Jam di dinding menunjukkan pukul dua ketika petugas kembali keluar. Malam sudah berganti Selasa. Abi yang sempat menunduk langsung berdiri, disusul Umi dan Kiai Ammar. Pertanyaan hampir keluar bersamaan, tetapi petugas meminta mereka mendengar dahulu.
'Bayinya sudah lahir. Laki-laki.'
Abi menutup mulut dengan telapak tangan. Sejenak ia tidak menemukan cara mengeluarkan napas yang sejak tadi ditahan. Di sampingnya, Umi menangis sambil memegang lengan Khurin. Maya mengucapkan syukur berulang, sedangkan Husna menunduk dengan mata basah.
Petugas melanjutkan penjelasan sebelum keluarga bergerak mendekat. Bayi yang lahir lebih awal itu sedang dinilai dan dipantau oleh tim. Inara juga masih mendapat penanganan setelah persalinan. Kabar kelahiran tidak berarti semua orang dapat langsung masuk atau membawa bayi keluar dari ruang perawatan.
Abi mengangguk, mencoba memastikan dirinya tidak hanya mendengar bagian yang paling ingin didengarnya. Ia bertanya apakah ada sesuatu yang harus disiapkan keluarga. Petugas menjelaskan kebutuhan yang dapat diurus sekarang serta siapa yang akan menerima pembaruan berikut.
'Inara bagaimana?' tanyanya.
'Kami masih merawat dan memantaunya. Nanti kalau sudah memungkinkan, keluarga yang diminta akan dipanggil.'
Kiai Ammar menggeser langkah agar pintu tidak tertutup tubuh mereka. Beliau mengucapkan terima kasih kepada petugas, kemudian duduk kembali. Tasbih di tangannya tidak bergerak untuk beberapa saat. Ia menatap telapak sendiri seolah baru menyadari betapa erat benda itu digenggam sepanjang malam.
Abi tetap berdiri sampai Maya menyentuh sikunya. Ibunya menunjuk kursi, bukan menyuruhnya berhenti menangis. Ia duduk dengan kedua lutut terasa lemah, menunduk sambil mengucapkan syukur yang berkali-kali terputus.
Laki-laki.
Kata itu belum membentuk wajah dalam pikirannya. Selama ini ia mengenal bayi melalui cerita Inara, gerakan di perut yang kadang diceritakan dengan nada terkejut, dan foto di dalam dompet. Sekarang ada seorang anak yang sudah berada di dunia yang sama, sedang dirawat oleh orang-orang yang tahu apa yang dibutuhkannya.
Abi mengeluarkan dompet tanpa sepenuhnya menyadari. Foto Bayu terlihat lebih dahulu. Ia menyentuh ujungnya, kemudian berhenti sebelum menarik foto USG yang berada di belakang. Untuk malam ini ia tidak membutuhkan gambar itu sebagai bukti bahwa dirinya pernah menunggu.
'Mas mau minum?' tanya Husna.
Abi mengangguk. Ia menerima gelas, tetapi menumpahkan sedikit air ketika hendak mengangkatnya. Husna mengambil tisu dan membiarkannya membersihkan sendiri. Keduanya tertawa kecil dengan suara basah, terkejut bahwa tubuh masih dapat melakukan hal ceroboh setelah kabar yang begitu besar.
Di sisi lain, Radit berdiri dekat dinding. Ia ikut mendengar kabar bahwa bayi laki-laki telah lahir, tetapi tidak bergerak mengaku sebagai orang yang harus lebih dahulu dipanggil. Telepon di tangannya tidak digunakan mengambil foto dari pintu yang terbuka. Ia menunggu, melihat keluarga yang sedang mencoba memahami kabar dengan caranya masing-masing.
Tidak lama kemudian petugas memberi penjelasan lebih lanjut kepada Abi dan Umi sesuai izin pendampingan Inara. Taksiran usia kehamilan dan kebutuhan pemantauan bayi diterangkan berdasarkan penilaian, bukan disimpulkan keluarga dari suara tangis. Abi mengulang pertanyaan ketika ada istilah yang belum dipahami, lalu meminta informasi disampaikan dengan bahasa yang dapat mereka ikuti.
Ia tidak malu mengaku belum mengerti. Lebih baik bertanya sekarang daripada pulang membawa keyakinan bahwa tangis keras otomatis berarti tidak ada lagi yang perlu diperhatikan. Umi mencatat hal penting pada telepon, kemudian membacanya kembali agar tidak tertukar.
Kiai Ammar menunggu sampai keduanya selesai. Beliau bertanya kepada Abi apakah Inara sudah dapat ditemui. Pertanyaan itu diucapkan tanpa gelar atau perintah yang membuat Abi harus menebak kemarahan di baliknya.
'Belum, Pak Kiai. Kami menunggu dipanggil.'
Lelaki itu mengangguk. 'Kalau dia meminta kamu, masuklah saat petugas mengizinkan.'
Abi menatapnya sebentar. Tidak ada pembicaraan pengampunan yang menyusul. Namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, ia tidak merasa setiap langkah mendekati istrinya harus disertai permohonan agar tidak diusir lagi.
Waktu berikutnya diisi pekerjaan kecil. Maya mengatur ulang barang bawaan agar kain yang diperlukan mudah diambil. Husna memeriksa jadwal yang harus diberitahukan bila ia tidak dapat masuk kampus pagi nanti. Khurin menyampaikan bahwa izin pondoknya akan diperbarui sesuai keadaan keluarga, tanpa mengumumkan berita pasien kepada semua teman.
Abi meminta mereka tidak mengirim foto atau kabar rinci dahulu sebelum Inara mengetahui dan menyetujuinya. Umi mengangguk. Kabar kepada orang yang perlu tahu dapat diberikan secukupnya, sementara pemulihan ibu dan perawatan bayi berjalan lebih dahulu.
Ia baru menyadari lengan jaketnya masih terasa lembap ketika Maya memintanya memakai pakaian yang lebih kering. Kiai Ammar mengeluarkan kain bersih dari tasnya, menawarkannya untuk mengeringkan tangan. Abi sempat ragu sebelum menerima.
'Pakai saja,' kata lelaki itu.
Abi mengucapkan terima kasih. Ia menekan telapak dan ujung jari, lalu melipat kain setelah selesai. Ketika hendak mengembalikannya, Kiai Ammar menunjuk tas agar disimpan di tempat yang mudah dicari nanti. Tidak ada pelukan atau permintaan menganggap pertengkaran telah selesai. Mereka hanya menyelesaikan kebutuhan kecil bersama, dan Abi merasakan bahunya sedikit turun setelah menyerahkan kain itu kembali ke dalam tas.
Ketika nama Abi akhirnya dipanggil, ia hampir menjatuhkan gelas yang sudah kosong. Husna mengambilnya dari tangan, lalu menunjuk peci yang tertinggal di kursi. Abi meraihnya, memastikan tidak membawa seluruh tas sekaligus, kemudian mendekati petugas dengan langkah yang lebih mantap.
'Inara meminta suaminya,' kata petugas. 'Sebentar saja dulu, mengikuti arahan di dalam.'
'Saya siap.'
Abi menoleh kepada Umi dan Kiai Ammar. Bukan meminta mereka menggantikan keputusan istrinya, melainkan memberi tahu bahwa panggilan itu sudah datang. Umi mengangguk sambil mengusap pipi. Kiai Ammar berdiri sedikit dari kursi, lalu berhenti, membiarkan Abi mengikuti petugas lebih dahulu.
Di depan pintu, lelaki itu menarik napas. Ia belum tahu bagaimana wajah istrinya sesudah perjuangan malam ini. Ia hanya ingin masuk tanpa membawa tuntutan agar Inara segera tersenyum atau menjelaskan masa depan. Untuk saat ini, ia ingin memastikan perempuan yang memanggilnya mengetahui bahwa ia benar-benar telah datang.