukan sahabatnya.
"Te-terima kasih Bu dokter," ucap Nia pelan. Ia kembali melirik pintu ruangan itu, seolah menunggu seseorang akan datang namun tidak ada tanda-tanda bahwa yang ditunggu-tunggu akan muncul.
"Umm... Bu Dokter, kakak dokter yang ganteng itu ke mana?" tanyanya dengan suara lebih pelan dari sebelumnya dan terlihat malu-malu.
Prim terkekeh, "Kakak dokter ganteng tidak ada di sini, sayang. Dia ada urusan di kota. Jadi belum bisa ke sini," jawabnya lembut.
Raut Nia meredup, ia kembali menatap ibunya dengan ekspresi memelas. "Nak, jangan menangis. Kita bisa bertemu kakak dokter ganteng itu kapan-kapan, oke? Sekarang kamu harus sembuh dulu."
Gadis itu mengangguk pelan, ia turun dari kursi dibantu oleh ibunya. Sebelum keluar, ia sempat melirik ke arah Prim yang tengah tersenyum memandang ke arahnya.
"Bye, Nia. Semoga cepat sembuh."
Gadis mungil itu tersenyum, memberikan senyumannya yang paling manis pada Dokter cantik itu. Nia melambaikan tangan kecilnya. Prim membalas dengan lambaian hangat.
Tak lama setelah mereka keluar, seorang perawat memasuki ruang dengan berkas ditangannya. Prim menatap sahabatnya itu dengan alis terangkat. Ia sedikit bingung melihatnya memasuki ruangnya padahal ini bukan jam istirahat.
"Masih ada pasien lain?" tanyanya.
"Itu yang terakhir." Gadis itu mendudukkan dirinya pada kursi di seberang meja Prim. Ia meletakkan dagunya di atas meja sembari menatap Prim dengan tatapan sayu.
"Kenapa? Kau punya masalah?"
"Tidak ada. Aku hanya bosan karena pacarku nggak ada di sini," ucapnya mengeluh.
Prim mengernyit. Aneh, sejak kapan sahabatnya ini memiliki pacar. Orangnya saja pemilih padahal ia hanyalah gadis desa yang tidak memiliki apa-apa. Wajahnya biasa-biasa saja tapi level pria yang ingin ia nikahi terlalu di atas rata-rata dan susah untuk digapai.
"Sejak kapan kau punya pacar, hng?"
"Hihi, dokter Dixon lho. Siapa lagi yang bisa mencuri hati ini selain si tampan itu," ucapnya tersenyum penuh percaya diri.
Prim merotasikan bola matanya dengan malas, tanda sudah muak dengan sikap narsis sahabatnya yang satu ini. "Halah, mimpimu ketinggian. Dia juga pilih-pilih kali. Siapa juga yang mau menikah dengan gadis gendut dan pemilih seperti mu," sindiran dengan wajah sinis.
Gadis itu cemberut. "Cih, sahabat macam apa kau ini? Harusnya kau dukung aku, tahu?!"
Prim menggelengkan kepalanya, ia lebih memilih diam daripada berdebat. Lalu ia melepaskan jas putihnya dan bangkit dari tempat duduk.
"Baiklah, pekerjaan ku sudah selesai. Aku pulang duluan."
Gadis itu mengangguk. "Hm, sampai jumpa di rumah. Hati-hati oke? Kabari aku jika terjadi sesuatu," ucapnya setengah berteriak melihat Prim yang semakin menjauh.
Selama perjalanan menuju rumahnya, Prim sesekali meregangkan otot yang terasa kebas. Pekerja sebagai dokter benar-benar menguras tenaganya. Apalagi desa Nunuk sangat kekurangan tenaga medis. Hanya ada tiga dokter dan sepuluh orang perawat saja. Apakah bangunan sederhana itu layak di sebut rumah sakit? Entahlah.
"Nak…" Panggilan itu membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh, menatap seorang wanita paruh baya yang tengah mendekat.
"Ehh, selamat sore Bu," sapanya ramah. Bu Rina tersenyum, "Kamu baru balik dari rumah Quin ya?"
"Ehh? Ma.. maksud ibu apa ya? Saya baru selesai kerja bu," balas Prim sedikit terkejut. Sebentar! Apa maksudnya? Quin ada di desa? Quin sudah kembali?
"Lho, kamu nggak tahu? Temanmu itu sudah pulang. Ibu dengar Quin kembali ke desa tadi malam. Warga melihatnya, baru sampai dari perjalanan jauh, basah kuyup, dan bajunya kotor."
Hati Prim tercekat. “Anak itu… baru saja kehilangan ibunya, dan sekarang kembali dalam keadaan seperti itu?"
Apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya? batinnya resah.
Prim tersenyum. "Bu, aku pergi dulu ya. Makasih sudah di kasih tahu," ucapnya setengah berteriak. Tanpa menunggu jawaban, ia berlari terburu-buru menuju rumah Quin. Satu hal yang terlintas di pikirannya: ia harus menjenguk Quin dan memastikan sahabatnya baik-baik saja. Ia tahu Quin pasti membutuhkan seseorang di sisinya sekarang.
Dia pasti membutuhkan ku.
Prim menembus jalan desa yang basah, membayangkan Quin yang lelah, sendirian, dan berantakan, tapi setidaknya sudah sampai rumah. Hatinya campur aduk, lega karena sahabatnya selamat, cemas karena harus melewati malam yang sulit seorang diri.
•
•