Suara itu datang dari arah pondok kebun.
Semua kepala menoleh serentak. Di bawah atap seng yang sudah mulai berkarat, seorang pria berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Rambutnya berantakan seperti biasa, kemeja kotak-kotaknya digulung sampai siku dan kacamatanya melorot sedikit di batang hidung.
"Dokter?" Wanita tua itu yang pertama bersuara, matanya membulat.
Quin membeku di tempatnya. Sejak kapan pria itu ada di sana? Dan sejak bahagian mana dia mendengar?
Dixon melangkah santai melintasi barisan kol, seolah tak ada ketegangan apa pun di sore itu. Ia berhenti tepat di samping Quin, lalu menoleh pada pria besar yang berdiri di hadapan mereka.
"Selamat sore," sapanya ramah. Terlalu ramah untuk situasi seperti ini.
"Siapa kau?" tanya si pembeli, alisnya bertaut.
"Cuma dokter desa." Dixon mengangkat bahu. "Yang kebetulan lewat."
Si pembeli mendengus. "Kalau begitu urus saja pasienmu. Ini urusan bisnis."
"Ya, aku tahu." Dixon mengangguk beberapa kali, wajahnya tetap malas. "Justru karena itu aku bertanya. Berapa yang kau tawarkan untuk kebun ini?"
Pria itu terdiam sejenak. "Itu bukan urusanmu."
"Bukan," Dixon mengakui dengan mudah. "Tapi aku penasaran saja. Kebun kol seluas ini, dengan sumber air sendiri, jalan masuk yang sudah dikeraskan dan pekerja yang sudah tahu apa yang mereka kerjakan. Kalau kau menawarnya seperti orang menawar tanah kosong, artinya kau bukan sedang membeli. Kau sedang menunggu orang yang kepepet."
Wajah pria itu mengeras. "Nona ini sendiri yang datang padaku. Aku tidak memaksanya."
"Tidak," sahut Dixon. "Kau hanya menunggu di ujung jalan sampai dia sampai sendiri ke situ. Itu memang bukan memaksa."
"Benar." Dixon melirik Quin sekilas. "Dan itu bagian yang paling aku sayangkan."
Para pekerja saling pandang. Tidak ada yang berani bersuara, tapi beberapa dari mereka perlahan bergeser mendekat, seolah ingin memastikan telinga mereka tidak salah dengar.
Quin sendiri hanya berdiri kaku. Ia ingin menyuruh Dixon diam, ingin mengatakan bahwa pria itu sedang merusak satu-satunya kesempatan yang ia punya. Tapi lidahnya tidak mahu bergerak. Ada bagian kecil dalam dirinya yang justru berharap Dixon terus bicara.
"Satu hal lagi," lanjut Dixon, kali ini nadanya turun. "Surat tanah kebun ini masih atas nama mendiang Cattaliya. Selama surat warisnya belum diurus, tanda tangan siapa pun di atas kertas jual beli itu tidak ada nilainya. Kau membayar hari ini, beberapa bulan lagi kau berperkara di pengadilan."
Hening.
Quin menoleh cepat. "Apa?"
"Kau tidak pernah mengurusnya, kan?" Dixon bertanya tanpa menatapnya.
Quin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia memang tidak pernah. Sejak pemakaman ibunya, ia bahkan tidak sanggup membuka lemari tempat surat-surat itu disimpan.
Si pembeli menatap keduanya bergantian. Rahangnya bergerak, menahan sesuatu yang tidak jadi ia ucapkan. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu mendengus pendek.
"Kau menyia-nyiakan waktuku," katanya akhirnya sambil berbalik. Beberapa langkah kemudian ia berhenti dan menoleh setengah badan pada Quin. "Kalau surat warismu sudah beres, hubungi aku. Tapi harganya turun."
Suara mesin mobil terdengar menjauh, meninggalkan debu tipis di jalan setapak.
Baru setelah itu para pekerja berani mengembuskan napas. Wanita tua itu mendekat, menggenggam tangan Quin dengan kedua telapaknya yang kasar.
"Nona…" hanya itu yang keluar dari bibirnya. Matanya berkaca-kaca.
"Bibi jangan menangis," ujar Quin cepat, meski suaranya sendiri sudah bergetar.
"Bibi sudah ikut ibumu sejak kebun ini masih sepetak," balas wanita tua itu sambil mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Bibi bukan menangis karena pekerjaan."
Quin tersenyum, meski senyum itu tidak sampai ke matanya. "Sudah, lanjutkan pekerjaan kalian. Hari ini panennya belum selesai, kan?"
Satu per satu mereka kembali ke barisan sayur. Tawa kecil mulai terdengar lagi, seolah sepuluh menit yang baru saja lewat tidak pernah terjadi.
Quin menunggu sampai punggung terakhir menjauh, lalu berbalik menghadap Dixon.
"Siapa yang menyuruhmu ikut campur?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kau melakukannya?"
Dixon mencabut sehelai daun kol yang layu, memutar-mutarnya di antara jari. "Aku tidak suka melihat orang menjual rumahnya sendiri dengan harga tanah kosong. Apalagi kalau orang itu sudah dua minggu ini tidur kurang dari empat jam sehari."
Quin menoleh tajam. "Dari mana kau—"
"Aku dokter," potong Dixon santai. "Kantung matamu bicara lebih banyak daripada mulutmu."
"Itu bukan rumah. Itu kebun."
"Untukmu, itu rumah."
Quin terdiam. Kalimat itu masuk terlalu dalam, dan ia benci betapa mudahnya pria itu melakukannya.
"Kau tidak berhak," ujarnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia mahu. "Kau tidak tahu apa-apa tentang kenapa aku harus menjualnya."
"Aku akan membantumu." Dixon mengulang kalimat yang sama seperti tadi.
"Membantu apa?" Quin tertawa, tapi tawa itu getir. "Kau dokter di desa yang bahkan kekurangan obat batuk. Kau mahu membantu dengan apa?"
Dixon tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, tenang, terlalu lama untuk orang yang katanya tidak tahu apa-apa.
Quin memalingkan wajah, menyambar topi jeraminya dari atas kursi kayu, lalu melangkah pergi lebih dulu.
•
•
Di kota, koridor rumah sakit terasa jauh lebih dingin dari yang Chloe ingat.
Hudson berdiri di depan kaca ruang perawatan, tongkatnya menekan lantai dengan bunyi pelan. Di balik kaca itu, seorang pemuda terbaring dengan selang di sana-sini, wajahnya pucat dan tenang, seolah hanya sedang tertidur terlalu lama.
"Dion…" panggil Hudson lirih, meski ia tahu tidak akan ada jawapan.
Chloe berdiri sedikit di belakangnya, memeluk map di dadanya. Ia tidak berani bicara. Ada saat-saat di mana diam adalah bentuk hormat yang paling benar.
"Kakakmu sedang mengerjakan sesuatu di desa," lanjut Hudson pelan. "Aku tidak tahu apa. Dia tidak pernah memberitahuku apa pun." Pria tua itu menghela napas panjang. "Kalian berdua sama saja. Yang satu diam karena tidak bisa bicara, yang satu diam karena tidak mahu."
Ia menempelkan telapak tangannya sebentar di permukaan kaca, lalu menariknya kembali.
"Chloe."
"Ya, paman?"
"Kita berangkat sekarang."
Chloe mengangguk. Namun sebelum mereka sampai di ujung koridor, ia sempat menoleh sekali lagi ke ruangan itu, dan entah kenapa dadanya terasa sesak.
•
•
Sore hampir habis ketika Quin keluar ke teras dengan dua gelas teh di nampan.
Dixon sudah duduk di anak tangga kayu, punggungnya bersandar di tiang, kaki panjangnya diluruskan. Pria itu tidak pulang. Tentu saja tidak pulang.
Quin meletakkan satu gelas di sampingnya, sedikit lebih keras dari yang diperlukan.
"Kau masih marah," ujar Dixon.
"Menurutmu?"
"Menurutku iya." Dixon meraih gelasnya. "Tapi kau tetap membuatkan teh. Jadi marahmu tidak serius."
Quin duduk di anak tangga yang sama, memberi jarak dua langkah. Di depan mereka, kebun itu terhampar dalam cahaya jingga, dan angin membawa bau tanah yang baru disiram.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Hanya suara jangkrik yang mulai bersahutan dan bunyi gelas yang sesekali diletakkan kembali ke lantai kayu.
"Kenapa kau menjualnya?" tanya Dixon setelah lama.
"Bukan urusanmu."
"Kau sudah bilang itu tiga kali hari ini."
"Karena memang begitu." Quin memeluk lututnya. "Kau pikir aku tega? Ibuku menanam baris pertama kebun itu sendirian. Waktu itu belum ada pekerja, belum ada pondok, belum ada apa-apa. Cuma dia, cangkul, dan tanah yang keras."
Ia berhenti sebentar, menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.
"Kalau ada jalan lain, aku sudah mengambilnya sejak lama."
"Berarti tidak ada jalan lain."
"Tidak ada."
Dixon memutar gelas di tangannya, menatap uap tipis yang naik dari permukaan teh.
"Kau tahu apa yang aneh?" ujarnya. "Orang yang benar-benar bersalah biasanya lari. Dia menjual apa yang bisa dijual, lalu menghilang. Dia tidak akan repot-repot memikirkan ke mana pekerjanya akan mencari kerja."
Quin menoleh, dahinya berkerut. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada." Dixon mengangkat bahu. "Aku cuma bicara."
"Kalau kau memang mahu membantu," ujar Quin lagi, suaranya nyaris hilang ditelan angin, "tolong berhenti muncul di saat aku sedang berusaha keras untuk tidak menangis."
Pria itu meletakkan gelasnya di lantai kayu. Bunyinya pelan, tapi entah kenapa terdengar sangat jelas.
"Dua puluh miliar."
Tangan Quin berhenti di udara. Gelas yang baru saja ia angkat tidak jadi sampai ke bibirnya.
"Surat peringatan terakhir sudah sampai kemarin. Tenggatnya tinggal beberapa hari lagi." Dixon menatap lurus ke depan, tidak sekali pun menoleh padanya. "Dan uang yang berhasil kau kumpulkan, termasuk pinjaman dari Prim dan Jenna, belum sampai sembilan juta."