Radit menunduk ke arah nota yang jatuh. Ia membungkuk mengambilnya, lalu menyerahkan kertas itu kepada Inara. Tidak seorang pun membicarakan jumlah yang tercetak di sana. Kiai Ammar masih menunggu jawaban, dan keheningan di antara mereka mulai menarik perhatian dari meja depan.
'Apa maksudmu dengan pernikahan kontrak?' tanyanya lagi.
Radit memandang Inara. Wanita itu sudah meletakkan nota pada rak kosong di sampingnya. Kedua tangannya tampak sulit menemukan tempat yang tenang.
'Pak Kiai, saya ingin menjelaskan, tapi ...'
'Abah.' Inara menyela sebelum Radit menyelesaikan kalimat. 'Kita jangan bicara di sini.'
Seorang pegawai melintas membawa potongan kain. Ia memperlambat langkah ketika melihat wajah majikannya, kemudian melanjutkan pekerjaan setelah Kiai Ammar menunjuk bagian depan. Lelaki paruh baya itu menahan napas cukup lama sebelum mengangguk.
'Ke kantor.'
Inara berjalan lebih dahulu setelah memastikan pijakannya. Radit mengikuti dengan jarak beberapa langkah. Kiai Ammar meminta seorang pegawai mengambilkan air dan tidak meninggalkan pelayanan pelanggan. Suaranya masih terkendali, tetapi tangan yang membuka pintu kantor bergetar.
Ruangan itu terasa lebih kecil ketika ketiganya berada di dalam. Inara mengambil kursi paling dekat pintu. Kiai Ammar duduk di belakang meja, sedangkan Radit menunggu sampai dipersilakan memakai kursi lain. Setelah air diberikan, pintu ditutup. Kuncinya tetap menggantung pada tempat semula, tidak diputar.
Kiai Ammar memandang putrinya. 'Kamu ingin Abah mendengar dari siapa?'
Inara menelan ludah. 'Dari Inara juga, Bah. Jangan hanya dari Radit.'
'Kalau begitu, jawab. Apa yang dia katakan tadi benar?'
Wanita itu menunduk pada kedua tangannya. Selama berbulan-bulan ia membayangkan saat seperti ini dengan akhir yang berbeda-beda. Ada bayangan ayahnya langsung jatuh sakit. Ada pula harapan yang tidak masuk akal bahwa rahasia akan menghilang sendiri sebelum seseorang bertanya. Tidak satu pun bayangan itu membantunya menyusun kalimat sekarang.
'Bayi ini bukan anak Mas Abi,' katanya.
Kiai Ammar tidak bergerak. Pandangannya turun sebentar ke perut putrinya, lalu kembali kepada wajahnya.
'Anak Radit?'
Inara mengangguk. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menyekanya.
Lelaki paruh baya itu menggeser gelas, tetapi tidak meminumnya. Dasar gelas bergesekan dengan meja, menghasilkan bunyi pendek yang membuat Radit menegakkan tubuh. Kiai Ammar memejamkan mata, kemudian membukanya lagi dengan usaha yang terlihat berat.
'Katakan bagianmu, Nak Radit.'
Radit mengusap telapak tangan pada celana. 'Saya meninggalkan Inara ketika dia membutuhkan saya. Saya memberinya uang dan meminta dia menggugurkan kandungannya. Sesudah itu saya pergi ke London.'
'Kamu tahu dia akan pulang dan menikah?'
'Saya tahu rencananya. Saya tidak mencegahnya. Saya malah berjanji akan kembali untuk menikahinya setelah selesai kuliah.'
'Janji yang hendak kamu tepati?'
Radit menunduk semakin dalam. Ia tidak menjawab cepat. Kiai Ammar mengulangi pertanyaan itu tanpa meninggikan suara, justru membuat setiap kata terasa lebih jelas.
'Waktu mengucapkannya, saya hanya ingin bisa pergi,' jawab Radit akhirnya. 'Saya tidak memikirkan bagaimana Inara akan menjalani semua ini.'
Inara menyeka pipi. Ia sudah mengetahui lelaki itu meninggalkannya, tetapi mendengar niat di balik janji tersebut tetap menyakitkan. Untuk beberapa saat ia hanya menatap gelas yang belum disentuh ayahnya.
'Bah, ada yang harus Inara katakan,' ucapnya.
Kiai Ammar memandangnya. Wanita itu menarik napas, lalu menceritakan malam ketika ia tidak sadar setelah minum, ingatan yang terputus, dan pagi ketika ia terbangun dalam ketakutan. Ia tidak menguraikan tubuh atau tindakan yang tidak sanggup diingatnya dengan utuh. Ia hanya menolak cerita itu diringkas menjadi dua orang yang dengan tenang memilih segala akibatnya.
'Inara tidak tahu apa yang sedang terjadi malam itu, Bah. Setelahnya Inara takut. Inara membuat banyak keputusan yang menyakiti orang lain karena ingin semua ini tidak kelihatan.'
Radit tidak membantah. Inara memandangnya sebentar, menunggu jika ada sanggahan. Ketika tidak ada, ia kembali kepada ayahnya.
'Inara membayar Mas Abi. Inara yang membuat surat perjanjian itu. Tapi Mas Abi belum tahu Inara hamil saat dia menandatanganinya.'
'Kapan dia tahu?'
'Malam pertama. Sesudah kami menikah.'
Kiai Ammar mengangkat tangan ke wajah. Jemarinya menekan pangkal hidung, lalu turun perlahan. Ia tampak hendak berdiri, tetapi memilih bertahan di kursi. Inara mendorong gelas sedikit lebih dekat.
'Abah minum dulu.'
Lelaki itu menerima gelas setelah beberapa saat. Ia meneguk sedikit, menaruhnya kembali, lalu menatap meja seolah sedang memastikan benda-benda di atasnya belum berubah tempat.
'Dan selama ini kalian membiarkan Abah mengira ...'
Kalimat itu tidak selesai. Inara sudah mengetahui ujungnya. Doa-doa yang dipanjatkan, wajah gembira ketika mendengar kabar kehamilan, serta orang-orang yang mengucapkan selamat datang kembali dengan berat yang tidak dapat dipindahkan kepada Radit saja.
'Inara takut mengecewakan Abah dan Umi,' katanya. 'Lalu Inara terus menunda sampai kebohongannya semakin besar.'
'Kamu mengira Abah lebih sanggup menerima ini setelah bertahun-tahun?'
'Tidak. Inara tidak berpikir sejauh itu.'
Radit bergerak maju di kursinya. 'Pak Kiai, saya ingin bertanggung jawab. Saya siap menemui keluarga dan ...'
'Jangan membuat keputusan baru sekarang.' Kiai Ammar memotongnya. 'Saya sedang mencoba memahami apa yang sudah terjadi. Bukan memilihkan suami lagi untuk putri saya.'
Inara merasakan napasnya sedikit lebih lapang mendengar kalimat itu, meskipun wajah ayahnya belum melembut. Ia mengusap sisi kursi, menahan keinginan meminta semuanya segera dimaafkan. Ayahnya belum memperoleh kesempatan memikirkan apa pun.
Di luar, suara gunting memotong kain terdengar samar. Toko masih berjalan. Seseorang tertawa kepada pelanggan, tidak mengetahui bahwa di balik pintu ini tiga orang sedang kesulitan menyelesaikan satu kalimat.
Kiai Ammar meluruskan punggung. Ia memandang Radit lebih lama, kemudian menunjuk pintu dengan gerakan yang tidak lagi setegas tadi.
'Saya membutuhkan waktu. Dan saya perlu bicara dengan Abi.'
Radit mengangguk, tetapi belum berdiri. Inara menunduk, menyadari bahwa nama yang sejak Jumat hendak diajaknya bicara kini akan dipanggil oleh ayahnya dalam keadaan yang sama sekali berbeda.
Inara mengambil telepon dari saku tasnya, memeriksa layar yang belum memuat pesan baru. Nama Abi ada dalam daftar percakapan. Ia menyentuhnya, tetapi masih menunggu ayahnya menyelesaikan apa yang hendak dikatakan sebelum menulis kabar.