Maya sedang menyapu teras ketika mobil berhenti di depan rumah kontrakan. Ia mengira pengemudinya mencari alamat pelanggan katering. Sapu sudah disandarkan ketika pintu belakang terbuka dan Abi turun dengan ransel di bahu.
Kasur lipat menyusul dari ruang barang.
'Bi?'
Abi mengucapkan salam sebelum mendekat. Ia berusaha tersenyum, tetapi wajah ibunya membuat pertahanan yang dibawanya sepanjang perjalanan terlepas sedikit demi sedikit. Maya melihat mata yang merah, pakaian yang disiapkan tanpa rapi, dan bawaan yang terlalu banyak untuk kunjungan sebentar.
'Boleh Abi tinggal di sini dulu, Bu?'
Maya tidak menanyakan uang atau berapa lama. Ia menyuruh pengemudi membantu menaruh kasur di teras, lalu memeluk Abi setelah putranya melepaskan ransel. Beberapa saat lelaki itu hanya berdiri, kemudian bahunya mulai bergerak oleh tangis yang sejak tadi ditahannya di kendaraan.
Husna keluar membawa tas kuliah. Langkahnya berhenti ketika melihat kakaknya. Ia meletakkan tas di kursi, membantu memindahkan barang dari jalan masuk, lalu berdiri di dekat Maya tanpa segera mengajukan pertanyaan.
Pengemudi berpamitan setelah pembayaran diselesaikan. Abi mengangguk berterima kasih, memeriksa bahwa tidak ada barang yang tertinggal. Baru setelah kendaraan pergi, ia mengatakan Kiai Ammar sudah mengetahui rahasia pernikahannya dan memintanya meninggalkan rumah sementara.
Maya menarik napas panjang. 'Masuk dulu. Kamu sudah sarapan?'
Abi menggeleng. Bungkusan yang diberikan Umi masih berada di tangannya. Husna mengambil piring dan membuka bungkusan itu di meja, membagi makanan agar lebih mudah disantap. Ia tidak mengatakan kakaknya harus berhenti menangis supaya dapat makan.
Abi duduk setelah mencuci tangan. Beberapa suap pertama terasa sulit ditelan. Maya meletakkan air di dekat piring, kemudian kembali ke dapur untuk mematikan api yang tadi dipakai menyiapkan pesanan. Belakangan tempat katering yang mempekerjakannya mengizinkan sebagian pekerjaan titipan disiapkan di rumah dan diambil pelanggan di sini. Bahan serta hitungan penjualan tetap dicatat untuk pemilik katering; Maya menerima upah atas bagian yang dikerjakannya. Ada pelanggan yang akan mengambil makanan, dan ia tidak dapat membiarkan seluruh pekerjaan hangus karena khawatir.
Husna memeriksa jam. 'Mas mau ditemani dulu? Kuliahku masih agak siang.'
'Kamu tetap berangkat kalau sudah waktunya. Mas tidak apa-apa di rumah.'
Jawaban itu terdengar kurang meyakinkan, tetapi Husna tidak memaksanya menjadi kuat. Ia duduk sampai kakaknya selesai makan, lalu membantu menata kasur di kamar yang dahulu dipakai Abi. Ransel diletakkan di dekat lemari, kasur dibentangkan setelah lantai disapu.
Maya datang membawa kain bersih untuk alas bantal. Ia hendak merapikan pakaian dalam tas, tetapi Abi mengatakan dapat melakukannya sendiri. Wanita itu mengangguk dan duduk di ambang pintu.
'Bagaimana beliau bisa tahu?'
'Saya belum mengetahui semua kejadian di toko, Bu. Saya sedang mengantar barang ke Bantul. Inara hanya memberi pesan bahwa ayahnya sudah tahu. Waktu saya tiba di rumah, kami bicara di ruang tengah.'
Ia menceritakan yang benar-benar didengarnya dari Inara di hadapan Umi, pertanyaan Kiai Ammar tentang cinta dan transaksi, serta keputusan pagi ini. Ia tidak menambahkan ucapan Radit di kantor yang tidak disaksikannya. Ketika Husna menanyakan apakah lelaki itu sengaja membuka rahasia, Abi menggeleng bahwa ia belum dapat memastikan.
'Aku tidak mau menebak niatnya, Na.'
Husna mengusap ujung tasnya. Nama Radit masih membawa perasaan yang tidak mudah disusun. Ia kecewa, marah, dan juga teringat tagihan yang telah dibayarkan lelaki tersebut. Tidak satu pun perasaan itu membuatnya ingin berlari menemui atau membelanya pagi ini.
'Mbak Inara bagaimana?' tanyanya.
'Kami masih bisa menghubungi. Mas sudah berjanji tidak menghilang.'
Seolah mengingatkan janji itu, telepon Abi bergetar. Inara menanyakan apakah sudah sampai. Ia mengetik jawaban bahwa dirinya berada di rumah Maya, sudah makan, dan sedang merapikan barang. Sesudahnya ia memotret halaman dari ambang pintu agar istrinya tidak hanya menerima kata baik-baik saja yang sulit dipercaya.
Balasan Inara datang dengan ucapan terima kasih. Ada pesan berikut yang belum dibuka Abi karena Husna sudah berdiri hendak berpamitan. Ia mencium kepala adiknya sekilas setelah gadis itu mendekat dan mengingatkan agar perjalanan ke kampus tidak terburu-buru.
Maya kembali mengurus pelanggan. Suara percakapan tentang jumlah kotak dan uang kembalian terdengar dari depan. Abi duduk di atas kasur, menyadari bahwa rumah kecil ini juga memiliki jadwal yang tidak berhenti ketika ia datang membawa kesedihan. Ia mengambil baju dari ransel, melipatnya lebih baik, lalu mengisi bagian lemari yang masih tersedia.
Menjelang siang, ia membantu ibunya mengangkat wadah kosong yang sudah tidak dipakai. Maya menolak ketika ia hendak menyiapkan pesanan baru sebelum beristirahat, tetapi mengizinkannya mencuci beberapa alat. Air yang mengalir dan pekerjaan sederhana membuat tangannya tidak terus menggenggam telepon.
Ia juga menghubungi rekan di toko, memastikan foto penerimaan kemarin terbaca dan menawarkan menyerahkan lembar asli tanpa harus mendatangi rumah Kiai. Mereka menyepakati penyerahan di toko ketika situasi memungkinkan. Abi tidak meminta pegawai tersebut menjadi perantara permintaan maaf. Orang itu hanya perlu mengetahui pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawabnya.
Sesudah telepon ditutup, Maya menyodorkan kain pengering. Abi menerima dan menyelesaikan wadah terakhir, kemudian menaruhnya terbalik di rak. Di dapur kecil itu, ia masih memiliki sesuatu yang dapat dibereskan sampai tuntas.
Sore hari, Inara menelepon. Abi menjawab dari teras setelah meminta ibunya tidak perlu menunggu di dekatnya. Ia mendengar suara istri lebih tenang daripada pagi tadi, meskipun beberapa kalimat masih terputus.
'Aku ingin Mas tahu apa yang terjadi kemarin di toko,' kata Inara. 'Supaya Mas tidak harus mendengar dari orang lain.'
Ia menjelaskan percakapan Radit, penolakannya, serta ayahnya yang kembali karena pengajian dibatalkan. Abi mendengar sampai selesai. Pada bagian tentang ia belum siap membicarakan Jumat, Inara meminta maaf tanpa meminta suaminya segera mengatakan semuanya tidak apa-apa.
'Saya perlu waktu menerima ini,' jawab Abi. 'Tapi saya senang kamu menelepon dan menceritakannya sendiri.'
Mereka menyepakati tetap saling memberi kabar, terutama bila Inara membutuhkan pendampingan kesehatan. Setelah panggilan selesai, Abi masuk dan mengatakan kepada Maya bahwa ia kini telah mendengar penjelasan dari istrinya. Ia tidak mengulang semua rinciannya kepada ibu. Untuk malam ini, cukup diketahui Inara masih dapat dihubungi dan dirinya tidak sedang menunggu dalam dugaan yang sama seperti kemarin.