Pesan itu masuk pada Minggu malam ketika Inara sedang memeriksa daftar barang yang hendak dibawanya ke toko esok hari. Nomor pengirim tidak tersimpan. Ia hampir mengabaikannya sebelum membaca nama yang dituliskan pada bagian awal.
Radit meminta waktu berbicara lagi.
Inara meletakkan telepon di meja. Ia masih mengingat wajah Abi ketika mengatakan melihat mereka dari seberang jalan. Ia belum menceritakan seluruh percakapan Jumat itu, dan menerima kunjungan baru terasa seperti menambahkan persoalan yang tidak kunjung selesai.
Namun membiarkan pesan tanpa jawaban juga tidak menjamin lelaki tersebut akan memahami keinginannya. Inara mengambil kembali telepon dan mengetik bahwa ia bersedia berbicara singkat di toko pada Senin, dengan syarat Radit tidak datang membuat keributan atau membawa rencana menghadap ayahnya. Tidak ada janji tentang pernikahan atau tentang menerima kembali hubungan mereka.
Balasan Radit datang beberapa menit kemudian. Ia menyanggupi.
Inara membaca ulang pesannya sendiri, kemudian menutup layar. Ia belum memperoleh keberanian mengatakan semua itu kepada Abi malam tersebut. Kegagalan kecil itu ikut dibawanya ketika tidur.
Senin pagi, toko sudah sibuk dengan pesanan kain yang harus dikirim. Abi membantu menghitung gulungan bersama pegawai. Ia memeriksa alamat pada catatan pengiriman, lalu menanyakan kepada Kiai Ammar apakah ada barang lain yang perlu dibawa ke Bantul.
'Tidak. Selesaikan yang ini dulu,' jawab Kiai Ammar. 'Jangan sampai jumlahnya berbeda ketika diterima.'
Abi mengangguk. Sebelum berangkat bersama sopir mobil boks, ia mendekati meja Inara. Istrinya sedang merapikan nota, tetapi wajahnya membuat Abi berhenti sejenak.
'Ada yang mengganggu?'
Inara menatap kertas di tangannya. 'Aku sedang memikirkan pembicaraan Jumat.'
Abi diam beberapa saat. 'Nanti saya kembali, kita bicara?'
'Iya, Mas.'
Janji itu tidak membuat Inara lebih ringan. Justru ketika Abi berjalan menuju kendaraan, ia menyadari bahwa ia telah membiarkan persoalan tersebut menunggu terlalu lama. Ia ingin memanggilnya lagi, tetapi pegawai sudah meminta bantuan memastikan pintu belakang boks tertutup. Inara hanya melihat sampai kendaraan berangkat.
Kiai Ammar menyusul berpamitan hendak menghadiri pengajian di masjid dekat pasar. Beliau meminta Inara tidak memaksakan diri menghitung seluruh persediaan sekaligus. Ada pegawai yang dapat melanjutkannya jika ia lelah.
'Iya, Bah. Ini tinggal merapikan catatan.'
Setelah ayahnya pergi, Inara berhenti bekerja beberapa menit. Ia minum dan menggeser posisi duduk. Dari depan terdengar pelanggan meminta warna yang tidak tersedia. Seorang pegawai menawarkan pilihan lain, percakapan biasa yang membuatnya berharap hari ini juga dapat diselesaikan dengan menemukan pengganti yang tepat.
Ferrari berhenti tidak lama kemudian.
Kali ini Inara tidak terkejut, tetapi jantungnya tetap berdebar ketika Radit memasuki toko. Ia menunjuk bangku pada bagian yang tidak menghalangi pembeli. Radit mengucapkan salam dan menunggu sebelum duduk. Ia tidak langsung mencari Kiai Ammar.
'Aku tidak lama,' katanya.
'Aku juga harus kembali bekerja.'
Mereka semula berbicara dekat meja, sampai pelanggan datang meminta kain yang tersimpan di rak belakang. Inara mempersilakan pegawai mengambilnya dan bergeser agar tidak menghalangi. Radit berdiri dari bangku dan mengikutinya beberapa langkah. Mereka akhirnya berada di lorong rak yang lebih tenang, masih terhubung dengan bagian depan toko.
Inara berhenti, tidak mengajak lelaki itu masuk lebih jauh.
'Aku sudah memikirkan permintaanmu,' katanya.
Radit mengangkat wajah. Kedua tangannya yang terkatup di depan tubuh bergerak seperti hendak memegang sesuatu, lalu kembali diam.
'Aku tidak menerima lamaranmu.'
Lelaki itu menatapnya lama. Harapan yang dibawanya dari tempat parkir seolah tertahan di antara rak, tidak menemukan jalan mendekat.
'Karena Abi?'
'Karena aku tidak ingin menikah denganmu.'
'Tapi kamu dulu ...'
'Dulu aku menunggu kamu bertanggung jawab. Itu benar. Jangan menganggap semua yang pernah kurasakan tidak ada. Tapi kamu tidak bisa datang sekarang dan meminta hidupku kembali ke tempat yang kamu tinggalkan.'
Radit mengusap wajah. Untuk beberapa saat ia tampak berusaha menerima jawaban tersebut. Namun ketika kembali berbicara, suaranya lebih keras daripada yang direncanakannya.
'Aku ayah anak itu, Ra. Aku tidak bisa pura-pura tidak ada.'
'Aku tidak memintamu pura-pura. Aku memintamu tidak menjadikan itu alasan menentukan siapa suamiku.'
Pada saat yang sama, Kiai Ammar kembali melalui pintu samping toko. Pengajian yang hendak dihadirinya dibatalkan karena penceramah berhalangan. Beliau baru saja memberi tahu seorang pegawai ketika suara Radit membuat langkahnya melambat.
Di antara tumpukan kain, ia mengenali suara putrinya.
'Abi juga punya keputusan sendiri,' ucap Inara. 'Aku belum memberitahunya semua yang kamu katakan Jumat. Itu harus kubicarakan dengannya, bukan kamu jawabkan untuk kami.'
'Tapi dia tahu sejak awal ini pernikahan kontrak. Dia tahu bayi yang kamu kandung adalah anakku.'
Kiai Ammar berhenti di balik rak. Tangannya masih memegang kunci yang hendak dimasukkan ke saku. Kalimat tersebut terdengar utuh, berbeda dari suara pasar yang biasanya lewat tanpa perlu diperhatikan.
Pernikahan kontrak. Bayi yang kamu kandung adalah anakku.
Beliau menoleh ke sisi rak, memastikan suara itu memang datang dari tempat Inara berdiri. Tidak ada kesempatan menyusun penjelasan yang masuk akal sebelum suara putrinya kembali terdengar.
'Pelankan suaramu, Radit.'
'Aku hanya tidak ingin kehilangan semuanya, Ra.'
'Kamu tidak sedang kehilangan sesuatu yang boleh kamu ambil paksa.'
Kiai Ammar melangkah keluar. Inara melihatnya lebih dahulu. Kata-kata yang masih hendak diucapkannya berhenti, sementara tubuhnya bergerak mencari tepi rak untuk bertumpu.
'Abah.'
Radit menoleh. Wajahnya berubah ketika melihat lelaki paruh baya itu berdiri beberapa langkah dari mereka.
Kiai Ammar memandang putrinya, lalu beralih kepada Radit. Suaranya rendah, tetapi cukup membuat keduanya tidak lagi mendengar keramaian bagian depan.
'Apa maksud perkataanmu tadi, Nak Radit?'
Inara membuka mulut tanpa menemukan kalimat. Ujung nota yang dibawanya terlepas dan jatuh di dekat kaki. Radit bergerak hendak mengambilnya, tetapi berhenti ketika Kiai Ammar mengangkat tangan, meminta ia menjawab dahulu. Dari meja pelayanan, seorang pegawai memanggil rekannya untuk membantu pembeli. Kiai Ammar melihat gerakan di depan, lalu kembali menatap dua orang di hadapannya. Kali ini beliau menunggu jawaban tanpa melanjutkan langkah pulang atau menganggap dirinya salah mendengar.