Abi mengikuti Kiai Ammar setelah memastikan Umi berada bersama Inara. Mereka memilih bangku di bagian taman yang masih dekat gedung. Hujan semalam meninggalkan titik air pada ujung daun, dan seorang petugas sedang membersihkan jalan agar tidak licin.
Kiai Ammar menunggu sampai petugas lewat, lalu duduk. Beliau menunjuk bagian bangku yang kosong. Abi mengambil tempat dengan tubuh masih tegak, tidak tahu apakah pembicaraan ini akan kembali membawanya kepada tuduhan yang sama.
'Inara sudah menceritakan banyak hal kepada saya,' kata Kiai Ammar.
Abi mengangguk.
'Kamu juga sudah menjawab pertanyaan saya di rumah. Saya tidak akan meminta seluruhnya diulang hanya supaya kamu terus merasa bersalah.'
Lelaki muda itu menurunkan pandangan. Kalimat tersebut justru membuatnya lebih sulit menahan air mata daripada ketika diminta mengaku. Selama beberapa hari ia menyiapkan jawaban yang sama berulang kali dalam kepala, takut ada bagian yang dianggap alasan mencari keuntungan.
'Saya ingin memastikan satu hal,' lanjut Kiai Ammar. 'Saat kamu mengatakan mencintainya sebelum pernikahan, perasaan itu sungguh ada?'
'Sungguh ada.'
'Dan sekarang?'
Abi menatap jalan di depan mereka. Seorang ibu berjalan pelan bersama pendamping, lalu berhenti untuk duduk di bangku lain. Ia menunggu sampai orang tersebut tidak lagi dekat sebelum menjawab dengan suara yang tetap rendah.
'Saya masih ingin hidup bersama Inara. Tapi saya tidak ingin menjawab atas namanya. Dia sudah terlalu banyak membuat keputusan ketika takut. Saya juga begitu.'
Kiai Ammar mengangguk perlahan. Beliau menggosok ujung jari, seolah baru menyadari bekas genggaman tasbih sepanjang malam. Untuk beberapa saat tidak ada suara selain sapu dari bagian jalan yang jauh.
'Saya salah mengusirmu,' katanya akhirnya.
Abi mengangkat wajah.
'Saya marah karena dibohongi. Lalu saya membuat keputusan seolah rumah dan keluarga hanya tempat bagi orang yang tidak pernah membuat saya kecewa. Saya tidak memikirkan akibatnya pada Inara atau kepadamu.'
'Saya juga sudah membuat Bapak kecewa.'
'Itu tidak membuat semua tindakan saya menjadi benar.'
Kiai Ammar berhenti, menelan sesuatu yang tampak sulit diucapkan. Ia sudah lebih sering berada pada posisi orang yang dimintai nasihat, didengarkan, atau diminta memberi keputusan. Duduk di bangku ini sambil mengakui kesalahan sendiri membuat suaranya tidak setegas di depan jamaah.
'Abah minta maaf, Bi.'
Panggilan itu membuat Abi menunduk. Ia menekan ujung mata dengan ibu jari, mencoba menjawab tanpa suara pecah. Kiai Ammar tidak menarik kembali kalimatnya atau menyuruh menantunya berhenti menangis.
'Kalau kamu masih berkenan, panggil Abah lagi.'
Abi mengangguk beberapa kali sebelum dapat berkata, 'Iya, Bah.'
Lelaki paruh baya itu mengulurkan tangan. Kali ini Abi menerimanya setelah melihat gerakan yang jelas. Ia mencium punggung tangan dengan hati-hati, lalu duduk kembali ketika Kiai Ammar menepuk sisi bangku. Tidak ada yang memaksanya bersimpuh atau membuktikan rasa terima kasih di depan orang yang lewat.
Mereka masih memiliki persoalan untuk dibicarakan. Kiai Ammar menanyakan pekerjaan dan barang yang belum dikembalikan. Abi menjelaskan salinan penerimaan masih aman, foto sudah dikirim, dan ia menunggu kesempatan menyerahkan lembar aslinya di toko.
'Besok bisa dititip kepada sopir kalau kamu masih dibutuhkan di sini,' kata Kiai Ammar. 'Untuk jadwal kerja, kita atur dengan pegawai. Jangan meninggalkan urusan pasien karena takut dianggap tidak bekerja.'
Abi berterima kasih. Ia juga mengatakan perlu memastikan tugas dan penghasilannya tetap dicatat jelas, bukan bergantung pada apakah dirinya sedang disukai keluarga. Kiai Ammar menerima keberatan itu, meminta pekerjaan yang sudah dilakukan tetap dibereskan sebagaimana mestinya.
Percakapan kemudian beralih kepada dokumen pernikahan dan perjanjian lama. Abi mengatakan ia tidak ingin lagi menafsirkan ancaman denda sebagai sesuatu yang tidak dapat dibicarakan. Inara juga harus memiliki kesempatan membaca, bertanya, dan memilih tanpa seluruh keluarga berdiri menunggu jawaban yang sama.
'Kita dapat meminta orang yang memang berwenang menelaah,' kata Kiai Ammar. 'Abah bisa membantu menghubungi, kalau kalian berdua setuju. Bukan memutuskan dulu lalu meminta kalian mengikuti.'
Abi mengangguk. 'Saya akan membicarakannya dengan Inara ketika dia cukup kuat dan ingin membahasnya.'
'Jangan hari ini hanya karena Abah sudah menyebut.'
Ada senyum kecil yang akhirnya muncul di wajah Abi. Ia menjawab bahwa hari ini ia juga belum sanggup membaca surat panjang. Kiai Ammar tertawa pelan, lelah tetapi tidak dibuat-buat, lalu mengusap pipi yang masih basah.
Ketika mereka hendak berdiri, telepon Abi bergetar. Umi menanyakan apakah keduanya masih berada dekat gedung karena ada keperluan yang perlu dibantu. Abi segera mengatakan akan kembali. Kiai Ammar ikut bangkit, tetapi langkah pertamanya tertahan oleh ujung kain yang menyentuh bangku. Abi membantu melepaskannya sebelum keduanya berjalan.
Dalam perjalanan kembali, lelaki paruh baya itu meminta agar tidak mengumumkan percakapan mereka kepada siapa pun sebagai kisah keluarga yang sudah sempurna. Abi mengiyakan. Permintaan maaf yang baru diberikan tidak harus diubah menjadi kabar pengajian.
Di depan kamar, mereka menunggu sampai petugas mempersilakan. Inara menoleh ketika melihat ayah dan suaminya datang berurutan. Kekhawatiran di wajahnya belum hilang sampai Abi tersenyum dan menyebut bahwa ia baru berbicara dengan Abah.
Satu kata itu cukup membuat bahu Inara turun. Ia tidak meminta laporan panjang. Ketika Abi menanyakan keperluan yang tadi disampaikan Umi, ia menunjukkan tas di dekat meja. Mereka kembali mengurus hal yang dapat dilakukan sekarang, sementara persoalan dokumen dan masa depan dibiarkan menunggu kesempatan yang tidak merampas waktu istirahat ibu serta perawatan bayi.
Sesudah barang ditemukan, Inara memperhatikan mata Abi yang terus berusaha tetap terbuka. Ia menunjuk kursi di sisi yang tidak menghalangi petugas.
'Mas duduk dulu. Kalau aku perlu, aku panggil.'
Abi hendak mengatakan masih sanggup berdiri, tetapi istrinya sudah mengangkat alis dengan cara yang dikenalnya. Ia akhirnya duduk, meletakkan jaket di pangkuan, dan menerima ketika Umi menawarkan mengambilkan makanan. Inara tersenyum melihat suaminya mulai menurut tanpa harus dipaksa menjadi orang yang tidak pernah lelah. Kiai Ammar menarik kursi lain, memberi ruang kepada mereka tanpa kembali mengajukan pertanyaan.