Abi berhenti di dekat kios kerudung ketika melihat mobil hitam itu. Orang di belakangnya meminta jalan. Ia segera menepi, hampir menabrak gantungan dagangan karena matanya masih tertuju ke depan toko UD Ammar Jaya.
Radit berdiri menghadap Inara yang duduk di sisi pintu.
Dari tempat Abi berada, percakapan mereka tidak terdengar. Bunyi kendaraan dan tawar-menawar menutup jarak di antara kedua tempat itu. Ia hanya dapat melihat Radit menunduk, lalu mengangkat wajah. Inara mengatakan sesuatu. Sesudahnya lelaki itu tampak semakin sungguh-sungguh mendengarkan.
Abi meremas ujung sarungnya. Ia sadar sedang berdiri terlalu lama di depan dagangan orang, tetapi untuk beberapa saat kakinya sulit diajak bergerak. Dalam kepalanya muncul kalimat-kalimat yang belum pernah diucapkan siapa pun di hadapannya. Ia membayangkan permintaan Radit, jawaban Inara, bahkan kemungkinan yang paling ditakutinya.
Lalu ia mengingat bahwa ia tidak mendengar satu kata pun.
Seorang pembeli menyenggol sikunya ketika hendak melewati gantungan. Abi meminta maaf dan bergeser lagi. Dari celah yang berbeda, ia melihat Radit berjalan menuju kendaraan. Lelaki itu berhenti sebentar sebelum masuk, tetapi tidak kembali mendekati Inara.
Ferrari meninggalkan pasar. Abi menunggu sampai jalan di depan toko terbuka, kemudian berjalan dengan langkah yang sengaja diperlambat. Ia belum tahu apakah ingin segera bertanya atau sekadar memastikan istrinya sudah makan.
Inara sedang menatap catatan ketika ia masuk. Penggaris masih berada di atas tumpukan nota, gelas minumnya sedikit berkurang. Kursi yang tadi dibawa keluar sudah kembali di dekat meja.
'Mas sudah selesai?' tanyanya.
'Sudah.'
Abi meletakkan pecinya pada tempat yang bersih. Ia melihat satu angka yang dicoret di nota, lalu memandang wajah Inara. Istrinya tidak tampak siap membicarakan hitungan.
'Mau makan apa?'
Inara mengusap bagian atas kertas dengan jari. 'Mas sudah makan?'
'Belum. Saya mau beli sekalian.'
'Soto saja boleh?'
Abi mengangguk. Ia hendak berbalik, lalu berhenti. Jika ia pergi tanpa mengatakan apa pun, mungkin sepanjang perjalanan ke penjual soto ia akan terus menambahkan percakapan yang tidak pernah didengarnya.
'Tadi saya melihat Radit,' katanya.
Jari Inara berhenti bergerak. Ia mengangkat wajah, tetapi tidak langsung menjawab.
'Dari dekat kios sana,' lanjut Abi. 'Saya tidak mendengar pembicaraan kalian.'
Inara memandang ke arah yang ditunjuknya. 'Dia datang tanpa memberi tahu dulu.'
Abi menunggu. Ada pertanyaan yang mendesak di tenggorokannya, tetapi ia tidak ingin menyampaikannya dengan nada seolah istrinya sedang diperiksa.
'Aku bicara di depan,' kata Inara lagi. 'Aku tidak mengajaknya ke tempat lain.'
'Saya melihat.'
'Mas ingin tahu apa yang dia katakan?'
Abi menarik kursi lain, tetapi menanyakan dahulu apakah Inara ingin ia duduk. Setelah istrinya mengangguk, ia mengambil tempat tanpa menyentuh tumpukan nota.
'Saya ingin tahu kalau kamu mau bercerita. Tapi saya sedang berusaha tidak mengisi sendiri bagian yang tidak saya dengar.'
Inara menunduk. Kalimat itu justru membuatnya semakin sulit memilih jawaban. Ia dapat mengatakan Radit menyesal, atau lelaki itu meminta sesuatu yang dulu pernah dijanjikannya. Namun setiap pilihan pembuka terasa membawa mereka ke pertanyaan lain yang belum sanggup dijawabnya dengan tenang.
'Aku belum bisa menjelaskannya sekarang, Mas.'
Abi menatap ujung meja. Ia mengangguk perlahan, meskipun gerakan itu terasa berat.
'Baik. Tapi kalau pembicaraan itu menyangkut keputusan tentang kita, saya ingin mendengarnya darimu.'
'Iya.'
Ia berdiri untuk membeli makanan. Kali ini ia tidak mencoba menambah senyum yang terlalu lebar. Inara melihat punggungnya bergerak di antara pembeli dan merasakan jarak yang tidak dapat diukur dari jumlah langkah menuju warung.
Ketika soto datang, mereka makan di belakang meja setelah pegawai membantu mengosongkan tempat. Abi menyerahkan sambal terpisah agar Inara dapat memilih sendiri. Sebagian kuah tumpah sedikit pada alas kantong. Inara mengambil kain, Abi menahan mangkuk, dan untuk sesaat keduanya kembali bekerja bersama tanpa harus menemukan kalimat yang tepat.
Makanan itu habis lebih lambat daripada biasanya. Setelahnya Inara memeriksa kembali nota yang salah dikelompokkannya. Ia bertanya tentang jumlah, Abi menunjukkan catatan pesanan, dan pekerjaan toko berlanjut sampai waktunya pulang. Radit tidak muncul lagi.
Malam itu, Inara berbaring menghadap sisi ranjang yang dekat lantai. Kasur lipat Abi sudah terbentang seperti biasa. Lelaki itu memeriksa jam pada telepon, menaruhnya di tempat yang mudah dijangkau, lalu merapikan bantal.
Inara memperhatikan setiap gerakan yang selama ini sering luput karena terlalu terbiasa. Bagaimana Abi melipat ujung selimut agar tidak mengenai kaki lemari. Bagaimana ia menyisakan jalan ketika Inara perlu turun dari ranjang. Tidak ada gerakan besar yang patut diumumkan, tetapi membayangkannya tidak ada lagi membuat kamar terasa asing.
'Mas belum mengantuk?' tanyanya.
'Sedikit.'
'Aku malah belum.'
Abi menoleh. 'Punggungmu masih tidak nyaman?'
'Tadi sudah lebih enak setelah berganti posisi. Sekarang cuma belum bisa tidur.'
Ia mengangguk dan tidak memaksakan saran. Inara ingin mengatakan lebih banyak, tetapi yang keluar justru pertanyaan tentang toko besok. Abi menjawab pekerjaan yang harus diselesaikan, kemudian menanyakan apakah ia ingin lampu tetap menyala.
'Redup saja, Mas.'
Lampu dikecilkan. Inara kemudian meminta gelas yang tertinggal di meja. Abi menyerahkannya tanpa bangkit mendekati ranjang, menunggu sampai pegangan istrinya mantap sebelum melepaskan. Inara minum beberapa teguk dan mengembalikan gelas ke tempat yang dapat dijangkaunya sendiri. Tidak lama kemudian, kamar hanya menyisakan bunyi kendaraan dari jauh dan gerak kain ketika salah seorang berganti posisi. Inara memandang bayangan lemari. Dahulu sembilan bulan terdengar seperti waktu yang dapat ditunggunya sambil menghitung hari. Sekarang ia tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan dengan akhir yang pernah dirancangnya sendiri.
Melahirkan tidak serta-merta mengakhiri perkawinannya. Ia mengetahui apa yang tertulis. Namun ia juga tahu sebuah tanggal tidak dapat menjelaskan semua yang berubah di antara dua orang yang tidur di kamar ini.
Di lantai, Abi belum benar-benar terlelap. Ia mendengar Inara menarik napas panjang, lalu menahan keinginan bertanya sekali lagi tentang tamu siang tadi. Sebelum menutup mata, ia memastikan teleponnya tidak dalam keadaan senyap. Kalau istrinya memanggil, ia ingin tetap dapat mendengarnya.