Senin malam, hujan membasahi kaca jendela kamar Inara. Suaranya menutupi sebagian percakapan dari ruang tengah, tempat Umi dan Khurin sedang membereskan barang. Inara menutup bacaan, meletakkannya di tempat kering, lalu menggeser tubuh untuk mencari posisi yang lebih nyaman.
Perutnya terasa kencang.
Ia menunggu beberapa saat sambil memperhatikan apa yang dirasakan, kemudian memanggil Khurin. Adiknya datang membawa kain yang belum sempat dilipat. Melihat wajah Inara, ia segera menaruh barang itu di kursi.
'Ada apa, Mbak?'
'Perutku sakit. Tadi sempat berkurang, sekarang terasa lagi.'
Khurin duduk cukup dekat untuk mendengar, tidak menarik tubuh kakaknya agar berdiri. Inara menggenggam tepi ranjang. Ketika mengatakan ada cairan yang membuatnya tidak nyaman, Khurin memanggil Umi tanpa menyatakan dirinya sudah mengetahui penyebabnya.
Umi datang dengan telepon di tangan. Ia mendengarkan penjelasan putrinya, lalu segera menghubungi layanan kesehatan yang selama ini menangani Inara. Pertanyaan dari seberang dijawab sejauh yang diketahui. Sesudah menerima arahan, beliau meminta sopir menyiapkan mobil untuk berangkat sekarang.
Kiai Ammar muncul ketika Khurin mengambil tas dan buku kontrol. Lelaki paruh baya itu berhenti di ambang pintu, melihat putrinya yang sedang berusaha mengatur napas. Kemarahan yang beberapa hari terakhir membuatnya menjaga jarak tidak memberinya alasan untuk menunda pertolongan.
'Mobil disiapkan,' katanya. 'Apa lagi yang perlu dibawa?'
Umi menyebut tas serta dokumen yang sudah diletakkan dekat pintu. Beliau meminta suaminya memastikan jalan menuju kendaraan tidak licin dan sopir mengetahui fasilitas tujuan. Khurin tetap bersama kakaknya, menanyakan apakah posisi duduk itu masih nyaman sambil menunggu bantuan yang diperlukan untuk berpindah.
Di sela rasa sakit, Inara memanggil nama Abi.
'Rin, tolong telepon Mas Abi. Aku ingin dia datang.'
Khurin mengangguk. Ia tidak menoleh kepada ayahnya untuk mencari izin pengganti permintaan pasien. Ia hanya memberitahu bahwa akan menelepon, lalu menghubungi nomor Abi dari dekat pintu agar tetap dapat mendengar bila Umi membutuhkan sesuatu.
Panggilan pertama belum selesai berdering ketika diangkat. Abi baru saja menaruh perlengkapan salat di kamarnya. Suara hujan terdengar juga di ujung telepon, disusul ucapan Khurin yang berusaha tidak terlalu cepat.
'Mas, Mbak Rara sedang sakit perut dan ada keluhan lain. Kami sudah menghubungi fasilitas, sekarang berangkat untuk diperiksa. Mbak meminta Mas datang.'
Abi berdiri. 'Ke tempat yang mana? Kirim alamatnya, Rin.'
Khurin menyebut tujuan dan mengirim lokasi setelah panggilan selesai. Ia tidak mengatakan bayi pasti akan lahir malam ini sebelum ada penilaian. Yang diketahuinya cukup untuk disampaikan: kakaknya membutuhkan pertolongan, keluarga sedang membawanya, dan Abi diminta hadir.
Di rumah Maya, Abi keluar kamar sambil mengambil jaket. Ibunya melihat gerakan tergesa itu dan menanyakan apa yang terjadi. Ia menjawab Inara sedang menuju fasilitas kesehatan, lalu memesan taksi karena hujan tidak memungkinkan dirinya berpikir mencari kendaraan dengan berpindah-pindah tempat.
'Ibu ikut,' kata Maya.
Husna yang mendengar dari ruang depan mengambil tas kecil dan membantu ibunya bersiap. Ia tidak membawa seluruh pakaian seolah sudah mengetahui berapa lama harus tinggal. Mereka mengambil keperluan singkat, memastikan kompor mati serta rumah terkunci, lalu menunggu kendaraan di teras.
Abi memeriksa lokasi yang dikirim Khurin. Tangan yang memegang telepon bergetar. Ia menulis bahwa sedang menunggu taksi dan akan segera menyusul, kemudian memastikan pengemudi menerima alamat fasilitas yang benar.
'Sudah berangkat?' tanya Maya.
'Kendaraannya sebentar lagi sampai.'
Maya ingin mengatakan agar ia tenang, tetapi melihat wajah putranya membuat kalimat itu terasa kurang berguna. Ia justru mengambil kantong untuk menyimpan barang yang mudah basah dan mengingatkan bahwa telepon harus tetap dapat dipakai. Abi memasukkannya ke bagian dalam jaket setelah layar dipadamkan.
Di rumah Kiai Ammar, Inara sudah dibantu menuju kendaraan. Umi mendampingi di sisi yang diperlukan, sementara Khurin membawa tas. Kiai Ammar memegang payung agar jalur pendek dari teras tidak membuat putrinya kehujanan. Sopir menunggu sampai semua berada pada tempatnya sebelum menjalankan mobil.
Perjalanan tidak diisi perdebatan tentang siapa yang harus disalahkan. Ketika Inara meminta berhenti berbicara karena sedang sulit berkonsentrasi, orang-orang di sekitarnya menurunkan suara. Umi tetap menjawab bila putrinya bertanya. Khurin memberitahu bahwa Abi sudah menerima alamat dan sedang menyusul.
'Bilang aku menunggunya,' bisik Inara.
'Rin sudah bilang Mbak yang meminta dia datang.'
Wanita itu mengangguk, kemudian memejamkan mata sebentar. Ia tidak diminta menahan keluhan supaya ayahnya tidak semakin khawatir. Bila rasa sakit berubah, Umi mendengarkan dan mengingatnya untuk disampaikan kepada petugas.
Sesampainya di fasilitas, serah terima dilakukan segera. Petugas menerima penjelasan yang sudah diberitahukan melalui telepon dan membantu Inara masuk untuk dinilai. Keluarga mengikuti arahan, menyingkirkan bawaan dari jalan, dan menyerahkan buku kontrol ketika diminta.
Sebelum keluarga diminta menunggu, Inara sempat meminta Umi menyampaikan kabar terbatas kepada Radit. Ia tidak ingin lelaki itu datang mencari ke rumah lalu membuat keributan baru.
'Cukup bilang aku sedang ditangani. Kalau dia ingin datang, tunggu dulu sampai aku bisa menjawab,' katanya.
Umi mengangguk. Sesudah tangannya bebas, beliau meminta Khurin membantu mengirim pesan dari telepon Inara sesuai permintaan tersebut. Balasan diterima, tetapi mereka tidak mengirim hasil pemeriksaan atau membiarkan Radit langsung memasuki ruang pasien.
Kiai Ammar berdiri di dekat pintu yang tidak boleh terus dipenuhi orang. Ia sempat hendak ikut masuk, lalu berhenti setelah petugas menjelaskan siapa yang dapat mendampingi pada tahap itu. Beliau memberikan tas kepada Khurin dan mundur ke tempat menunggu.
Di kendaraan lain, Abi melihat pesan bahwa Inara sudah diterima. Ia menunjukkan lokasi pintu masuk kepada pengemudi, memastikan perjalanan berakhir di bagian yang benar, bukan sekadar gerbang depan. Maya memegang bahunya sebentar ketika mobil berbelok.
'Kita sudah dekat,' katanya.
Abi mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak menerima panggilan, ia dapat menarik napas cukup panjang. Ia belum tahu apa yang sedang terjadi pada istri dan bayi itu. Yang diketahuinya hanya satu: Inara memintanya datang, dan kali ini ia tidak akan menunggu di tempat lain sambil menebak apakah dirinya masih dibutuhkan.