Empat puluh hari telah berlalu sejak Hafizh lahir ketika rumah Kiai Ammar bersiap menerima keluarga pada hari Minggu. Inara berdiri sebentar di depan cermin, membetulkan ujung jilbab, lalu duduk ketika Khurin meminta waktu merapikan bagian yang terlipat. Tidak ada yang mengatakan semua ibu pasti sudah pulih dengan cara sama pada hari keempat puluh. Keperluan dan tindak lanjutnya tetap mengikuti penilaian yang dijalani.
Selama jeda itu, lebih dari satu hal telah dikerjakan sampai benar-benar terjadi.
Pada Senin enam hari sebelumnya, keluarga Maya bertemu pihak yang terkait dengan rumah lama. Dokumen telah diperiksa pengacara, keterangan yang belum jelas ditanyakan, dan kesepakatan ditandatangani setelah masing-masing memahami bagiannya. Rumah diserahterimakan sesuai kepemilikan yang terverifikasi, dengan kunci serta tanda terima diterima keluarga. Maya, Abi, dan Husna mengakui penyerahan tersebut. Urusan usaha peninggalan Bayu tetap berada dalam pemeriksaan tersendiri, tidak berubah menjadi seluruh perusahaan yang mendadak kembali tanpa pertanyaan.
Pada Kamis sesudahnya, Abi datang ke rumah Maya untuk mengambil kasur lipat yang masih berada di kamarnya. Ibunya membantu menyiapkan, bukan menyerahkannya kepada orang lain tanpa izin. Abi sendiri menyetujui donasi setelah membicarakan kebutuhan mereka di rumah Kiai. Kendaraan yang cukup membawa kasur ke tempat penerima, dan serah terimanya diakui. Abi menyimpan tanda terima kasur bersama catatan barang, kemudian pulang tanpa bawaan yang dahulu mengisi kendaraan ketika ia meninggalkan rumah.
Cincin juga dibeli sebelum hari ini. Abi menunjukkan pilihannya kepada Inara, menanyakan ukuran dan kenyamanan, lalu membayar satu juta dua ratus ribu dari pos lima juta yang telah disisihkannya dahulu. Bukti pembelian disimpan. Tiga juta delapan ratus ribu masih berada dalam pos tersebut, sedangkan penerimaan gaji yang lebih baru serta kebutuhan rutin dicatat terpisah. Dana dua puluh satu juta milik kebutuhan Hafizh tidak disentuh untuk membiayai acara.
Namun yang paling lama dibicarakan pasangan itu bukan cincin atau susunan kursi. Mereka sudah mengikuti konsultasi dengan pihak berwenang yang dipilih bersama untuk memahami keadaan perkawinan serta dokumen yang pernah dibuat. Inara dan Abi diberi kesempatan bertanya masing-masing. Mereka datang sebagai pasangan yang masih menikah. Keterangan dan dokumen lama diperiksa bersama, kemudian keduanya menanyakan pilihan untuk melanjutkan kehidupan dengan kehendak yang bebas.
Sesudahnya mereka memilih mengadakan penguatan janji secara sukarela. Bentuk yang disetujui dibicarakan dengan pendamping yang memahami persoalannya. Kiai Ammar tidak mengumumkan acara sebelum kedua orang itu menyatakan mau. Bila salah satu berubah pikiran, alasan malu kepada undangan tidak akan dipakai untuk memaksanya.
Kini, pada Minggu pagi itu, Inara melihat pintu kamar yang terbuka. Dari luar terdengar suara Abi bertanya di mana kotak cincin diletakkan. Ia tersenyum karena pertanyaan tersebut sudah diajukan sebelum subuh.
'Di saku tas kecilmu, Mas,' jawabnya cukup keras.
'Yang sebelah mana?'
'Kalau semua saku dibuka, pasti ketemu.'
Khurin tertawa, lalu meminta kakaknya tidak terus menoleh ketika jilbab belum selesai. Tidak ada percakapan bahwa ia telah kalah dan kini harus bahagia melihat pemenang. Ia membantu sebagai adik, sesekali mengeluh karena ujung kain Inara terus berpindah setiap kali pemiliknya bicara.
Maya datang bersama Husna membawa makanan yang sudah disepakati untuk acara. Pekerjaan titipan kateringnya diatur agar ia tidak memasak sepanjang malam sekaligus menjadi tamu yang kelelahan. Di tasnya ada kunci rumah lama yang akan ditunjukkan kepada keluarga seusai kegiatan, bukan sebagai mas kawin atau hadiah bagi pasangan.
Di ruang tengah, Abi menerima ucapan salam dan membantu menggeser kursi ketika ada yang terhalang jalan. Kiai Ammar memintanya berhenti sebentar supaya pakaian tidak kembali kusut sebelum acara dimulai. Lelaki muda itu tertawa gugup, menurunkan tangan yang masih memegang sandaran.
Ketika Inara keluar, Abi menatapnya tanpa harus mencari tahu apakah sedang diminta bersandiwara. Istrinya mengambil tempat yang disiapkan di sampingnya. Hafizh berada bersama Umi sesuai kebutuhan dan waktu istirahatnya, tidak diwajibkan terjaga agar seluruh foto terlihat sempurna.
Acara berlangsung sederhana, mengikuti bentuk penguatan yang telah dikonsultasikan dan disetujui. Tidak ada ceramah yang menjadikan pengalaman mereka rumus untuk menilai perkawinan orang lain. Ketika diberi kesempatan berbicara, Abi menyatakan ingin terus mendampingi Inara dengan pilihan yang didengar, bukan dengan perasaan bahwa ia harus membayar tempatnya di keluarga.
Inara menjawab bahwa ia ingin menjalani kehidupan bersama lelaki itu. Ia mengakui mereka akan tetap mempunyai perbedaan dan tidak menjanjikan dirinya tidak pernah ketus lagi. Yang ingin diubah ialah cara menghadapi perbedaan tanpa ancaman, sandiwara, atau surat yang dijadikan senjata.
Kotak cincin akhirnya dibuka. Abi sempat salah memegang sisi tutupnya, membuat Inara berbisik bahwa ia tadi sudah terlalu sering memeriksanya. Lelaki itu tertawa pelan, lalu memasangkan cincin setelah istrinya mengulurkan tangan. Sentuhan berikutnya berlangsung ketika keduanya saling mendekat, sederhana dan tidak diminta ulang untuk orang yang belum sempat memotret.
Doa dipanjatkan. Kiai Ammar menyeka mata sebelum tersenyum kepada pasangan tersebut. Maya menggenggam tangan Husna, sementara Khurin memeriksa apakah Umi membutuhkan bantuan mengurus Hafizh. Tidak semua orang menangis pada saat sama, dan tidak ada yang harus mengucapkan kalimat panjang agar terlihat ikut berbahagia.
Husna meminta izin mengambil satu foto keluarga sebelum makanan dibagikan. Inara menyetujui, tetapi mengatakan Hafizh tidak perlu dibangunkan bila sedang nyaman. Mereka menyesuaikan posisi dengan keadaan bayi, bukan sebaliknya. Pada percobaan pertama, Abi justru melihat ke arah pintu karena mendengar namanya dipanggil orang yang membawa nampan. Khurin menggeleng sambil tertawa dan meminta semua memberi kesempatan satu kali lagi. Foto berikutnya selesai tanpa harus mengulang doa atau meminta pasangan memainkan kembali adegan cincin.
Ketika acara inti selesai, Inara menatap Abi dan bertanya apakah ia akhirnya lega kotak cincin tidak hilang. Suaminya mengangguk, kemudian menanyakan apakah istrinya ingin duduk lebih nyaman sebelum menemui tamu.
'Iya. Tapi setelah itu kita makan,' jawab Inara.
Abi berdiri membantu memindahkan kursi yang diminta. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa gugupnya berkurang cukup banyak sehingga ia dapat memperhatikan bau makanan dari dapur. Acara keluarga belum berakhir, tetapi janji yang baru diucapkan tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus diselesaikan dengan menahan napas.