"Aku ingin hidup tenang."
"Apakah tidak ada cara lain? Semua pilihan yang ku punya semuanya harus menggunakan uang..."
“Aku tidak sekaya itu… Andai saja Ayah mau membantuku, mungkin segalanya tak serumit ini… Tapi sudahlah. Bahkan dia pun tega memanfaatkanku demi Nara.”
Quin menatap hamparan bunga di halaman rumahnya dengan ekspresi tidak minat. Suhu tubuhnya sudah tidak sepanas semalam, kini ia hanya merasa sedikit lemas dan kurang bertenaga. Untung saja, setelah ia melarikan diri dari rumah sakit, Prim datang menemuinya dengan membawa obat yang dititipkan Dixon.
Gadis dengan pakaian serba hitam itu tengah berbicara seorang diri. Terkadang ia melamun, lalu mengacak-acak rambutnya.
"Ini tidak cukup." Ia menatap data-data penjualan sayur kol milik sang ibu. Sebulan, sekitar 30–50 kilogram kol terjual setiap hari dengan harga rata-rata Rp 10.000 per kilogram. Itu berarti pendapatan kotor harian hanya Rp 300.000 hingga Rp 500.000.
Setelah dikurangi biaya bibit, pupuk, dan ongkos angkut ke pasar, yang tersisa sebagai keuntungan bersih tak lebih dari Rp 150.000–250.000.
Dalam tiga minggu terakhirnya, jumlah yang bisa ibunya kumpul hanyalah 3,15 juta hingga 5,25 juta, nyaris tak sebanding dengan tuntutan 20 miliar yang menghimpit Quin.
"Kalau aku menjual hasil panen kol akhir pekan ini, apakah aku bisa mendapatkan hasil seperti ini?" Quin menatap angka-angka pada buku log panen di tangannya.
"Aku punya tabungan sekitar 2,5 juta. Jika aku mendapat jumlah yang sama seperti ibu, maka jumlah keseluruhannya adalah 5,65 juta."
Setelah selesai menghitung, Quin menghela napas berat. Dana sebesar 5,65 juta jelas tidak memadai untuk melunasi utang yang bukan menjadi kewajibannya. Dua puluh miliar adalah angka yang sangat besar. Uang yang dimiliki Quin masih jauh dari cukup.
"Aku lelah," gumamnya lirih. “Sepertinya, aku harus kembali menulis cerita untuk mendapatkan uang lebih.”
"Kau ingin mati seperti ibumu?"
Ucapan Dixon kemarin tiba-tiba terngiang di kepalanya. Kata-kata pria itu tak sepenuhnya benar, namun juga tak bisa dibilang salah. Jika dilihat dari sisi positif, barangkali Dixon hanya sedang cemas akan keadaannya. Tapi bagi Quin, justru pria itu termasuk alasan ia sakit.
“Bukankah ini lucu, kalau dipikir-pikir?” Quin menahan senyum, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.
“Tapi tetap saja dia jahat, huh!” Quin mencemberut, pikirannya kembali melayang pada wajah sang ibu.
“Ibu… tolong doakan aku, ya. Meski Ibu telah tiada, aku percaya Ibu tetap menolongku dari surga.”
Gadis itu tersenyum tipis. Ia mengusap sudut matanya yang berair kemudian beranjak dari teras rumah dan masuk ke dalam. Cuaca semakin dingin di luar, ia membutuhkan segelas kopi panas untuk menghangatkan tubuhnya.
Tanpa ia sadari, sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Dokter?!"
Pria itu langsung memasang wajah kaget saat mendengar suara dua gadis yang sangat dikenalnya, disertai tepukan di pundaknya. Ia segera menoleh, menatap kedua gadis itu dengan sedikit rasa gugup.
"Kalian! Hais, mengagetkan saja."
Prim terkekeh. "Dokter belum pulang?"
"Tidak aku baru saja sampai,"
Jenna mengernyit heran, "Lho, bukannya Dokter Dixon sudah berangkat 30 menit yang lalu?"
"Iya sih tapi ya begitu deh," balas pria itu tidak jelas membuat kerutan di dahi Jenna makin dalam.
"Biar ku tebak Dokter Dixon belum ke sana 'kan? Dokter cuma berdiri di sini selama 30 menit? Iya kan?" Pertanyaan Prim membuat Jenna mengangguk mengerti. Ah, seperti itu.
"Aku hanya tidak ingin mengganggunya," balas Dixon menatap rumah kayu yang tak jauh dari mereka dengan hamparan bunga yang nampak tinggi mengelilingi kawasan itu. Untungnya ada bunga-bunga itu yang menyembunyikan tubuhnya.
"Apa dokter mendengar sesuatu selama bersembunyi di sini?"
"Aku tidak bersembunyi. Aku hanya tidak ingin mengganggunya," koreksi Dixon merasa kesal dengan Prim yang kini menaik turunkan alisnya, menggoda.
"Wahh, tadi ada lho yang ngomong mahu melihat keadaan Quin sekalian minta maaf tapi kok... waaah."
"Dokter, tidak ingin minta maaf pada sahabat ku?" tuduh Jenna menatap pria itu penuh selidik. Dixon menghela nafasnya kemudian menggelengkan kepala, "Bukan seperti itu. Aku hanya..."
"Hanya apa? Jangan-jangan Dokter terpesona dengan sahabat ku," potong Prim cepat. Dixon bungkam, tidak tahu harus bicara apa lagi untuk pembelaan diri.
"Benar. Walaupun aku tidak menyukai fakta itu tapi barusan kami melihat sendiri bagaimana ekspresi Dokter saat melihat Quin," sahut Jenna membalas ucapan Prim.
Dixon mendengus. Ia mengalihkan perhatian pada Quin yang kini tengah menikmati kopinya di teras rumah.
"Nah, Dokter ingin meminta maaf soal kejadian kemarin 'kan? Ayo, kita akan menemani Dokter," ajak Jenna membuat Prim terkekeh geli sedangkan Dixon menatap datar gadis gendut itu yang kini menariknya menuju rumah Quin.
Quin yang tengah menyeruput kopinya mendadak berhenti, menatap tiga orang yang kini berjalan menuju rumahnya. Namun, pandangannya tertuju pada pria berkacamata itu.
Untuk apa dia ke sini? batinnya segera mengalihkan pandangannya saat tatapan mereka bertemu.
"Quin, bagaimana keadaan mu?" tanya Prim yang kini duduk di sampingnya. Gadis itu tersenyum singkat. "Ya, seperti yang kau lihat," balasnya pelan.
"Hei, lepaskan aku!"
Quin melirik Jenna yang berusah menarik pria itu untuk duduk disebelahnya. Ia hanya menahan tawanya melihat raut tak menyenangkan pria itu.
"Dokter, duduk sini, disebelah ku!"
"Aku di sana saja,"
"Tidak boleh! Di sini saja, bersamaku."
"Tidak, aku tidak mau! Nanti orang lain akan berpikir yang bukan-bukan tentang kita. Lagipula kau pikir kursi itu muat jika aku duduk di sana?"
Jenna mendengus membiarkan Dixon duduk di kursi tak jauh darinya. Gadis itu terlihat cemberut kemudian memicit lemak yang terlihat. Hah, dia harus diet mulai sekarang.
"Ahaha. Abaikan saja mereka, Quin. Mereka memang seperti itu," ujar Prim tertawa.
"Mereka pacaran?" Mendengar pertanyaan Quin, Dixon langsung berteriak heboh. Bahkan melambai-lambaikan tangannya menyangkal pertanyaan gadis itu.
"Tidak, kami tidak pacaran! Aku masih lajang. Belum pernah pacaran sekalipun. Bahkan dekat dengan kaummu saja jarang hanya mereka berdua, tidak lebih."
Prim menaikkan sebelah alisnya. Kenapa ia merasa bahwa pria didepannya terlihat panik. Ia bersikap seolah-olah tengah menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi pada pacarnya.
"Kau jangan salah paham, aku tidak begitu. Kami hanya teman."
Prim tersenyum dalam hati. Wow, sepertinya ia akan mendapatkan kabar gembira tidak lama lagi.
Jenna cemberut, "Dokter kau membuat hatiku sakit." Gadis itu memegang jantungnya, bersikap seolah-olah dia paling tersakiti di sini.
Dixon mendengus, "Dasar tukang drama. Lihat saja akan ku beritahu Dokter Arlo nanti," ancamnya.
"Apa hubungannya Dokter Arlo denganku?" Jenna mengernyit heran. Dixon memilih bungkam. Dia hampir membeberkan rahasia negara pada gadis itu.
"Kalian asik juga ya." Quin bersuara dengan senyuman manis terukir di bibirnya.
"Memang," timpal Jenna tersenyum bangga.
"Dokter, kau ingat kan tujuan mu datang ke sini?"
"Tujuan apa?" Quin menyahut.
“Dokter Dixon kan udah nyakitin kamu kemarin. Walaupun nggak sengaja sih. Tapi semua orang tahu soal itu. Jadi ya… wajar dong kalau tujuannya datang untuk minta maaf, iya kan?” jawab Jenna dengan wajah polos.
"Hm?"
"Ah.. itu, aaa.." Dixon tergagap saat Quin menatapnya. Rasa bersalah segera merayap, mengingat perkataannya kemarin pasti menyakitkan bagi gadis itu.
"Aku.. aku, ehm.. bisakah kalian meninggalkan kami berdua sebentar?"
Dixon mendadak berdiri dari duduknya kemudian mendekat ke arah Quin. Prim yang melihat itu segera bangkit, mempersilahkan Dixon untuk duduk disebelah Quin menggantikan dirinya.
"Quin, masih ada makanan 'kan? Ayo, Jen kita bikin minuman," ujarnya menyeret Jenna yang terlihat bingung. Anak ini dia ingin makan atau membuat minuman? Pikirnya.
Quin ingin protes tapi kedua orang itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Ia melirik pria disebelahnya yang menatapnya dengan tatapan rumit. Ia menggeser sedikit tubuhnya kesamping agar tidak berdekatan dengan Dixon.
"Maaf."
"Ya?" soal Quin pelan. Pura-pura tidak tahu. Ayo lihat sejauh mana pria itu tulus untuk minta maaf.
"Aku minta maaf. Ku akui ucapan ku kemarin menyakitkan untukmu tapi aku... waktu itu aku tidak sadar, eh bukan.. aku mengkhawatirkan mu," ucap Dixon lirih. Ia perlahan mengangkat tangan, berharap gadis itu menyambut uluran salamnya.
"Maaf Quin."
Quin menatap pria itu lama, tak lama kemudian ia langsung menjabat tangan pria itu saat Dixon memberanikan diri menatap tepat di matanya. "Ya, ya, ya.. su—sudah ku maafkan," ucapnya gugup. Jabatan tangan itu hanya bertahan sepersekian detik sebelum Quin melepaskannya dengan paksa.
"Terima kasih," balas Dixon tersenyum manis. Sangat manis hingga membuat pipi gadis itu memerah layaknya tomat.
Sial, aku sudah gila ya? Kenapa semakin dilihat-lihat dia justru semakin tampan? batin Quin berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
Dixon tersenyum melihat reaksi Quin. Imut, pikirnya. "Quin... Bagaimana kalau aku memanggilmu pencuri saja?" Quin mengernyit bingung. Tunggu apa ini?
"Pencuri? Kau gila?! Aku barusan baru memaafkan mu lho, ya?" tekan Quin mendadak kesal dikatai pencuri.
"Iya, aku gila karenamu. Kau juga sudah mencuri hatiku, nona."
Quin hampir menjatuhkan rahangnya begitupun Jenna dan Prim yang mengintip keduanya dibalik dinding rumah gadis itu. Mereka saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Aku baru tau kalau Dokter Dixon bisa menggombal," bisik Jenna menatap Prim yang ada di bawahnya.
Gadis itu mengangguk mengiyakan, "Sialan, bahkan waktunya tidak pas! Apakah dia benar-benar Dokter Dixon yang kita kenal?"
"Sungguh gombalan basi. Aku yakin pasti Dokter Arlo yang mengajarinya!" bisik Jenna. Prim menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Sungguh timingmu tidak pas, Dixon!
•
•
•