Abi melepaskan genggaman setelah Inara mengendurkan tangannya. Ia duduk lebih tegak, memandang Kiai Ammar yang sudah menunggu. Di dekat jendela, tirai bergerak pelan, sesekali menyentuh sudut meja tanpa bunyi.
'Waktu kamu meminta menikahi Inara, kamu mengatakan mencintainya,' kata Kiai Ammar. 'Apa itu juga bagian dari yang kalian atur?'
'Saya memang mencintainya, Bah.'
'Jangan panggil saya begitu dulu.'
Abi terdiam. Ia mengangguk kecil, lalu menunduk pada kedua tangannya. Panggilan yang beberapa bulan lalu diminta sendiri oleh lelaki itu kini terasa seperti tempat duduk yang tiba-tiba ditarik saat ia hendak bersandar.
'Saya mencintai Inara,' ulangnya dengan suara lebih pelan. 'Perasaan itu benar. Tetapi alasan mengapa lamaran terjadi secepat itu tidak saya sampaikan dengan jujur.'
'Karena uang.'
'Karena saya panik memikirkan ibu dan adik saya. Dan karena saya menerima tawaran yang seharusnya saya pikirkan lebih jauh.'
Kiai Ammar mengusap wajah. Beliau bangkit dari kursi, berjalan ke dekat jendela, kemudian berbalik lagi sebelum sampai. Gerakannya membuat Abi ikut hendak berdiri, tetapi beliau mengangkat tangan agar ia tetap duduk.
'Saya mengingat hari ketika kamu mengembalikan dompet saya. Isinya masih utuh. Kamu menolak menerima uang terima kasih, padahal kamu sedang mencari kerja.'
Abi memandangnya sebentar. Ia masih mengingat hari itu, rasa lega saat menemukan pemilik dompet dan percakapan yang kemudian membawanya masuk ke keluarga ini. Kini kenangan tersebut terdengar seperti barang yang sedang diperiksa apakah sejak awal memang rusak.
'Saya percaya kepadamu,' lanjut Kiai Ammar. 'Saya merasa putri saya akan aman bersamamu. Lalu setiap pagi kamu duduk di meja kami, berbicara dengan saya, berangkat bekerja dengan saya, sementara rahasia sebesar ini disimpan.'
'Saya salah karena terus diam.'
'Dan waktu saya berdoa untuk cucu saya? Waktu orang memberi selamat? Kamu tidak pernah berpikir saya berhak tahu?'
Abi mengangguk. 'Saya memikirkannya. Tapi saya memilih menunda karena takut menghadapi akibatnya. Saya tidak akan mengatakan keputusan itu tidak melukai Bapak.'
Inara bergerak hendak menyela. Abi menoleh, memberi isyarat bahwa ia belum selesai menjawab. Ia tidak ingin istrinya mengambil seluruh kesalahan hanya karena ayahnya sedang memandang dirinya.
'Saya tidak tahu Inara hamil saat menandatangani surat atau ketika akad. Setelah tahu, saya tetap tidak memberitahu. Itu bagian saya. Saya tidak bisa menyebut semuanya semata-mata perintah istri.'
Kiai Ammar berdiri diam. Kemarahan yang dibawanya dari toko tidak menghilang setelah pengakuan tersebut. Justru karena Abi tidak membantah, beliau semakin sulit mencari tempat untuk meletakkannya.
'Kamu sarjana agama. Kamu pasti mengerti ini bukan perkara kecil.'
'Saya mengerti bahwa saya sudah membuat keputusan yang perlu dipertanggungjawabkan. Tapi saya tidak ingin menjawab keadaan pernikahan kami dengan menebak atau menjadikan ketakutan saya sebagai keputusan untuk semua orang. Kalau diperlukan, kami harus membicarakannya dengan orang yang berwenang dan memahami persoalannya.'
'Sekarang kamu baru ingin bertanya?'
Pertanyaan itu membuat Abi menunduk. Ia tidak memiliki jawaban yang dapat membuat keterlambatannya tampak baik. Kiai Ammar kembali ke kursi, tetapi tidak langsung duduk. Kedua tangannya bertumpu pada sandaran.
'Abah,' kata Inara. 'Inara yang membuat perjanjian dan ancaman. Jangan hanya Mas Abi yang didengar sebagai orang bersalah. Dia sudah mengatakan bagiannya. Inara juga harus menjawab bagian Inara.'
'Abah belum selesai bicara dengannya.'
'Inara tahu. Tapi jangan putuskan hidup kami hanya karena sekarang Abah sedang marah.'
Umi mengangkat wajah. Beliau meminta semuanya menurunkan suara. Dari arah dapur terdengar langkah yang berhenti, kemudian menjauh lagi. Ruang tengah ini tidak tertutup rapat dari orang yang bekerja di rumah, dan tidak satu pun dari mereka membutuhkan penonton baru.
Kiai Ammar menarik napas panjang. Beliau akhirnya duduk, memindahkan tasbih yang sejak tadi berada di saku ke telapak tangan. Beberapa butir digeser tanpa suara. Abi memperhatikan benda itu agar tidak terus menatap wajah ayah mertuanya yang kecewa.
'Saya tidak sanggup membicarakan semuanya sekarang,' kata Kiai Ammar.
'Kalau begitu kita berhenti dulu, Bah,' ujar Umi. 'Inara juga perlu makan dan beristirahat.'
Inara hendak mengatakan dirinya tidak lapar, tetapi Umi sudah menatapnya dengan tegas. Wanita itu mengangguk, menyadari bahwa menolak kebutuhan tubuhnya tidak akan membantu siapa pun memahami persoalan mereka.
Kiai Ammar berdiri. Kali ini beliau benar-benar berjalan menuju kamar. Sebelum masuk, beliau menoleh kepada Abi.
'Saya perlu waktu sebelum bisa melihatmu seperti biasa lagi.'
Pintu ditutup, tidak dibanting. Bunyi kaitnya tetap membuat Abi menahan napas. Ia bertahan di sofa sampai Umi meminta Inara mengikuti beliau ke ruang makan. Istrinya tidak langsung bangkit.
'Mas ikut makan?'
Abi memandang Umi. Wanita paruh baya itu mengangguk pendek, belum tersenyum, tetapi tidak menyuruhnya meninggalkan meja. Mereka makan sedikit dengan percakapan yang hampir seluruhnya tentang piring, sendok, dan makanan yang dapat dijangkau. Abi membantu membereskan setelahnya, lalu kembali ke ruang tengah.
Menjelang malam, Inara menemuinya ketika ia sedang melipat sarung. Ia duduk di ujung sofa, memberi ruang bagi suaminya untuk tetap mengurus barang di tangan.
'Aku minta maaf karena tidak menceritakan Jumat itu lebih cepat.'
Abi menghela napas. 'Saya ingin kita membicarakannya. Tapi sekarang kepala saya masih penuh.'
'Aku mengerti.'
Ia tidak mengaku sudah menyelesaikan semua hanya dengan meminta maaf. Mereka duduk beberapa saat, kemudian Inara kembali ke kamar setelah Umi memanggil untuk mengingatkan keperluan istirahatnya.
Sebuah pesan dari pegawai toko menanyakan letak salinan tanda terima Bantul. Abi baru teringat kertas itu masih di saku. Ia memotretnya dengan pencahayaan yang cukup, mengirim kepada rekan tersebut, lalu menyimpan lembar aslinya agar dapat dikembalikan besok. Pekerjaan yang belum selesai ternyata tetap menunggunya di tengah kekacauan rumah.
Abi memilih sofa untuk malam itu. Ia mengambil bantal dan selimut yang diperlukan setelah memberitahu Inara, tidak menghilang tanpa kabar. Ketika lampu ruang tengah diredupkan, ia meletakkan telepon di dekat tangan. Rumah yang biasanya dipenuhi suara kecil keluarga kini terdengar terlalu luas. Dari tempatnya berbaring, pintu kamar Kiai Ammar tidak terlihat, tetapi kalimat terakhir lelaki itu terus kembali setiap kali Abi mencoba memejamkan mata.