"Bagaimana? Sudah ketemu belum?"
"Maaf, aku tidak berhasil menemukan keberadaannya." Jawapan dari seorang yang berada dalam talian itu membuat perempatan siku muncul di dahinya.
"Cari dia sampai ketemu!" Balasnya dingin.
"Akan ku usahakan."
"Lalu bagaimana keadaan perusahaan itu sekarang?" Ia kemudian menyeringai tipis saat menanyakan perihal itu.
“Kacau sekali. Dua minggu berlalu, tapi masalahnya belum juga beres. Mereka juga sedang memburu wanita itu, sama sepertimu”
Pria itu terkekeh, "Benarkah?"
"Benar. Aku dengar CEO-nya bahkan berani mempertaruhkan posisinya. Dia turun tangan langsung dalam pencarian wanita itu.”
Alisnya terangkat, ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan. "Naraku, kau... tidak selingkuh kan?"
Pria di seberang sana terkekeh, "Hei bung, sadar diri dong. Pertanyaan itu seharusnya ditujukan padamu. Kau yang tukang selingkuh kan?"
"Sialan, gajimu ku potong!"
"Eh.. eii, hey!"
Tut! Panggil terputus, dia menatap pemandangan di bawahnya dengan ekspresi dingin. Mata hitamnya menyorot tajam pada mobil-mobil yang bergerak laju.
"Nara... kau di mana?"
Ponsel di tangannya menyala, menampilkan dua foto wanita yang nyaris serupa. Ia menatap layar itu lama, senyum sinis perlahan terukir di wajahnya.
Ada sesuatu yang berputar dalam pikirannya. Nara menghilangkan diri selepas proses tandatangan itu. Dia bahkan tidak berhasil menemukan keberadaannya. Lalu, siapa gadis yang dibawa ke perusahaan itu?
"Gadis ini..." Ia kembali menatap layar ponselnya. Meneliti dua orang itu dengan seksama.
"Ah, ternyata begitu ya."
“Kalian sangat mirip. Tidak ada bedanya."
Perlahan tangannya terangkat mengusap layar ponsel tepat pada wajah Quin yang tersenyum tipis menatap kamera. "Quin ya? Jadi kau menggantikan kakakmu hm?" gumamnya pelan, ujung bibirnya terangkat tipis.
“Ah, sepertinya... ini akan sangat menarik.”
Ia meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur lalu menyandarkan tubuh ke sandaran empuk. Sepasang mata hitam itu menatap langit-langit kamar hotel dengan tatapan kosong atau mungkin sedang merancang sesuatu.
Dari kamar mandi terdengar suara seorang wanita tertawa kecil, disusul bunyi pintu terbuka. Seorang wanita melangkah keluar hanya dengan balutan handuk putih.
Ia bukan yang pertama dan tentu bukan yang terakhir. Pria itu bahkan tidak repot mengingat namanya.
“Bagaimana? Kau menikmati malam ini?” tanya wanita itu genit, berjalan mendekatinya.
Pria itu menatapnya tanpa ekspresi lalu tersenyum samar. “Lumayan.”
Wanita itu terkekeh kecil, duduk di pangkuannya sambil melingkarkan tangan di lehernya. “Kau dingin sekali. Biasanya kau yang duluan menggoda.”
Ia hanya mengangkat alis, membiarkan jemari wanita itu menelusuri dadanya. Namun pikirannya melayang ke tempat lain. Bukan padanya tapi pada foto yang baru saja dilihatnya.
Dua wajah yang begitu mirip namun hanya satu yang menjadi kunci dari rencana besar miliknya dan rencana itu sudah berhasil. Ia sudah berhasil mewujudkan satu dari keinginan balas dendamnya.
Tapi sepertinya bukan hanya dia seorang saja yang mengambil keuntungan dari kekacauan yang berakar darinya.
Menghilangnya Nara pasti ada kaitan dengan orang itu. Dia tidak yakin apakah orang itu adalah musuh atau sekutu.
Jangan sampai dia menjadi musuhku. Akan lebih bagus jika kami bekerjasama!
"Hei." Panggilan dari si wanita membuatnya tersadar.
“Kau melamun lagi? Belakangan ini kau tampak tak seperti biasanya. Ada sesuatu yang terjadi di tempat kerjamu?”
"Tidak ada hanya teringat masalalu"
"Hm?"
Ia menatap wanita di depannya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Kau tahu,” bisiknya, “kadang orang-orang datang dalam hidupku hanya untuk satu tujuan… lalu menghilang.”
Wanita itu mengerutkan keningnya. Ia belum sempat bertanya ketika pria itu berdiri, melepaskan diri dari pelukannya.
“Mereka pikir cinta bisa menyelamatkan segalanya.”
“Padahal cinta yang salah… bisa menghancurkan lebih dari apa pun.”
Andrew Simon, pria tanpa masa lalu, tanpa arah yang jelas, hidup dari satu rencana ke rencana lain. Tak seorang pun tahu siapa dia sebenarnya. Yang pasti, di balik setiap langkahnya, ada motif gelap yang perlahan menelan siapa pun yang mendekat.
•
•
•
MyHealthPuls
“Chloe, bagaimana perkembangan pencariannya? Sudah ada kabar?” suara Hudson terdengar berat, matanya menatap lekat wajah gadis di hadapannya dengan penuh kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
Waktu terus berjalan. Masalah perusahaan tak bisa lagi ditunda; para pemegang saham mulai menuntut penjelasan. Setiap jam yang berlalu terasa seperti bom waktu bagi Dion dan seluruh fondasi perusahaan.
Jika hingga tenggat yang dijanjikan Quin masih belum ditemukan, semuanya akan runtuh termasuk masa depan Dion.
Chloe menarik napas panjang sebelum berkata dengan nada gusar, “Belum ada kabar darinya, paman. Dia bilang sudah menemukannya tapi sudah dua minggu berlalu dan Dixon belum juga kembali.”
Hudson mengentuk meja kerjanya beberapa kali, wajahnya yang hampir dimakan usia terlihat tertekan. "Anak itu!!"
"Lalu bagaimana dengan timmu?"
Chloe menarik napas panjang sebelum menjawab. “Belum, paman. Timku sudah menelusuri seluruh titik yang mungkin ia datangi. Bandara, terminal, bahkan rumah sakit terdekat. Tapi hasilnya nihil.” Nada suaranya bergetar sedikit antara gugup dan takut membuat bosnya kecewa.
“Kami hanya menemukan rekaman CCTV di area parkir malam itu tapi wajahnya tidak terlihat jelas. Seolah dia sengaja menghindari kamera.”
Hudson memijat pelipisnya keras. “Sial…” gumamnya pelan. “Sudah dua minggu berlalu, Chloe. Dua minggu, dan kita masih belum tahu dengan jelas di mana Canna sebenarnya begitu juga dengan Dixon. Kalau pun dia sudah menemukannya, mengapa tidak membawanya pulang? Setidaknya kirimkan kabar jika dia memiliki rencana lain!”
“Ya, saya tahu, paman. Tapi—” Chloe menelan ludah. “Ada sesuatu yang aneh. Ini tampak janggal. Sekarang Dixon berada di kampung halamannya, bukan? Kabar terakhir darinya, dia sudah menemukan Nona Canna. Persoalannya, untuk apa Nona Canna ke sana? Jika alasannya ingin melarikan diri dan bersembunyi, kurasa itu mustahil... meski, kalau dipikir lagi, Desa Nunuk memang desa paling terpencil jadi mungkin saja.”
“Dan jika memang begitu, mustahil tidak ada satu pun jejak darinya."
Dahi Hudson berkerut, ketidaktahuan jelas tergambar di wajahnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Chloe.
"Maksud mu?"
Chloe menatap pria paruh baya di depan ragu kemudian melanjutkan ucapannya, "Seseorang sepertinya mencoba menghapus jejak keberadaannya. Beberapa data perjalanan dan catatan hotel atas namanya… hilang dari sistem.”
Hudson sontak menatapnya tajam. “Kau yakin?”
Chloe mengangguk mantap. “Saya sudah periksa tiga kali. Ada jejak digital yang sengaja dihapus, seperti tangan profesional yang bermain di balik ini.”
Suasana ruangan mendadak hening. Suara detak jam dinding terdengar jelas di antara mereka.
Hudson berdiri dari kursinya, melangkah ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota malam penuh lampu.
“Jika benar ada yang menghapus jejaknya,” katanya lirih, “itu berarti nona Canna tidak hanya menghilang… dia sedang disembunyikan.”
Chloe menunduk. “Apa yang harus kita lakukan sekarang, paman? Aku sudah berusaha menghubungi Dixon tapi tidak ada jawapan.”
Hudson menatap jauh keluar jendela, matanya dingin namun sarat tekanan. “Kita tidak punya banyak waktu. Para pemegang saham menunggu, media mulai mencium aroma skandal dan Dion…”
Ia berhenti sejenak, suaranya menurun. “Dion hampir kehilangan segalanya.”
Chloe memandangnya dengan ragu. “Apa menurut Anda… Nona Canna melarikan diri karena tekanan itu?”
Hudson terdiam lama, sebelum akhirnya menjawab pelan, “Aku tidak tahu, Chloe. Paman rasa… hah, entahlah. Canna yang kutemui hari itu bukan seperti Canna yang kukenal. Dia tampak seperti orang yang sama sekali berbeda.”
Chloe terdiam cukup lama. Ia tampak berpikir keras, menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia mengungkapkan hal itu kepada Hudson atau tetap menyimpannya sendiri.
"Paman,"
Hudson di ujung sana hanya berdehem pelan sebagai tanggapan. Tatapannya tetap terarah pada pemandangan malam di hadapannya, seolah mencari jawaban di antara gelap dan cahaya lampu yang temaram.
“Sebenarnya... aku menyelidiki ulang latar belakang Nona Canna, dan… ada sesuatu yang mengejutkan yang kutemukan.”
Hudson bergeming. Cahaya dari tablet di tangan Chloe memantulkan gambar dua gadis yang nyaris tak memiliki perbedaan. Wajah, sorot mata, bahkan senyum mereka tampak seolah cerminan satu sama lain.
"Nona Canna memiliki kembaran."