Ratih dan Alvan datang pada sore Selasa setelah memastikan Inara bersedia menerima kunjungan singkat. Mereka tidak langsung masuk membawa seluruh perasaan yang sejak subuh membuat rumah mereka gaduh. Di tempat penerimaan, keduanya menunggu sampai petugas dan keluarga memberitahu waktu yang memungkinkan.
Ratih memegang tas dengan kedua tangan. Matanya tampak lelah setelah berjam-jam berusaha memahami kabar yang diterimanya. Baru pada subuh hari yang sama Radit menelepon dan mengakui apa yang selama ini disembunyikannya. Sejak itu ia berkali-kali menanyakan kepada suaminya apakah ada bagian cerita yang mungkin salah didengar.
Kini, berdiri dekat kamar Inara, ia tidak lagi dapat menempatkan persoalan tersebut sebagai salah dengar.
Umi Hanik menyambut lebih dahulu. Ratih hampir berlutut, tetapi Umi menahan gerakannya dengan meminta ia duduk pada kursi yang tersedia. Tidak ada yang membutuhkan pemandangan orang tua merendahkan tubuh agar putrinya merasa wajib memaafkan.
'Saya ingin meminta maaf,' kata Ratih setelah duduk. 'Radit baru menceritakan kepada kami subuh tadi. Saya tidak akan berpura-pura sudah memahami semua yang Inara alami.'
Inara memandangnya dari ranjang. Ia menerima bahwa ucapan itu didengar, tetapi belum menawarkan pelukan atau kalimat semuanya sudah selesai.
'Inara masih perlu beristirahat, Tante,' katanya. 'Saya juga belum siap membicarakannya panjang.'
Ratih mengangguk. Ia mengusap ujung tas dengan ibu jari, menahan kebiasaan mengisi diam dengan penjelasan tentang putra kesayangannya. Untuk kali ini, mengatakan Radit sebenarnya anak baik tidak akan membantu perempuan di depannya.
Alvan berbicara sesudah istrinya selesai. Ia mengakui bahwa kesalahan anaknya perlu ditanggungjawabkan oleh Radit sendiri dan tidak dapat dihapus dengan bantuan dari perusahaan keluarga. Ia juga tidak menjanjikan bahwa sekali menyelesaikan kuliah, putranya pasti akan menjadi orang yang berbeda.
'Kami akan berhenti meminta orang lain menutupi akibat perbuatannya,' katanya.
Kiai Ammar mendengarkan dari kursi di samping. Beliau mengatakan keluarga masih mengurus perawatan Inara serta bayi. Persoalan lain akan dibicarakan melalui waktu dan cara yang disetujui, bukan menjadi syarat agar hubungan dengan cucu dapat dimulai.
Ratih menanyakan apakah boleh melihat bayi. Jawaban petugas tentang batas kunjungan diterimanya tanpa meminta pengecualian karena dirinya nenek biologis. Ia tidak mengangkat telepon untuk mencari foto dari tangan orang lain. Sebelum berpamitan kepada Inara, ia hanya bertanya apakah ada pesan yang ingin diteruskan kepada Radit.
'Untuk sekarang jangan menghubungi saya terus-menerus,' jawab Inara. 'Kalau ada kabar yang saya setujui untuk dibagi, nanti disampaikan.'
'Saya sampaikan,' kata Ratih.
Kunjungan berakhir sebelum Inara terlihat semakin lelah. Umi mengantar kedua tamu ke luar, sementara Abi tetap sebentar mengurus kebutuhan istrinya. Ratih melihat Maya dan Husna menunggu di dekat kursi keluarga. Sahabat lamanya berdiri, tetapi tidak terburu-buru menjelaskan mengapa dahulu ikut menyimpan rahasia.
'Kita bicara lain kali ketika lebih tenang, May,' kata Ratih.
Maya mengangguk. Ia tidak ingin menjadikan lorong fasilitas sebagai tempat membuka seluruh percakapan di rumahnya. Husna berdiri di sisi ibunya, menerima salam tanpa ditanya apakah sekarang mau mempertimbangkan Radit lagi.
Alvan meminta waktu kepada Abi setelah lelaki itu keluar. Mereka berbicara di sisi yang tidak menghalangi pengunjung. Kiai Ammar tetap dekat, tetapi tidak menjawab atas nama keluarga Maya.
'Saya mendengar soal rumah peninggalan Bayu dari Ratih,' kata Alvan. 'Dulu saya mengenalnya dalam pekerjaan. Kalau keluargamu menghendaki, saya bisa membantu mempertemukan dengan pengacara untuk memeriksa dokumen. Saya tidak dapat menjanjikan hasil sebelum berkasnya dibaca.'
Abi memandang Maya. Ibunya mengangkat wajah, tampak ragu mendengar nama suaminya disebut dalam urusan yang sudah lama membuat mereka menyerah.
'Bantuan ini bukan syarat kami menerima Radit?' tanya Abi.
'Bukan. Dan bukan untuk meminta Inara mengatakan sudah memaafkan. Kalau kalian menolak, keputusan itu tidak mengubah kebutuhan anak yang harus dipikirkan Radit.'
Maya meminta penjelasan tentang dokumen yang diperlukan. Alvan mengatakan pengacara akan terlebih dahulu berbicara dengan keluarga, mendengar apa yang mereka ingat, lalu memeriksa bukti yang tersedia. Klaim mengenai rumah dan usaha tidak boleh disamakan seolah semuanya mempunyai catatan kepemilikan yang sama.
Husna ikut menanyakan apakah mereka harus segera bertemu adik Bayu. Jawabannya tidak: mereka dapat memahami dokumen serta pilihan dahulu, sebelum memutuskan langkah berikut. Alvan tidak meminta tanda tangan kosong atau surat kuasa yang belum dibaca.
Setelah berbicara singkat bertiga, Maya, Abi, dan Husna menyatakan bersedia menerima pertemuan awal. Abi menyimpan nomor pengacara yang diberikan dengan izin, lalu mengirim pesan perkenalan di hadapan ibunya. Balasan mengenai waktu pembicaraan diterima kemudian, tidak berupa putusan bahwa rumah sudah menjadi milik mereka kembali.
Ratih menyentuh lengan Maya ketika berpamitan, menunggu sebelum memeluk. Maya mendekat sesudah mengangguk. Kedua perempuan itu tidak menyelesaikan seluruh luka persahabatan pada sore tersebut, tetapi dapat berpisah tanpa menambahkan janji perjodohan atau bantuan yang tidak diminta.
Sesudah tamu pergi, Abi duduk bersama ibu dan adiknya. Mereka menyepakati bahwa dokumen asli yang masih dimiliki akan dicari di rumah, disalin, dan diperlihatkan dengan pendampingan. Tidak ada yang akan menjual atau menyerahkan apa pun hanya karena khawatir kesempatan bantuan hilang.
Husna mencatat daftar pendek pada telepon. Maya memandangnya, kemudian mengatakan masih ingat tempat beberapa berkas lama disimpan. Untuk pertama kali setelah nama Bayu disebut, suaranya terdengar lebih pasti. Abi mengangguk, menaruh daftar itu di antara urusan yang benar-benar akan dikerjakan, sementara kabar dari ruang perawatan tetap menjadi hal yang mereka tunggu lebih dahulu.
Menjelang pulang untuk mengambil keperluan, Maya meminta Husna menemaninya. Mereka tidak akan membawa semua isi lemari ke tempat perawatan. Abi menyarankan mencari berkas dahulu dan memotret daftar yang ditemukan, lalu menentukan mana yang diminta pengacara. Ibunya mengangguk, memasukkan telepon ke tas setelah memastikan nomor yang diperlukan sudah tersimpan.
Husna menanyakan apakah kakaknya ingin dititipi pakaian kering dari rumah. Abi menyebut beberapa barang, lalu menambahkan lembar penerimaan toko yang masih di kamarnya. Besok dokumen itu akan dititipkan kepada sopir agar pekerjaan yang tertunda tidak terus bercampur dengan urusan keluarganya.