“Sudah kan? Aku bisa kembali sekarang?” tanya Quin dengan wajah cemberut. Seharian ini ia dibawa berkeliling oleh Dixon untuk mencari stok bahan makanan bagi peti es miliknya. Ironisnya, sepanjang perjalanan, ia bahkan tidak ditawari sebotol minuman pun.
Kejam banget!
Kini mereka sudah tiba di rumah Dixon. Jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Quin duduk di kursi dapur dengan wajah lelah, sementara perutnya mulai berbunyi pelan.
Sejak tadi ia menahan lapar, berharap Dixon menyadari penderitaannya. Namun pria itu tampak terlalu sibuk menatap wajan di atas kompor, sepenuhnya fokus pada masakannya, seolah dunia di sekitarnya tidak lagi ada.
Dixon tampak begitu serius menumis sesuatu di atas wajan. Aroma bawang putih dan minyak panas mulai memenuhi ruangan, membuat perut Quin semakin protes tanpa kompromi.
Ia menatap punggung Dixon yang sibuk, lalu bersandar malas di kursi. “Kau tahu nggak,” gumamnya lirih, “Orang normal akan menawari tamunya air minum bukan membuatnya menunggu sampai kelaparan begini.”
Dixon melirik sekilas tanpa menoleh sepenuhnya. “Kalau aku menawarimu minum, kau pasti pulang sebelum sempat makan siang,” ujarnya santai. “Lagipula, aku sedang memasak sesuatu yang lebih baik dari sekadar air putih.”
Quin mengangkat alis, setengah kesal, setengah penasaran. “Kau yakin itu bisa dimakan?”
“Percayalah, aku dokter sekaligus koki amatir bersertifikat,” jawab Dixon dengan nada percaya diri yang terlalu tinggi untuk ukuran seseorang yang baru saja menumpahkan sedikit saus ke lantai.
Quin menahan tawa melihatnya kebingungan membersihkan noda itu sambil terus mengaduk masakan. Ada sesuatu yang aneh dari Dixon; ia bisa membuatnya kesal tapi di saat bersamaan, sulit untuk tidak tersenyum melihatnya.
Beberapa menit kemudian, Dixon menaruh dua piring di meja. “Nah, ini dia. Tumis sayur spesial hasil jerih payah kita di pasar tadi.”
Quin menatap piring itu ragu. “Spesial karena gratis atau karena dimasak tanpa resep?”
Dixon menatapnya sambil menyilangkan tangan. “Coba dulu baru boleh menghina.”
Quin menghela napas, mengambil sendok, lalu mencicipi sedikit. Raut wajahnya langsung berubah terkejut. “Ini... ternyata enak.”
Dixon tersenyum puas. “Tentu saja. Kau pikir aku cuma tampan tanpa keterampilan?”
Quin menatapnya tajam tapi tak bisa menahan senyum kecil di sudut bibirnya. “Tetap saja, dokter cupu.”
Dixon terkekeh. “Dan tetap saja, pasien galak.”
Suasana dapur mendadak terasa lebih hangat dari sebelumnya bukan hanya karena uap dari tumisan di meja tapi juga karena percakapan kecil yang, entah bagaimana, membuat jarak di antara mereka terasa sedikit berkurang.
Hubungan antara Dixon dan Quin memang agak unik. Setelah kejadian waktu itu yang awalnya membuat Quin jengkel setengah mati, mereka perlahan mulai dekat. Entah bagaimana, Dixon selalu muncul di waktu yang tepat, seolah tahu persis kapan Quin butuh seseorang untuk menemaninya, entah untuk berbicara atau hanya diam bersama.
Quin sendiri tak bisa memungkiri rasa nyaman yang perlahan tumbuh di hatinya setiap kali berada di dekat pria itu.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara Dixon memperlakukannya—tenang, sabar, kadang menyebalkan tapi entah kenapa membuat hari-harinya terasa lebih hangat.
Namun di balik itu, ada sedikit rasa curiga yang tidak bisa dia abaikan. Bagaimana Dixon bisa tahu banyak hal tentang dirinya? Tentang masalah yang bahkan tak pernah ia ceritakan pada siapa pun?
Ia sempat berpikir panjang soal itu dan satu-satunya kemungkinan yang masuk akal hanyalah: mungkin Jenna dan Prim yang memberitahunya.
Kedua sahabatnya itu memang tidak bisa menyimpan rahasia terlalu lama, apalagi jika menurut mereka hal itu “demi kebaikan Quin.”
Quin menghela napas pelan, setengah pasrah. Ya sudahlah, pikirnya. Kalau pun benar, aku tidak terlalu keberatan kali ini.
Saat keduanya tengah sibuk menyantap makan siang, suara seseorang terdengar dari luar rumah, memanggil dengan nada cukup keras.
Mereka berdua sontak menoleh bersamaan, saling pandang dengan ekspresi bingung.
"Itu siapa?" tanya Quin pelan.
Dixon mengernyit, meletakkan sendoknya. "Kau punya tamu hari ini?"
Quin mendecak, memutar bola matanya. "Bodoh, ini kan rumahmu."
"Oh iya juga ya," sahut Dixon sambil terkekeh kecil. Ia bangkit dari tempat duduk, membersihkan tangannya dengan serbet lalu berjalan santai menuju teras rumah.
Quin hanya bisa menggeleng, menatap punggung pria itu yang semakin menjauh. Ada sesuatu dalam caranya melangkah yang membuatnya terlihat tenang tapi juga menyebalkan.
Di luar, seorang pengantar surat tersenyum begitu melihat Dixon keluar.
“Selamat siang, Pak. Ini ada surat,” sapanya sopan sambil mengangkat amplop berwarna krem.
“Surat?” Dixon mengerutkan kening.
“Benar, Pak. Ini alamatnya Dokter Dixon, kan?”
“Ya, betul,” jawab Dixon sambil mengambil surat itu, menatap si pengantar dengan pandangan sedikit curiga.
Begitu matanya jatuh pada nama di amplop, napasnya tertahan sejenak. Ia mengembuskan napas berat.
“Ada lagi?” tanyanya datar, masih menatap surat di tangannya.
“Ah, begini, Pak…” ujar si pengantar sambil menggaruk tengkuknya, agak gugup. “Apakah Bapak kenal dengan Nona Canna? Orang yang tinggal di sana.” Ia menunjuk ke arah atap rumah Quin yang tampak dari situ.
Dixon mengangkat wajahnya, menatap arah yang ditunjuk. “Ya, saya kenal. Ada apa?”
Dixon menatap pemuda itu sejenak, lalu menurunkan pandangannya ke arah surat yang masih dipegangnya. “Untuk Canna?” tebaknya.
Pemuda itu mengangguk cepat. “Iya, nona Canna. Rumahnya terkunci dari tadi pagi. Saya sudah tiga kali ke sini tapi tetap saja tak ada orang.”
Dixon mengusap tengkuknya yang terasa gatal. Apakah ia selama itu membawa Quin jalan-jalan ke pasar?
“Memangnya penting sekali suratnya?”
“Saya tidak tahu, pak. Tapi dari segel dan capnya sepertinya resmi. Mohon bantuannya saja, kalau nanti nona itu pulang bisa diserahkan.”
Dixon terdiam sejenak, memandang ke arah rumah Quin. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengangguk. “Baiklah, saya terima. Kalau begitu nanti saya sampaikan.”
“Terima kasih, pak dokter.” Pemuda itu tersenyum lega, menyerahkan surat beramplop krem itu lalu berlalu dengan langkah cepat.
Begitu si pengantar pergi, Dixon menatap surat itu lebih lama. Ada nama pengirim di sudut kiri atas, sesuatu yang membuat dadanya sedikit menegang.
MyHealthPuls.
Alisnya bertaut. “Kenapa perusahaan bisa mengirim surat padanya?” bisiknya pelan.
"Oh yaa... Hampir lupa ini pasti ulah pria tua itu."
Angin siang berembus pelan, membawa aroma masakan dari dapur. Quin pasti masih duduk di meja makan. Dixon memandangi amplop itu sekali lagi lalu menutup pintu pelan-pelan dan kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
•
•
•
Hari semakin sore. Cahaya jingga menembus celah jendela, menyoroti wajah Quin yang tampak termenung. Ia bangkit dari duduknya, menatap ke luar jendela rumah Dixon.
“Aku harus pulang. Ini sudah mau malam,” ujarnya pelan sambil melirik ke arah Dixon yang duduk di seberang ruangan. Pria itu tidak memberi respons, hanya terdiam dengan pandangan kosong sejak kembali dari teras siang tadi.
“Dixon?” panggil Quin lagi, sedikit meninggikan nada suaranya.
Namun tetap saja, pria itu tidak menjawab. Tatapannya menerawang entah ke mana. Kesal, Quin menghentakkan kakinya kuat hingga suara langkahnya menggema di lantai.
“Woi!”
Dixon tersentak. “Astaga, ada apa? Kenapa harus menghentakkan kaki seperti itu? Bagaimana kalau tulang kakimu patah?” tanyanya bertubi-tubi, ada nada khawatir yang jelas terdengar.
Quin menyipitkan mata. “Kau punya masalah?” bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.
Dixon hanya tersenyum tipis, kemudian menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja.”
“Kau yakin?” Nada curiga terdengar jelas. Quin menatapnya lama, mencoba membaca sesuatu di balik ekspresi pria itu.
Dixon terkekeh ringan. “Ya, sangat yakin. Sudah sore, ayo, aku antar kau pulang.”
Quin masih diam, tidak bergeming dari tempatnya. Tatapannya tak lepas dari wajah Dixon yang terlihat berusaha menutupi sesuatu.
“Beneran, astaga…” gumam Dixon, berusaha mencairkan suasana.
Quin berdecak. “Ya sudah, terserah kau saja.”
Dixon menghela napas, kemudian menatap Quin lembut. “Maaf. Aku akan menceritakannya nanti. Tapi kau harus pulang sekarang, Quin. Tidak baik gadis muda seperti kamu pulang malam.”
Ucapan itu justru membuat Quin tersenyum sinis. Tidak baik, huh? batinnya tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Dixon. Ia menggeleng pelan lalu berjalan menuju pintu.
“Dia yang menahanku sampai sore, dasar aneh,” gumamnya lirih.
“Quin, tunggu sebentar…” panggil Dixon tiba-tiba sambil berlari menghampirinya. Di tangannya, ada sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit kusut.
“Apa itu?” tanya Quin heran.
“Ini…” Ada jeda dalam kalimatnya. Tatapan Dixon terarah lama pada wajah Quin, seolah sedang menimbang sesuatu yang sulit diucapkan. Lalu, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya begitu samar hingga nyaris tak terlihat.
“Ada surat untukmu."