Abi turun setelah kendaraan berhenti di tempat yang ditunjukkan petugas. Ia membantu Maya keluar, lalu memeriksa agar tas Husna tidak tertinggal. Hujan membuat lantai dekat pintu basah. Langkah yang semula hendak berlari ditahannya ketika melihat orang membawa kursi roda melewati jalur yang sama.
Khurin menunggu di dekat bagian penerimaan. Wajahnya tegang, tetapi ia langsung mendekat ketika melihat Abi.
'Mas, Mbak sudah dinilai petugas. Umi di dalam. Dokter Salma sudah diberi kabar.'
'Aku bisa masuk?'
'Tanya petugas dulu. Mbak tadi meminta Mas.'
Abi mendekati tempat yang ditunjukkan dan menyebut nama istrinya. Ia tidak mencoba membuka pintu sendiri. Petugas menanyakan beberapa keterangan, lalu memintanya menunggu sebentar sampai tim dapat mengatur pendampingan. Abi mengangguk, meskipun menahan diri di luar terasa lebih sulit daripada perjalanan tadi.
Maya dan Husna memilih kursi yang tidak menutup jalan. Kiai Ammar berada beberapa langkah dari mereka. Abi mengucapkan salam, diterima dengan anggukan pendek. Tidak ada pembicaraan tentang kepulangan atau kontrak. Lelaki paruh baya itu hanya bertanya apakah perjalanan mereka lancar.
'Kami naik taksi. Inara sudah meminta saya melalui Khurin,' jawab Abi.
Kiai Ammar mengangguk. Ia tidak menyuruh menantunya pergi. Ketika sebuah tas perlu dipindahkan dari lantai, beliau justru menyerahkannya kepada Abi, meminta disimpan di kursi kosong yang aman.
Di dalam, Inara mendengar penjelasan pemeriksaan secara bertahap. Petugas menyampaikan bahwa penanganan dan pemantauan akan dilakukan sesuai keadaan ibu serta janin. Bidan Wening yang dikenalnya dari kelas hadir bersama tim. Suara yang dikenal itu membuatnya lebih mudah menjawab pertanyaan, tetapi tidak menghilangkan rasa takut.
'Suami saya sudah datang?' tanyanya.
Petugas memeriksa kabar dari luar, kemudian kembali mengatakan bahwa Abi menunggu. Inara meminta ia diizinkan mendampingi bila keadaan memungkinkan. Permintaan tersebut diteruskan dan disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan, bukan diputuskan oleh orang di ruang tunggu.
Ketika Abi akhirnya dipanggil untuk menemui istrinya sebentar, ia merapikan jaket yang masih lembap dan mengikuti arahan. Inara mengulurkan tangan. Lelaki itu mendekat, menggenggam setelah melihat anggukannya, lalu menanyakan apa yang paling dibutuhkannya sekarang.
'Jangan pergi jauh,' jawab Inara.
'Saya ada di sini.'
Ia tidak menjanjikan hasil yang belum diketahui. Ia hanya memastikan istrinya mendengar bahwa telepon tadi telah membawanya sampai ke tempat yang diminta. Ketika petugas perlu melanjutkan sesuatu, Abi menggeser kursi dan memberi ruang, kemudian mengikuti permintaan untuk menunggu kembali di luar.
Sebelum ia keluar, Umi menunjukkan balasan pesan Radit. Lelaki itu menanyakan apakah boleh datang menunggu. Inara membaca kalimatnya, kemudian mengizinkan berada di area tunggu, tanpa masuk menemui dirinya sebelum diminta.
'Bilang aku belum ingin bicara dengannya,' katanya.
Abi mendengar, tetapi tidak menjawab atas nama istri. Umi menyampaikan persetujuan terbatas tersebut. Setelah itu telepon disimpan agar Inara tidak terus menerima pertanyaan ketika sedang ditangani.
Radit tiba beberapa waktu kemudian. Ia membawa payung yang masih menetes dan berhenti dekat pintu sampai petugas menunjukkan tempat menyimpannya. Ia melihat Abi terlebih dahulu, lalu Kiai Ammar. Wajahnya berubah, tetapi ia tetap mengucapkan salam sebelum mengambil jarak.
'Umi mengizinkan saya menunggu setelah Inara menjawab,' katanya, menunjuk telepon tanpa menyodorkannya kepada semua orang. 'Saya tidak akan masuk kalau dia belum menginginkan.'
Kiai Ammar mengangguk bahwa keterangan itu didengar. Beliau tidak memberikan izin lain yang lebih luas. Radit memilih kursi di sisi berbeda, meletakkan telepon di pangkuan. Ketika melihat Husna berdiri di belakang Maya, ia sempat membuka mulut. Gadis itu hanya menunduk lalu duduk, tidak memberi isyarat ingin berbicara.
Waktu bergerak lambat. Umi keluar sebentar ketika pendampingan berganti, lalu kembali setelah urusannya selesai. Khurin mengambil air minum untuk keluarganya. Maya memeriksa apakah Abi membawa baju pengganti, kemudian mengalah ketika putranya mengatakan akan mengurusnya setelah ada kabar lebih jelas.
Suara dari balik pintu tidak selalu dapat dikenali. Setiap pintu dibuka, beberapa kepala terangkat. Kadang petugas mencari keluarga pasien lain, kadang membawa perlengkapan, dan Abi harus berulang kali menahan gerak berdiri sebelum namanya dipanggil.
Pada satu kesempatan, petugas menyampaikan pembaruan kepada pendamping yang ditunjuk Inara. Abi mendengarkan bersama Umi. Mereka menanyakan hal yang belum dipahami dan tidak menyebarkan seluruh penjelasan kepada pengunjung lain. Sesudahnya Abi kembali duduk, mengabarkan kepada Maya bahwa Inara tetap sedang ditangani.
Kiai Ammar kemudian menggeser sebuah kursi agar Maya dapat duduk lebih dekat kepada Husna. Saat mengangkatnya, ujung tas beliau tersangkut pada sandaran. Abi membantu melepaskan tali sebelum kursi terjatuh. Mereka sama-sama memegangnya sebentar, lalu Kiai mengucapkan terima kasih dengan suara hampir tertelan bunyi langkah petugas.
Abi mengangguk. Ia tidak memakai kesempatan itu untuk meminta persoalan rumah dibahas sekarang. Ia hanya memastikan kaki kursi tidak goyah sebelum ibunya duduk. Ketika Maya menawarkan air kepada Kiai, lelaki itu menerima dan meminumnya sedikit.
Radit memperhatikannya dari kursi seberang. Lelaki itu tidak memperoleh semua catatan pemeriksaan hanya karena datang. Ia memegang telepon, menulis sesuatu, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Ketika Abi menunduk dan mengusap kedua telapak tangan yang dingin, Radit akhirnya berdiri.
Ia berhenti cukup jauh agar tidak mengejutkan. 'Mas Abi, boleh saya bicara sebentar?'
Abi mengangkat wajah. Ia melihat pintu lebih dahulu, memastikan tidak ada petugas yang sedang mencarinya. Khurin masih duduk dekat tempat penerimaan dan dapat memanggil bila diperlukan.
'Tentang apa?'
'Tentang yang sudah saya lakukan. Saya tidak ingin membicarakannya di depan orang lain.'
Abi memandang kursi-kursi di sekitar mereka. Ada keluarga lain yang lelah, ada seorang anak tertidur dengan kepala di pangkuan ibunya. Tempat ini tidak disediakan untuk mendengar kisah mereka. Ia menunjuk sudut yang lebih tenang tetapi tetap dekat jalur panggilan petugas.
'Sebentar saja. Kalau ada kabar dari Inara, saya harus kembali.'
Radit mengangguk. Mereka bergerak setelah Abi memberitahu Khurin bahwa ia hanya bergeser beberapa langkah. Tidak ada yang menyusul untuk menjadi saksi atau menyatakan siapa yang paling berhak menunggu. Di balik pintu, kebutuhan Inara dan bayinya tetap berjalan lebih dahulu daripada percakapan kedua lelaki itu.