Dixon menatap Arlo, napasnya berat. Keduanya masih terperangah dengan kesadaran bahwa Quin hanyalah pengganti—sebuah pion dalam teka-teki besar yang sedang mereka hadapi.
Dixon membuka laptopnya dengan cepat, jari-jarinya menari di atas keyboard. Ia mencari setiap jejak keluarga Olson, menelusuri arsip, data lama, dan foto-foto yang mungkin bisa memberi petunjuk.
Akhirnya, sebuah foto muncul di layar. Sebuah potret keluarga Olson, tampak bahagia berdiri bersama. Namun, yang menarik perhatian Dixon adalah ketiadaan Quin di dalam gambar itu. Hanya ada Nara—sosok yang selama ini tersembunyi di balik identitas yang seharusnya dimiliki Quin.
Dixon menahan napas, matanya melebar. “Ini… si pelaku. Orang yang seharusnya didakwa atas kasus korupsi dua puluh miliar itu.”
Arlo mencondongkan tubuhnya, menatap layar bersama Dixon. “Jadi selama ini… Quin hanya jadi pengganti? Sementara Nara yang sebenarnya… bersembunyi di balik identitas dia?”
Dixon mengangguk perlahan, hatinya campur aduk antara marah, penasaran, dan prihatin. Teka-teki itu semakin rumit dan kini mereka punya satu petunjuk yang bisa memulai permainan mereka untuk mengungkap kebenaran.
“Bukan, Quin baru menjadi pengganti setelah terungkapnya kasus ini. Tidak…” Dixon menelan ludah, jeda sesaat mengisi ruang di antara kata-katanya. “Tapi… dia kembali untuk menembus kejahatan yang bukan perbuatannya.”
Arlo menatap Dixon, matanya berbinar sedikit, mencoba mencerna kalimat itu. Kepahitan dan ketidakadilan dari situasi ini begitu jelas. Quin, yang seharusnya tidak bersalah, kini harus menghadapi konsekuensi dari tindakan orang lain, sambil tetap memegang posisi yang semestinya memang miliknya.
Dixon menutup laptop sebentar, jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan. “Itulah kenapa kita harus berhati-hati. Setiap langkah yang dia ambil, setiap gerakannya bisa dimanfaatkan oleh pihak yang salah.”
Arlo mengangguk, memahami beratnya situasi. Mereka tahu, meski Quin kembali pada posisi yang benar, jalan yang harus dilaluinya tetap penuh jebakan dan risiko.
“Lalu bagaimana dengan kakak kembarnya?” tanya Arlo, matanya menatap Dixon penuh penasaran.
“Kita harus mencari tahu tentang itu,” jawab Dixon pelan, jari-jarinya masih menari di atas meja. “Aku rasa bukan Quin yang menjadi akar pohonnya, tebakan ku sebelumnya salah.”
Arlo mencondongkan tubuhnya, alis terangkat. “Jadi… Calla?”
Dixon menatap papan catatan di depannya, matanya merenung jauh. “Ya. Calla. Mungkin dia yang selama ini menjadi inti dari semua persoalan ini. Kita harus hati-hati. Setiap langkah yang kita ambil bisa menentukan nasib Quin.”
“Tapi bukannya dia mengambil identitas Quin?” tanya Arlo, matanya menatap Dixon dengan serius.
Pria berkacamata itu mengerutkan dahi, kembali merenung dalam-dalam. Situasinya memang rumit—lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan. Sungguh membingungkan, pikirnya sambil menekan pelipisnya.
“Anggap saja… mereka berdua adalah akar pohon,” ucap Dixon akhirnya, suaranya pelan namun tegas. “Tapi yang memicu segalanya adalah Calla.”
Dixon menatap papan catatan di depannya, mencoba merangkai potongan teka-teki itu. Perlahan, bayangan besar tentang siapa yang sebenarnya menggerakkan semuanya mulai terbentuk di kepalanya.
Setelah puas mengamati, pandangan Dixon jatuh pada map yang dipegang Arlo di bawah meja. “Untuk apa kau datang ke sini?” tanyanya, alis terangkat.
“Oh, ini… aku ingin menyerahkan ini padamu,” jawab Arlo sambil menyerahkan map tersebut.
Dixon mengambil map itu dari tangan Arlo. Ia mulai membuka setiap lembaran, membaca satu per satu laporan yang tersusun rapi di dalamnya.
“Kau tahu… kita kan kekurangan tenaga medis, juga perlengkapan,” ujar Arlo, matanya menatap Dixon penuh harap. “Dan kau sendiri, anak dari pendiri perusahaan yang menekuni bidang medis, mungkin bisa membantu.”
Dixon mengangguk perlahan, memahami maksud Arlo. Laporan-laporan itu mencatat kekurangan tenaga medis, obat-obatan, dan peralatan yang dibutuhkan untuk operasi rumah sakit. Semua masalah itu jelas menunggu tindakan, dan sekarang tanggung jawab itu berada di tangannya.
“Baiklah, aku akan berusaha meminta bantuan,” ujar Dixon pelan, matanya menatap map di tangannya. “Seperti katamu, aku anak pendiri perusahaan yang menekuni bidang ini, tapi sebenarnya tidak begitu. Orang tua itu pasti tidak akan membantuku.”
Arlo menatap Dixon dengan pandangan tajam, lalu menggelengkan kepala. “Memangnya kau pernah mencoba meminta bantuannya? Tidak, kan?”
Dixon menunduk, rahangnya menegang. Ia memang tidak pernah bisa bersatu dengan ayahnya. Kebencian yang mengakar terlalu dalam, membuatnya sulit percaya akan bantuan yang datang dari sosok yang selama ini hanya menghadirkan tekanan dan tuntutan.
"Terakhir kali aku meminta bantuannya, dia sama sekali tidak memberikan bantuan, Lo."
Arlo mengerti. Rasa benci Dixon terhadap Hudson bermula seteleah kejadian itu. Tidak ada yang bisa ia salahkan di sini.
“Take your time,” ujar Arlo sambil menepuk bahu Dixon dengan ringan. “Jangan terlalu memaksakan diri.”
Dixon menghela napas panjang, menatap langit-langit ruang kerjanya sejenak. Kata-kata itu, meski sederhana, terasa menenangkan. Ia tahu Arlo tidak hanya bicara soal fisik, tetapi juga soal tekanan mental yang selama ini menumpuk di pundaknya.
“Ya… kau benar,” jawab Dixon pelan. Matanya kembali menatap map di tangannya, rencana-rencana dan tanggung jawab yang menunggu perlahan mulai tersusun kembali di pikirannya.
Arlo hanya mengangguk, diam, membiarkan Dixon menenangkan diri. Pria itu pergi setelah berpamitan dengan Dixon.
"Untuk menemukan siapa pelaku sebenar, aku harus membuat Quin berada di sisiku."
Dixon mengambil ponselnya, sentuhan jarinya sangat cepat saat menekan layar. Ponsel itu—biasa ia gunakan saat menyamar sebagai Dion.
“Hallo, Chloe?” suaranya terdengar tenang tapi tegas saat panggilan tersambung. “Bisa kau datang ke sini? Bawa orang tua itu bersamamu.”
Ia menatap layar sebentar, menunggu jawaban, sambil membayangkan bagaimana pertemuan itu nantinya akan membantu menyusun langkah selanjutnya. Dixon tahu, setiap keputusan kecil sekarang bisa menentukan arah dari teka-teki besar yang sedang mereka hadapi—terutama terkait Quin dan segala komplikasi yang menyertainya.
•
•
“Baiklah, aku dan paman akan menyusulmu,” jawab Chloe sambil menatap layar ponselnya. Perasaan campur aduk menyelimuti hatinya—antara senang, rindu, dan sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini. Ia melangkah mendekati Hudson, yang matanya penuh rasa ingin tahu.
“Siapa yang menelepon?” tanyanya.
“Dion,” jawab Chloe singkat, menatap Galen yang ikut berada di ruangan itu.
Galen langsung berdiri, matanya membulat. “Maksudmu?”
Chloe diam-diam mengumpat dalam hati, merasakan kesal yang perlahan naik. Apa tidak jelas, huh… pikirnya sambil menahan napas, mencoba tetap tenang di hadapan mereka.
"Barusan Dion menelepon ku. Dia menyuruh aku dan paman Hudson untuk menyusul ke sana."
Mendengar jawaban Chloe, Galen langsung berdecak kesal. “Sialan… apa yang anak itu pikirkan, hah?! Bukannya membuktikan ucapannya, dia malah bersenang-senang.”
Chloe menatap Galen dengan mata tenang, suaranya lirih namun tegas. “Tuan, Dion sudah membuktikan ucapannya. Dia sudah menemukan nona Canna. Anda tidak perlu memikirkan hal lain.”
Wajah Galen sedikit berubah, campur aduk antara terkejut dan tidak percaya. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada ragu.
Chloe menghela napas pelan, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Ia beralih menatap Hudson dengan penuh perhatian. “Paman, mau berangkat sekarang?”
Hudson mengangguk pelan, memahami maksud Chloe. Mereka tidak punya waktu untuk menunda hal penting yang ingin di sampaikan oleh Dixon.
Galen menatap kepergian dua orang itu dengan pandangan gelap. Ekspresi wajahnya menunjukkan sesuatu, ia meremat tangannya erat.
"Apa ada hal lain yang fi sampaikan oleh anak itu?" Hudson menatap Chloe yang berjalan di sisinya.
"Dia hanya bilang: Untuk mengungkapkan kebenarannya, Quin harus bersamaku."
"Hah?"
"Aku juga tidak mengerti paman. Tapi dia hanya bilang itu dan menyuruh aku dan paman untuk menyusulnya dengan segera."
"Astaga, anak itu membuatku pusing. Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan."
"Aku juga tidak pasti paman. Mungkin ini salah satu dari rencananya?" balas Chloe tidak yakin dengan jawapannya sendiri.
Hudson menghela nafas berat, "Oh, ya, sebelum kita pergi ke sana... aku ingin menjenguk Dion terlebih dahulu."
"Baiklah."
•
•
Quin menatap pria besar di depannya dengan perasaan yang campur aduk—antara cemas, penasaran, dan sedikit gugup. Sekeliling mereka, para pekerja yang berdiri tak jauh ikut saling pandang, rasa ingin tahu tergambar jelas di wajah masing-masing.
Sore itu, semua dikumpulkan. Ada hal penting yang harus disampaikan oleh Quin, katanya. Suasana sedikit tegang, udara sore yang hangat seolah menambah berat langkah setiap orang. Semua mata tertuju padanya, menunggu kata-kata yang akan segera keluar dari bibir Quin.
"Jadi?"
"Ah, ya?"
"Kau ingin menjual seluruh kebun mu kan?"
"Benar." Mendengar jawapannya, semua yang ada di sana saling pandang dengan wajah kaget. Apa maksudnya?
"Nona.. ini.." Wanita tua itu mengungkapkan rasa terkejutnya. Wajah nya yang keriput menunjukkan perasaan tak rela dan sedih.
“Kalau nona ingin menjual kebun ini… di mana kami harus mencari pekerjaan?” tanya salah seorang pekerja, nada khawatir terdengar jelas.
Quin tersenyum tipis, mencoba menenangkan mereka. “Kalian masih tetap bekerja di sini kok. Hanya pemiliknya yang berganti,” jawabnya lembut. Seketika, senyum lega muncul di wajah para pekerja.
Namun, harapan itu runtuh seketika begitu suara si pembeli terdengar.
“Maaf, aku tidak akan memperkerjakan pekerja lamamu. Aku juga punya pekerja yang membutuhkan pekerjaan,” ucapnya tegas, matanya menatap Quin tanpa berkedip.
“Tapi…” suara Quin tertahan, ingin membela para pekerja yang selama ini setia.
“Kau ingin menjualnya, bukan? Jika sudah dijual, maka kebun ini milikku. Segala keputusan ada di tanganku, karena aku bosnya sekarang,” potong si pembeli cepat, membuat Quin terdiam seribu bahasa.
Hening menyelimuti sejenak, hanya suara angin sore yang terdengar, sementara Quin menatap kebun yang selama ini ia jaga dengan perasaan berat dan tak berdaya.
"Tunggu, aku akan membantumu."