"Kau…?"
Quin menatap Dixon dengan pandangan penuh curiga. Sejauh mana pria ini tahu tentang dirinya? Dan bagaimana bisa dia tahu?
"Bagaimana kau tahu?" tanyanya, suara bergetar sedikit.
Dixon berdiri, menampakkan wajah malas yang kontras dengan ketegangan di hati Quin. "Aku kan anaknya," jawabnya santai tapi penuh kepastian, "tentu saja aku tahu masalahmu."
Quin menelan ludah, dadanya berdebar. Kata-kata itu terasa seperti pukulan berupa sindiran. Betapa bodohnya dirimu Quin, batinnya berteriak.
"Ah, begitu ya.."
"Ya, ayahku sudah menceritakannya.. kau bilang kau tidak bersalah? Benar? Lalu, kalau kau tidak bersalah untuk apa mengorbankan satu-satunnya peninggalan ibumu," tuturnya bijak.
Dixon melirik gadis itu, matanya menatap tajam namun tenang. Dalam diam, ia berusaha membaca ra