"50..."
"51,"
"80.."
"70,"
Quin duduk di tepi ranjang kayu sembari bergumam tidak jelas. Cahaya matahari menembus tirai tipis, menebarkan warna keemasan di wajahnya yang tampak letih. Di depannya, tumpukan uang kertas dan beberapa keping logam terhampar rapi.
"Aih, menyebalkan! Aku salah kira lagi!"
"Lima rebu.."
Jemarinya kembali menghitung satu per satu dengan hati-hati, sementara bibirnya bergerak pelan tanpa suara, seolah mengulang angka yang sama berulang kali.
Udara pagi yang sejuk tak mampu menenangkan pikirannya. Sesekali Quin berhenti, menatap uang di depannya dengan pandangan kosong. Jumlahnya memang tidak banyak, namun setiap lembar itu hasil dari kerja keras dan pengorbanan yang tak sedikit.
Di balik gerak tenangnya, ada sesuatu yang jelas mengusik keraguan, mungkin juga kekhawatiran. Dan di antara sinar pagi yang lembut, kegelisahan itu tampak begitu nyata.
Quin menghentikan hitungannya. Jemarinya yang sejak tadi sibuk kini terhenti di udara. Ia menatap tumpukan uang di depannya, lalu mengembuskan napas panjang.
“Tidak cukup…” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh keheningan pagi. “Semua ini bahkan belum setengah dari yang dibutuhkan.” Ia menunduk, menatap angka-angka di kertas catatannya.
“Dua puluh miliar,” ujarnya lirih seolah tak percaya dengan kata-kata sendiri. “Dan waktu tinggal seminggu.”
Quin mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap kosong ke arah jendela yang diterpa sinar matahari. “Bagaimana aku harus mengusahakannya? Menjual apa lagi selain sayuran? Meminta siapa?” katanya lagi, nada suaranya kini berubah menjadi getir.
Beberapa saat ia hanya diam, membiarkan pikirannya berkecamuk. Lalu, dengan nada nyaris berbisik, ia menambahkan, “Kalau aku gagal kali ini… semuanya benar-benar akan berakhir.”
Quin menatap lembaran uang di depannya, matanya mulai terasa panas. Ia menghitung sekali lagi, berharap ada kesalahan tapi hasilnya tetap sama.
“Tidak cukup…” bisiknya lirih. “Bahkan uang yang dipinjamkan oleh Jenna dan Prim pun masih kurang.”
Tangannya terkulai di sisi meja, sementara napasnya terasa berat. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri tapi suara di kepalanya terus bergaung; angka, waktu dan tekanan yang tak henti menghantam.
“Dua puluh miliar dalam waktu seminggu,” gumamnya, nyaris putus asa. “Bagaimana bisa…? Aku sudah kehabisan cara.”
Ia menatap keluar jendela, ke arah langit pagi yang mulai cerah. “Kalau saja aku punya sedikit lebih banyak waktu…” suaranya melemah, “…atau sedikit lebih banyak keberuntungan.”
"kalaupun aku menjual kebun itu... tidak ada lagi harta peninggalan dari ibu,"
"Hanya kebun itu satu-satunya kenangan ku.."
"Ibu... aku harus bagaimana?"
Tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan pagi. Quin tersentak, pandangannya teralihkan dari tumpukan uang di depannya. Ia menoleh cepat, menatap layar ponsel yang bergetar di atas meja.
Nama yang terpampang di sana membuatnya terdiam sejenak. “Dokter Cupu.”
Sudut bibirnya hampir membentuk senyum tapi gagal. Ada sesuatu antara jengkel dan lega yang beradu di dadanya. Ia menarik napas panjang, menatap layar itu beberapa detik lagi sebelum akhirnya menjawab.
“Halo?” suaranya pelan, sedikit serak karena terlalu lama diam.
Suara di seberang terdengar ceria namun tegas. “Akhirnya kamu angkat juga, Quin. Aku tahu kamu pasti belum sarapan, kan?”
Quin menatap lagi uang yang berserakan di depannya, lalu mengembuskan napas panjang.
“Dokter, kalau saja yang bisa kamu resepkan itu uang miliaran, aku akan datang sekarang juga.”
Di seberang, terdengar tawa kecil terasa hangat, tapi menyimpan rasa khawatir yang sulit disembunyikan.
“Aku bisa memberikan sedikit bantuan, lho,” ujar Dixon dari seberang sambungan, suaranya terdengar ringan namun menggoda.
Quin mengerutkan kening. “Bantuan seperti apa?” tanyanya dengan nada waspada, setengah curiga, setengah berharap.
“Aku akan memberimu upah,” jawab Dixon santai, terdengar seperti seseorang yang tahu persis kapan harus menarik perhatian. “Asal kau mau ikut denganku ke suatu tempat pagi ini.”
Quin terdiam beberapa detik, menatap uang di depannya yang masih jauh dari cukup. Ia menarik napas pelan lalu berkata dengan nada datar, “Kau pikir upah itu bisa menutup kekhawatiran ku?”
Dixon terkekeh pelan. “Tidak, tentu saja tidak. Tapi mungkin bisa menutup sarapanmu yang belum kau sentuh sejak pagi tadi.”
Mau tak mau, Quin tersenyum kecil. “Kau benar-benar dokter paling aneh yang pernah kutemui, Dokter Dixon.”
“Dan kau pasien paling keras kepala yang pernah kukenal,” balas Dixon cepat. “Sekarang cepat bersiap. Lima belas menit lagi aku di depan rumahmu."
"Menjemput ku dengan sepeda bututmu?" canda Quin yang hanya dibalas kekehan Dixon, "Sedikit koreksi dariku, ini 'sepeda bututmu' lho." Balasnya membuat Quin mau tak mau berdecak, ia menutup panggilan tersebut begitu saja.
•
•
•
Pasar Desa Nunuk.
“Untuk apa kau membawaku ke sini?” tanya Quin dengan nada kesal, langkahnya terhenti di antara hiruk-pikuk pasar yang mulai ramai.
Dixon menoleh, menatap gadis itu dari atas. Quin terlihat cemberut: alisnya berkerut, bibirnya mengerucut dan kedua tangannya disilangkan di depan dad*, seolah ingin menunjukkan betapa tidak sukanya ia berada di sana.
“Kau pernah melihat orang datang ke pasar untuk adu ayam?” jawab Dixon santai, nada suaranya setengah menggoda. “Tentu saja untuk membeli sayur.”
Quin mendengus pelan. “Kau menyeretku sejauh ini hanya untuk membeli sayur?”
Dixon tersenyum miring, matanya berkilat jenaka. “Bukan hanya sayur. Aku juga butuh seseorang yang bisa menawar dengan wajah galak seperti itu.”
Quin menatapnya tajam tapi rona merah samar mulai muncul di pipinya. “Kau benar-benar dokter yang aneh.”
Dixon terkekeh pelan. “Dan kau pasien yang terlalu mudah ditebak.”
“Cih, aku bukan pasienmu lagi, tahu!” seru Quin sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dixon.
“Iya, iya. Tapi ayo cepat, aku harus menang kali ini,” balas Dixon tanpa menoleh, nada suaranya penuh semangat seperti anak kecil yang sedang mengejar hadiah.
Tanpa sempat protes lebih lanjut, Quin sudah terseret mengikuti langkahnya. Dixon menggenggam tangannya erat, menuntunnya menembus keramaian pasar menuju sebuah kios sayuran yang dikerumuni orang. Spanduk bertuliskan “Diskon Besar! Sayur Segar Harga Rakyat!” berkibar di atasnya.
“Kau serius mau rebutan begini hanya demi potongan harga?” tanya Quin dengan nada tak percaya, meski ujung bibirnya mulai terangkat geli.
“Lumayan kan, sayur gratis,” jawab Dixon cepat, matanya berbinar penuh tekad. “Hari ini aku tidak boleh kalah dari ibu-ibu itu.”
Quin menggeleng pelan, menahan tawa. “Benar-benar… dokter paling tidak masuk akal yang pernah kutemui.”
“Dan kau,” sahut Dixon sambil menoleh sekilas dengan senyum nakal, “masih pasien paling cerewet yang aku bawa ke pasar.”
Quin menggeleng pelan, helaan napasnya nyaris tertelan riuh pasar. Padahal dia bisa saja membeli sayuran di tempatku, batinnya sedikit kesal. Ia menatap punggung Dixon yang kini sibuk menawar harga dengan semangat berlebihan, seolah hidupnya bergantung pada potongan harga itu.
Senyum tipis muncul di wajah Quin bukan karena geli tapi lebih pada rasa heran yang tak bisa ia jelaskan. Dokter macam apa yang rela berebut sayur hanya demi diskon? pikirnya lagi, matanya tak lepas dari sosok pria itu yang tampak begitu hidup di tengah hiruk-pikuk pasar.
Dixon berhasil mendapatkan diskon tapi tentu saja bukan sayuran gratis. Ia hanya diberi potongan kecil, semata-mata karena wajahnya yang cukup tampan.
Wanita tua pemilik gerai sayur itu terkenal pelit, bahkan untuk pelanggan tetap. “Total untuk tiga jenis sayur ini hanya lima belas ribu ya, sudah termasuk diskon,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Ha ha ha… anda sungguh baik hati,” sahut Dixon, tertawa terpaksa sambil menggaruk tengkuknya.
“Aiyo, maaf, Dokter,” ujar wanita itu menggoda, “Walaupun anda dokter di sini, bisnis tetap bisnis. Aku juga butuh uang~.”
Dixon terkekeh dan mengangguk. “Ya, kau benar.”
Namun pandangan wanita itu kemudian beralih pada Quin. Ia menatap gadis itu dari atas hingga bawah, matanya menyipit seolah tengah menilai sesuatu.
Gadis ini... aku belum pernah melihatnya sebelumnya, batinnya.
Lalu pandangannya berpindah lagi pada Dixon, kemudian kembali ke Quin. Bibirnya membentuk senyum lebar. Sangat cocok… apa ini istrinya, ya?
Setelah yakin dengan pikirannya sendiri, wanita itu tertawa riang. “Aiyoo~ Dokter, istrimu cantik sekali!”
“Hah?” seru Quin dan Dixon hampir bersamaan.
“Eh, Bu—” Quin belum sempat menyangkal, wanita itu sudah menyambung dengan wajah berbinar, “Kalian pengantin baru, ya? Hmm, sepertinya begitu.”
“Ah, anu…” Dixon mencoba menjelaskan, namun tak sempat.
“Heii, tidak usah malu-malu begitu, dasar pasangan muda!” goda wanita itu sambil tertawa renyah.
Quin mendelik kesal dan dengan cepat memijak kaki Dixon di bawah meja. Pria itu menahan sakit, hanya mengerang pelan tanpa berani membalas.
“Untuk hari ini, Dokter tidak usah bayar,” ujar si wanita akhirnya. “Anggap saja hadiah dariku untuk kalian.”
Tidak usah bayar berarti gratis. Dixon sontak berbinar. “Benarkah?”
Wanita tua itu mengangguk mantap.
Quin hendak protes tapi sebelum sempat membuka mulut, Dixon sudah menarik tangannya menjauh dari kios itu. “Terima kasih, Tante! Kau benar, dia memang istriku,” katanya cepat sambil menahan tawa. “Dan kau tahu, dia galak sekali, lho!”
“DIXON!” seru Quin, wajahnya memerah menahan malu sementara suara tawa riuh dari si penjual sayur mengiringi langkah mereka menjauh dari kerumunan.
"Kau benar-benar sebuah keberuntungan bagiku!" Dixon tertawa lebar.
"Sialan."