Pada hari keenam puluh sejak akad, Abi menerima pembayaran gaji berikutnya di toko. Ia memeriksa lima juta lima ratus ribu yang masuk sebelum membuka buku pembagian uang. Kebutuhan kali ini tidak sama dengan sebulan sebelumnya.
Dua juta ia sisihkan untuk cicilan Radit yang jatuh pada hari ketujuh puluh satu. Satu juta lima ratus ribu dikirim kepada Maya untuk kebutuhan keluarga. Lima ratus ribu tetap untuk transportasi dan keperluan kerja, lima ratus ribu lain dikembalikan kepada rekan yang telah meminjamkan uang sebelum motor dijual. Satu juta masuk pos tabungan lain.
Abi mengirim bukti pengembalian pinjaman rekannya. Jawaban datang ketika ia sedang membantu mencatat pesanan: uang telah diterima dan pinjaman lima ratus ribu itu selesai. Ia menyimpan pesan tersebut, bukan mencampurnya dengan cicilan tiga puluh juta yang mempunyai penerima berbeda.
Ponselnya kini telah dapat dipakai. Sesudah beberapa hari bergantung pada perangkat pinjaman, Abi membawanya ke tempat perbaikan, menerima penjelasan biaya penggantian bagian yang rusak, lalu menyetujuinya dari pos keperluan pribadinya. Ketika perangkat dikembalikan, ia mencoba panggilan dan pesan di hadapan petugas sebelum membawanya pulang. Ia mengabari Inara serta keluarganya bahwa nomor yang sama sudah dapat dihubungi lagi.
Di rumah Maya, pekerjaan baru tidak langsung menghasilkan banyak uang. Pada masa percobaan di katering, ia belajar jumlah bahan yang harus disiapkan dan waktu datang yang disepakati. Setelah pekerjaan berlanjut, ia memisahkan belanja bahan yang sesekali dititipkan dari upah miliknya. Uang pembelian bahan dikembalikan dengan nota, bukan dihitung sebagai pendapatan.
Husna membantu mencatat ketika ibunya menerima pembayaran. Dalam bulan yang pekerjaan serta waktunya mencukupi, uang bersih yang dapat dibawa pulang sekitar satu juta. Maya tidak lagi mengatakan semua pesanan pasti memberi hasil yang sama. Jika hari kerja berkurang, ia menyesuaikan belanja, bukan mendatangi Jarwo untuk menutup selisih.
Hari ketujuh puluh satu, Abi mentransfer dua juta kepada Radit. Ia menunggu jawaban penerimaan, menyimpan bukti, dan menulis sisa tujuh belas juta pada buku. Pembayaran sebelas juta sebelumnya tetap tercatat sebagai transaksi pertama, bukan uang yang kembali dihitung setiap kali ia membuka halaman.
Radit telah kembali ke London dua pekan sesudah Husna membatalkan taaruf. Abi tidak selalu mendapat percakapan panjang darinya, tetapi penerimaan dana harus jelas. Ketika ada jeda waktu antara pengiriman dan jawaban, Abi menunggu konfirmasi saldo sebelum menandai penerimaan.
Sementara itu, pesanan yang dibicarakan Kiai dan Alvan berlanjut setelah pertemuan mereka di toko pada Jumat yang dijanjikan. Contoh kain yang dipilih saat itu kini menjadi bahan untuk jumlah yang benar-benar diminta. Abi membantu memeriksa sebelum pengantaran; jika satu warna tidak tersedia, ia menghubungi Kiai dahulu dan tidak mengganti sendiri hanya agar nota terlihat selesai.
Inara mulai mengetahui jam-jam ketika suaminya paling sibuk. Ia tidak lagi menganggap keterlambatan pulang selalu berarti Abi melupakan permintaannya. Kadang ia mengirim pesan sederhana menanyakan apakah perlu menyisakan makan. Kadang ia masih tersinggung karena pesan itu baru dijawab setelah pekerjaan selesai.
Pada salah satu jadwal telepon dengan Khurin di pesantren, Inara mengabarkan penjualan motor Abi dan bantuan Radit menutup tagihan baru Maya. Ia menceritakan sebatas yang telah didengarnya dari suaminya, termasuk bahwa Abi mengembalikan biaya itu secara bertahap. Khurin mendengar, tidak berpura-pura menyaksikan transaksi, dan tidak memperoleh semua catatan rekening hanya karena mengetahui rahasia pernikahan mereka.
'Kamu sendiri bagaimana, Mbak?' tanyanya.
Inara memandangi pintu kamar sebelum menjawab. 'Masih belajar bicara tanpa marah dulu.'
Khurin tidak menjadikan jawaban itu alasan menghubungi Abi diam-diam. Percakapan berakhir ketika waktunya kembali pada kegiatan pesantren. Inara meletakkan ponsel, lalu mengirim pesan kepada Abi agar tidak lupa makan di sela pekerjaan.
Pada hari kesembilan puluh, kemudian hari keseratus dua puluh, seratus lima puluh, dan seratus delapan puluh, gaji lima juta lima ratus ribu kembali diterima. Setiap penerimaan dicatat dengan pembagian yang sama untuk empat kali itu: dua juta disisihkan bagi cicilan berikutnya, dua juta kebutuhan keluarga termasuk pemulihan cadangan pendidikan secara bertahap, lima ratus ribu transportasi serta keperluan pribadi, dan satu juta tabungan lain.
Tidak seluruh pergerakan uang berlangsung tepat pada hari gajian. Cicilan dibayarkan pada hari kesembilan puluh sembilan, seratus dua puluh tujuh, seratus lima puluh lima, dan seratus delapan puluh tiga. Masing-masing dua juta dan mendapat konfirmasi penerimaan. Abi menyimpan enam bukti bersama: sebelas juta pertama dan lima pembayaran dua juta. Jumlahnya dua puluh satu juta; sisa sembilan juta masih tertulis. Pembayaran berikut dua juta pada hari kedua ratus sebelas tetap dijadwalkan.
Tabungan lain dari lima kali gaji itu terkumpul lima juta. Abi tidak memasukkannya sebagai cicilan yang sudah dibayar atau menyebut mahar Inara sebagai uangnya sendiri. Ketika Husna memberitahukan kebutuhan pendidikan, ia menggunakan bagian keluarga yang telah disisihkan, membicarakan waktunya, lalu mencatat yang benar-benar keluar.
Rabu, hari keseratus sembilan puluh dua, Inara duduk di teras dengan secangkir susu yang sudah hangat. Dua puluh satu pekan tiga hari sejak kunjungan ke rumah Maya telah mengubah banyak kebiasaan kecil. Pernikahan mereka telah melewati dua puluh tujuh pekan, sedangkan taksiran kehamilannya pada catatan kontrol sekitar tiga puluh dua pekan.
Umi membawa pisang rebus dan duduk di dekatnya. 'Abi masih menyelesaikan pesanan sekolah bersama Abah. Mungkin agak lambat.'
'Inara tidak menanyakan,' jawab Inara.
Umi tersenyum tanpa membantah. Inara kembali memandang gerbang. Ia belum mengetahui bahwa Radit telah tiba kembali dari London pada Selasa, sehari sebelumnya. Yang sedang ditunggunya sekarang adalah lelaki yang biasanya pulang membawa cerita kain, nota yang perlu dibetulkan, atau pertanyaan apakah ia sudah makan.
Ketika Alphard akhirnya terlihat, Inara berdiri dan masuk untuk mengambil piring. Abi sempat melihatnya dari halaman. Ia tidak bertanya mengapa istrinya menunggu di teras. Ia hanya memberi salam, lalu mengabarkan bahwa izin untuk mendampingi pemeriksaan esok sudah disampaikan kepada Kiai. Inara menaruh piring di meja dan menanyakan apakah ia sempat makan siang. Abi menjawab sambil mencuci tangan, kemudian duduk ketika istrinya menyisakan tempat di dekatnya.