Kamis pagi, Inara memeriksa tasnya sebelum berangkat. Buku catatan kontrol berada bersama kartu pemeriksaan dan botol minum. Abi menunggu di dekat pintu, membawa kunci Alphard yang dipinjam dengan izin. Pekerjaan toko pagi ini sudah diserahkannya sesuai pembicaraan dengan Kiai.
'Kamu membawa bukunya?' tanya Abi.
'Sudah. Tadi malah hampir membawa buku yang lain.'
Inara tersenyum kecil sambil menutup tas. Kehamilannya yang semakin besar membuat beberapa gerakan harus dilakukan lebih pelan. Ia tidak menolak ketika Abi menawarkan membawa tas, tetapi meminta botol minum tetap dekat dengannya selama perjalanan.
Di fasilitas ibu dan anak, mereka mengikuti urutan pendaftaran. Abi tidak menjawab semua pertanyaan petugas atas nama istrinya. Ia menyerahkan kartu ketika diminta, lalu menunggu Inara sendiri menjelaskan keluhan yang hendak dibicarakan kepada dokter Salma.
Ketika dipanggil, Inara memastikan Abi dapat ikut masuk. Dokter menyapanya, membaca catatan sebelumnya, dan menanyakan perubahan yang dirasakan sejak kunjungan terakhir. Inara mengeluarkan daftar pertanyaan yang dibuatnya di rumah, termasuk rasa cepat lelah dan beberapa waktu tidur yang belum teratur.
Abi duduk di sisi yang tidak menghalangi petugas. Ia ingin segera bertanya tentang keadaan bayi, tetapi menunggu sampai Inara selesai berbicara. Ada hal yang hanya dirasakan istrinya dan tidak dapat ia jelaskan hanya dari melihat wajah Inara setiap pulang kerja.
Pemeriksaan dilakukan, kemudian dokter memperlihatkan bagian yang dapat dilihat melalui layar. Abi bergerak sedikit agar pandangannya tidak menutupi Inara. Ia terdiam ketika melihat tangan kecil yang tampak bergerak.
'Dia bergerak,' bisiknya.
Inara menoleh sebentar. 'Dari tadi juga terasa.'
Abi tersenyum malu. Dokter melanjutkan penjelasan berdasarkan pemeriksaan hari itu, tidak menjadikan gerakan pada layar sebagai jaminan bahwa semua kekhawatiran mereka tidak perlu diperhatikan lagi.
Ketika penilaian selesai, dokter Salma membicarakan hasil tekanan darah bersama keluhan Inara. Ia menjelaskan pemantauan dan rencana kontrol yang sesuai untuk keadaan pasiennya. Inara meminta bagian yang belum dipahaminya diulang, lalu mencatat kapan perlu menghubungi fasilitas bila ada perubahan yang mengkhawatirkan.
Abi menanyakan bentuk bantuan yang dapat diberikannya di rumah. Ia tidak meminta daftar yang membuatnya dapat mengawasi setiap gerakan istri. Dokter menyarankan mereka membicarakan kebutuhan istirahat serta pendampingan yang Inara inginkan, dan tetap memakai jalur pelayanan jika ada keluhan, bukan mengganti pemeriksaan dengan dugaan keluarga.
Di akhir percakapan, Inara bertanya mengenai kelas persiapan kelahiran yang dilihatnya di papan informasi. Dokter menilai kembali keadaan hari ini sebelum mengatakan bagian kegiatan yang dapat diikuti dan apa yang perlu disampaikan kepada pendamping kelas.
'Kalau merasa tidak nyaman, bilang kepada petugas. Tidak harus mengikuti gerakan orang lain,' jelasnya.
Inara mengiyakan. Ia memilih mengikuti pertemuan yang tersedia sesudah memastikan tidak ada persoalan yang harus ditangani lebih dahulu. Abi bertanya apakah ia ingin ditemani. Jawabannya ya, disertai permintaan agar ia tidak mengkhawatirkan semua hal sekaligus di depan peserta lain.
Kelas dipandu Bidan Wening. Perempuan itu memperkenalkan diri dan meminta peserta memberitahukan jika memerlukan penyesuaian. Matras disediakan, tetapi tidak semua orang harus duduk dengan posisi yang sama. Inara memilih tempat yang memudahkannya bangkit dan menaruh botol minum dalam jangkauan.
Abi duduk di dekatnya, menunggu instruksi. Ia tampak lebih tegang daripada ketika memeriksa nota pesanan besar di toko. Inara melihat tangannya yang berhenti di udara saat Wening menawarkan latihan pendampingan sederhana pada bahu.
'Bicarakan dahulu apakah pasangannya ingin disentuh,' kata Wening kepada seluruh peserta. 'Kalau tidak, bisa memperhatikan saja atau memilih bentuk bantuan lain.'
Abi menoleh kepada Inara. Ia tidak ingin menjadikan ruangan yang dipenuhi orang lain sebagai alasan istri tidak dapat menolak.
'Mau saya bantu?'
Inara mengangguk. 'Boleh. Pelan saja di bahu.'
Abi menurunkan tangan dengan hati-hati. Ketika satu sisi terasa terlalu kuat, Inara mengatakannya dan Abi segera mengurangi tekanan. Tidak ada tawa yang menjadikan keraguan mereka sesuatu yang memalukan. Wening melewati tempat mereka, menanyakan kenyamanan, lalu melanjutkan mendampingi peserta lain.
Inara mengatur napas mengikuti bagian kegiatan yang dipilihnya. Ia sempat memejamkan mata, menyadari bahwa tangannya dapat bergerak memberi isyarat jika ingin berhenti dan Abi akan mendengarkan. Kehangatan itu tidak menghapus perjanjian yang masih tersimpan, tetapi terasa berbeda ketika ia sendiri yang meminta.
Sesudah kegiatan selesai, mereka tidak buru-buru berdiri. Abi menggeser botol minum dan menunggu Inara mengatakan siap. Ia membantu menyimpan kembali alas yang dipakai sesuai petunjuk petugas, kemudian mengambil tas.
Wening menanyakan apakah ada hal yang perlu dijelaskan sebelum mereka pulang. Inara menyebut bahwa ada bagian yang ingin dipahami lagi pada pertemuan berikutnya. Ia tidak dipaksa menjanjikan ikut semua kelas, dan tidak mendapat jaminan bahwa latihan tadi akan menyelesaikan persoalan tekanan darahnya.
Di luar ruangan, Inara berhenti dekat jendela. Abi mengira ia perlu duduk, tetapi istrinya justru memandang wajahnya dan tersenyum.
'Terima kasih sudah menunggu aku bilang maunya apa.'
Abi merapikan pegangan tas. 'Kalau saya keliru, bilang saja.'
'Aku tadi sudah bilang terlalu kuat.'
'Iya. Makanya saya kurangi.'
Mereka saling memandang, lalu tertawa kecil. Tidak ada kalimat cinta yang harus segera ditambahkan agar percakapan itu berarti. Inara berjalan perlahan ke tempat menunggu, sementara Abi mengambil kendaraan dan kembali menjemputnya pada titik yang disepakati.
Sebelum berangkat, Inara memeriksa kembali tasnya agar kartu dan buku tidak tertinggal di ruang kelas. Abi menyerahkan botol yang tadi dibawanya, lalu memberi tahu letak bukti pemeriksaan yang baru disimpan. Ia tidak mengambil alih catatan Inara. Mereka cukup saling menunjukkan tempat barang, sehingga tidak perlu mencari-cari dengan panik ketika petugas menyebut jadwal berikutnya.
Dalam perjalanan pulang, Inara bertanya apakah esok toko sangat sibuk. Abi mengatakan ada pekerjaan seperti biasa, tetapi ia bisa mengabari ketika memperoleh waktu jeda. Inara ingin datang sebentar jika kondisinya memungkinkan, bukan meminta toko berhenti bekerja karena ia berkunjung.
Abi mengangguk. Ia tidak mengetahui siapa lagi yang akan datang Jumat. Untuk saat ini ia hanya memastikan catatan kontrol tersimpan dan istrinya tidak perlu buru-buru turun dari mobil ketika mereka akhirnya sampai di rumah.