Minggu pagi, sesudah meminta izin Kiai meminjam Alphard, Abi mengantar Inara ke rumah Maya. Mereka datang setelah sarapan, sesuai kabar yang telah disampaikan malam sebelumnya. Inara membawa tas kecil, tanpa menyiapkan cerita yang harus diucapkannya sampai selesai sebelum orang lain dapat menjawab.
Maya membuka pintu. Ia tampak hendak meraih tangan Inara, lalu berhenti seolah teringat belum tentu menantunya menginginkan sambutan itu. Inara justru melangkah mendekat dan memberi salam. Sesudah menjawab, Maya mempersilakannya masuk.
Husna berada di ruang tamu. Wajahnya masih lelah, tetapi ia sudah dapat mengajak kakak iparnya duduk. Abi mengambil kursi di sisi lain, tidak menempatkan diri di tengah setiap percakapan.
'Aku tahu kalian mendengar banyak hal kemarin,' kata Inara. 'Aku belum sanggup mengulang semuanya. Tapi aku ingin bertemu, bukan membiarkan kalian menebak bagaimana perasaanku.'
Maya meminta maaf karena mendengar dari dapur. Inara mengangguk, lalu mengatakan ia masih takut pada kemungkinan orang lain mengetahui. Ia tidak menyuruh Maya menyangkal apa yang telah didengarnya, hanya meminta rincian pribadi itu tidak disebarkan.
Husna memandang Inara. 'Husna tidak ingin memaksa Mbak cerita. Husna hanya ingin keputusan tentang hidup Husna sendiri tidak diatur tanpa Husna tahu.'
'Iya. Kamu berhak menentukan.'
Keduanya terdiam. Inara ingin mengatakan maaf lebih dari sekali, tetapi tidak ingin ucapan itu menjadi tuntutan agar Husna segera menghiburnya. Ia menunggu sampai adik iparnya melanjutkan sendiri.
'Husna mau membatalkan taaruf dengan Radit.'
Maya menatap putrinya, lalu mengangguk. Abi tidak menyarankan menunggu sampai perasaan berubah. Inara pun tidak meminta Husna menerima atau menolak demi dirinya.
'Itu keputusanmu,' ucap Inara. 'Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa kepadaku.'
Husna mengambil ponsel sesudah teh di meja mulai dingin. Ia meminta yang lain memberinya waktu, kemudian menelepon Ratih dari tempat yang sedikit berjauhan. Maya tetap duduk, meskipun tangannya tampak ingin meraih bahu anaknya.
Ratih menjawab dengan suara hangat. Husna mengucapkan salam, menanyakan apakah waktunya sesuai untuk bicara, lalu mengatakan keputusan itu tanpa pengantar yang mengaburkan maksudnya.
'Husna ingin menghentikan proses taaruf, Tante. Husna belum ingin melanjutkan hubungan ini.'
Ratih terdiam. Ia bertanya apakah ada yang membuat Husna tidak nyaman dan apakah putranya sudah mengetahui keputusan tersebut.
'Husna dan Mas Radit sudah bicara kemarin. Ada hal yang membuat Husna perlu memilih berhenti. Husna tidak ingin membuka urusan pribadi orang lain melalui telepon ini, tapi keputusan Husna sudah dipikirkan.'
Ratih menarik napas. Ia tidak mendapat rincian yang diharapkan, tetapi Husna tidak harus menyerahkan semuanya untuk boleh menolak.
'Tante sedih mendengarnya. Tapi Tante tidak ingin kamu merasa harus melanjutkan karena kami sudah saling mengenal.'
Husna mengucapkan terima kasih. Setelah menutup telepon, ia duduk kembali dengan mata basah. Maya memeluk setelah putrinya mengangguk ketika ditanya. Inara menunggu sampai Husna mengulurkan tangan kepadanya, baru ia mendekat dan menerima pelukan singkat itu.
Mereka tidak melanjutkan kunjungan dengan mengulang pengakuan Radit kata demi kata. Maya menyuguhkan makanan ringan dan menyebut rencana menanyakan pekerjaan katering. Abi mendengarkan, lalu memastikan ibunya mengetahui bahwa pembicaraan uang berikutnya akan dicatat terpisah dari keputusan Husna.
Maya menunjukkan nomor tempat katering yang telah ditanyakannya kepada tetangga. Ia ingin menelepon untuk memastikan apakah bantuan masih dibutuhkan. Husna mendampingi tanpa menjawab atas nama ibunya. Ketika telepon tersambung, Maya menyebut pengalaman menyiapkan makanan rumahan dan menanyakan jam kerja serta bentuk pembayaran yang ditawarkan.
Ia belum langsung diterima sebagai pekerja tetap. Pemilik meminta datang untuk melihat pekerjaan yang tersedia dan mencoba sesuai kesepakatan. Maya mencatat waktu itu sendiri. Inara melihat perubahan kecil pada sikap ibu mertuanya: kali ini ia bertanya sebelum menganggap ada penghasilan, dan tidak menutupi rasa gugup dengan cerita bahwa semua akan segera mudah. Abi meminta ibunya mengabari hasil percobaan nanti, bukan menjanjikan modal baru yang belum dimilikinya.
Menjelang siang, Inara meminta pamit. Ia berterima kasih karena telah diterima meskipun tidak semua perasaan dapat dibereskan dalam satu kunjungan. Abi mengantar istrinya pulang dengan Alphard dan mengembalikan kunci setelah sampai. Sore itu berlalu tanpa kedatangan kedua atau telepon yang memaksa Husna menarik keputusannya.
Senin berikutnya, hari keempat puluh tiga sejak akad, Abi memakai bantuan telepon untuk menghubungi Radit sebelum menuju bank. Ia mengatakan amplop yang dikembalikan sudah diambil dan ingin menyepakati pengembalian agar uang tidak terus dikirim lalu dipulangkan.
'Saya ingin mengembalikan sebelas juta dahulu,' katanya. 'Sisanya dicicil dua juta setiap empat pekan. Tetapi saya perlu tahu kamu bersedia menerimanya.'
Radit tidak langsung menjawab. Abi menunggu, tidak menyebut Husna sebagai bagian dari kesepakatan itu. Setelah beberapa saat, Radit menyetujui pengembalian dan mengirim rekening yang dipilihnya. Nama penerima dikonfirmasi sebelum Abi menyiapkan transaksi.
Abi membawa uang sebelas juta dari tempat penyimpanannya, menyetorkannya di bank, lalu mentransfer ke rekening yang telah disepakati. Ia menyimpan bukti dan menelepon kembali. Kali ini Radit benar-benar memeriksa dana masuk dan mengakui penerimaan.
'Sudah masuk. Sebelas juta,' katanya.
Abi menuliskan tanggal serta jumlah pada buku. Dari tiga puluh juta, sembilan belas juta masih perlu dikembalikan. Mereka menetapkan pembayaran dua juta berikutnya pada hari ketujuh puluh satu, kemudian setiap dua puluh delapan hari. Lima tanggal awal dicatat sampai hari keseratus delapan puluh tiga, dengan pembayaran sesudahnya pada hari kedua ratus sebelas tetap menjadi kelanjutan jadwal, bukan dihapus karena lima kali cicilan selesai.
Jika ada perubahan, keduanya harus membicarakannya dan mencatat persetujuan baru. Abi mengulang jadwal itu agar tidak ada perbedaan antara catatan miliknya dan Radit. Penerimaan uang ini tidak disertai permintaan Husna membuka kembali hubungan yang telah dihentikannya.
Sesudah keluar dari bank, Abi melihat tasnya yang kini tidak berisi amplop tebal. Bukti transaksi masuk ke map, sedangkan sebelas juta itu telah benar-benar berpindah. Untuk pertama kalinya, ia dapat mencatat pengembalian yang diterima, bukan uang yang hanya dibawa berkeliling. Sisa sembilan belas juta tetap ditulis lengkap pada halaman yang sama.