“Canna Nyx Quintessa,” suara pria itu memecah hening.
“Anda dituduh menggelapkan dana perusahaan sebesar 20 miliar rupiah untuk kepentingan pribadi.”
Quin menatap layar berkas di depannya, tangan gemetar menahan dingin yang tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya. Dua puluh miliar rupiah. Angka itu bukan hanya sekadar angka, ia seperti pisau yang menusuk hatinya.
Hatinya seperti berhenti berdetak. Air mata yang ditahannya selama ini pecah begitu saja. “Ini… ini salah. Saya tidak pernah bekerja di sana,” gumamnya, suaranya hampir tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
Namun pria di depannya tersenyum tipis, dingin. “Semua bukti mengarah pada anda. Tanda tangan, sidik jari, semuanya.”
Quin menelan ludah. Ia ingat semua yang terjadi: Nara, kakaknya, yang menghadiri interview dengan identitasnya; Nara yang tersenyum di foto kantor, menandatangani dokumen-dokumen itu—bukan dirinya. Semua ini terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.
Bayangan ibunya yang baru meninggal menembus pikirannya. Kehilangan, ditipu, dan tuduhan tak berdasar: semua bersatu, membentuk badai yang hampir merobek jiwanya.
Quin ingin berteriak, ingin memukul meja, ingin semua orang melihat kebenaran di matanya. Tapi suaranya tak keluar, tenggelam oleh ketakutan dan kebingungan. Bagaimana mungkin ia bisa melawan ketika senjata mereka adalah namanya sendiri?
Quin menatap para pria itu, jantungnya berdegup kencang semakin kencang. “Tolong… dengarkan saya. Saya tidak melakukan ini. Semua ini salah. Saya bahkan tidak pernah menandatangani dokumen itu,” suaranya serak.
Pria yang tampak sebagai ketua dewan direksi itu mencondongkan tubuh, menatapnya dengan dingin. “Nona Canna, bukti di tangan kami jelas. Jika anda terbukti bersalah, hukumannya berat. Penjara hingga sepuluh tahun dan denda sebesar jumlah yang anda gelapkan.”
“Sepuluh tahun?!” Quin terhenti, hampir terjungkal dari kursinya. “Tolong… tolong periksa lagi! Saya… saya korban, bukan pelaku. Nara, kakak saya… dia yang melakukan semuanya!”
Senyum tipis muncul di wajah pria itu, lebih menyeramkan daripada amarah. “Alasan itu tidak cukup kuat. Sidik jari anda, tanda tangan anda… semuanya ada di dokumen. Kalau ingin membuktikan diri, anda harus menghadirkan bukti kuat, atau pengadilan akan memutuskan.”
Quin menunduk, tangannya bergetar. Angka dua puluh miliar itu terasa seperti beban yang menindih seluruh hidupnya. “Jadi… bahkan jika saya tidak bersalah, saya tetap bisa dijatuhi hukuman?”
Pria itu mengangguk pelan, matanya tak bergeming. “Itulah hukum. Dan saat ini, anda tercatat sebagai tersangka utama. Semua langkah anda akan diawasi.”
Hati Quin sesak. Dunia yang baru saja retak kini terasa runtuh sepenuhnya. Namun di balik rasa takut itu, perlahan muncul satu tekad—ia tidak akan membiarkan namanya tercemar begitu saja. Ia harus mencari cara untuk menghadapi tuduhan ini dan membuktikan kebenarannya.
Tapi… bagaimana?
Pertanyaan itu menghantui pikirannya. Quin mengangkat kepala, menatap pria itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tolong… beri saya waktu,” suaranya serak namun tegas. “Sedikit saja… biarkan saya membuktikan bahwa saya tidak bersalah. Saya akan temukan bukti, saya akan jelaskan semuanya. Tapi jangan… jangan hukum saya sebelum saya bisa membela diri.”
Pria itu menatapnya beberapa detik, wajahnya datar namun sorot matanya menunjukkan sedikit keraguan. “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi… jika anda punya bukti yang bisa menguatkan posisi anda, serahkan secepatnya. Waktu anda tidak banyak.”
"Bukti... aku harus mendapatkan bukti," gumamnya setelah berhasil keluar dari perusahaan yang bisa ia sebut sebagai neraka.
Quin mendongak, matanya tertuju pada logo besar MyHealthPuls di puncak gedung, huruf-hurufnya bercahaya biru pucat di tengah langit malam.
"Ha..ha..ha..."
Sebuah tawa sumbang lolos dari bibirnya. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan gedung megah itu, sementara kata-kata para dewan direksi terus terngiang di kepalanya.
Bahkan udara malam yang menusuk tulang terasa tak seberapa dibanding sesak yang membekap dadanya.
"Untuk mendapatkan bukti, aku harus mendapatkan bantuan dari seseorang yang mahir."
Tapi...
Adakah akan ada orang yang sudi membantu korban sepertinya? Maukah orang-orang percaya jika ia berkata bahwa ia sama sekali tidak bersalah?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, membuat napasnya terasa berat. Quin menahan frustrasi. Ia tidak bersalah. Tidak… sama sekali tidak bersalah!
"Hah.."
Di tengah kekacauan pikirannya, hanya satu nama yang muncul, Zidane. Satu-satunya orang yang ia percaya, tunangan yang selama ini ia yakini akan berdiri di sisinya.
Tangannya bergetar saat meraih ponsel. Dia pasti akan mengerti. Dia pasti akan memelukku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, batinnya percaya.
Namun, panggilannya hanya berdering tanpa jawaban. Pesan-pesan yang ia kirimkan berhenti di tanda terkirim.
Kegelisahan mulai berubah menjadi ketakutan. Kenapa dia tidak menjawab? "Apa jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk padanya?" Bukan apa, Zidane adalah manusia paling cepat membalas pesannya.
Quin meneguk ludah, mencoba menghalau pikiran buruk yang mulai berputar di kepalanya. Tapi rasa cemas itu terlalu kuat. Ia tak tahan menunggu lebih lama.
Langkahnya membawanya berlari keluar kafe, menembus malam yang dingin. Lampu-lampu kota berkelebat di matanya, samar, karena pandangannya berkaca oleh air mata yang tertahan.
Ia hampir berlari menuju apartemen Zidane. Kata sandi pintunya masih ia hafal, Zidane sendiri yang mengajarkannya sambil berkata, “Supaya kau selalu bisa masuk kapan pun.”
Setibanya di sana, Quin langsung memutar kenop dan mendorong pintu. “Zidane?” panggilnya.
"Kau di dalam?"
Hening.
Ia melangkah menyusuri ruangan, matanya menyapu setiap sudut. Tidak ada tanda-tanda Zidane di ruang tamu, dapur, ataupun kamar. Jantungnya berdegup makin cepat ketika telinganya menangkap suara samar dari arah balkon.
Kakinya berat, tapi ia tetap melangkah. Tirai tipis yang menutupi pintu kaca balkon bergoyang perlahan tertiup angin malam. Quin meraih tepinya… lalu menyingkapnya.
Dunia berhenti.
Di hadapannya, tunangannya tengah berbaring bersama seorang wanita. Dan wanita itu adalah kakaknya, Nara. Kembarannya sendiri!
Semua suara lenyap, hanya bunyi detak jantungnya yang menggelegar di telinga. Napasnya tercekat, air mata mulai mengaburkan pandangannya.
“Kalian…” suaranya pecah, tapi cukup untuk membuat mereka berdua menoleh.
Nara tersenyum miring. “Kau melihatnya sendiri, kan? Tidak usah pura-pura kaget.”
Quin melangkah masuk, menatap mereka dengan mata yang berkilat penuh kemarahan.
“Kau.. kau sudah membuatku dituduh menggelapkan dana, membuat semua orang memandangku seperti sampah…padahal bukan aku pelakunya dan sekarang.... kau merebut tunanganku juga? Kurang apa lagi, Nara?! Mau ambil semua hidupku sekalian?!”
Nara pura-pura mengangkat bahu. “Kalau tidak mau kehilangan, seharusnya kau menjaganya. Lagipun kau sendiri yang bodoh kan?"
“Menjaga?” Quin terkekeh getir. “Dari kakak kandung sendiri? Benar.. aku terlalu bodoh berpikir darah dan keluarga bisa diandalkan. Kau menusukku dari belakang, dari awal Nara… dan kau,” tatapnya beralih ke Zidane, “ikut memegang pisaunya.”
Zidane menunduk, rahangnya mengeras, tatapannya penuh penyesalan tapi bibirnya terkunci.
Dengan suara serak, Quin menatapnya tajam. “Zidane, kau tahu? Wanita ini… membuatku tertuduh atas kejahatan yang dia lakukan. Dia pakai identitasku, lalu… lalu apa? Aku yang jadi korban!”
Nafasnya memburu. Tangannya terangkat, menjambak rambut panjangnya sendiri, seolah mencari tempat melampiaskan amarah. Rasa frustrasi nyaris meledak, membuatnya ingin menerjang wanita yang begitu mirip dengannya itu.
"Apa kau tau... kau satu-satunya alasan ku, harapan ku tapi..." Quin menatapnya beberapa detik. Air matanya jatuh semakin deras. Perlahan, ia meraih tangannya sendiri, memutar cincin tunang yang melingkari jarinya. Logam dingin itu terasa berat, seperti beban yang selama ini ia pikul sendirian.
“Quin…” suara Zidane terdengar lirih. Melihat gadis yang dicintainya perlahan melepaskan cincin pertunangan mereka, hatinya terasa diremas.
Dengan satu helaan napas, ia melepaskannya.
“Ambil. Kalian cocok,” ucapnya lirih namun tegas, meletakkan cincin itu di meja kecil dekat balkon.
Tanpa menunggu jawaban, Quin berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu tertutup menjadi satu-satunya penutup dari malam yang memutus segalanya.
•
•