Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan. Dixon tidak langsung menoleh. Matanya masih terpaku pada dinding penuh catatan, seolah enggan berpaling dari kebenaran yang baru saja ia simpulkan.
“Masuk,” ucapnya datar.
Pintu terbuka perlahan. Arlo melangkah masuk dengan langkah hati-hati, seolah takut mengganggu suasana. Di tangannya, ada map tebal berisi laporan baru tentang kebutuhan rumah sakit desa Nunuk. Begitu melihat papan di hadapan Dixon, langkahnya terhenti.
“Jadi… kau sudah menemukan benangnya,” ucap Arlo tanpa basa-basi.
Dixon tidak menjawab. Ia hanya memutar badan, bersandar di meja kerjanya dan menatap Arlo dengan sorot mata yang sulit dibaca—antara lelah dan waspada.
“Tidak semuanya,” katanya akhirnya. “Tapi cukup untuk tahu siapa yang bermain di belakang layar.”
"Ah, tidak juga. Mungkin ini bisa aku gunakan untuk rencana selanjutnya."
Arlo mendekat beberapa langkah, menatap nama-nama yang tertulis di papan. Matanya berhenti di dua nama yang paling bawah:
Canna Nyx Quintessa
Calla Nyx Quinnara
“Kau pikir salah satu dari mereka menyamar?”
Dixon mengangguk pelan. “Sama seperti aku dan Dion.”
Seketika suasana ruangan berubah. Arlo menatap Dixon lama, seolah menimbang sesuatu. “Berarti…” ia berhenti sejenak, suaranya menurun, “kau yakin Quin yang ada di sini bukan dirinya?”
Dixon menatap foto Quin di papan, lalu menjawab lirih, “Aku tidak tahu. Tapi yang aku temui di sini… terasa terlalu tenang untuk seseorang yang sedang bersembunyi.”
Arlo menurunkan map yang dibawanya ke meja. “Kau terlalu terlibat, Dix.”
Dixon tersenyum kecil, tanpa rasa humor. “Aku tahu.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Hanya suara jam dinding dan desiran kipas angin yang terdengar samar.
Arlo menatap surat di meja dan membaca sekilas tulisan di bagian atas amplopnya. “Dari ayahmu?”
“Ya.”
“Apa dia tahu?”
"..." Dixon diam.
"Maksudku rencana mu? Kau yakin ini akan berhasil?"
Dixon menatapnya dengan mata dingin. “Tidak. Dan aku akan memastikan dia tidak akan pernah tahu.”
Arlo menarik napas panjang. “Kalau dugaanmu benar, ini bukan cuma soal korupsi, Dixon. Ini bisa menyeret seluruh keluarga kalian dan juga… Quin.”
Dixon berdiri tegak, matanya menatap papan catatan yang kini terasa seperti medan perang.
“Biarkan saja,” katanya perlahan. “Selalu ada sesuatu yang harus dikorbankan untuk memecahkan persoalan serumit ini.”
“Maksudmu... mengorbankan Quin?”
Dixon menggeleng pelan. “Terlalu kejam kalau disebut mengorbankan.”
“Jadi apa?”
“Dia adalah umpan,” jawab Dixon akhirnya, suaranya datar tapi matanya menyimpan beban berat. “Quin adalah akar pohon itu, akar yang menyambungkan ketiga permasalahan ini.”
Arlo terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia mulai memahami arah rencana Dixon.
“Tapi... apa kau pikir dia tidak akan membencimu setelah tahu kebenarannya?”
Mendengar itu, Dixon mengusap wajahnya kasar. Perasaannya sedikit kacau saat membayangkan wajah Quin yang membencinya.
“Tentu saja,” Arlo sendiri yang menjawab pertanyaannya. “Hanya orang gila yang tidak marah saat dijadikan pion.”
"Aku... aku, ahh"
Arlo menatap Dixon yang mulai frustrasi. Ia kemudian berjalan mendekati papan itu, lalu mencabut foto Quin yang tertempel di tengah.
“Ini Quin?” tanyanya, menaikkan satu alis. Ia memang belum pernah bertemu langsung dengan gadis itu, tapi Jenna sering bercerita tentangnya.
“Menurutku... ah, tidak, menurut cerita Jenna—gadis ini dijemput pergi oleh ayahnya saat berusia delapan belas tahun. Tepat di hari ulang tahunnya.”
“Maksudmu?” dahi Dixon berkerut. Itu informasi baru baginya. Ia memang sempat mencoba mencari tahu tentang Quin lewat kedua sahabatnya, Prim dan Jenna, tapi tidak banyak yang bisa digali. Yang ia tahu hanya satu: Quin sedang terlilit masalah utang.
“Quin hidup bersama ibunya sejak kecil, tanpa sosok ayah,” jelas Arlo pelan. “Sampai akhirnya, di hari ulang tahunnya yang ke delapan belas, ayahnya datang dan menjemputnya ke kota.”
Dixon mendecak pelan, tampak tak puas dengan jawaban itu. “Aih, itu aku mengerti. Maksudku, bagaimana dengan kembarannya? Calla?”
“Kakaknya, ya? Dia diasuh oleh ayahnya sejak bayi,” jelas Arlo sambil menatap foto di tangannya.
Kening Dixon berkerut. “Jadi Calla itu kakaknya?”
Arlo mengangguk pelan. “Benar. Setelah melahirkan, kedua orang tua mereka bercerai. Hak asuh Calla jatuh ke tangan sang ayah, sedangkan Quin dibesarkan oleh ibunya.”
Dixon menyilangkan tangan, mencoba menyusun potongan waktu di kepalanya. “Kalau begitu... saat ayahnya menjemput Quin di usia delapan belas tahun, artinya dia baru tinggal di kota selama lima tahun?”
“Yaa, tepatnya begitu,” sahut Arlo singkat.
“Lulus kuliah di usia dua puluh dua,” lanjut Dixon, menatap papan penuh catatan itu. “Lalu... setahun setelahnya, dia diterima bekerja.”
“Ini aneh… bisa kau ceritakan apa saja yang kau dengar dari Jenna?” tanya Dixon, matanya menatap Arlo dengan serius.
Arlo menarik napas sejenak. “Kalau soal latar belakang Quin, itu saja yang kuketahui… Lalu, sebulan yang lalu, Bu Cattaliya meninggal—ibunya. Kalau tidak salah, Quin datang ke rumah duka dengan gaun pesta yang penuh lumpur.” Ia berhenti sejenak, seolah menunggu Dixon mencerna informasi itu. “Kau pasti merasa aneh, kan? Kenapa dia datang dengan gaun? Nah, ibunya meninggal tepat di hari ulang tahunnya. Bayangkan sesakit apa perasaan gadis itu.”
Dixon mengangguk pelan, menahan desah.
“Belum sampai seminggu setelah pemergian mendiang,” lanjut Arlo, “Quin dipaksa pulang ke kota karena ada urusan mendesak katanya. Tapi di malam yang sama setelah dia pergi, dia kembali dengan keadaan yang jauh lebih hancur. Begitulah kata Jenna.”
“Tunggu…” Dixon menatap Arlo, matanya membulat, penuh keterkejutan.
Arlo, yang berdiri tidak jauh darinya, menunjukkan ekspresi yang sama—kaget, tak percaya, seolah baru menyadari kepingan terakhir dari teka-teki panjang itu. Antara Quin dan Nara.
Keduanya terdiam beberapa saat, membiarkan kesunyian mengisi ruangan yang berat dengan pertanyaan tak terjawab.
“Berarti…” suara mereka nyaris tersedak oleh realisasi itu.
“Dia adalah pengganti,” ucap mereka serentak, seolah kata-kata itu menegaskan kebenaran yang selama ini terpendam di antara mereka.
•
•
•
Di sisi lain, Quin menatap surat kedua yang datang hari ini, menyusul surat yang diterimanya kemarin. Amplop cokelat itu masih sama—rapi, formal, dan menakutkan.
Dia menarik napas panjang sebelum membuka lipatan surat tersebut. Kata-kata di dalamnya tetap tak berubah: surat peringatan terakhir dari perusahaan besar itu, menuntut pelunasan utang atau tindakan pembelaan diri.
Quin menunduk, matanya menatap tulisan itu seakan mencari celah, berharap ada sesuatu yang bisa memberi jawaban. Tapi yang dia temukan hanyalah rasa panik yang perlahan menggerogoti tenangnya.
“8,45 juta dan… 20 miliar… aku… akuu…” gumam Quin tergagap, suaranya bergetar.
Gadis itu menggigit kukunya, kebiasaan lamanya setiap panik atau cemas. Dengan tangan gemetar, ia kembali membaca kata demi kata surat itu, seakan mencoba menelan kenyataan yang menimpanya.
Seiring matanya menelusuri kalimat demi kalimat, rasa panas di d**a semakin memuncak. Perlahan, air mata jatuh, membasahi kertas yang dipegangnya, meninggalkan noda lembab di setiap kata yang tertulis.
“Ibu… aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?” suaranya pecah di antara isak tertahan.
Quin memeluk surat itu di d**a, seolah dengan begitu beban di hatinya bisa sedikit berkurang. Namun, yang ada justru sebaliknya—dadanya terasa makin sesak, pikirannya kalut.
“Aku… aku tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi padaku…” ujarnya pelan, suaranya nyaris hilang. “Apa aku memang sebegitu tidak beruntung? Atau aku ini… benar-benar sial?”
Air matanya kembali jatuh, membasahi pipinya yang pucat. Di tengah keheningan siang itu, ia menatap jauh ke arah kebun dari teras rumah.
Para pekerja tampak sibuk memanen sayuran, tawa mereka terdengar riang hingga ke teras. Suasana itu kontras dengan kegelisahan yang menyesaki dadanya.
“Aku… aku tidak tega,” bisiknya pelan, nyaris untuk dirinya sendiri.
“Kalau aku menjual kebun ini… ke mana mereka harus mencari pekerjaan? Lalu kenangan apa lagi yang bisa kulihat, ku jaga, dan rasakan kebahagiaan saat melihat hasil jerih payah mereka?”
Quin menunduk, mata berkaca-kaca. Kebun itu lebih dari sekadar tanah dan tanaman; ia adalah rumah, kenangan, dan hidup yang selalu menjadi bagian dari dirinya.
Harta paling berharga peninggalan ibunya.
“Uang segini saja… tidak mungkin dilirik oleh perusahaan sebesar itu,” ucap Quin lirih, suaranya bergetar di antara napas yang berat. Ia menatap tumpukan uang di atas meja—nominal yang tak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah yang tertulis dalam surat peringatan.
“Dua puluh miliar… dan aku hanya punya beberapa juta.” Ia tertawa hambar, namun tawa itu segera berubah menjadi helaan napas panjang yang penuh keputusasaan.
“Ibu…” bisiknya pelan, matanya menatap langit-langit seolah berharap jawaban akan turun dari sana. “Apa aku… menyerahkan diriku saja, ya?”
Kata-kata itu menggantung di udara, dingin dan getir. Dalam diam, Quin sadar bahwa pertanyaan itu bukan sekadar keluhan—melainkan tanda bahwa dirinya sudah berada di ambang batas.
•
•