Pada Jumat malam itu, Khurin kembali mengetuk kamar setelah Inara selesai makan. Ia membawa pakaian yang tadi dilipat bersama Umi. Kakaknya mempersilakan masuk dan menunjuk bagian lemari tempat kain boleh diletakkan.
Khurin menyimpannya, lalu berhenti di dekat sudut kamar. Lantai di samping ranjang kosong. Ia mengenali tempat yang dahulu dipakai Abi, meskipun selama berkunjung ia tidak pernah masuk ketika lelaki itu sedang beristirahat.
'Mas Abid membawa kasurnya?' tanyanya.
Inara mengangguk. 'Di rumah Ibu Maya tempatnya terbatas.'
Khurin mengambil kursi dan duduk setelah memastikan kakaknya tidak ingin beristirahat dahulu. Mereka sempat membicarakan perjalanan dari Kediri, seorang teman yang menitip salam, dan pelajaran yang harus dikejarnya sesudah kembali. Inara menanyakan apakah izin pulangnya menyulitkan. Khurin menjawab bahwa ia sudah berbicara dengan pengasuh dan akan tetap memberi kabar.
Percakapan biasa itu membuat suasana lebih ringan sampai Khurin bertanya apakah kakaknya sudah menghubungi Abi hari ini. Inara menunjukkan pesan singkat yang baru masuk, bukan seluruh riwayat percakapan. Abi mengabarkan ibunya selesai memasak dan mengingatkan agar Inara tidak merasa harus menjawab cepat jika sedang beristirahat.
'Mbak ingin dia kembali?' tanya Khurin.
Inara menurunkan telepon. 'Iya.'
'Karena membutuhkan bantuan, atau karena Mbak memang ingin hidup dengannya?'
Pertanyaan itu tidak disampaikan dengan nada menguji. Justru karena Khurin tampak sungguh ingin memahami, Inara tidak dapat berlindung di balik lelucon atau sikap ketus yang dahulu sering dipakainya.
'Aku belum tahu cara mengatakan semua ini kepadanya,' jawabnya. 'Tapi aku takut membayangkan dia tidak ada lagi. Bukan hanya ketika aku perlu diantar atau mengambil sesuatu. Aku memikirkan hal kecil yang biasa dia katakan. Aku ingin dia mendengar ceritaku, bahkan cerita yang sebenarnya tidak penting.'
Khurin menatap kain di pangkuan kakaknya. Ia mengangguk, kemudian bertanya apa yang membuat Inara belum mengatakannya. Wanita itu mengusap lipatan kain, mengaku takut Abi mengira ia hanya berbicara karena sedang kehilangan tempat bersandar.
'Aku sudah terlalu sering menyuruh dia menjalankan sesuatu. Kalau sekarang aku meminta dia tinggal, bagaimana kalau dia merasa tidak boleh menolak?'
'Beri dia kesempatan menjawab,' kata Khurin. 'Tapi Mbak juga tidak harus melakukannya malam ini kalau masih belum siap.'
Inara tersenyum tipis. Ia belum pernah membayangkan adiknya menjadi orang yang menanyakan hal seperti ini tanpa segera menuntut jawaban benar. Dahulu ia justru sibuk mengamati setiap percakapan Khurin dan Abi, takut ada sesuatu yang tidak dapat diaturnya.
'Rin, kamu pernah menyukainya, ya?'
Khurin terdiam. Pertanyaan yang dulu ditakutinya akhirnya datang ketika ia tidak lagi sedang mencoba menyembunyikan setiap gerak. Ia bisa menggeleng dan membiarkan kakaknya menebak, tetapi kelelahan melihat rahasia keluarga membuatnya memilih mengangkat wajah.
'Pernah, Mbak.'
Inara tidak langsung berbicara. Khurin melanjutkan bahwa perasaan itu muncul ketika ia mengenal Abi dalam kunjungan sesudah pernikahan, dari sikap dan percakapan singkat yang membuatnya kagum. Ia juga mengaku sempat berharap keadaan berbeda setelah mengetahui perjanjian mereka.
'Itu bukan janji yang pernah diberikan Mas Abid kepadaku,' katanya. 'Rin tidak mau membuatnya terdengar seolah dia menyuruh Rin menunggu.'
Inara mengendurkan pegangan pada kain. Ia merasa malu pada beberapa ucapan yang dahulu dilontarkannya, tetapi Khurin mengangkat telapak sebelum permintaan maaf berubah menjadi usaha memindahkan semua kesedihan kepada dirinya.
'Rin yang harus mengurus perasaan Rin. Mbak tidak perlu memilih atau meninggalkan seseorang hanya supaya Rin tidak sedih.'
'Aku dulu ketus sekali padamu.'
'Iya. Yang itu membuat Rin sakit hati. Kita boleh membicarakannya. Tapi perasaan Rin kepada Mas Abid bukan utang yang harus Mbak bayar.'
Inara menatap adiknya, lalu meminta maaf untuk caranya berbicara dan menjadikan Khurin orang yang harus diawasi. Khurin menerima tanpa mengaku seluruh lukanya langsung hilang. Keduanya diam beberapa saat, sampai Inara mengulurkan tangan dan Khurin memilih mendekat untuk memeluknya.
Pelukan itu tidak membuat mereka tiba-tiba memiliki sifat sama. Khurin masih lebih mudah menurunkan suara, Inara masih perlu menahan keinginan memotong kalimat. Namun ketika mereka melepaskan tangan, keduanya dapat duduk tanpa berpura-pura tidak pernah ada sesuatu yang menyakitkan.
'Rin ingin kembali ke pondok setelah keadaan Mbak lebih teratur,' kata Khurin. 'Bukan pergi karena kalah dari siapa pun.'
Inara mengangguk. 'Aku ingin mendengar kabarmu juga. Bukan cuma menelepon kalau ada masalahku.'
'Boleh. Tapi kalau Rin belum membalas, mungkin sedang belajar. Jangan marah.'
'Aku usahakan.'
Khurin tertawa kecil mendengar jawaban yang tidak terlalu sempurna itu. Ia kemudian membantu memindahkan pakaian yang masih berada di tepi ranjang, menutup lemari, dan berpamitan setelah kakaknya mulai mengantuk.
Sebelum benar-benar keluar, Khurin kembali menunjuk pakaian di bagian lemari yang baru saja ditutup. Ia menyadari satu helai miliknya ikut tersimpan di sana. Inara membukanya lagi dan mengangkat kain dengan warna hampir sama.
'Yang ini punyamu?'
'Bukan. Yang lengannya lebih sempit.'
Inara mengembalikannya, mengambil yang benar, lalu tertawa melihat ukuran yang tidak mungkin nyaman dipakainya sekarang. Khurin menerima pakaian itu sambil menggeleng. Mereka ternyata dapat menghabiskan percakapan berat, lalu tetap salah menyimpan baju seperti keluarga lain. Ketika akhirnya pintu ditarik pelan, Inara menaruh telepon di nakas dan merapikan bantal. Ia ingin mencoba tidur, bukan mengulang seluruh kalimat tadi sampai pagi.
Di ruang kerja, Umi Hanik sedang duduk bersama Kiai Ammar. Beliau tidak mengulangi seluruh penjelasan kedua putrinya. Ia hanya mengatakan Inara masih berhubungan baik dengan Abi dan membutuhkan keluarganya untuk berhenti menjadikan setiap permintaan bantuan sebagai pertengkaran baru.
Kiai Ammar menatap tangan sendiri. 'Abah belum bisa bicara dengannya seperti biasa.'
'Umi tidak menyuruh berpura-pura. Tapi kita juga tidak bisa meminta waktu sambil membuat mereka terus menebak apakah boleh saling menolong.'
Lelaki itu mengangguk perlahan. Ia belum mengambil telepon. Namun ketika Umi menyebut bahwa Inara ingin Abi dapat dihubungi bila keadaan kesehatannya berubah, beliau tidak melarang. Malam itu berakhir tanpa keputusan kepulangan, tetapi pintu yang tadi terasa tertutup mulai menyisakan tempat bagi percakapan berikutnya.