Radit akhirnya berdiri setelah Kiai Ammar memintanya pulang. Ia membetulkan kursi yang bergeser, lalu menatap Inara. Wanita itu sudah menyimpan kembali teleponnya dan tidak mengangkat wajah untuk memberinya penghiburan.
'Saya minta maaf,' kata Radit.
Kiai Ammar tidak menjawab dengan pengampunan. Beliau hanya mengangguk bahwa kalimat itu didengar. Ketika Radit masih bertahan di dekat pintu, lelaki paruh baya itu menambahkan bahwa pembicaraan hari ini sudah cukup.
Radit keluar dari kantor, melewati meja pelayanan, kemudian meninggalkan toko dengan Ferrari. Tidak ada pegawai yang diberi penjelasan tentang kedatangannya. Seorang pembeli bertanya apakah gulungan yang dipesannya sudah dapat dibawa. Pertanyaan itu membuat Kiai Ammar harus mengingat kembali apa yang sedang dikerjakan tokonya sebelum ia masuk melalui pintu samping.
Beliau meminta pegawai melanjutkan pelayanan, lalu kembali menutup pintu kantor. Kali ini hanya dirinya dan Inara yang berada di dalam.
'Duduk dulu,' katanya ketika putrinya hendak ikut berdiri.
Inara menurut. Ia masih menunggu apakah ayahnya akan bertanya lebih jauh, tetapi Kiai Ammar justru mengeluarkan telepon. Jarinya sempat salah menekan nama sebelum menemukan nomor Abi.
Di Bantul, Abi sedang membantu memeriksa jumlah kain yang sudah diturunkan. Ponselnya bergetar di saku. Ia meminta izin kepada pegawai penerima untuk mengangkat sebentar, kemudian menjauh dari bagian kendaraan yang masih dibuka.
'Assalamualaikum, Bah.'
'Abi, pulang ke rumah setelah pengirimanmu dibereskan.'
Suara ayah mertuanya membuat Abi meluruskan punggung. Tidak ada sapaan biasa, tidak ada pertanyaan apakah alamat ditemukan.
'Ada apa, Bah? Inara kenapa?'
'Kami akan pulang juga. Saya perlu bicara denganmu di rumah.'
'Inara baik-baik saja?'
Kiai Ammar menoleh kepada putrinya sebelum menjawab. 'Dia ada di sini. Cepat pulang, tapi jangan tinggalkan barang pelanggan di jalan.'
Panggilan berakhir. Abi memandang layar beberapa saat, kemudian menelepon Inara. Tidak ada jawaban. Ia baru hendak mencoba lagi ketika pesan masuk dari istrinya.
Abah sudah tahu tentang bayi dan perjanjian kita. Aku di kantor toko. Kami akan pulang.
Abi membaca pesan itu sampai dua kali. Huruf-hurufnya tidak berubah, meskipun ia berharap ada kalimat berikut yang membuat keadaan lebih mudah dimengerti. Ia mengetik pertanyaan apakah Inara membutuhkan pertolongan. Jawabannya singkat: ia sedang duduk bersama Abah, akan pulang dengan sopir.
Lelaki itu memasukkan telepon ke saku dan kembali menemui orang yang menerima kain. Ia membantu mencocokkan jumlah terakhir, meminta tanda terima, lalu mengatakan kepada sopir boks bahwa ada urusan keluarga yang mendesak.
'Kita sudah selesai di sini?' tanya sopir itu.
'Tinggal salinan penerimaan dibawa pulang. Ini sudah ditandatangani.'
Setelah barang dan dokumen dipastikan lengkap, mereka berangkat. Abi meminta diantar ke rumah Kiai Ammar sebelum kendaraan kembali ke toko. Ia tidak menyuruh sopir mengebut. Kedua tangannya hanya saling menggenggam di pangkuan, sesekali terlepas untuk memeriksa apakah Inara mengirim kabar lagi.
Sementara itu, di toko, Kiai Ammar sudah menghubungi sopir regulernya. Beliau menitipkan urusan pelayanan kepada pegawai yang bertugas, menjelaskan pesanan mana yang harus diperiksa sebelum diambil, kemudian mengajak Inara keluar dari kantor.
Inara mengambil nota yang ditinggalkannya di rak. Ia menyerahkan kertas itu kepada pegawai, mengatakan pekerjaan hitungannya belum selesai. Tidak ada permintaan agar orang tersebut melupakan suara yang sempat terdengar. Ia hanya belum sanggup menjelaskan sesuatu yang bahkan di rumahnya sendiri belum dibicarakan.
Di dalam mobil, Kiai Ammar duduk di depan. Inara memilih kursi belakang, meletakkan tas di samping dan menjaga duduknya senyaman mungkin. Sopir menanyakan tujuan, lalu menjalankan kendaraan setelah memperoleh jawaban.
Tidak ada yang mengisi perjalanan dengan percakapan. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Inara melihat seorang ayah membetulkan helm anaknya di atas motor. Gerakan biasa itu membuat matanya kembali panas. Ia menyeka pipi sebelum air mata jatuh terlalu banyak, lalu mengambil air minum dari tas.
'Abah,' panggilnya pelan.
Kiai Ammar menoleh sedikit, tidak sepenuhnya menghadap belakang.
'Inara ingin memberitahu Umi sendiri.'
Ayahnya diam beberapa saat. 'Baik. Kita bicarakan di rumah.'
Hanya itu. Namun setidaknya Inara mengetahui siapa yang akan mengucapkan kalimat pertama kepada ibunya. Ia tidak harus menunggu rahasianya dipaparkan ketika dirinya masih berjalan menuju ruang tengah.
Umi Hanik terkejut melihat mereka pulang lebih awal. Beliau baru selesai memeriksa bahan masakan ketika suara kendaraan terdengar. Pertanyaan tentang makan siang berhenti setelah melihat wajah suami dan putrinya.
'Ra, kamu sakit?'
Inara menggeleng. 'Bukan begitu, Mi.'
'Kalau begitu ada apa?'
Kiai Ammar meminta Umi duduk bersama mereka. Beliau tidak memberikan penjelasan di depan pintu atau memanggil seluruh penghuni rumah. Bibik Ndari diminta melanjutkan pekerjaan dapur, sedangkan Inara mengambil tempat di sofa setelah mencuci muka dan tangan.
Umi menunggu dengan gelisah. Dua kali ia menanyakan apakah ada masalah di toko. Kiai Ammar menjawab bahwa persoalannya perlu didengar ketika Abi sudah tiba. Kalimat itu membuat Umi memandang Inara lebih lama, tetapi putrinya hanya dapat mengatakan bahwa ia akan menceritakannya.
Umi mengambil tisu dari meja dan menyerahkannya kepada putrinya. Inara menarik selembar, tetapi bagian yang lain ikut keluar terlalu panjang. Ia mencoba memasukkannya kembali dengan tangan gemetar. Umi menahan kotaknya agar tidak jatuh.
'Biar saja. Nanti dirapikan,' katanya.
Inara mengangguk. Ia sempat ingin meminta ibunya duduk lebih dekat. Namun melihat Umi masih menunggu penjelasan dengan wajah bingung, ia justru takut satu sentuhan akan membuat dirinya menangis sebelum mampu bercerita. Ia memegang tisu di pangkuan, meratakan lipatannya dengan ibu jari sambil mendengarkan kendaraan lewat di luar pagar.
Abi datang tidak lama kemudian dengan salinan penerimaan barang yang masih dilipat di tangannya. Ia berterima kasih kepada sopir boks sebelum turun. Di pintu rumah, langkahnya tertahan ketika melihat ketiga orang itu menunggu.
'Assalamualaikum.'
Umi menjawab, kemudian menunjuk tempat kosong di sofa. Abi duduk dekat Inara setelah istrinya menggeser tas. Ia melihat mata yang masih basah dan ingin bertanya, tetapi Kiai Ammar sudah lebih dahulu memanggil nama putrinya.
'Inara. Sekarang ceritakan kepada Umimu.'