Inara memindahkan nota ke sisi meja sebelum angin dari pintu toko menerbangkannya. Sebuah penggaris diletakkan di atas tumpukan itu. Ia sudah dua kali salah mencari jumlah karena kertas yang dibacanya tertukar dengan pesanan lain, dan pagi tadi ia telanjur mengatakan kepada Umi bahwa pekerjaan duduk tidak akan membuatnya kerepotan.
'Yang ini bukan punya pelanggan seragam, Dek.' Abi menunjuk sudut nota. 'Itu pesanan kain gorden.'
Inara mengerutkan hidung. 'Aku tahu. Aku sedang menguji kamu.'
'Kalau begitu, saya lulus?'
'Belum. Tulisanmu seperti jejak ayam.'
Abi mengambil nota yang memang ditulisnya sendiri. Setelah diperhatikan, angka tujuh di sana lebih menyerupai satu yang kelelahan. Ia tertawa, lalu menuliskan ulang jumlahnya pada bagian yang masih kosong. Inara menahan senyum sambil menggeser kursinya agar tidak menghalangi pegawai yang membawa gulungan kain.
Jumat itu pasar tetap ramai menjelang waktu salat. Beberapa pembeli mempercepat pilihannya, sementara yang lain menitipkan barang untuk diambil sesudahnya. Kiai Ammar sudah memeriksa pesanan yang harus diselesaikan sore nanti. Beliau kemudian mengingatkan Abi agar segera bersiap, jangan terus menunggu sampai semua orang berhenti meminta bantuan.
Abi menaruh alat tulis di dekat penggaris. 'Mas ke masjid dulu. Kalau perlu sesuatu, panggil pegawai di depan. Jangan mengambil barang di rak sendiri.'
'Aku tidak sedang berniat memanjat rak, Mas.'
'Saya tahu. Tapi kalau ada kotak yang perlu dipindahkan, panggil orang yang bisa membantu saja.'
Inara meliriknya. 'Kalau kotak kosong?'
'Tetap kotak.'
Ia hampir membalas lagi, tetapi Abi sudah tersenyum sambil mengangkat kedua tangan. Perdebatan kecil itu berhenti tanpa ada yang harus dinyatakan menang. Inara merapikan ujung jilbabnya dan menyuruh lelaki itu berangkat sebelum Abah kembali memanggil.
Sesudah Abi pergi bersama Kiai Ammar dan beberapa pegawai, bunyi toko berubah. Tidak sepi, hanya percakapannya berkurang. Seorang pegawai tetap berada di bagian depan, mengawasi barang titipan dan membantu pembeli yang belum selesai. Inara menyelesaikan satu tumpukan nota, lalu berhenti ketika punggungnya mulai terasa tidak nyaman.
Ia menggeser posisi duduk dan mengambil air minum. Pekerjaan itu rupanya tidak sesederhana melihat Abi melakukannya setiap hari. Ada pelanggan yang menyebut warna dengan nama berbeda, ada pesanan yang jumlahnya berubah, dan ada tulisan yang hanya dapat dibaca pembuatnya. Inara mencatat pertanyaan untuk ditanyakan nanti, memilih berhenti menebak.
Ketika mengangkat wajah dari kertas, ia melihat Ferrari hitam berhenti di depan toko.
Gelasnya belum sampai ke meja. Ia menahannya beberapa saat, kemudian menaruhnya perlahan agar air tidak tumpah. Lelaki yang keluar dari kendaraan itu mengenakan kemeja yang tidak dikenalnya. Namun cara lelaki itu berhenti sebelum menutup pintu, seolah sedang mencari keberanian, membuat Inara tidak perlu melihat lebih dekat.
Radit.
Pertemuan terakhir mereka terasa sekaligus jauh dan dekat. Ada masa ketika Inara menunggu nama itu muncul di layar telepon dengan harapan yang membuatnya malu bila diingat sekarang. Ada pula masa ketika ia sengaja memastikan nomor lelaki itu tetap tidak dapat mengganggunya. Kehadirannya di depan etalase membuat kedua ingatan tersebut datang bersamaan.
Radit tidak langsung masuk. Pandangannya mencari Inara, lalu berhenti pada perutnya. Inara menarik ujung jilbab yang sebenarnya sudah cukup rapi. Ia tidak menyukai tatapan itu, seakan tubuhnya menjadi kabar yang dapat diperiksa tanpa bertanya.
Pegawai di depan menoleh. 'Ada tamu, Bu?'
'Saya mengenalnya. Saya bicara sebentar di depan.'
Inara berdiri dengan bertumpu pada meja. Ia menunggu sampai posisi tubuhnya nyaman sebelum berjalan. Di ambang pintu, ia memilih tempat yang masih terlihat dari dalam toko. Radit bergerak mendekat, tetapi berhenti ketika Inara mengangkat telapak tangan.
'Di situ saja.'
Lelaki itu mengangguk. 'Ra.'
'Mau apa?'
'Aku ingin bicara.'
'Kamu bisa bertanya dulu sebelum datang.'
Radit menunduk melihat ujung sepatunya. Sebuah kendaraan lewat di belakangnya, membuat ia bergeser mendekati sisi etalase. Inara tetap berdiri pada tempat yang dipilihnya. Ia tidak berniat memberi ruang lebih dekat hanya karena lelaki itu tampak gugup.
'Aku pulang tiga hari lalu,' kata Radit. 'Ada jeda urusan kuliah. Aku mencari waktu untuk menemuimu, tapi setiap kali sudah dekat sini, aku malah berputar lagi.'
'Itu keputusanmu.'
'Iya. Aku tahu.'
Radit mengusap belakang lehernya. Rambutnya sedikit lebih panjang daripada yang diingat Inara. Ada bayang lelah di wajahnya, tetapi Inara menahan kebiasaan lama mencari alasan untuk memaklumi segala sesuatu yang dilakukan lelaki itu. Ia belum mendengar tujuan kedatangannya.
'Kehamilanmu sudah besar,' ucap Radit akhirnya.
Inara menatapnya. 'Waktu memang berjalan meskipun kamu tidak ada.'
Kalimat itu membuat Radit terdiam. Dari dalam toko terdengar bunyi meteran kain menyentuh meja. Seorang pembeli keluar membawa kantong, melewati keduanya tanpa mengetahui mengapa percakapan mereka tersendat. Inara merasa bersyukur masih ada kehidupan biasa di sekeliling mereka.
'Aku tidak datang untuk bertengkar,' kata Radit.
'Aku juga sedang bekerja. Jadi katakan keperluanmu.'
'Aku banyak memikirkan kalian selama di London.'
'Kalian?'
'Kamu dan bayinya.'
Inara menahan napas sebentar. Dulu ia menginginkan lelaki itu mengucapkan kalimat tersebut. Sekarang, ketika akhirnya didengar, yang muncul justru pertanyaan tentang malam-malam panjang yang sudah dilewatinya tanpa kabar. Ia teringat secangkir minuman di nakas, bunyi air ketika Abi membersihkan sesuatu, dan lelaki yang belajar menyebut kebutuhan istrinya tanpa menjadikannya pertunjukan.
'Aku sudah tahu kamu memilih mempertahankan kehamilan ini,' lanjut Radit. 'Aku tidak sedang pura-pura baru mendengarnya. Tapi melihatmu sekarang membuat semuanya terasa berbeda.'
'Bagiku ini bukan sesuatu yang baru menjadi nyata karena kamu melihatnya.'
Radit mengangguk pelan. Kali ini ia tidak menjawab dengan pembelaan tentang kesibukan atau jauhnya tempat tinggal. Ia memandang ke arah jalan, lalu kembali kepada Inara.
'Aku mulai salat lagi dengan lebih teratur. Aku mencoba memperbaiki banyak hal.'
Inara tidak segera menjawab. Ia tidak ingin menertawakan usaha siapa pun untuk berubah. Namun ia juga tidak ingin diminta menilai seluruh perubahan itu di depan toko, lalu memberikan sesuatu sebagai tanda bahwa penyesalannya diterima.
'Semoga itu baik untukmu,' katanya. 'Tapi kamu belum menjelaskan apa yang kamu minta dariku.'
Pegawai mendekat membawa kursi setelah melihat Inara berganti tumpuan kaki. Ia menanyakan apakah kursinya diperlukan. Inara mengiyakan dan mengucapkan terima kasih. Kursi diletakkan di sisi pintu yang teduh, tidak menutup jalan pembeli. Inara duduk, sementara Radit tetap berdiri cukup jauh.
Dari tempat itu, ia masih dapat melihat penggaris yang menahan nota di meja. Pekerjaannya belum selesai. Abi nanti pasti bertanya nota mana yang perlu dibantu, mungkin juga mengeluhkan tulisan Inara sebagai balasan. Membayangkan percakapan sederhana itu membuatnya lebih mampu menatap Radit tanpa kembali menjadi perempuan yang dahulu hanya menunggu keputusan lelaki tersebut.
'Bicaralah,' kata Inara. 'Aku mendengarkan. Tapi jangan menganggap mendengarkan berarti aku sudah menyetujui permintaanmu.'
Radit menarik napas panjang. Kedua tangannya yang sejak tadi saling menggenggam akhirnya terlepas. Ia mengangkat wajah, tampak hendak menyampaikan kalimat yang lebih sulit daripada seluruh pembuka yang baru saja diucapkannya.