Makanan mulai dibagikan setelah keluarga selesai memberi pasangan waktu duduk. Husna dan Khurin membantu memeriksa kotak yang sudah terisi, sementara Abi mengangkat bagian yang perlu dipindahkan. Inara tidak diminta berdiri menyambut setiap orang. Ia menerima tamu secukupnya, lalu kembali mendekati Hafizh ketika bayinya membutuhkan perhatian.
Ratih datang seorang diri. Alvan sedang mengurus pekerjaan di Jakarta dan telah menitip salam. Wanita itu menyapa Maya lebih dahulu, melihat tas sahabatnya yang kini tidak hanya berisi keperluan makan. Maya mengeluarkan kunci serta tanda terima rumah dengan senyum yang beberapa kali berubah menjadi mata basah.
'Senin kemarin sudah kami terima,' katanya. 'Berkasnya diperiksa dahulu. Abi dan Husna juga ikut memastikan yang disepakati memang itu.'
Ratih menyentuh sisi kertas tanpa mengambil alih. Ia bertanya apakah Maya hendak segera pindah. Jawabannya belum. Rumah perlu diperiksa untuk kebutuhan tinggal, pekerjaan dan kuliah juga harus diatur. Menerima kunci tidak membuat seluruh kehidupan dapat dipindahkan dalam satu sore.
'Usahanya masih diperiksa tersendiri,' tambah Maya. 'Kami tidak mau mengatakan sudah kembali semua kalau dokumennya belum selesai dibaca.'
Abi yang mendekat membawa air mengangguk. Ia melihat ibunya menyimpan kunci sendiri, tidak menyerahkannya kepada orang yang dianggap lebih pantas mengatur. Bagi keluarga mereka, itu sudah sebuah perubahan nyata. Mereka tidak memperoleh seluruh kekayaan Bayu kembali dengan satu telepon, tetapi rumah yang telah diverifikasi benar-benar sudah diserahterimakan, bukan hanya janji untuk bulan depan.
Ratih kemudian meminta waktu berbicara dengan Husna. Gadis itu menyelesaikan bagian kotak yang sedang dipegang sebelum mengangguk. Mereka berdiri di sisi teras yang tidak terlalu ramai.
'Abi sudah menyampaikan salam Radit?' tanya Ratih.
'Sudah, Tante. Mas Abi bertanya dahulu apakah saya ingin mendengarnya.'
'Kamu tidak perlu memberi jawaban lain hari ini.'
Husna memandang wanita itu, kemudian tersenyum kecil. Ia tetap mengatakan bahwa ingin menyelesaikan kuliah serta membantu ibunya menata kehidupan mereka. Tidak ada rencana pertunangan yang disisipkan sebagai balasan bantuan keluarga Radit.
'Kalau suatu saat ada permintaan berkunjung, saya ingin ditanya lagi. Jangan dianggap jawaban sekarang berarti saya sudah bersedia menerima hubungan,' katanya.
Ratih mengangguk. 'Saya sampaikan seperti itu.'
Percakapan berakhir tanpa pelukan yang dipaksakan atau ucapan terima kasih karena telah memberi putranya kesempatan. Ratih membantu mengambil beberapa kotak kosong ketika melihat meja perlu dirapikan. Husna kembali bekerja bersama Khurin, lega bahwa kalimatnya tidak harus dilunakkan sampai berarti sesuatu yang berbeda.
Menjelang sore, keluarga memperoleh waktu berkumpul setelah sebagian tamu pulang. Kiai Ammar meminta pasangan menyebutkan nama anak yang sudah mereka pilih bersama, agar keluarga mendengarnya dari orang tuanya sendiri. Abi menoleh kepada Inara, menunggu anggukan kecil sebelum mulai menyebut nama anak mereka.
'Muhammad Hafizh Abidzar,' kata Abi sambil menatap istrinya.
Inara mengulang nama yang sama. Keduanya tersenyum, mengingat percakapan pelan di tempat perawatan dan pertanyaan yang kemudian mereka ajukan agar pencatatan dilakukan dengan keterangan yang benar. Nama yang mengandung penghargaan tidak dipakai untuk menghapus asal-usul biologis atau menjadikan anak alat menutup rahasia baru.
Kiai Ammar mendoakan cucunya, kemudian mengembalikannya kepada orang yang sedang mengurus kebutuhan bayi setelah kesempatan menggendong yang disepakati selesai. Umi mengingatkan bahwa Hafizh tidak perlu terus berpindah tangan hanya karena semua orang merasa belum puas melihat wajahnya.
Maya tertawa saat cucu kecil itu justru menguap ketika beberapa orang membicarakan harapan besar untuk masa depannya. Husna mengatakan barangkali yang diinginkan sekarang hanya suasana lebih tenang. Mereka menurunkan suara, membiarkan percakapan keluarga bergerak ke makanan yang belum habis dan barang yang harus dikembalikan ke dapur.
Tamu terakhir berpamitan sebelum malam. Abi membantu mengantar sampai pagar, lalu kembali setelah memastikan tidak ada kotak milik orang lain tertinggal di tempat duduk. Khurin menghubungi pondok untuk menegaskan jadwal kepulangannya yang sudah dibicarakan, sementara Umi serta Maya merapikan bagian yang memang ingin mereka kerjakan. Tidak ada yang menyuruh Inara membuktikan sudah pulih dengan membereskan seluruh rumah.
Husna sempat mengirim foto keluarga yang diambil pagi tadi kepada pasangan. Inara membukanya bersama Abi, tertawa melihat ujung nampan yang ikut masuk gambar. Mereka memilih menyimpannya untuk diri sendiri dahulu. Foto yang sedikit kurang rapi itu justru memuat wajah-wajah yang tidak sedang diminta memainkan ulang sebuah peristiwa.
Ketika kamar akhirnya tenang, Abi duduk di sisi ranjang. Hafizh sudah berada di boks, dipantau sebagaimana kebutuhan dan arahan yang mereka jalani. Inara meletakkan pakaian kecil yang selesai dilipat, lalu bersandar setelah suaminya bertanya apakah posisi itu nyaman.
'Mas ingat pertama kali membeli kain untuk Husna dahulu?' tanyanya.
Abi tersenyum. 'Ingat. Kamu memberiku kancing.'
'Aku dulu tidak menyangka akan mengenalmu seperti sekarang.'
'Saya juga tidak.'
Inara memandang sudut kamar yang dahulu ditempati kasur lipat. Ia tidak lagi perlu membayangkan benda itu menghilang tanpa mengetahui ke mana dibawa. Kasur sudah diterima orang lain dengan persetujuan pemiliknya. Di tempat yang tersisa, mereka kini sering berdiri bergantian mengambil perlengkapan anak.
'Aku memilih hidup ini, Mas,' katanya pelan. 'Bukan karena tidak ada jalan lain.'
Abi menggenggam tangan yang diletakkan dekat tangannya. Ia tidak meminta kalimat itu diulang di depan keluarga. Cukup didengar ketika tidak ada yang menunggu pasangan menunjukkan kebahagiaan.
Mereka masih mempunyai hari yang mungkin melelahkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan percakapan sulit yang belum tentu selesai sekali duduk. Namun malam itu tidak ada tanggal perpisahan yang harus mereka hitung diam-diam. Ketika Hafizh bergerak dan mengeluarkan suara, keduanya menoleh bersamaan. Inara meminta kain, Abi mengambil yang benar kali ini, lalu mereka tertawa pelan agar tidak mengagetkan bayi.
Di luar, suara rumah berkurang sedikit demi sedikit. Abi mengecup kening istrinya setelah ia mendekat, kemudian tetap duduk sambil menunggu anak mereka kembali tenang. Tidak ada sandiwara yang perlu dilanjutkan setelah pintu ditutup. Yang tinggal ialah dua orang yang memilih saling mendengar, dan seorang anak yang boleh tumbuh tanpa harus membayar ketakutan masa lalu mereka.
TAMAT