Inara membuka mata ketika mendengar namanya disebut. Abi berdiri dekat pintu, menunggu petugas selesai memberi petunjuk sebelum mendekat. Wajah lelaki itu terlihat lelah dan matanya basah, tetapi ia tersenyum kecil ketika istrinya mengulurkan tangan.
'Mas datang,' bisik Inara.
'Saya sudah di luar sejak tadi.'
Abi meraih tangan yang ditawarkan, menggenggamnya tanpa menarik tubuh Inara. Ia duduk di tempat yang ditunjukkan. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi melihat istrinya harus mengumpulkan tenaga untuk berbicara membuatnya menanyakan hanya satu hal.
'Kamu ingin saya melakukan apa sekarang?'
'Tetap di sini sebentar.'
'Iya.'
Ia tidak menceritakan seluruh perjalanan taksi atau percakapan di ruang tunggu. Hal-hal tersebut dapat disampaikan ketika Inara tidak harus berbagi perhatian antara rasa lelah, penjelasan petugas, dan tubuh yang baru melewati persalinan.
Wanita itu menatap tangan mereka. 'Aku takut tadi.'
'Saya juga.'
Jawaban yang jujur itu membuat Inara mengangguk. Ia tidak membutuhkan lelaki yang mengatakan tidak pernah takut. Ia hanya ingin orang yang sanggup duduk di sampingnya meskipun tidak memiliki cara mengendalikan semua hal.
Petugas datang memeriksa kebutuhan Inara. Abi melepaskan tangan ketika diminta memberi ruang, lalu bergeser tanpa menghalangi. Ia memperhatikan bagaimana pertanyaan diarahkan kepada istrinya dan menunggu sebelum menambahkan hal yang diketahuinya. Ketika Inara meminta Umi diberi kabar bahwa ia ingin ibunya menemani sesudahnya, permintaan itu diteruskan.
Tentang bayi, penjelasan diberikan kembali. Putra mereka masih membutuhkan pemantauan. Inara bertanya kapan dapat melihat lebih dekat dan apa yang dapat dilakukannya. Jawaban tim tidak selalu berupa waktu pasti, tetapi ia mendapat penjelasan untuk tahap berikut, bukan diminta menunggu sambil menebak sendiri.
Abi mendengar bersama, menyimpan pertanyaan yang perlu diajukan nanti. Ia tidak menyimpulkan perawatan selesai karena tangisan yang sudah terdengar atau karena wajah kecil itu kelak mungkin terlihat tenang dalam kain.
Pada kesempatan singkat yang diizinkan, mereka dapat melihat bayi dengan pendampingan petugas. Abi menatapnya lama tanpa buru-buru mengangkat. Ukurannya membuat semua rencana yang pernah dipikirkan terasa terlalu besar. Jemari kecil yang bergerak di dekat kain justru menjadi hal yang paling sulit dilupakannya.
Inara meminta Abi mengucapkan doa dan azan dengan tenang bila tidak mengganggu pelayanan. Setelah petugas memastikan kesempatan itu sesuai keadaan saat itu, ia melakukannya singkat. Suaranya bergetar, tetapi ia tidak memperpanjang ritual demi menahan bayi dari kebutuhan perawatan berikutnya.
Ketika selesai, ia mengikuti arahan untuk mengembalikan ruang kepada tim. Inara memandangnya dengan mata yang kembali basah. Ucapan yang keluar bukan janji masa depan, melainkan terima kasih untuk malam yang telah dilalui.
'Terima kasih sudah datang, Mas. Dan sudah menunggu selama ini.'
Abi mengangguk, menyeka pipi dengan tangan yang bebas. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah menganggap menunggu sebagai pekerjaan yang dibayar, tetapi tidak menjadikan saat ini tempat menjelaskan seluruh hatinya. Ia hanya menjawab bahwa ia akan tetap ada untuk menerima kabar dan membantu ketika diminta.
Sebelum Abi bergeser untuk memberi waktu istirahat, Inara menyebut nama yang sudah dipikirkannya: Muhammad Hafizh. Ia bertanya apakah suaminya menyukainya. Abi mengulangi pelan, tersenyum, lalu mengangguk. Untuk nama belakang, Inara mengusulkan Abidzar sebagai ungkapan penghargaan, bukan untuk menyembunyikan siapa ayah biologis bayi.
Abi terdiam sebelum menjawab bahwa ia bersedia, asal pencatatan dilakukan dengan benar melalui petugas yang menangani dan tidak digunakan menghapus keterangan yang harus jujur. Mereka sepakat menanyakan urusan itu ketika tahap pelayanan memungkinkan. Untuk sekarang, keduanya sudah memiliki nama yang dapat diucapkan bersama tanpa menunggu acara keluarga beberapa pekan lagi.
Beberapa waktu kemudian, ia keluar agar Inara dapat beristirahat dan Umi memperoleh giliran yang diizinkan. Kiai Ammar berdiri tidak jauh dari pintu. Lelaki itu sempat mendengar ucapan terima kasih putrinya ketika petugas membuka jalan, tetapi tidak memasukkan kepala untuk mendengar seluruh penjelasan kesehatan.
'Bagaimana?' tanyanya kepada Abi.
'Inara sedang dirawat. Bayinya juga masih dipantau. Dia meminta Umi menemani sebentar kalau diperbolehkan.'
Kiai Ammar mengangguk, lalu memanggil istrinya. Tidak ada pertanyaan mengapa Inara memilih menyebut nama Abi lebih dahulu. Beliau menunggu di sisi yang tidak menghalangi pintu, memegang tasbih yang sejak tadi terasa tidak cukup untuk membuat kedua tangannya berhenti gemetar.
Abi kembali ke kursi. Maya menyodorkan tempat duduk yang sudah dikosongkan, Husna bertanya apakah kakaknya membutuhkan makan. Ia baru menyadari perutnya kosong ketika mendengar kata itu, tetapi memilih menerima air dahulu sambil menunggu kabar berikut.
Menjelang subuh, Radit mendekatinya untuk berpamitan. Lelaki itu tidak meminta kesempatan kedua memasuki ruangan. Ia hanya menanyakan apakah boleh menerima kabar terbatas melalui pesan bila Inara kelak mengizinkan.
'Saya akan menanyakannya kepadanya,' jawab Abi. 'Bukan sekarang saat dia perlu beristirahat.'
Radit mengangguk. Ia berpamitan juga kepada Kiai Ammar, Umi yang baru keluar sebentar, dan keluarga yang masih terjaga. Husna melihatnya dari samping Maya, tetapi tidak bangkit atau memanggil. Tidak ada percakapan khusus yang dituntut darinya.
Di luar gedung, langit mulai berubah warna. Radit berhenti di tempat yang tidak menghalangi pintu masuk. Ia mengeluarkan telepon, melihat nama ibunya, kemudian menekan panggilan. Kali ini ia tidak menunggu sampai Ratih menanyakan di mana dirinya berada.
'Ma, aku perlu cerita. Tentang Inara. Tentang sesuatu yang sudah lama kusembunyikan.'
Ratih terdengar terkejut karena waktu panggilan masih begitu pagi. Radit meminta ayahnya ikut mendengar bila memungkinkan. Ia menunggu, lalu menceritakan hubungan lama, kehamilan, dan kelahiran bayi dini hari Selasa ini. Ia tidak mengatakan keluarganya telah dimaafkan atau boleh datang tanpa bertanya.
'Sekarang mereka masih perlu dirawat,' katanya. 'Kalau Mama dan Papa ingin berkunjung, aku harus menanyakan izin dulu.'
Setelah panggilan selesai, ia duduk beberapa saat di bangku luar. Untuk pertama kalinya pagi itu, penyesalannya tidak diikuti rencana meminta seseorang kembali kepadanya. Ia hanya menatap telepon yang telah berhenti bergetar, menyadari bahwa mengakui perbuatan sendiri kepada keluarga adalah pekerjaan yang seharusnya tidak terus diserahkan kepada orang lain.