Rabu, sehari setelah kelahiran Hafizh, Abi mengirim pesan kepada Radit mengenai jadwal pengembalian uang yang paling dekat. Ia tidak ingin biaya perjalanan dan kebutuhan perawatan membuat pembayaran terlewat tanpa pembicaraan. Total yang sudah diterima Radit tetap dua puluh satu juta, sedangkan sisanya sembilan juta.
Ia meminta jadwal angsuran berikut ditunda empat pekan dari tanggal semula. Radit membalas setuju, tanpa bunga atau tambahan biaya. Abi mengulang tanggal yang baru agar tidak ada salah pengertian, lalu menyimpan balasan persetujuan itu. Penundaan tersebut belum berarti sisa utang hilang.
Lembar penerimaan toko akhirnya diserahkan melalui sopir pada Rabu itu dan dikonfirmasi sudah diterima pegawai. Pekerjaan Abi diatur bersama rekan agar urusan pasien dan tanggung jawab toko tidak sama-sama ditinggalkan. Ia tidak diberi gelar baru, hanya kesempatan menyesuaikan pekerjaan yang benar-benar dilakukan.
Pada Kamis, Inara mendapat izin pulang setelah penilaian kondisinya. Hafizh belum. Tim menjelaskan bahwa bayi masih memerlukan observasi dan perawatan sesuai perkembangannya. Inara menerima kabar itu dengan mata basah, tetapi tidak meminta suaminya membawa anak mereka pulang hanya karena kamar di rumah sudah siap.
Abi mendampingi kepulangan istrinya dengan kendaraan yang disiapkan sopir reguler. Mereka mengatur kunjungan, kebutuhan yang diminta petugas, serta waktu istirahat Inara. Dua rumah yang sempat memisahkan pasangan itu kini menjadi tempat berbagi pekerjaan. Maya membantu menyiapkan makanan ketika diminta, sementara Umi memastikan putrinya tidak menanggung seluruh perjalanan sendiri.
Pada akhir pekan itu, gaji berikut Abi masuk sebagaimana jadwal kerjanya. Ia mencatat penerimaan dan kebutuhan rutin, transportasi kunjungan, serta keperluan keluarga secara terpisah. Pos lima juta yang telah disisihkannya sebelum kelahiran tetap disimpan, tidak dianggap seluruh uang yang akan dimilikinya selamanya. Angsuran yang sudah disepakati ditunda tidak diam-diam dibayarkan lagi.
Hari-hari berikutnya memiliki kabar yang berbeda. Ada kunjungan ketika Inara pulang lebih tenang, ada pula saat ia menangis dalam kendaraan karena harus meninggalkan Hafizh kembali. Abi tidak mengatakan perasaan itu berlebihan. Ia membawakan tas, menanyakan apakah istrinya ingin berbicara, lalu belajar menerima bila jawabannya hanya ingin diam ditemani.
Selama jeda tersebut, Inara menghubungi Laras Pratiwi, pengacara yang memegang arsip perjanjiannya. Ia meminta dokumen lama dibawa untuk ditelaah dan menjelaskan bahwa pembatalan tuntutan harus dibuat dengan bukti yang dapat disimpan kedua pihak. Abi diikutsertakan sejak pembicaraan awal, bukan dipanggil belakangan hanya untuk menandatangani.
Pada Kamis dua pekan sesudah ibunya pulang, Hafizh akhirnya memperoleh izin pulang tersendiri. Enam belas hari sejak kelahiran telah dilalui keluarga dengan jadwal yang berulang tetapi tidak selalu mudah. Keputusan hari itu berasal dari penilaian tim terhadap bayi mereka, bukan patokan bahwa semua bayi yang lahir lebih awal akan membutuhkan waktu sama.
Sebelum berangkat, Abi dan Inara mendengarkan penjelasan tindak lanjut serta bertanya sampai memahami. Catatan nama yang telah disepakati diurus melalui layanan berwenang dengan keterangan yang benar. Mereka membawa Hafizh ke rumah sekali, dengan perlengkapan yang sudah disiapkan dan bantuan keluarga yang tidak berebut menggendong.
Sore itu Laras datang pada waktu yang disetujui. Hafizh beristirahat bersama Umi di dekat mereka. Pengacara tersebut membuka berkas lama, memberi waktu keduanya membaca kembali, lalu menunjukkan dokumen pelepasan yang telah dibicarakan.
Inara menyebut dengan jelas bahwa ia melepaskan tuntutan pengembalian seratus juta dan ancaman yang dilekatkannya pada pembongkaran rahasia. Batas perjanjian sembilan bulan serta tuntutan agar Abi meminta cerai tidak lagi mereka pertahankan. Mahar lama tetap milik Inara; bantuan untuk utang lama keluarga tidak diubah menjadi utang baru yang dibayar dengan kesediaan menjadi suami.
Abi membaca setiap bagian. Ia bertanya apakah masing-masing akan menerima salinan dan di mana arsip disimpan. Laras menjelaskan susunannya tanpa menyatakan bahwa sobekan kertas saja akan menyelesaikan semua persoalan.
Keduanya menandatangani setelah selesai bertanya. Laras menyerahkan salinan pembebasan kepada masing-masing dan memastikan penerimaannya. Barulah Inara mengambil salinan lama yang disediakan untuk dilepas secara simbolis.
'Waktu itu aku bilang kamu tidak boleh memiliki perasaan kepadaku,' katanya kepada Abi. 'Aku mengatakannya sendiri. Larangan itu kuucapkan kepadamu, terpisah dari lima poin yang tertulis dalam surat ini. Aku memakai ucapan itu untuk membuatmu tidak berharap, sementara aku meminta begitu banyak darimu.'
Abi memandangnya tanpa menyela.
'Aku tidak ingin mempertahankanmu karena denda, anak, atau karena takut orang lain bertanya. Aku ingin kamu tinggal karena kamu menginginkannya juga.'
Inara meletakkan kertas di meja agar tangannya tidak terus gemetar.
'Aku mencintaimu, Bi.'
Kalimat itu akhirnya sampai langsung kepada orang yang dituju, dengan suara yang tetap dapat didengar meskipun Inara harus berhenti menarik napas. Abi menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah dengan mata basah.
'Saya juga mencintaimu. Dan saya ingin tetap menjadi suamimu, kalau itu pilihanmu juga.'
Inara mengangguk. Ia tidak menyebut cinta sebagai cicilan seumur hidup. Ia meraih tangan yang ditawarkan Abi, menggenggam sebentar, kemudian melepaskannya ketika Hafizh mengeluarkan suara kecil dari dekat Umi.
Laras menunggu mereka menenangkan diri sebelum menyelesaikan pencatatan. Salinan lama disobek Inara setelah ia memastikan surat pembebasan di tangan suami tetap utuh. Potongannya dikumpulkan dalam wadah, tidak disebarkan sampai lantai harus menjadi panggung keluarga.
Setelah pengacara berpamitan, Abi menyimpan salinannya bersama barang pribadi. Inara menaruh miliknya di tempat yang dapat dijangkaunya sendiri. Tidak ada orang tua yang mengambil alih kedua berkas dengan alasan lebih pandai menjaga.
Inara sempat menanyakan apakah Abi masih ingin dipanggil dengan sebutan yang dahulu diaturnya. Suaminya tertawa kecil, mengatakan ia akan menoleh selama dipanggil baik-baik.
'Kalau aku sedang kesal?'
'Bilang kesal. Jangan suruh saya menebak dari surat.'
Inara ikut tertawa, lalu mengangguk lebih sungguh-sungguh daripada lelucon yang baru didengarnya.
Malam itu mereka duduk dekat tempat tidur bayi, mendengar bunyi napas kecil yang masih membuat keduanya sering saling menoleh. Banyak hal belum mereka kuasai. Namun ketika Inara meminta Abi mengambilkan kain, suaranya tidak lagi terdengar seperti majikan memanggil orang yang telah dibayar. Abi menyerahkannya, tersenyum ketika istrinya salah menunjuk warna, dan memilih tetap duduk di sana sesudah pekerjaan kecil itu selesai.