Pagi Selasa datang ketika sebagian keluarga belum sempat tidur. Cahaya di jendela membuat wajah-wajah yang semalaman menunggu tampak semakin lelah. Husna membantu Maya membereskan barang yang tidak lagi diperlukan, sementara Abi menerima penjelasan tentang kebutuhan berikut bersama Umi.
Inara masih beristirahat di bawah pengawasan tim. Bayinya berada dalam perawatan yang ditentukan sesuai kondisinya. Keluarga memperoleh kesempatan berkunjung terbatas, bergantian dan mengikuti arahan, bukan berkumpul seluruhnya di sekitar ranjang hanya karena kabar kelahiran sudah menggembirakan.
Kiai Ammar menunggu sampai Inara mengatakan bersedia ditemui. Beliau masuk bersama Umi ketika diizinkan. Di tangan lelaki itu tidak ada bingkisan atau surat keputusan. Tasbih disimpan di saku agar ia tidak terus memainkannya ketika putrinya sedang mencoba mendengar.
'Bagaimana badanmu, Ra?'
Inara membuka mata lebih lebar. 'Masih lelah, Bah.'
'Ada yang ingin diambilkan?'
Wanita itu menoleh kepada ibunya, kemudian mengatakan tas kecilnya sudah berada dekat meja. Umi memindahkannya sedikit agar mudah dijangkau. Gerakan tersebut membuat Kiai Ammar melihat betapa banyak kebutuhan putrinya yang selama beberapa hari terakhir hanya diperhatikan dari jauh.
Beliau mengambil kursi setelah petugas menunjukkan tempatnya. Inara tidak bangkit untuk mencium tangan. Ayahnya juga tidak meminta ia melakukannya sebagai pembuka percakapan.
'Abah ingin meminta maaf,' katanya.
Inara memandangnya lama. Ia sudah menyiapkan diri menghadapi pertanyaan tentang kebohongan lagi. Mendengar kalimat berbeda justru membuat matanya terasa panas sebelum tahu apa yang hendak dikatakan.
'Abah marah dan kecewa. Itu benar. Tapi Abah salah ketika membuatmu takut meminta orang yang kamu butuhkan datang. Abah juga tidak seharusnya mengambil keputusan mengusir ketika belum sanggup mendengarkan.'
Inara menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia tidak ingin memotong pengakuan ayahnya dengan mengatakan semuanya sudah selesai. Ada pagi yang masih terasa menyakitkan setiap kali diingat, ada kalimat yang membuatnya takut memperlihatkan kesedihan.
'Inara juga sudah menyembunyikan banyak hal, Bah.'
'Kita perlu membicarakannya. Tapi Abah tidak akan meminta itu diselesaikan sekarang supaya kamu boleh dirawat atau ditemani.'
Umi menyeka pipi. Ia tidak menambahkan nasihat panjang. Sejak Kamis ia telah melihat putrinya mencoba menjawab begitu banyak pertanyaan ketika tubuhnya sendiri meminta perhatian. Pagi ini cukup ada orang yang mau mengakui bahwa pertolongan tidak perlu menunggu seluruh keluarga sepakat tentang masa lalu.
Kiai Ammar menanyakan apakah boleh memegang tangan putrinya. Inara mengulurkan tangan setelah beberapa saat. Beliau menerimanya, mengusap jemari tanpa menarik tubuh Inara ke pelukan yang belum tentu nyaman.
'Abah lebih sibuk memikirkan apa yang orang akan katakan,' ujarnya. 'Lalu Abah lupa bertanya apa yang sebenarnya kamu alami.'
Inara menunduk, air matanya jatuh ke kain yang berada di pangkuan. Ia mengangguk, belum sanggup menjelaskan semua yang disimpannya. Ayahnya tidak mendesak. Beliau hanya duduk sampai putrinya dapat mengusap pipi dan memandangnya kembali.
'Ada bagian yang Inara belum siap ceritakan panjang,' katanya. 'Tentang malam di Singapura.'
'Abah dengar. Kalau nanti kamu ingin mencari bantuan atau seseorang untuk mendampingi membicarakannya, kita cari dengan cara yang kamu setujui.'
Jawaban itu tidak membuat ingatan buruk hilang. Namun Inara tidak merasa harus memilih antara mengaku baik-baik saja dan mengecewakan ayahnya lagi. Ia meletakkan tangan kembali di atas selimut setelah genggaman dilepas.
Tentang bayi, Kiai Ammar menanyakan apakah ada kesempatan melihat cucunya. Ketika petugas menjelaskan batas kunjungan dan bahwa belum waktunya menggendong bergantian, beliau menerima. Keinginan menjadi kakek tidak membuat jadwal perawatan berubah menurut kehendaknya.
Pada kesempatan yang diberikan, beliau melihat bayi dengan mengikuti pendampingan. Wajah kecil itu tidak menyerupai persoalan yang berbulan-bulan dipertengkarkan orang dewasa. Ada tubuh yang membutuhkan kehangatan, perhatian, dan pelayanan yang sedang dikerjakan tim.
'Assalamualaikum, Nak,' ucap Kiai Ammar pelan.
Ia tidak menepuk atau menyentuh tanpa bertanya. Tangannya ditahan dekat tubuh sendiri, sementara matanya basah. Umi berdiri di tempat yang ditunjukkan, ikut memandang tanpa mengangkat telepon untuk segera mengirim gambar.
Ketika waktu kunjungan selesai, mereka mundur. Kiai Ammar mengucapkan terima kasih kepada petugas. Beliau tidak mengatakan bahwa doa keluarga membuat semua pemantauan tidak lagi diperlukan. Justru setelah melihat sendiri, ia lebih ingin mendengar kabar yang jelas daripada kesimpulan terburu-buru dari wajah bayi yang tampak tenang.
Kembali ke tempat Inara, beliau menyampaikan bahwa cucunya sudah dilihat sesuai kesempatan yang diperbolehkan. Wanita itu tersenyum lemah. Untuk pertama kali pagi itu, mereka dapat membicarakan anak tersebut tanpa mengubahnya menjadi alasan siapa yang seharusnya merasa malu.
Inara kemudian menyebut nama yang dipilih bersama Abi beberapa jam sebelumnya. Kiai Ammar mengulang Muhammad Hafizh dengan suara pelan, memastikan tidak salah mendengar. Saat putrinya mengatakan nama lengkap yang sudah dibicarakan, beliau mengangguk dan bertanya apakah keduanya memang menyepakatinya.
'Sudah, Bah. Nanti urusan pencatatan kami tanyakan dengan benar. Nama itu tidak untuk menyembunyikan apa yang harus dicatat jujur.'
Ayahnya mengangguk. Beliau tidak mengganti pilihan mereka dengan nama yang dianggapnya lebih pantas untuk keluarga. Ia hanya meminta diberi tahu bila ada keperluan yang perlu dibantu, kemudian tersenyum ketika Inara mengatakan belum ada pekerjaan kakek selain menjaga diri agar tidak ikut kelelahan.
'Bayi ini tidak harus membayar kesalahan siapa pun,' kata Kiai Ammar.
'Iya, Bah.'
Umi membetulkan letak barang di meja, lalu mengingatkan bahwa Inara perlu beristirahat. Kiai Ammar berdiri dan merapikan kursinya. Sebelum keluar, beliau bertanya apakah Abi sedang berada di tempat menunggu. Inara mengangguk, mengatakan suaminya baru menyelesaikan keperluan yang diminta petugas.
'Abah ingin bicara dengannya. Sebentar saja.'
Inara menatap ayahnya dengan cemas yang belum sepenuhnya hilang. Lelaki itu menangkapnya dan menambahkan bahwa ia tidak hendak mengulang pertengkaran di ruang tengah. Umi akan tetap bersama putrinya sesuai izin, sementara Abi boleh dipanggil kembali kapan pun diperlukan.
Kiai Ammar keluar dengan langkah lebih lambat. Di dekat kursi keluarga, Abi berdiri ketika melihatnya. Kali ini lelaki paruh baya itu tidak memalingkan wajah.
'Kalau kamu tidak sedang diperlukan di dalam, mari duduk sebentar, Bi.'