“Quin, tunggu sebentar…” panggil Dixon tiba-tiba sambil berlari menghampirinya. Di tangannya, ada sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit kusut.
“Apa itu?” tanya Quin heran.
“Ini…”
Dixon menatap amplop itu lama. Segelnya sudah terbuka dan dialah pelakunya. Ia tahu itu salah, membuka surat orang lain tanpa izin. Tapi rasa penasaran dan kekhawatiran mengalahkan logika.
Ia takut jika dugaannya benar. Dan benar saja: amplop itu berisi surat peringatan terakhir untuk Quin. Surat yang menuntut pelunasan utang, atau pembelaan diri untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
“Ada surat untukmu,” ujar Dixon pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam senja yang kian memudar.
"Surat?"
Dixon mengangguk. Ia menjulurkan surat itu pada Quin. "Ini, maaf... aku sudah membukanya duluan," lirihnya.
Quin menatap surat itu tanpa segera mengambilnya. Ekspresinya datar namun matanya perlahan kehilangan fokus. Seolah kalimat yang baru saja diucapkan Dixon menggema berulang di kepalanya.
“Sudah… kau buka?” suaranya pelan, hampir tak terdengar.
Dixon mengangguk pelan. Ada jeda di antara mereka. Suasana senja yang tenang berubah sunyi, hanya terdengar desir angin yang masuk lewat celah pintu.
“Aku tidak bermaksud melanggar privasimu,” lanjut Dixon dengan nada hati-hati. “Tapi… aku khawatir. Dan setelah membaca isinya, aku—”
“Sudah,” potong Quin cepat. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengambil amplop itu dari tangan Dixon. Jemarinya sedikit bergetar, entah karena marah, sedih atau takut menghadapi kenyataan yang tertulis di dalamnya.
Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, menatap amplop itu tanpa membuka. Kemudian ia berbalik perlahan.
“Terima kasih… sudah memberikannya padaku,” ucapnya datar tanpa menatap Dixon lagi.
Dixon hanya bisa diam, mengikuti langkah Quin dengan pandangan berat. Ia ingin mengatakan sesuatu—menjelaskan, mungkin juga menenangkan tapi lidahnya kelu.
Sialan… jika seperti ini, bukankah aku justru terlihat kejam? Ada jeda dalam pikirannya: kalimat yang tak pernah sempat diucapkan, tertelan bersama udara senja yang makin berat.
Dixon hanya bisa memandangi punggung Quin yang menjauh, lalu tersenyum tipis. Senyum yang samar, nyaris tak terlihat di bawah cahaya jingga yang mulai memudar di cakrawala.
Maaf, Quin... aku tidak bermaksud. Aku hanya...
“Terima kasih.”
Lamunan Dixon seketika buyar. Suara Quin terdengar pelan, hampir tenggelam di antara hembusan angin sore. Ada sesuatu di nada suaranya, lirih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu di dadanya.
“Ah… ya?” Dixon menoleh cepat, sedikit bingung dengan arah pembicaraan.
“Sudah sampai. Kau bisa pulang sekarang,” jawab Quin tanpa menoleh, suaranya tenang tapi datar, seperti sedang menutup percakapan yang tak ingin diteruskan.
Dixon menatap sekeliling, baru menyadari bahwa mereka sudah berdiri di depan rumah Quin. Ia mengedipkan mata pelan, seolah mencoba memahami bagaimana mereka bisa tiba secepat itu.
Apa rumahnya memang sedekat ini… atau aku yang tidak sadar sepanjang jalan tadi? batinnya, sambil menatap sosok Quin yang kini telah berbalik menuju pintu tanpa menoleh lagi.
“Anu… sebentar!”
“Ya?” Quin tak menoleh, suaranya datar. Satu tangannya meremas surat itu erat, hingga sudut amplopnya tampak kusut.
“Aku… aku minta maaf,” ujar Dixon lirih, hampir terbawa angin sore.
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Maaf, Quin. Aku… aku hanya melakukan tugasku. Maaf.”
Kening Quin berkerut. Kata-kata itu terdengar aneh seperti mengandung sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya. Tugasku? Apa maksudnya?
Ia segera berbalik, ingin menanyakan langsung, tapi Dixon sudah lebih dulu berbalik arah.
Langkahnya cepat, tergesa-gesa, seolah ingin melarikan diri dari sesuatu. Quin hanya mampu menatap punggung pria itu yang semakin menjauh, tertelan cahaya senja yang memudar.
"Apa maksudmu... Dixon,"
•
•
•
"Aku kembali, biboo~"
Pintu rumah terbuka dengan suara berderit halus. Dixon melangkah masuk tanpa menyalakan lampu. Hanya cahaya redup dari jendela yang menjadi penerang ruang tamunya. Suasana rumahnya sunyi, terlalu sunyi hingga desahan napasnya sendiri terdengar berat.
"Bibo, kau di mana?"
Seekor anjing putih keluar saat menghidu aroma dari tuannya. Anjing kecil itu mendekati Dixon dengan ekor bergoyang perlahan.
"Hei~ kau ke mana sajaa, hm?" Anjing kecil itu hanya menggongong kecil kemudian berlari kembali memasuki dapur.
Dixon menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. Ia berjalan perlahan menuju ruang kerjanya di lantai dua. Setiap langkah terasa menekan pikirannya semakin dalam.
Begitu tiba di ruangan itu, ia langsung menyalakan lampu meja. Cahayanya temaram, menerangi meja yang dipenuhi kertas, catatan medis, dan beberapa dokumen yang belum sempat ia rapikan.
Dixon menjatuhkan diri ke kursi lalu membuka laci di sisi kanan meja. Di sana tersimpan satu amplop serupa dengan milik Quin: cokelat bersegel, dan bertuliskan atas namanya: Dixon Kane Caesar Hudson.
Ia membuka segelnya tanpa pikir panjang. Helaan napas berat lolos begitu matanya menelusuri baris pertama.
"Apa telepon mu rusak? Atau apa sinyal di sana terlalu buruk sampai kau tidak bisa mengirim kabar? Kau sudah cukup lama di sana, Dion! Kembalilah sebelum semuanya jatuh ke tangan orang lain.”
Baris itu membuat dadanya terasa sesak. Nama itu lagi, Dion. Sosok yang kini terbaring tanpa kesadaran di rumah sakit. Sosok yang kini harus ia gantikan demi menutup rahasia keluarga.
Jemarinya mengepal, surat itu hampir diremas. “Berapa lama lagi aku harus pura-pura jadi dia?” gumamnya lirih, suara nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan.
"Dion... kapan kau akan sadar?"
Ia menatap foto di meja. Foto dirinya dan Dion semasa kecil. Sama persis hanya beda senyuman. Dulu, mereka tertawa tanpa beban. Kini, satu di antara mereka tertidur tanpa akhir, dan yang satu lagi terjebak dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Pandangan Dixon beralih pada surat lain di sudut meja—salinan surat Quin. Surat yang isinya masih bergema di kepalanya.
Ia menutup matanya sejenak.
“Kalau saja semua ini tidak terjadi… mungkin aku tidak perlu menyeretmu sejauh ini, Quin.”
Lelaki itu terdiam lama. Di luar, langit sudah benar-benar gelap. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan menemani pikirannya yang kacau.
•
•
•
"Ini kacau!"
Ruang kerja itu sunyi. Hanya suara jarum jam berdetak perlahan di dinding, berpacu dengan langkah Dixon yang mondar-mandir tanpa arah pasti.
Di meja kerjanya, sebuah surat terbuka setengah, disertai dengan amplop berlogo MyHealthPlus yang berkilat samar di bawah cahaya lampu.
Dixon menatap surat itu lama, lalu menghela napas berat. Ia menekan pelipisnya, mencoba menenangkan pikiran yang semakin kusut.
Di dinding depannya, papan catatan besar yang penuh coretan merah tampak seperti peta kejahatan. Nama, tanggal, dan simbol saling bertaut, membentuk pola yang semakin sulit diurai.
Ia berdiri di hadapan papan itu, matanya mengikuti setiap garis penghubung yang ia buat sendiri.
Kasus Korupsi Lima Belas Tahun Lalu. Tulisannya tebal, dicetak dengan tinta hitam. Kasus itu dulu sempat mengguncang dunia bisnis dan medis—korupsi besar-besaran yang melibatkan proyek kesehatan nasional. Dana penelitian dan pembangunan fasilitas hilang tanpa jejak dan tak satu pun tersangka benar-benar dihukum. Sekarang, setelah lima belas tahun, jejaknya muncul lagi. Kali ini di bawah nama MyHealthPlus—perusahaan yang kini menjadi milik adiknya.
“Apakah semuanya kebetulan?” gumam Dixon pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia menarik garis merah ke arah nama lain di sisi papan: Canna Nyx Quintessa. Canna atau lebih tepatnya Quin, begitu semua orang memanggilnya. Wanita itu kini menjadi terdakwa utama atas kehilangan dana sebesar dua puluh miliar. Jumlah yang terlalu sempurna untuk sekadar kesalahan pencatatan.
Dixon menatap tulisan itu lama, matanya sayu. “Dua puluh miliar... dan semua tuduhan jatuh padanya.” Ia tahu, Quin bukan orang yang seperti itu. Mereke belum terlalu lama saling mengenal tapi dari tingkah Quin yang ia amati, Quin sama sekali tidak terlihat bisa melakukan hal besar seperti itu. Bahkan, Quin tidak mengenalinya.
Jika Quin benar-benar adalah orangnya, mustahil baginya untuk tidak mengenali wajah Dixon yang mirip dengan Dion, majikan Quin bekerja. Begitu isi pikiran Dixon.
Tapi bukti dari tanda tangan penarikan dana sebesar itu sangat jelas miliknya.
Ia menghela napas dalam, tangannya kemudian bergerak menarik garis baru ke tengah papan, menghubungkan nama Quin dengan nama Dion yang tertera di bawah label “kecelakaan.”
“Kalau ini bukan kecelakaan…” katanya lirih, “…maka seseorang berusaha menghapus Dion dari perusahaan dengan Quin sebagai pion yang menjadi titik permulaan.”
"Lalu... siapa yang mencelakai Dion?"
Ia ingat hari itu—mobil Dion ditemukan hancur di bawah jurang dan semua data komunikasi terakhirnya hilang begitu saja. Tidak ada jejak rem, tidak ada tanda perlawanan. Terlalu bersih. Dixon semakin yakin: rencana pembunuhan Dion, dana dua puluh miliar dan kasus korupsi lima belas tahun lalu bukanlah peristiwa terpisah.
Ia menulis cepat di papan putih: 1, 2, dan 3—semua berhubungan atau dihubungkan.
Lalu ia berdiri memandangi hasil tulisannya, terdiam beberapa saat sebelum menambahkan dua nama terakhir di bawahnya: Canna Nyx Quintessa (Quin), Calla Nyx Quinnara.
Kedua nama itu ditulis dengan warna berbeda. Kembar identik—wajah serupa, riwayat samar dan jejak hidup yang saling tumpang tindih. Dixon menatapnya lekat, lalu berkata pelan, “Salah satu dari mereka sedang menyamar.”
"....Dan mungkin saja salah satu dari mereka adalah 'akar pohon'." Tidak ada yang tahu maksud dari kalimat Dixon.
"Rumitnya."
Ia masih ingat data yang ia dapat dari Arlo beberapa hari lalu: satu identitas digunakan dua kali pada catatan kepegawaian, dan satu lagi hilang dari sistem. Entah siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik nama itu, tapi Dixon tahu—seseorang sedang memainkan peran yang bukan miliknya.
“Kalau Quin ada di Desa Nunuk,” ia berbisik sambil menatap foto Quin di papan itu, “lalu di mana Calla?”
Ruang itu kembali hening. Hanya bunyi detik jam yang memantul di dinding. Dixon menatap seluruh catatan yang kini terasa seperti cermin dari kehidupannya sendiri—dua kembar, dua wajah, dua nama yang saling bertukar tempat.
Ia mendesah panjang dan menatap surat dari ayahnya sekali lagi.
“Kalau semua ini benar-benar berhubungan,” ujarnya lirih, “maka aku bukan satu-satunya yang sedang menyamar di dunia ini.”