Pada Kamis pagi, Inara tidak menghabiskan buburnya. Ia sudah mencoba beberapa suap ketika kepalanya kembali terasa berat. Sendok diletakkan di tepi mangkuk, lalu ia memejamkan mata, berharap rasa tidak nyaman itu segera berkurang seperti kemarin.
Umi Hanik melihat gerakan tersebut dari dekat pintu.
'Kepalamu masih sakit?'
Inara mengangguk. 'Lebih mengganggu sekarang, Mi. Kalau melihat tulisan seperti tidak jelas.'
Umi mendekat, meminta putrinya tetap duduk sementara beliau mengambil telepon. Sejak Selasa ia bergantian membawakan makanan, membantu keperluan kamar, dan mendengar Inara berbicara dengan Abi. Putrinya memang lebih sedikit makan serta mudah menangis, tetapi pagi ini keluhannya tidak ingin disimpulkan sekadar akibat kesedihan.
Beliau menghubungi fasilitas tempat Inara memeriksakan kehamilan, menyampaikan gejala yang dikatakan putrinya dan mengikuti arahan agar segera datang. Tidak ada rencana menunggu sampai besok untuk melihat apakah Inara sudah berhenti memikirkan suaminya.
'Kita periksa sekarang,' kata Umi setelah panggilan berakhir.
'Abah tahu?'
'Umi beri tahu. Kamu tidak perlu berdebat dulu untuk berangkat.'
Bibik Ndari diminta membantu mengambil tas dan buku kontrol. Umi memeriksa bahwa telepon serta keperluan pribadi sudah terbawa, kemudian memberi tahu Kiai Ammar di depan ruang kerja. Lelaki itu langsung berdiri ketika mendengar keluhan Inara. Pertanyaan tentang siapa yang pergi dijawab dengan singkat: Umi mendampingi, sopir menyiapkan kendaraan, dan beliau boleh menyusul setelah urusan rumah diserahkan.
Inara keluar kamar dibantu sesuai kebutuhannya. Ia tidak berjalan sendiri melewati tangga atau diminta membuktikan masih kuat. Ketika sampai di kendaraan, Umi memastikan duduknya nyaman sebelum sopir berangkat menuju fasilitas kesehatan.
Di perjalanan, Inara memandang layar telepon. Ada pesan dari Abi yang menanyakan apakah sudah sarapan. Ia membalas bahwa sedang menuju pemeriksaan bersama Umi, kepalanya terasa sakit dan pandangannya tidak nyaman. Tidak lama kemudian panggilan masuk.
'Aku tidak bisa bicara lama, Mas,' katanya setelah menjawab.
'Saya hanya ingin tahu kamu sudah ditemani.'
'Ini Umi di sampingku. Kami sudah di jalan.'
'Kalau sudah tahu hasilnya, kabari saya. Kalau kamu ingin saya datang, bilang.'
Inara mengiyakan. Percakapan selesai tanpa suaminya menjanjikan semua akan membaik hanya karena mendengar suaranya. Ia meletakkan telepon, lalu mengulurkan tangan kepada ibunya. Umi menggenggamnya sepanjang sisa perjalanan.
Sesampainya di fasilitas, petugas menerima keluhan Inara dan membawanya untuk dinilai. Pertanyaan tentang gejala, riwayat pemeriksaan, dan perubahan yang dirasakan dijawab oleh Inara sendiri ketika sanggup. Umi membantu menunjukkan buku kontrol, tidak mengambil alih seluruh cerita putrinya.
Penilaian berlanjut dengan pemeriksaan ibu dan janin. Ada masa menunggu yang membuat Umi hampir mengulang pertanyaan sama, tetapi beliau akhirnya mencatat hal yang perlu ditanyakan agar tidak lupa. Ketika dokter Salma datang menjelaskan keadaan serta rencana perawatan, Inara meminta ibunya tetap mendengar.
Dokter menyampaikan bahwa kondisi mereka perlu dipantau dan ditangani. Penjelasan diberikan sesuai hasil pemeriksaan hari itu, bukan berdasarkan dugaan keluarga mengenai banyaknya tangis. Inara menanyakan apakah ia harus tinggal. Jawabannya dibicarakan bersama tim yang menangani, beserta apa yang harus dilakukan selama observasi dan bagaimana keluarga memperoleh pembaruan.
Umi mengangguk, kemudian bertanya siapa yang dapat dihubungi bila membutuhkan bantuan. Ia menerima penjelasan dan memastikan putrinya juga memahami sebelum mengurus kebutuhan administratif yang diminta. Tidak ada obat yang ditambahkan sendiri berdasarkan cerita tetangga.
Kiai Ammar tiba ketika pemeriksaan awal sudah berlangsung. Beliau menunggu sampai diizinkan mendekat, lalu menanyakan keadaan putrinya tanpa mengulang percakapan tentang kontrak. Inara membuka mata ketika mendengar suara ayahnya.
'Abah datang.'
'Iya. Sekarang ikuti dulu yang dijelaskan dokter.'
Kata-katanya masih kaku, tetapi beliau mengambil kursi dan duduk. Ketika Umi perlu keluar mengurus sesuatu, beliau tetap berada di sana. Inara tidak diminta meminta maaf lagi sebelum diberi air atau dibantu memperbaiki letak tas.
Menjelang siang, Umi mengirim kabar kepada Abi dengan izin putrinya. Ia menyampaikan bahwa Inara sedang mendapat penanganan dan tidak sendirian. Abi membalas akan tetap dapat dihubungi serta menanyakan apakah ada barang yang perlu diantarkan. Inara membaca pesan itu, memilih meminta suaminya menunggu kabar berikut dahulu.
Pada Rabu kemarin, Umi sudah menelepon Khurin mengenai masalah keluarga. Kini beliau menghubunginya lagi untuk memperbarui keadaan kesehatan kakaknya. Ia menjelaskan perubahan pagi ini dan bahwa Inara sedang diperiksa. Khurin meminta penjelasan secukupnya, lalu mengatakan akan berbicara dengan pengasuh mengenai izin pulang.
Sore hari, sesudah penilaian lanjutan dan penjelasan tim, rencana perawatan Inara diperbarui. Ia dapat kembali ke rumah dengan pendampingan keluarga serta tindak lanjut yang sudah disampaikan. Sebelum berangkat, Umi mengulang hal penting yang harus diingat dan memastikan nomor fasilitas tersimpan. Bila kondisi berubah, mereka akan meminta pertolongan kembali, tanpa menunda karena sedang ada masalah keluarga.
Abi menelepon setelah mendapat kabar mereka telah sampai. Inara kali ini ingin mendengar suaranya sebentar. Ia menceritakan kursi tunggu yang membuat ibunya berkali-kali berganti posisi dan tas yang ternyata berisi terlalu banyak kain. Abi menanyakan apakah tas itu sampai sulit ditutup. Inara tertawa kecil, lalu mengaku tadi Umi hampir memasukkan dua handuk sekaligus.
'Kalau untukku, mungkin cukup satu,' katanya.
'Dua juga boleh. Yang satu bisa untuk Umi.'
Ia menyukai jawaban biasa itu. Tidak ada pertanyaan mengapa ia masih sedih atau kapan semuanya akan selesai. Sebelum panggilan berakhir, ia meminta Abi mengirim kabar bila sudah makan. Permintaan kecil tersebut disanggupi, dan untuk pertama kalinya hari itu Inara dapat meletakkan telepon tanpa segera ingin memeriksa layar lagi.
Kepulangan itu tidak membuat Inara tiba-tiba bersemangat seperti sebelum persoalan terbuka. Ia masih lelah, masih membutuhkan bantuan, dan belum dapat membicarakan semua hal. Namun malam itu ia makan beberapa suap dengan ibunya duduk di samping, bukan mengunci pintu sambil membiarkan siapa pun menebak keadaannya.
'Umi masih marah?' tanyanya.
Umi menaruh sendok. 'Umi masih kecewa. Tapi itu tidak membuatmu harus menghadapi sakit sendiri.'
Inara mengangguk sambil menangis pelan. Ibunya menyodorkan tisu, kemudian menunggu sebelum membantu mengambilkan suapan berikut. Di meja dekat mereka, buku kontrol diletakkan di atas tas, siap dibawa bila kembali diperlukan.