'Aku ingin menikahimu, Ra.'
Inara memandang lelaki di depannya tanpa segera menjawab. Sesaat ia mengira suara kendaraan telah menelan sebagian kalimat, menyisakan kata-kata yang salah didengarnya. Namun Radit masih menatapnya dengan kesungguhan yang membuat tangannya semakin erat memegang ujung kursi.
'Aku masih menikah dengan Abi,' katanya.
'Aku tahu. Maksudku setelah kalian berpisah.'
'Kamu membicarakan perpisahanku seolah tinggal menunggu giliran.'
Radit membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Seorang lelaki lewat membawa gulungan karpet di bahu. Radit bergeser agar tidak tersenggol, sementara Inara menunggu sampai jalan di depan mereka kembali lapang. Ia merasa aneh bahwa kalimat yang dulu ditunggunya justru datang ketika ia mulai menyukai hari-hari yang tidak pernah ada dalam bayangannya dahulu.
'Bukan begitu maksudku,' kata Radit. 'Aku tahu perjanjian kalian punya batas. Dulu kamu sendiri yang mengatakannya kepadaku.'
'Sembilan bulan sejak kami menikah. Bukan hari yang bisa kamu tentukan dari luar.'
'Iya. Aku tidak bermaksud menentukan tanggal.'
'Tapi kamu sudah menentukan apa yang harus kulakukan setelahnya.'
Radit menunduk. Di sisi pintu, pegawai toko memindahkan bungkusan agar pembeli dapat lewat. Inara mengangkat kursinya sedikit dengan bantuan pegawai itu, bergeser ke tempat yang lebih teduh. Ia mengucapkan terima kasih sebelum kembali menghadap tamunya. Tidak ada seorang pun di toko yang dimintanya menjadi saksi atas pembicaraan mereka.
'Aku ingin bertanggung jawab,' ucap Radit.
'Apa arti tanggung jawab menurutmu?'
'Menjadi suamimu. Membesarkan anak kita.'
Inara menggeleng pelan. 'Kalau aku tidak menikah denganmu, apakah menurutmu kamu boleh berhenti memikirkan kebutuhan anak ini?'
Pertanyaan itu membuat Radit terdiam lebih lama. Ia melihat ke arah perut Inara, tetapi kali ini segera mengangkat pandangan kembali kepada wajahnya. Ada jawaban yang rupanya baru terasa sulit ketika tidak diucapkan dalam bayangan sendiri.
'Tidak,' katanya akhirnya. 'Seharusnya tidak.'
'Kalau begitu, jangan campur semua hal menjadi satu permintaan. Aku tidak bisa menjawabnya hanya karena kamu berdiri di sini dengan penyesalan.'
'Aku memang menyesal, Ra.'
'Aku tidak bilang kamu tidak menyesal.'
Inara melepaskan pegangan pada ujung kursi. Telapak tangannya sedikit lembap. Ia mengusapnya pada kain di pangkuan, lalu merapikan kembali ujung jilbab. Membicarakan ini membuatnya lelah, tetapi ada bagian yang tidak ingin lagi diserahkannya kepada orang lain untuk disimpulkan.
Radit menawarkan membelikan minuman. Inara menolak dengan menunjuk gelasnya di dalam. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang nanti membuat percakapan terasa harus diteruskan karena pemberinya belum selesai berharap.
'Aku bisa tinggal di Yogya,' kata Radit. 'Aku bisa membicarakan urusan kuliah. Kalau perlu, aku menghadap ayahmu dan menjelaskan semuanya.'
Inara menatapnya tajam. 'Jangan datang kepada Abah untuk mengatur hidupku sebelum bicara denganku.'
'Aku hanya ingin berhenti bersembunyi.'
'Aku juga harus berhenti bersembunyi. Tapi bukan berarti kamu boleh memilihkan kapan dan bagaimana semua orang mendengarnya.'
Suara Inara sedikit meninggi. Ia menyadarinya ketika pegawai di dekat etalase menoleh. Wanita itu menarik napas dan menurunkan suara, bukan karena ingin melindungi penampilan Radit, melainkan karena kisahnya tidak perlu menjadi bahan dengar pembeli.
Radit mengangguk. 'Baik. Aku tidak akan datang tanpa membicarakannya denganmu.'
Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan kalimat yang membuat Inara kembali menegakkan punggung.
'Tapi apakah kamu benar-benar ingin terus bersama sopir yang kamu bayar itu?'
'Jangan sebut Abi seperti itu.'
'Aku hanya menyebut keadaan awalnya.'
'Sekarang dia membantu pekerjaan toko. Dan pekerjaan apa pun tidak membuatnya lebih rendah darimu.'
Wajah Radit berubah. Ia tampak ingin membela diri, tetapi Inara belum selesai. Tangannya menunjuk meja di dalam, tempat nota dan penggaris masih berada. Beberapa menit sebelum lelaki itu tiba, ia dan Abi menertawakan angka yang sulit dibaca. Tidak ada yang luar biasa dalam kejadian tersebut. Justru itu yang terasa ingin dijaganya.
'Dia ada ketika aku membutuhkan bantuan,' kata Inara. 'Bukan hanya ketika dia ingin mendapatkan jawaban yang disukainya. Dia juga bisa kesal. Dia bisa diam kalau aku melukainya. Aku tidak sedang mengatakan dia tidak pernah salah. Tapi aku mulai mengenal dia sebagai orang, bukan pekerjaan yang bisa kamu sebut untuk mengecilkannya.'
Radit menelan ludah. 'Kamu membelanya.'
'Iya.'
Jawaban itu mengejutkan Inara sendiri karena keluar tanpa harus dipersiapkan. Ia tidak menariknya kembali. Ia telah terlalu sering membiarkan Abi berdiri di tempat yang sempit, di antara sandiwara dan kebutuhan orang lain. Setidaknya di depan Radit, ia dapat menghentikan satu penghinaan.
Lelaki itu mengusap wajah dengan kedua tangan. Ketika menurunkannya, matanya tampak basah. Inara merasa dadanya bergerak oleh iba, tetapi ia tidak menganggap rasa itu sebagai perintah untuk mendekat.
'Aku terlambat,' gumam Radit.
Inara tidak menjawab dengan penghiburan. Ia melihat ke arah jalan dan memperkirakan waktu. Tidak lama lagi orang-orang akan kembali dari masjid. Ia tidak ingin Abi mendengar percakapan ini melalui cerita orang lain, tetapi ia juga belum tahu kalimat apa yang sanggup diucapkannya ketika lelaki itu berdiri di depannya.
'Aku perlu waktu,' katanya.
Radit segera mengangkat wajah. Harapan muncul terlalu cepat di matanya.
'Untuk kita?'
'Untuk berpikir tentang hidupku, tentang anak ini, dan bagaimana aku memberitahu keluargaku. Bukan janji menerima lamaranmu.'
Senyum yang hampir muncul di bibir Radit menghilang. Inara membiarkannya menerima jawaban itu tanpa memperhalusnya sampai kehilangan arti. Ia sendiri sudah terlalu lama bergantung pada janji yang terdengar lembut tetapi tidak pernah memiliki tempat nyata.
'Boleh aku menghubungimu lagi?' tanya Radit.
'Jangan datang mendadak. Kalau ada yang perlu disampaikan, kirim pesan dulu. Aku akan menentukan apakah ingin membicarakannya.'
Radit mengangguk. Ia menatap Inara beberapa saat lagi, lalu mundur ketika seorang pembeli hendak melewati pintu. Gerakan kecil itu akhirnya membuat mereka benar-benar berjarak. Ia berpamitan dan berjalan menuju Ferrari tanpa meminta memegang tangan atau melihat catatan pemeriksaan.
Inara tetap duduk sampai kendaraan itu meninggalkan depan toko. Sesudahnya ia memanggil pegawai, meminta bantuan mengembalikan kursi ke dekat meja. Ketika duduk kembali di hadapan nota, ia menemukan satu pertanyaan yang tadi ditulisnya untuk Abi.
Ia membaca tulisan sendiri, tetapi untuk beberapa saat belum mampu mengingat persoalan hitungan apa yang hendak ditanyakan.