Inara menatap ibunya sebelum memulai. Umi masih memegang kotak tisu yang tadi nyaris terjatuh. Benda itu akhirnya diletakkan di meja, cukup dekat untuk dijangkau putrinya, lalu kedua tangan wanita paruh baya itu kembali bertaut di pangkuan.
'Bayi yang Inara kandung bukan anak Mas Abi, Mi.'
Umi tidak langsung bereaksi. Ia memandang Inara, kemudian Abi, seolah menunggu salah satu memperbaiki kalimat yang baru didengarnya.
'Apa maksudmu?'
'Inara sudah hamil sebelum kami menikah.'
Abi menunduk. Tangannya bergerak hendak mendekati Inara, tetapi berhenti di sisi sofa. Ia belum tahu apakah sentuhannya akan membantu atau justru membuat istrinya merasa harus segera tenang untuk orang lain.
'Jangan bercanda begini, Ra,' kata Umi.
'Inara tidak sedang bercanda.'
Inara menceritakan kedekatannya dengan Radit di Singapura, kehamilan yang diketahuinya kemudian, dan lelaki itu yang memilih pergi. Ia tidak menguraikan kejadian malam yang masih menyisakan ketakutan dan ingatan terputus. Ia mengatakan bahwa ada bagian yang ingin dibicarakannya lebih pelan kelak, ketika sanggup. Yang perlu Umi ketahui sekarang ialah mengapa ia pulang dan mencari pernikahan yang dapat menutupi kehamilan tersebut.
Nama Radit membuat Umi menoleh kepada suaminya. Kiai Ammar mengangguk bahwa nama itu sama dengan yang didengarnya di toko. Umi kembali memandang putrinya, menekan kedua bibir sebelum bertanya apakah Ratih sudah tahu.
'Inara tidak tahu apa yang sudah Radit ceritakan kepada orang tuanya. Tapi terakhir kali bertemu, Tante Ratih belum mengetahuinya.'
Umi menggeleng perlahan. Ia pernah duduk berbincang dengan wanita itu, mendengarkan rencana keluarga seolah tidak ada hubungan lain yang disembunyikan di antara mereka. Kini ingatan tersebut terasa sulit ditempatkan kembali.
'Lalu Abi?' tanyanya. 'Kenapa kamu menikah dengan Abi?'
Inara melihat lelaki di sampingnya. Abi mengangkat wajah sebentar, lalu membiarkan istrinya melanjutkan.
'Inara menawarkan uang agar dia menikahi Inara. Waktu itu keluarganya sedang membutuhkan uang untuk melunasi utang kepada rentenir. Inara membuat surat perjanjian. Lima puluh juta untuk utang lama ibunya, lima puluh juta lagi digunakan sebagai mahar.'
Umi menatap Abi dengan mata membesar. 'Seratus juta itu dari Inara?'
'Benar, Mi,' jawab Abi.
'Dan kalian menyembunyikan ini dari kami?'
Keduanya tidak dapat menjawab selain mengangguk. Umi mengambil tisu, tetapi tidak menggunakannya. Kertas itu diremas sampai kecil di dalam genggaman.
'Kami menikahkan kalian. Kami mendoakan kalian. Abah begitu senang waktu mendengar kabar kehamilanmu.'
Inara menutup mulut sebentar untuk menahan tangis. 'Inara tahu, Mi.'
'Kamu tahu waktu itu? Kamu tahu Umi menyiapkan banyak hal sambil mengira ...'
Umi tidak menyelesaikan kalimatnya. Tangis pecah sebelum pertanyaan berikut dapat keluar. Inara bergeser maju, ingin meraih tangannya, tetapi ibunya mengangkat telapak meminta waktu. Inara berhenti pada ujung sofa, membiarkan jarak itu tetap ada meskipun terasa menyakitkan.
Abi mengambil gelas dari sisi meja dan menanyakan apakah Umi ingin minum. Wanita itu menggeleng. Ia meletakkan gelas kembali, tidak memaksakannya ke tangan yang masih gemetar.
'Apa Abi sudah tahu semuanya sebelum menikah?' tanya Umi setelah beberapa saat.
'Saya tahu tentang perjanjian, Mi. Tetapi saya baru tahu Non Inara hamil pada malam pertama, sesudah akad.'
Panggilan yang terlepas itu membuat Umi memandangnya. Abi tidak buru-buru meralat. Inara justru mengambil kesempatan tersebut untuk menjelaskan bagaimana ia mengatur sebutan di antara mereka, tempat tidur yang terpisah, serta penampilan di depan orang lain.
'Inara yang meminta dia berpura-pura. Inara juga mengancam meminta seluruh uang kembali kalau rahasia ini terbongkar.'
Kiai Ammar memejamkan mata. Umi menatap putrinya lebih lama, seperti sedang mencari sosok yang dikenalnya di antara kalimat-kalimat yang belum pernah dibayangkan.
'Kenapa kamu tidak pulang dan bicara kepada kami, Ra?'
'Aku takut.'
'Kamu malah melakukan semua ini?'
'Iya. Inara membuat orang lain ikut menanggung ketakutan itu. Inara tidak akan mengatakan itu tidak menyakiti Umi.'
Wanita paruh baya itu menunduk. Bahunya bergerak oleh tangis yang berusaha diredakan. Kiai Ammar menggeser duduk mendekat, lalu meletakkan tangan di sandaran sofa, belum menyentuh istrinya sebelum wanita itu sendiri meraih ujung lengan bajunya.
Inara melihat gerakan tersebut dan kembali menelan isak. Ia tidak pernah ingin menjadi alasan orang tuanya duduk dalam keadaan seperti ini. Namun keinginannya menjaga mereka dari malu telah berubah menjadi berbulan-bulan kebohongan yang sekarang tidak dapat ditarik pulang.
'Anak itu tidak tahu apa-apa,' kata Umi lirih.
'Tidak, Mi,' jawab Inara. 'Dia tidak salah.'
Umi mengangguk, mengusap pipi dengan tisu baru. Ia meminta jendela dibuka sedikit karena ruangan terasa pengap. Abi bangkit melakukannya, kemudian kembali duduk setelah memastikan tirai tidak menutupi jalan udara.
Ketika ia kembali, Inara merentangkan tangan di dekat pangkuannya. Bukan tarikan atau perintah. Abi melihat gerakan tersebut, menunggu satu anggukan kecil, baru menggenggam tangannya. Telapak istrinya dingin.
Umi memperhatikan tanpa mengatakan mereka harus saling melepaskan atau segera memutuskan sesuatu. Ia masih kecewa. Ia bahkan belum tahu pertanyaan mana yang paling ingin dijawab. Namun ia melihat putrinya yang kelelahan dan lelaki yang selama ini disangkanya hanya perlu dibiasakan dengan keluarga baru.
'Beri Umi waktu,' katanya.
Inara mengangguk. 'Iya, Mi.'
Telepon Umi bergetar di meja. Sebuah panggilan dari kenalan pengajian masuk, urusan yang biasanya dijawab sambil mengingatkan jadwal pertemuan berikutnya. Kali ini beliau menolaknya dan mengirim pesan singkat bahwa sedang ada urusan keluarga. Inara melihat tangan ibunya berhenti di atas layar, lalu meletakkan benda itu dengan layar menghadap bawah.
'Tidak perlu orang lain datang sekarang,' kata Umi.
'Tidak ada yang saya panggil, Mi,' jawab Abi.
Wanita itu mengangguk. Ia meminta pintu depan tetap ditutup dan kebutuhan makan di dapur tidak dibawa ramai-ramai ke ruang tengah. Abi menyampaikan permintaan tersebut sebentar kepada Bibik Ndari tanpa menjelaskan sebabnya, lalu kembali ke tempatnya.
Kiai Ammar yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan akhirnya meluruskan punggung. Beliau memandang tangan pasangan itu, lalu mengangkat mata kepada Abi. Ada kemarahan yang belum memperoleh tempat dalam seluruh penjelasan tadi.
'Abi,' panggilnya.
Lelaki itu menoleh. 'Iya, Bah.'
Kiai Ammar menarik napas panjang. 'Saya perlu mendengar jawabanmu juga.'