Pada Jumat sesudah Hafizh pulang, Radit datang pada waktu yang disetujui Inara. Ia menunggu di teras sampai Abi mempersilakan duduk. Tidak ada rombongan keluarga atau permintaan mendadak untuk menggendong bayi. Di tangannya hanya sebuah map tipis berisi catatan yang hendak dibicarakan.
Inara keluar setelah Umi bersedia menjaga Hafizh sebentar di dekat mereka. Ia mengambil kursi yang nyaman dan mengatakan waktunya tidak akan panjang. Radit mengangguk sebelum membuka map.
'Saya akan kembali ke London hari Minggu,' katanya. 'Sebelum berangkat, saya ingin membereskan satu urusan uang yang masih terbuka.'
Abi melihat catatan yang disodorkan. Enam penerimaan tercantum di sana: sebelas juta yang pertama, kemudian lima kali dua juta dengan jarak empat pekan. Total dua puluh satu juta. Tidak ada pembayaran baru setelah persetujuan penundaan yang dibuat Rabu sesudah kelahiran.
'Sisa sembilan juta,' kata Abi.
'Benar. Dan pembayaran berikut yang kita tunda belum jatuh tempo.'
Radit menunjukkan pesan persetujuan yang sama dengan milik Abi, kemudian meletakkannya kembali di dekat catatan. Ia tidak menambahkan denda karena pembayaran yang memang sudah disepakati bergeser.
'Saya ingin menghapus sisa sembilan juta itu secara tegas. Bukan mengatakan lunas karena Mas sudah melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan utang. Ini keputusan saya untuk tidak lagi menagih sisanya.'
Abi membaca surat singkat yang disiapkan. Ia menanyakan apakah catatan tersebut juga menyebut dana yang sudah diterima, agar kelak tidak ada perbedaan angka. Radit menunjukkan bagiannya dan bersedia memperbaiki kata yang belum jelas sebelum menandatangani.
Inara mendengar tanpa mengambil alih. Ketika Abi selesai bertanya, ia menanyakan urusan kedua yang tadi disebut Radit.
'Dua puluh satu juta yang sudah saya terima itu ingin saya berikan untuk kebutuhan Hafizh,' jawab lelaki itu. 'Kalau kamu bersedia menerimanya.'
'Bukan berarti kamu membuka rekening atas namaku tanpa bertanya, kan?'
'Tidak. Aku belum memindahkannya. Aku ingin kamu menentukan rekening yang dipakai.'
Inara meminta waktu membaca rincian. Ia tidak menolak kebutuhan anak, tetapi tidak ingin satu transfer kemudian dipakai sebagai alasan datang tanpa izin atau menentukan orang yang boleh berada di dekat bayi. Ia mengatakan keberatannya sebelum menyebut rekening.
Radit mengangguk. 'Aku mengerti uang ini tidak membeli kesempatan bertemu atau jawaban tentang kita. Kebutuhan anak juga tidak bergantung pada apakah kamu memaafkan aku.'
'Kalau begitu, itu yang perlu tetap jelas.'
Setelah Inara menyatakan menerima untuk dana anak dan memilih rekening yang dikelolanya sendiri, Radit melakukan transfer di hadapan mereka. Notifikasi tidak langsung muncul. Ketiganya menunggu sampai Inara dapat memeriksa mutasi dan memastikan jumlahnya benar, bukan hanya memandang gambar bukti kirim.
'Dua puluh satu juta sudah masuk,' katanya akhirnya.
Ia menyimpan bukti penerimaan dan mencatat pos dana anak terpisah dari tabungan pribadi. Tidak ada tambahan nominal yang tidak dijelaskan. Abi tidak mengambil uang tersebut untuk mengganti biaya cicilan atau membeli cincin.
Surat penghapusan sisa sembilan juta ditandatangani Radit, dicocokkan kembali, dan salinannya diterima Abi. Dengan begitu mereka dapat menyebut utang baru tiga puluh juta selesai melalui pembayaran yang benar-benar diterima serta sisa yang dilepaskan, bukan karena angka yang sama berputar menjadi hadiah lalu diam-diam ditagih lagi.
Sesudah map ditutup, Radit bertanya apakah boleh melihat Hafizh dari dekat sebentar. Inara mengiyakan dengan batas yang dinyatakannya sendiri. Ia tetap berada di samping, dan bayi tidak dipindahkan ke tangan tamu hanya karena permintaan baru diajukan.
Radit menatap wajah kecil itu dengan mata basah. Ia mengucapkan salam pelan, lalu berhenti ketika Hafizh bergerak tidak nyaman. Umi membantu Inara kembali mengurus keperluan bayi. Tidak ada yang meminta ibu menunda hanya agar tamu sempat memperoleh foto yang diinginkan.
'Saya pamit,' kata Radit kepada Abi setelah Inara masuk sebentar.
Abi mengantarnya sampai sisi teras. Lelaki itu masih ingin menitip pesan untuk Husna, tetapi kali ini bertanya apakah adik Abi bersedia menerima salam sebelum isi panjang disampaikan.
'Saya akan tanyakan dahulu,' jawab Abi. 'Dia tidak harus membalas.'
Radit menyanggupi. Pesannya singkat: terima kasih atas keberanian Husna mengatakan keputusan sendiri, dan ia tidak akan menghubungi untuk memaksa membuka kembali perjodohan. Bila suatu saat ingin berkunjung, ia akan lebih dahulu meminta persetujuan melalui keluarga tanpa menganggapnya janji diterima.
Sesudah Radit pergi sekali dengan Ferrari, Abi menghubungi Husna. Ia menanyakan apakah adiknya ingin menerima pesan tersebut. Husna mengizinkan mendengar, lalu menjawab bahwa ia tetap ingin menyelesaikan kuliah dan belum memutuskan hal lain. Abi menerima tanpa membujuk atau menyampaikan balasan yang lebih manis daripada yang dikatakan.
Pada Minggu yang direncanakan, Radit memberi kabar keberangkatan. Sesudah sampai London, pesan tiba diterima, bukan hanya janji terbang yang hilang di tengah percakapan. Inara membacanya pada waktu luang dan mengakui penerimaan kabar tanpa membuka pembicaraan romantis.
Di rumah, catatan dana anak disimpan bersama bukti transfer. Salinan penghapusan utang berada pada Abi, sedangkan bukti pembebasan perjanjian lama tetap tersimpan terpisah di tempat masing-masing. Berkas-berkas itu tidak lagi dikeluarkan setiap kali pasangan berselisih tentang hal kecil. Pada malam setelah kabar tiba itu diterima, ketika Hafizh menangis, mereka justru harus belajar siapa mengambil kain dan siapa membantu menyiapkan kebutuhan berikutnya, pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan sekadar mengatakan sudah berkorban lebih banyak.
Abi hampir mengambil pakaian bersih yang salah ketika Inara menunjuk rak. Wanita itu menggeleng, lalu menyebut warna dengan lebih jelas. Suaminya memperlihatkan kain yang dipegang seolah sedang menawarkan dagangan di toko, membuat Inara tertawa meskipun rambut di bawah jilbab rumahnya sudah berantakan.
'Kalau pelanggan salah menunjuk, jangan salahkan pegawainya,' kata Abi.
'Aku menunjuk yang dekat boks, bukan yang dekat pintu.'
'Berarti petunjuknya perlu diperbaiki.'
Inara mengulurkan tangan meminta kain yang benar. Abi menyerahkannya, lalu memindahkan tumpukan lain agar tidak tertukar lagi. Mereka belum menjadi orang tua yang selalu tahu apa yang harus diambil. Namun kesalahan kecil malam itu dapat selesai tanpa salah seorang merasa akan ditagih atau ditinggalkan.