"Cih, dasar menyebalkan." Quin berggumam tanpa suara.
Ia menatap pria yang belakangan ini selalu muncul di hadapannya. Lagi-lagi orang itu datang, berjalan mendekat dengan wajah sumringah yang entah kenapa makin lama makin membuatnya jengkel.
"Selamat siang, Quin. Tidak berkerja hari ini?" Quin berdecak mendengar pertanyaan itu. Sial. Itu bahkan pertanyaan yang sama setiap hari.
"Tidak!" Ketus Quin menjawab. Tangannya refleks melempar batu kerikil yang sejak tadi digenggamnya dengan kencang.
Sudah seminggu ini aku lihat dia terus-terusan! Maunya apa sih? gerutunya dalam hati. Kalau ganteng sih masih mending, tapi ini… cupu banget! Sambungnya lagi.
"Sepertinya kedatangan ku membuat suasana hati mu buruk, ya?" Tanya Dixon ringan yang mana mampu membuat petempatan siku muncul di dahi Quin.
Sudah tau malah nanya. Benar-benar menyebalkan! Quin hanya mendiamkan diri tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya membalas dari dalam hati.
Saat ini keduanya berada di sungai. Quin awalnya hanya ingin duduk, menikmati suara air dan menenangkan pikirannya. Tapi ketenangan itu lenyap begitu Dixon ikut berdiri tak jauh darinya.
Hening melanda.
Pria tinggi itu perlahan-lahan menggeser langkahnya, mendekat ke arah Quin. Jarak mereka yang sebelumnya sekitar lima meter, kini menyusut menjadi hanya satu meter.
“Apa kau sengaja mengikutiku?” tanya Quin ketus. Akhirnya setelah beberapa menit mendiamkan Dixon, ia pun bersuara.
“Kenapa harus sengaja? Kebetulan saja,” jawab Dixon ringan, bahunya terangkat seolah itu bukanlah masalah besar. Hei, bung. Kau mirip seperti penguntit tahu?! Quin berteriak kesal dalam hati.
Quin memejamkan matanya sejenak lalu mendengus. “Kebetulan apanya? Desa ini luas, kenapa selalu di tempat aku?”
“Karna mungkin kau yang terlalu mudah terlihat,” balas Dixon, suaranya tenang tapi terdengar menusuk. Tapi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya, ia malah tersenyum lebar seolah menikmati wajah kesal Quin yang nampak mengemaskan. Eh?
Quin langsung berdecak tak percaya. "Desa ini luas, jarak dari sungai ke pemukiman aja hampir delapan kilo. Jangan bercanda. Kau pikir aku nggak sadar apa?”
Dixon tersenyum tipis, agak canggung. “Sudah ku katakan kau yang mudah terlihat. Mungkin karna kau yang paling mencolok di desa ini." Ah, jawaban itu lagi. Jawaban yang sama setiap harinya. Apakah pria ini benar-benar berpikir bahwa Quin bodoh. Hari ini sudah berapa kali dia mengatakan itu? Satu, dua. Nah ini yang kedua kalinya.
“Kau ini pembohong ya?” tatapan Quin menyipit, memperhatikan wajah Dixon. Ia menangkap perubahan kecil pada ekspresinya seperti orang yang baru saja bikin alasan dadakan. “Hm. Wajahmu nggak cocok untuk tukang ngeles.”
Dixon balas menatap dengan tenang tapi matanya berkedip cepat. “Aku hanya kebetulan lewat.”
“Lewat? Kau dokter, bukan? Katanya sibuk tapi entah kenapa kau punya banyak sekali waktu mondar-mandir di sekitar sini.” Suara Quin meninggi, nadanya penuh sindiran. “Apa kau nggak ada pasien? Atau kau sebenarnya bukan dokter sama sekali?”
Sekejap ekspresi Dixon menegang tapi ia cepat menutupinya dengan helaan napas. “Aku nggak perlu menjelaskan jadwalku padamu kan? Lagipula, apa salahnya kalau aku berdiri di tempat yang sama denganmu?”
“Salahnya?” Quin menatap sengit. “Kau bikin aku curiga. Orang normal nggak akan tiba-tiba muncul di tempat yang sama selama seminggu penuh. Apalagi dengan muka m***m seperti itu.”
Dixon mendelik, sedikit tidak senang mendengar ucapan Quin barusan. “Dan kau pikir dirimu menarik perhatian?” Ucapnya sinis. “Jangan terlalu percaya diri. Kalau aku di sini, bukan berarti aku hanya datang untuk melihatmu," sambungnya lagi.
Quin terdiam sesaat, rahangnya mengeras. “Sialan… kau selalu saja ada jawaban.” Mereka sempat saling menatap tajam, udara di antara keduanya seperti mengeras. Lalu Quin mengalihkan pandangannya daripada terus-terusan bertatapan seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Cih."
Dixon terkekeh, ia mengaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian menatap Quin dengan wajah canggung.
"Ekhem, maaf. Sebenarnya aku memang mengikuti mu," ucap Dixon jujur pada akhirnya.
Quin berdecis sambil mendengus, "Tuhkan, tebakan ku benar! Dasar mes*m!"
"Oi, aku tidak mes*m tahu!" Dixon segera menyangkal, kepalanya menggeleng cepat.
"Lalu apa alasan mu mengikuti ku?" ketus Quin melihat ke arah Dixon sekilas.
"Ah, itu karna kau gadis paling cantik di sini," balasnya dengan senyum menggoda. Jika Quin engan menatap Dixon maka kebalik dengan pria itu, ia benar-benar menikmati wajah marah Quin dari samping.
"Dasar mes*m. Pria sinting tak tahu malu," gumamnya masih dapat didengar oleh Dixon.
"Kau kejam sekali. Kata-katamu membuat ku sakit hati tahu?" Dengan wajah dibuat-buat sedih, Dixon memegang dadanya. Quin hanya berdecis sinis melihatnya.
"Dasar drama boy." Quin mengedikkan matanya dengan sinis, isyarat halus betapa ia muak mendengar itu.
Dengan helaan napas panjang, suara Quin mereda. Ia duduk lagi di batu besar tepi sungai, menatap aliran air yang tak henti bergerak.
Hening sempat menggantung di antara mereka, tersisa suara air sungai yang mengalir. Quin akhirnya menghela napas panjang sebelum bicara, tatapannya tetap lurus ke depan.
"Dixon.."
"Ya? Ada masalah?" Dixon menatap wajah Quin yang tiba-tiba tampak lesu. Tatapannya kian dalam, mengikuti gerak bola mata gadis itu yang sesekali melirik aliran sungai.
“Kadang aku berpikir... kenapa nasibku seperti ini. Orang lain bisa punya hidup yang baik-baik saja, sedangkan aku? Seolah apapun yang kulakukan tetap aja salah. Malang terus.”
"Ehhh.."
Ia berhenti bicara sebentar, menoleh cepat ke arah Dixon. Bibirnya melengkung tipis, senyum getir yang nyaris tak terlihat. "Mungkin aku ngomong begini cuma biar ada temen buat cerita."
Begitu kalimat itu keluar, Quin buru-buru membuang pandangannya ke arah sungai, menyibukkan jarinya dengan meraih kerikil kecil dan melemparkannya ke air. “Ah, sudahlah. Anggap saja aku lagi ngelantur,” gumamnya cepat seolah ingin menutupinya.
Dixon menoleh, matanya sedikit menyipit memperhatikan Quin yang jelas-jelas berusaha menyembunyikan rasa malu. Ia sudah tahu sedikit banyak tentang gadis di depannya lewat cerita Prim dan Jenna. Baru sebulan lalu, gadis itu kehilangan ibunya. Lalu tunangannya juga selingkuh.
Kehilangan dan dikhianati oleh orang tersayang. Dixon tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan gadis itu sehari-hari setelah mendapat pukulan seperti itu.
Diam-diam Dixon terkekeh sinis. Rupanya ada yang lebih malang darinya. Ia kemudian mengambil tempat di sisi Quin membuat gadis itu bergeser ke samping memberi ruang untuk Dixon duduk.
“Kau kira aku beruntung?” Quin tersentak, melirik sekilas.
“Aku juga menjalani hidup yang bukan pilihanku. Banyak hal terpaksa kuterima. Bedanya… aku nggak banyak bicara. Jadi jangan kira cuma kau yang sial,” ujar Dixon pelan.
Quin baru saja ingin merespons tapi Dixon mendahuluinya, "Tapi pilihan ini tidak seburuk yang kubayangkan... lumayanlah. Jalan ini membuatku mengenalmu, nona angka dua puluh," ucapnya dengan kilatan dingin yang melintas di matanya.
"Hah? Dua puluh... apa maksudmu?" Quin terperanjat, matanya melebar bahkan suaranya pun tergagap. Dixon melirik singkat, lalu menekan pelipisnya. "Nggak usah dipikirkan. Aku cuma sedang pusing, kadang keluar kata-kata aneh begitu," balasnya diakhiri tawa kecil.
Sunyi menyergap Quin. Kata-kata itu menghantam dadanya, meninggalkan sesak yang tak terjelaskan. Seolah tanpa sadar, ia membiarkan pandangannya melekat pada sosok pria itu.
"Ngomong-ngomong, aku ingin jujur tentang sesuatu. Bohong bukan caraku… dan aku tak bisa terima bila itu dilakukan padaku," ucap Dixon membalas tatapan Quin padanya.
Quin tidak bersuara, ia ingin membiarkan pria itu melanjutkan ucapannya. "Jujur saja... aku ingin mengenal mu lebih dekat, Quin."
Deg! Deg! Deg!
Ada apa denganku? Kenapa saat kulihat dari jarak sedekat ini, sosoknya malah terlihat ganteng. Quin menggenggam erat gaunnya, d*da bergemuruh oleh detak jantung yang kian kencang.
"Itu adalah alasan mengapa aku terus-terusan mengikuti mu selama seminggu."
Angin berembus pelan, menggoyang ranting pohon di tepi sungai. Kelopak bunga berwarna merah muda jatuh perlahan, melayang bersama angin dan jatuh ke permukaan air.
Keduanya hanya saling pandang, membiarkan hening meresap di antara mereka.
•
•
•