“Quin!” Suara itu terdengar dari kejauhan, membuat langkah gadis itu refleks terhenti. Sekilas ia menoleh dan begitu menyadari siapa pemilik suara itu, ia langsung berbalik arah, berlari kecil seolah-olah sedang dikejar sesuatu yang menakutkan.
Sial. sial. Aku harus kabur! batinnya menjerit.
Sejak kejadian itu, Quin mulai sering menghindari Dixon. Di mana pun mereka berpapasan seperti di jalan, di pasar, bahkan sekadar berpapasan di halaman, Quin akan langsung melarikan diri seolah-olah sedang dikejar hantu.
Dixon, tentu saja tidak tinggal diam. Setiap kali mereka bertemu, ia selalu mencoba menyapa, namun sapaannya tak pernah berbalas. Ucapannya lenyap begitu saja, terbawa angin lalu.
Dan setiap kali ia menawarkan sesuatu seperti makan malam, sekadar traktir, atau membantu pekerjaan, Quin akan buru-buru menolak dengan alasan sibuk dan tidak perlu.
Segala cara Quin lakukan demi terbebas dari Dixon. Ucapan pria itu tempoh hari sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Abaikan dia Quin. Ayo lari! Selamatkan saja dirimu," gumamnya terus berlari tanpa menoleh ke belakang.
Dixon berdiri terpaku, helaan napasnya terlepas berat. “Kenapa sih, setiap kali aku menyapa, dia selalu saja kabur?” gumamnya pelan, seakan bertanya pada diri sendiri.
"Apa ucapan ku tempoh hari ada yang salah?" Dixon mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika terus seperti ini, kapan ia akan mendapat hasil dari siasatnya. Dan mereka tidak punya banyak waktu untuk saling mengenal.
Semuanya terbatas.
"Sialan." Dixon menutup matanya rapat, menahan rasa frustrasi yang menggerogoti. Sesaat setelah ia membuka matanya, "Jika tak ada perubahan, maka cara terakhir itu akan kupakai!" Ucapnya lirih pada diri sendiri. Sebuah senyum melekat di bibirnya, senyum yang sarat dengan rasa bangga, seolah hanya ia yang tahu betapa berharganya momen itu.
Di sisi lain.
Setelah kejadian tadi pagi. Kini, Quin berdiri di antara hamparan kebun sayurnya. Meski terik siang membakar, senyum tipis masih bertahan di bibirnya. Demam membuat wajahnya sedikit memerah, namun tangannya terus bergerak, seakan keras kepala menolak kelemahan yang mulai merayapi tubuhnya.
"Ah, semua ini gara-gara Dixon!" Quin mencabut satu persatu rumput kecil itu dengan kasar seperti sedang membayangkan bahwa itu adalah wajah Dixon.
Kalau bukan karena pria itu, ia tak akan memaksakan diri bekerja sebanyak ini hanya demi punya alasan untuk menghindar. Tubuhnya sakit, bukan hanya karena letih tetapi juga karena pikiran yang terlalu banyak membebani.
Quin menghela napas pendek, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Akhir pekan ini panen kol harus berhasil… bayar gaji pekerja dulu, sisanya kusimpan untuk… itu."
"Ini sudah....." Quin mendongak menatap langit. Sinar matahari menyergap wajahnya, terlalu terang hingga pandangannya kabur seakan dunia ikut memudar bersama tubuhnya yang ambruk ke tanah.
Bruk!
".... berapa lama ya?"
"Quin!"
Teriakan dari pekerjanya adalah hal terakhir yang Quin dengar sebelum ia memejamkan matanya.
"Ya ampun, Quin ada apa denganmu?"
Beberapa pekerja yang melihatnya sontak berlari panik ke arah Quin. Yang lain, menyadari sesuatu telah terjadi, ikut bergegas mendekat dengan wajah cemas.
"Quin heii bangunlah." Wanita paruh baya itu panik. Ia menepuk-nepuk pipi Quin dengan hati-hati, berharap gadis itu membuka mata. Tapi tak ada respons. Quin sudah jatuh pingsan.
“Tubuhnya panas! Anak ini demam,” suara Mamang terdengar panik.
Dua orang pemuda segera berlarian ke arah motor masing-masing. Mereka tahu siapa yang harus dicari—Pak Gurun, sosok yang selalu dipercaya untuk membawa warga desa ke Rumah Sakit Desa Nunuk setiap kali ada keadaan darurat.
“Jangan diam saja! Cepat panggil Pak Gurun!” teriak Juita, wanita paruh baya yang buru-buru mengambil alih keadaan.
“Tom sama Niu udah lari duluan buat manggil dia!” Juita mengangguk. Ia menatap remaja yang lebih muda, "Kamu bisa mengangkatnya?"
Remaja itu mengangguk, ia mengambil ahli tubuh Quin dari pangkuan Juita lalu menggendong tubuh gadis itu dengan hati-hati.
"Ayo bawa dia ke gazebo."
"Yang lain teruskan pekerjaan kalian."
"Baik!"
Rumah Sakit Desa Nunuk.
Dixon menatap papan besar yang menggantung di atas bangunan sederhana itu. Ia tersenyum tipis, tempat ini adalah dunianya.
Dunia yang, entah bagaimana, mampu mengikis sedikit rasa rindunya pada sang ibu. Meski pada akhirnya, di sinilah pula ia melihat ibunya untuk terakhir kali.
Sibuk memikirkan kenangannya bersama ibunya, ia dikagetkan dengan teriakan panik dari Mamang dan Juita.
"Dokter!"
"Dokter Dixon,"
"Ada apa?" Ia menatap keduanya. Tak biasanya dua orang ini datang kesini pikirnya. Namun melihat sosok yang begitu ia kenal wajahnya langsung berubah.
“Quin? Kenapa dengannya?!” seru Dixon, panik jelas terpampang di wajahnya.
“Dia pingsan, Dok,” sahut Juita lirih, masih setengah terengah.
"Ayo bawa dia ke dalam."
Pemuda yang menggendong Quin, membawanya masuk ke sebuah ruangan perawatan sederhana sesuai dengan instruksi Dixon diikuti dua paruh baya dibelakangnya.
Dixon yang berada paling depan dengan cepat mengambil alih, memeriksa suhu tubuh gadis itu dengan teliti. Dahi Quin terasa panas dan termometer yang menempel di bawah lengannya pun membuktikan hal yang sama.
“Ini hanya demam biasa,” gumam Dixon, nada suaranya sedikit lega. “Tapi tubuhnya kelelahan. Makanya dia sampai pingsan. Jangan biarkan dia memaksa dirinya bekerja terlalu keras lagi," sambungnya menatap dua orang di depannya.
Juita yang berdiri di sisi ranjang menghela napas lalu menunduk sedikit. “Dia memang begitu, Dok. Selalu keras kepala. Terlalu banyak mikir juga… sering ngomong kalau dia nggak mau jadi beban buat kami. Kadang… dia lebih sibuk mikirin keadaan orang lain daripada dirinya sendiri.”
"Benar. Kelihatannya dia juga seperti menyembunyikan sesuatu," timpal Mamang membuat Juita langsung mengangguk setuju.
Dixon mendengarkan dalam diam, matanya sedikit meredup. Saat ia hendak menanggapi, Quin perlahan mengerjapkan mata tanda mulai sadar.
"Uhh..."
Begitu melihatnya membuka mata, Dixon segera memberi isyarat pada Mamang dan Juita. “Tolong, kalian keluar dulu. Biar aku yang menjaganya.”
"Baik, Dok. Mohon bantuannya ya,"
"Itu sudah jadi tugas ku," balasnya tersenyum ramah.
Quin perlahan bangun. Ia mengangkat tangannya, memegangi kepalanya yang masih berdenyut pelan. Begitu pandangannya mulai jelas, sosok pertama yang tertangkap matanya adalah Dixon yang tengah berdiri di sisi ranjang, menatapnya dengan wajah lega.
"Syukurlah, kau sudah sadar. Bagaimana perasaan mu sekarang?"
"Aku di mana?"
“Wah, masa nggak ingat? Setahuku, demam bukan penyakit yang bisa bikin orang amnesia,” godanya enteng membuat kening Quin berkerut membentuk pertemuan garis yang tegas di dahinya.
"Sialan."
Dixon tertawa pelan. “Kau ada di rumah sakit sekarang. Dan mulai sekarang, aku ingatkan, kau harus menjaga pola makan dan pikiranmu. Jangan sampai ia menjejaskan kesehatan mu."
"Jika punya sebarang keluhan segeralah berjumpa dokter. Lalu, kalau punya masalah jangan di pendam saja. Usahkan cari teman buat cerita. Kau juga bisa datang padaku kapan pun kau mahu. Aku bisa membantumu."
Quin hanya diam. Pandangan matanya kosong, pikirannya melayang pada sesuatu yang membuat dirinya nyaris kehilangan akal sehat.
Waktuku tak banyak… mendengarkan celotehnya sekarang hanya akan membuang-buang detik yang berharga, Quin!
Quin hendak turun dari ranjang rumah sakit namun tangan besar milik Dixon menahannya erat. Dixon seperti tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Kau ingin ke mana? Istirahatlah dengan benar."
"Tidak bisa! Aku harus kerja."
"Pikirkan kondisimu, Quin. Tubuhmu butuh istirahat, jangan paksakan dirimu melakukan sesuatu yang berat."
Quin mendorong tubuh Dixon menjauh dan melepaskan cekalan pria itu dengan paksa. Meski tenaganya tak cukup kuat, ia tetap kukuh berusaha melepaskan diri.
“Kenapa kau begitu keras kepala?” suara Dixon meninggi, kelelahan menahan kekesalan. Gadis ini butuh istirahat, itu saja. Sebagai dokter, ia hanya ingin yang terbaik untuk pasiennya. Ia ingin Quin kembali sehat.
"Tubuhku tidak penting! Aku tidak punya waktu memikirkan kesehatanku," balas Quin kesal. Namun matanya perlahan tampak berkaca, pertanda ia nyaris menangis.
Utangku banyak tahu! Aku hampir melupakan fakta itu... Aku adalah buronan MyHealthPuls, pikir Quin tak mendengar Dixon sama sekali.
"Lalu… kau mau mati seperti ibumu?!" suara Dixon meninggi, tanpa ia sadari kata-kata itu menghantam lebih keras daripada amarahnya sendiri. Bukan nada bentakannya yang menyakiti Quin, melainkan satu kata ibu yang membuat pertahanannya runtuh dan tangis pun pecah.
Quin menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang menahan isak. Kata-kata Dixon bergema di telinganya, membuat udara di ruang itu terasa menyesakkan.
Dixon membeku di tempatnya. Amarahnya seketika meredup, berganti rasa bersalah yang menyesakkan dad*. Ia menatap Quin yang hancur di hadapannya bukan pasien keras kepala, tetapi seorang gadis yang baru saja disentuh luka lama.
"Quin… aku, aku tidak bermaksud…" suaranya melemah, seolah kata-kata pun tak sanggup memperbaiki ucapannya barusan. Ia mengangkat tangan, ragu apakah ia punya hak untuk mendekat lalu menurunkannya lagi.
"Aku… seharusnya tidak menyebutkan itu," lanjutnya lirih. Langkahnya maju setengah namun tertahan oleh jarak dan rasa bersalah.
Tangis Quin semakin jelas terdengar, memecah keheningan di antara mereka. Dixon menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan kegelisahan yang kini menyiksa hatinya. Dalam hatinya, ia tahu luka Quin lebih dalam dari sekadar sakit fisik yang bisa ia obati.
Ah, sial! Aku juga salah satu penyebab dia seperti ini. Dixon akui secara garis besarnya dia adalah pelaku yang membuat gadis itu seperti ini.
Membuntutinya, mengikuti kemana pun gadis itu pergi.
•
•
•