Sudut yang dipilih Abi tidak jauh dari tempat menunggu. Ia masih dapat melihat Khurin dan pintu yang sesekali terbuka. Radit mengambil kursi di samping, menyisakan jarak agar percakapan mereka tidak perlu terdengar oleh orang lain.
'Saya tidak mau mengganggu Mas terlalu lama,' katanya.
Abi mengangguk tanpa menyuruhnya segera merasa nyaman. Kedua tangannya masih bertaut. Ada bagian dirinya yang ingin bertanya mengapa lelaki ini selalu hadir pada saat yang membuat hidup mereka semakin sulit, tetapi ia menunggu Radit mengucapkan maksudnya sendiri.
'Waktu di toko Senin pekan lalu, saya mengakui sesuatu kepada Pak Kiai,' ucap Radit. 'Saya tidak pernah sungguh berniat memenuhi janji menikahi Inara ketika berangkat ke London dahulu.'
Abi memandangnya. Ia sudah mendengar sebagian kejadian kantor dari istrinya melalui telepon beberapa hari lalu, tetapi kalimat yang kini keluar dari mulut Radit membuat kemarahannya mendapat bentuk yang berbeda.
'Kenapa Mas mengatakan itu kepada saya sekarang?'
'Karena saya tidak ingin Mas mengira janji saya dahulu memberi saya tempat yang harus dikembalikan. Saya sudah memakai janji itu untuk meninggalkannya.'
Abi menunduk sebentar. Ia teringat Inara pada malam pertama, meyakini seorang lelaki akan datang menjemput kehidupan yang disiapkannya. Waktu itu ia tidak memiliki keberanian mengatakan betapa rapuh harapan tersebut. Sekarang lelaki yang dijadikan harapan duduk di sampingnya dan mengakui sesuatu yang tidak dapat diubah dengan satu permintaan maaf.
'Inara yang berhak mendengar dan menilai apa yang Mas katakan,' jawabnya. 'Bukan saya yang bisa menyelesaikan itu atas namanya.'
'Saya tahu.'
'Kalau sudah tahu, jangan minta saya mengatakan semuanya tidak apa-apa.'
Radit mengangguk pelan. Ia tidak mengulurkan tangan atau meminta dipeluk. Telepon di pangkuannya bergetar, lalu dipadamkan setelah ia melihat nama pengirim.
'Saya ingin berhenti membuat dia memilih hanya supaya rasa bersalah saya berkurang,' katanya. 'Di depan toko Jumat itu, saya masih berpikir kalau dia kembali kepada saya, mungkin semuanya bisa diperbaiki.'
'Kembali kepada orang yang melukainya bukan syarat agar hidupnya membaik.'
'Iya.'
Jawaban Radit kecil. Abi memandang pintu, melihat petugas keluar untuk keluarga lain, kemudian kembali menghadap lelaki itu. Ia tidak ingin percakapan ini berubah menjadi tempat berlomba menyebut siapa yang paling mencintai perempuan di dalam sana.
'Saya juga banyak salah,' katanya. 'Saya diam ketika seharusnya mencari cara yang lebih jujur. Tapi sekarang saya tidak mau membuat keputusan baru tanpa mendengar Inara.'
Radit mengusap kedua telapak pada celana. 'Kalau dia tetap memilih Mas, saya tidak akan menghalangi.'
Abi menarik napas. 'Itu bukan sesuatu yang membutuhkan izin Mas.'
Lelaki di sampingnya terdiam, kemudian mengangguk dengan wajah yang memerah. Kalimat yang semula hendak terdengar murah hati ternyata masih menyimpan anggapan bahwa dirinya mempunyai sesuatu untuk diserahkan.
'Saya salah mengatakannya,' ujar Radit. 'Yang bisa saya lakukan ialah berhenti mengganggu pilihan kalian.'
Abi mengangguk kali ini. Ia menerima perbaikan kalimat tersebut tanpa memberi penghargaan seolah semuanya sudah terbukti. Perubahan harus tampak sesudah malam ini, ketika tidak ada lagi orang yang duduk menunggu kabar dari balik pintu.
Dari tempat mereka berada, Husna terlihat membantu Maya membetulkan tas. Radit sempat memandang ke arah itu, kemudian menunduk. Abi menangkap gerakan tersebut dan menunggu apakah nama adiknya akan dibawa masuk.
'Saya juga tidak berhak meminta Husna menyelesaikan perasaan saya,' kata Radit sebelum ditanya. 'Dia sudah menolak perjodohan itu. Saya harus mendengarnya.'
'Benar.'
Tidak ada janji bahwa penolakan itu akan berubah setelah lelaki tersebut membantu lebih banyak atau belajar menyesal lebih lama. Abi tidak menambahkan kata nanti untuk membuatnya lebih mudah diterima. Adiknya telah terlalu sering diminta mengalah agar orang lain tidak kecewa.
Percakapan berhenti ketika Khurin mengangkat tangan memanggil. Abi langsung berdiri. Seorang petugas meminta keluarga memeriksa perlengkapan yang diperlukan dan menyampaikan bahwa Inara masih ditangani. Abi mendekat bersama Umi untuk mendengar, sementara Radit tetap di kursinya.
Setelah keperluan itu diselesaikan, Abi kembali mengambil jaket yang ditinggalkan. Radit menggeser kursi agar jalannya lapang. Ia mengatakan akan menunggu kabar terbatas saja, tidak mengikuti setiap kali pintu terbuka.
'Kalau Inara belum ingin bertemu, saya tidak akan memaksa,' katanya.
Abi mengangguk. Ia hendak kembali kepada keluarga, lalu berhenti karena masih ada satu hal yang ingin disampaikan.
'Anak ini nanti akan membutuhkan orang dewasa yang bisa mengatakan hal benar tanpa saling menjadikannya senjata. Saya belum tahu bentuk semuanya. Kita tidak perlu memutuskannya malam ini.'
Radit memandangnya dengan mata basah. 'Saya akan mengingat itu.'
'Bicarakan dengan Inara ketika dia siap, dan melalui jalan yang semestinya kalau menyangkut dokumen. Jangan karena kita berdua duduk di sini, lalu menganggap semua urusan anak sudah selesai.'
Abi kembali ke kursi keluarganya. Umi memberitahu bahwa Inara sempat menanyakan dirinya lagi dan sudah menerima jawaban bahwa ia tetap di luar. Mendengar itu, Abi mengeluarkan napas panjang, merasakan betapa banyak percakapan tentang masa depan yang sebenarnya dapat menunggu.
Ia membuka tas yang tadi dititipkan kepadanya setelah Umi menanyakan letak kain bersih. Di dalamnya ada perlengkapan yang disiapkan sebelum berangkat dan sebuah baju kecil yang terlipat kurang rapi. Abi berhenti sebentar melihat ukurannya, lalu mencari barang yang benar-benar diminta agar tidak menahan pekerjaan petugas.
Umi menerima kain dari tangannya. Ketika kembali, beliau melihat baju kecil masih berada di atas tas.
'Yang itu dilipat lagi saja, Bi. Nanti kalau diperlukan baru dikeluarkan.'
Abi mengikuti. Ujung lengan yang sempit membuat kedua tangannya terasa terlalu besar. Ia memperbaiki lipatan dua kali sampai Umi tersenyum lelah dan mengatakan sudah cukup. Mereka menyimpannya bersama, pekerjaan sederhana yang membuat Abi dapat duduk kembali tanpa terus menggenggam tangan sendiri.
Menjelang dini hari, hujan mulai berkurang. Maya tertidur sebentar dengan tas di pangkuan, sementara Husna menyandarkan punggung pada kursi. Kiai Ammar masih memegang tasbih, menggerakkan butirnya perlahan. Abi tidak menghitung berapa lama lagi harus duduk. Ia hanya menempatkan dirinya cukup dekat agar dapat mendengar ketika namanya benar-benar dipanggil.