Taksi berhenti pada Jumat pagi ketika Umi sedang menjemur kain yang dipakai kemarin. Khurin turun membawa tas, membayar perjalanan, lalu berhenti di depan pagar sejenak. Ia sudah berulang kali membayangkan kepulangan ini sejak menerima panggilan Rabu, tetapi tetap tidak siap melihat rumah yang biasanya dirindukannya terasa begitu sunyi.
Umi membukakan pintu dan memeluk putri bungsunya. Khurin membalas erat sebelum menanyakan keadaan kakaknya.
'Sudah pulang dari pemeriksaan kemarin. Sekarang sedang beristirahat.'
'Rin boleh melihat sebentar?'
'Boleh. Tapi taruh tasmu dan cuci tangan dulu. Jangan bangunkan kalau masih tidur.'
Khurin menurut. Izin dari pengasuh sudah diperolehnya setelah menjelaskan bahwa ada persoalan keluarga dan kakaknya membutuhkan pendampingan. Ia membawa keperluan untuk beberapa hari, bukan memutuskan meninggalkan seluruh pelajaran tanpa kabar. Umi menanyakan apakah ia sudah makan selama perjalanan. Jawaban singkat bahwa ia membawa bekal membuat ibunya mengangguk lebih tenang.
Mereka duduk dahulu di dapur. Umi menceritakan kejadian Senin di toko dan ruang tengah, pengusiran Selasa, lalu pemeriksaan Kamis. Khurin mendengarkan tanpa menyela, tetapi wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan yang diharapkan ibunya ketika perjanjian disebut.
Umi memperlambat ceritanya. 'Kamu sudah tahu, Rin?'
Khurin menunduk. 'Tentang perjanjian dan kehamilan, iya, Mi. Rin tahu ketika pulang dahulu, sesudah pernikahan Mbak Rara.'
Pertanyaan berikut membuatnya meremas ujung lengan baju. Umi ingin tahu mengapa ia tidak mengatakan apa-apa. Khurin menjelaskan kedatangannya ke pintu kamar untuk berpamitan, percakapan yang didengarnya, dan vas yang jatuh. Ia tidak mengubah tindakannya menjadi seolah sengaja diundang mendengar semua rahasia.
'Waktu itu Rin ingin langsung cerita. Mas Abid meminta waktu untuk menjelaskan.'
'Lalu kamu setuju menyimpan semuanya?'
'Iya. Rin memutuskan begitu setelah mendengar mereka. Rin tahu Umi pasti kecewa karena tidak diberi tahu.'
Umi mengusap meja yang sebenarnya sudah bersih. Ia tampak hendak mengatakan banyak hal, tetapi akhirnya hanya bertanya siapa lagi yang mengetahui. Khurin menyebut bahwa ia tidak menyampaikan kepada orang di pondok. Tentang keluarga Abi, ia hanya tahu sejauh yang kemudian diceritakan kakaknya, bukan karena ikut hadir di rumah Maya.
'Rin mau bicara dengan Abah,' katanya.
'Jangan datang untuk memenangkan perdebatan, Rin. Abahmu belum bisa mendengar semuanya dengan tenang.'
'Rin hanya ingin mengatakan bagian yang Rin ketahui sendiri.'
Umi menatapnya beberapa saat, kemudian menunjukkan bahwa ayahnya sedang berada di ruang kerja. Khurin menunggu sampai ibunya selesai bicara sebelum berdiri. Ia mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan masuk setelah dipersilakan.
Kiai Ammar duduk di depan kitab yang terbuka. Beliau menutupnya setelah melihat tas kecil di tangan putrinya. Khurin mencium tangan ayahnya, lalu mengambil kursi di sisi meja.
'Kamu sudah mendengar dari Umimu?'
'Sudah, Bah. Tapi ada bagian yang Rin tahu sejak dulu.'
Kiai Ammar tidak segera menjawab. Khurin mengulangi pengakuannya tanpa menyembunyikan cara ia mengetahui percakapan malam itu. Ketika mengatakan Abi yang meminta dirinya mendengar penjelasan dahulu, ayahnya menatap lebih tajam.
'Jadi dia juga meminta kamu diam.'
'Iya. Tapi keputusan Rin tidak mengatakan kepada Abah adalah keputusan Rin juga. Jangan dianggap Rin tidak bisa memilih sendiri.'
Kiai Ammar bersandar. Ia belum pernah mendengar putri bungsunya membahas persoalan ini dengan ketegasan yang tidak dibarengi suara tinggi. Khurin meletakkan kedua tangan di pangkuan agar tidak terus meremas baju.
'Mas Abid mengatakan dia membutuhkan uang untuk menyelamatkan keluarganya. Dia juga bilang baru tahu Mbak Rara hamil setelah menikah. Yang ini Rin dengar langsung di kamar mereka waktu itu.'
'Rin tahu tidak semua yang didengarnya dapat dibuktikan sendiri,' lanjutnya setelah jeda. 'Tapi Rin ingin Abah membedakan mana yang mereka katakan dan mana yang Rin lihat.'
Ia menceritakan pertemuan singkat di rumah sebelum kembali ke pondok, cara Abi menjaga jarak ketika mereka hanya berdua di dapur, serta bagaimana kakaknya kadang menghubunginya selama bulan-bulan berikutnya. Ia tidak mengaku berada di setiap pemeriksaan atau melihat seluruh malam yang dilalui pasangan tersebut.
'Tentang motor dan uang, Mbak Rara yang menceritakan lewat telepon. Rin tidak ikut ketika motornya dijual. Tentang Mas Abid membantu kebutuhan di rumah, ada yang Rin lihat ketika berkunjung, ada yang Mbak ceritakan. Rin tidak mau mencampur semuanya.'
Kiai Ammar memandang putrinya dengan wajah lelah. 'Apa yang kamu ingin Abah lakukan sekarang?'
'Mendengar sebelum menyimpulkan dia hanya mencari keuntungan. Rin tidak mengatakan mereka tidak salah. Tapi mengusir Mas Abid tidak membuat kebohongan kemarin menjadi tidak pernah terjadi.'
Kata-kata itu membuat ayahnya menoleh ke jendela. Di luar, terdengar Bibik Ndari memindahkan ember. Khurin menunggu, tidak mengisi diam dengan dalil yang dijadikan perintah agar ayahnya segera memaafkan.
'Abah belum sanggup bicara dengannya,' kata Kiai Ammar akhirnya.
'Rin mengerti. Tapi kalau Mbak Rara membutuhkan dia, jangan buat Mbak takut meminta bantuan.'
Lelaki itu mengangguk sangat pelan, belum menjanjikan panggilan atau kepulangan. Khurin menerima bahwa percakapan tidak akan selesai dengan satu jawaban. Ia berdiri setelah ayahnya meminta waktu sendiri, merapikan kursi, lalu berpamitan tanpa menuntut pelukan sebagai tanda bahwa semua katanya disetujui.
Di luar ruang kerja, Umi menunggu sambil membawa pakaian kering. Khurin membantu mengambil beberapa helai. Mereka melipat di dekat jendela, dan ketika ibunya bertanya bagaimana pembicaraan tadi, ia mengatakan Abah masih membutuhkan waktu. Hanya itu yang berhak disampaikannya sebelum ayahnya sendiri berbicara lagi.
Setelah kain tersimpan, Khurin menengok kamar kakaknya dari pintu yang terbuka. Inara sudah terjaga dan sedang mencoba mengambil sesuatu dari meja. Khurin bertanya dahulu sebelum masuk, lalu mendekat setelah dipanggil.
'Yang dicari ini?' Ia menunjukkan ikat rambut yang terselip di bawah tisu.
Inara mengangguk dan tersenyum lemah. Khurin menyerahkannya, kemudian membantu merapikan barang yang terlalu dekat tepi meja. Ia tidak langsung membawa seluruh percakapan dengan Abah ke dalam kamar. Kakaknya baru bertanya tentang perjalanan dan izin pondok. Khurin menjawab sambil duduk, membiarkan mereka menjadi dua saudara yang saling menanyakan kabar sebelum kembali membicarakan masalah yang lebih berat.