Abi sudah melipat selimut ketika Kiai Ammar keluar dari kamar seusai subuh. Ia berdiri dari sisi sofa, menyandarkan bantal pada tempat yang tidak menghalangi orang duduk. Lelaki paruh baya itu berhenti di tengah ruang, memandang perlengkapan tidur yang tadi dipakai menantunya.
'Saya ingin kamu pergi dulu dari rumah ini,' katanya.
Abi tidak segera menjawab. Ia sudah menduga jarak akan diminta, tetapi tetap ada bagian dirinya yang berharap pagi memberi kesempatan berbeda. Ia memegang ujung selimut lebih kuat sebelum meletakkannya di atas bantal.
'Berapa lama, Pak Kiai?'
'Saya belum tahu.'
'Inara sedang membutuhkan bantuan. Saya bisa tetap mengantar atau ...'
'Kami akan mengurusnya.'
Jawaban itu menutup kalimat Abi. Ia menunduk, mencoba membedakan kebutuhan istrinya dari keinginannya sendiri agar tidak dikeluarkan. Dari arah kamar, pintu terbuka. Inara berdiri mengenakan jilbab yang dipasang tergesa, tetapi langkahnya berhenti ketika mendengar ucapan ayahnya.
'Abah menyuruh Mas Abi pergi?'
Kiai Ammar memandangnya. 'Abah perlu waktu.'
'Waktu bukan berarti dia harus kehilangan tempat tinggal di sini.'
'Inara, jangan mulai lagi.'
'Tapi ini bukan keputusan tentang Abah saja.'
Abi bergerak mendekat sebelum suara mereka meninggi. Ia meminta Inara duduk dahulu karena istrinya masih memegang sisi pintu. Inara menepis udara di depan tangannya, bukan tubuh Abi, menandakan ia belum ingin dibantu duduk.
'Aku bisa berdiri, Mas. Aku sedang bicara.'
Abi menghentikan gerakannya. Ia menunggu di samping, membiarkan Inara menyelesaikan keberatannya. Umi muncul dan berdiri beberapa langkah di belakang Kiai Ammar, mendengarkan dengan wajah yang terlihat sama lelahnya.
'Kalau Mas Abi pergi, Inara tetap ingin menghubunginya. Kalau Inara perlu dia datang, Inara akan meminta,' kata Inara. 'Jangan jadikan ini seolah kami sudah bercerai.'
Kiai Ammar tidak menjawab bagian terakhir. Beliau hanya mengatakan tidak ingin terus bertengkar pagi ini. Umi meminta putrinya menurunkan suara, kemudian menanyakan apakah Abi memiliki tempat untuk tinggal sementara.
'Saya bisa pulang ke rumah Ibu,' jawab Abi. 'Tapi saya tidak memutuskan hubungan dengan Inara karena pergi dari sini.'
Istrinya menatapnya dengan mata basah. Abi mengangguk bahwa kalimat itu sungguh dimaksudkannya. Ia belum tahu bagaimana mereka akan memperbaiki persoalan yang terbuka kemarin, tetapi ia tidak ingin keberangkatannya dipahami sebagai talak atau lenyapnya semua hal yang sudah dijalani.
Setelah pembicaraan terhenti, ia masuk ke kamar untuk mengemas barang. Inara mengikutinya dan duduk di tepi ranjang. Ransel yang dahulu dibawa Abi diambil dari lemari. Beberapa baju, sarung, serta keperluan pribadinya dimasukkan, tetapi kasur lipat dibiarkan di lantai sampai ia menemukan pengikat yang sesuai.
'Yang itu juga dibawa?' tanya Inara.
Abi berhenti. 'Kalau kamu tidak keberatan. Di rumah Ibu tempat tidurnya terbatas.'
'Itu memang hadiah untukmu. Kamu boleh membawanya.'
Ia mengangguk berterima kasih. Kasur dilipat dan diikat terpisah. Tidak mungkin benda itu dimasukkan ke ransel bersama pakaian. Abi memesan mobil sewaan melalui telepon, memilih kendaraan yang cukup untuk bawaan dan memberitahu pengemudi bahwa ada kasur lipat.
Sambil menunggu kendaraan, Abi memeriksa laci kecil yang biasa dipakainya. Ada pena toko di antara barang pribadinya dan sebuah kantong kosong yang hampir ikut dimasukkan. Ia memisahkan pena itu, lalu menaruhnya di atas catatan milik Inara.
'Ini dari meja kasir. Tolong nanti dikembalikan bersama yang lain,' katanya.
Inara mengangguk, mengambil pena dan memasukkannya ke wadah alat tulis. Ketika hendak kembali duduk, ujung bajunya menyentuh tali pengikat kasur. Abi memindahkan barang itu lebih dekat dinding agar jalan ke ranjang tetap terbuka. Abi kembali menekan lipatan kasur yang mengembang, sementara Inara memegangi ujung tali dari tempat duduknya. Pada keadaan lain, Inara mungkin akan tertawa melihat kasur seolah menolak dipindahkan. Pagi ini ia hanya menyerahkan ujung tali agar simpul selesai, kemudian melepaskan tangan perlahan. Bekas tempat tidur di lantai tampak lebih terang setelah barang itu diangkat.
Inara melihat telepon di tangannya. 'Kalau aku menelepon, Mas mau mengangkat?'
'Saya akan berusaha menjawab. Kalau sedang belum sanggup bicara lama, saya akan mengatakan. Bukan menghilang tanpa kabar.'
Wanita itu mengusap pipi. 'Aku tidak tahu bagaimana meminta Abah mengubah keputusan.'
'Kita tidak harus menyelesaikannya sebelum mobil datang.'
Abi mengambil dompet dari sisi tas. Ketika memastikan kartu-kartunya tidak tertinggal, ujung foto USG terlihat di belakang foto Bayu. Ia menariknya sedikit, menatap bentuk kecil yang sudah dikenalnya, kemudian menyelipkannya kembali dengan hati-hati.
Inara melihat gerakan itu. Ia tidak bertanya mengapa foto tersebut masih disimpan. Tangannya justru bergerak ke perut, seperti ingin menghubungkan gambar yang tidak banyak dipahaminya dahulu dengan gerakan yang kini sering dirasakan.
'Mas masih menyimpannya.'
'Iya.'
Abi menutup dompet. Tidak ada kalimat besar yang menyusul. Ia memasukkannya ke saku, lalu mengangkat ransel. Inara mengikutinya sampai ruang tengah setelah memastikan langkahnya tidak tergesa.
Umi sudah berada di dekat pintu. Beliau menanyakan apakah Abi membawa bekal. Abi mengatakan akan makan di rumah ibunya, tetapi menerima bungkusan kecil yang disodorkan Umi karena makanan itu sudah disiapkan. Ia memasukkannya ke kantong terpisah, mengucapkan terima kasih.
Kiai Ammar berdiri jauh dari pintu. Ketika Abi mendekat untuk berpamitan, beliau tidak mengulurkan tangan. Abi menghentikan gerakannya sebelum memaksa menyentuh, lalu menunduk dengan hormat.
'Saya pamit. Untuk pekerjaan toko, saya akan menghubungi pegawai supaya barang yang masih saya pegang dapat dikembalikan dengan jelas.'
Kiai Ammar mengangguk pendek. Tidak ada keputusan pekerjaan yang disampaikan pagi itu. Abi tidak menganggap dirinya diberhentikan dari seluruh hidupnya hanya karena pintu rumah sedang diminta berjauhan.
Pengemudi tiba dan membantu menata kasur di kendaraan. Ransel ditempatkan di sisi yang tidak mengganggu penutupan pintu. Inara berdiri di teras bersama Umi. Abi menoleh sebelum masuk, memastikan istrinya melihat ketika ia mengangkat telepon kecil di tangannya sebagai pengingat janji tadi.
Inara mengangguk sambil menahan tangis. Kendaraan bergerak setelah pengemudi memastikan alamat tujuan. Di belakang kaca, Abi masih dapat melihat istrinya sampai belokan menutup halaman rumah dari pandangannya. Ia tidak menyuruh kendaraan berbalik, tetapi juga tidak mematikan telepon yang sejak tadi diletakkannya di pangkuan.