Inara duduk cukup lama tanpa menyentuh ponselnya. Abi tetap di kursi, menunggu sampai ia kembali mengangkat wajah. Suara jam terdengar lebih jelas setelah mereka berhenti meninggikan suara.
'Aku tadi bilang soal seratus juta,' ucap Inara.
Abi mengangguk. Ia tidak berpura-pura kalimat itu tidak menyakitinya.
'Aku marah karena merasa tidak punya kesempatan menentukan apa yang diketahui orang lain. Lalu aku memakai uang untuk membuatmu takut.'
Ia berhenti, menelan ludah sebelum melanjutkan. Mengakui tindakan sendiri terasa berbeda dari menjelaskan mengapa ia melakukannya.
'Aku tarik tuntutan yang tadi. Juga ucapan supaya kita langsung berpisah malam ini. Aku tidak ingin membuat keputusan dengan cara itu.'
Abi mengangkat wajah. 'Terima kasih sudah mengatakan dengan jelas.'
'Itu tidak berarti aku tidak marah lagi.'
'Saya mengerti.'
Inara memegang gelas, tetapi tidak minum. Ia memandang buku yang tadi dibacanya dan sekarang terbuka pada halaman yang tidak lagi diingat isinya. Ada banyak hal yang ingin dikembalikannya ke keadaan sebelum makan siang, namun ia tahu dua orang tidak dapat dibuat tidak mengetahui hanya karena ia meminta.
'Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Bi?'
Abi menatap tangannya sendiri. Ia telah berkali-kali menjawab kebutuhan orang lain, tetapi pertanyaan ini tidak meminta jumlah uang atau ke mana ia harus mengantar.
'Saya ingin tetap di sini malam ini tanpa harus mengatakan saya sanggup membayar sesuatu yang tidak saya punya. Saya ingin membantu, tapi saya juga ingin bisa bicara ketika tidak sanggup.'
Inara mengangguk perlahan. Ia tidak menyela dengan kalimat bahwa semua sudah diatur di awal. Kesepakatan itu memang telah dibuat, tetapi sekarang ia sedang mendengar orang yang hidup di dalamnya.
'Saya juga ingin Husna dapat memilih dengan pengetahuan yang cukup,' lanjut Abi. 'Cara saya membuka kepada dia tadi menyakiti Non. Saya tidak mau menutupinya. Tapi saya tidak bisa kembali mengatakan dia seharusnya tidak bertanya.'
'Aku tidak meminta dia berhenti bertanya.'
'Tadi kita sama-sama marah. Saya perlu memastikan itu.'
Inara menunduk. Ia memikirkan Husna yang pernah datang dengan wajah malu-malu, bukan seorang perempuan yang memilih terlibat dalam masa lalu kakak iparnya. Ia tidak ingin gadis itu menjadi lawan hanya karena sekarang mengetahui sesuatu yang menakutkannya.
'Aku tidak ingin Husna terluka lebih jauh,' katanya. 'Tapi aku juga belum siap semua orang tahu.'
'Kalau ada yang perlu disampaikan kepada orang lain, kita bicarakan dulu sebisa mungkin. Kalau keadaan mendesak, jangan ditutup sampai orang yang butuh pertolongan tidak mendapatkannya.'
Inara mendengar kalimat itu sampai selesai. Ia belum dapat menjanjikan tidak akan takut atau marah lagi, tetapi dapat berusaha tidak menjadikan ketakutannya alasan untuk mengancam.
'Mulai sekarang kita usahakan begitu,' jawabnya. 'Jangan bilang kita sudah selalu melakukannya. Tadi saja kita belum.'
Abi mengangguk. Ia merasakan sesuatu melonggar di dadanya, bukan karena semuanya telah berakhir, melainkan karena ia tidak lagi perlu segera memilih antara diam dan pergi malam ini.
Inara menanyakan apakah dokumen mereka akan diubah sekarang. Abi mengatakan ia tidak ingin membaca atau menandatangani sesuatu ketika mereka baru selesai bertengkar. Inara menyetujui. Salinan yang ada tidak diambil dan tidak dirobek. Untuk urusan tertulis, mereka akan membicarakannya ketika cukup tenang dan dapat meminta bantuan pihak yang mengerti.
'Aku ingin kita tetap menjalani hari-hari di sini dulu,' kata Inara. 'Bukan karena aku takut harus menjelaskan kepada Abah saja. Aku memang belum ingin kamu pergi.'
Abi memandangnya lebih lama. Ia tidak mengubah kalimat itu menjadi pengakuan cinta yang belum diucapkan Inara.
'Saya memilih tetap di sini juga. Tapi kalau ada yang tidak bisa saya jalankan, saya ingin mengatakannya.'
'Iya.'
Mereka terdiam. Percakapan itu terasa lebih melelahkan daripada pertengkarannya, karena setiap kalimat perlu dipilih tanpa mengandalkan ancaman atau kebiasaan menyetujui. Inara menyandarkan tubuh pada kursi dan memejamkan mata sebentar.
Abi menanyakan apakah ia ingin beristirahat atau masih perlu ditemani bicara. Inara membuka mata dan mengatakan cukup dahulu. Ia belum makan banyak malam ini, tetapi tidak ingin makanan dibawa ke kamar dalam keadaan meja masih penuh buku dan ponsel.
'Kita turun sebentar saja,' katanya.
Di dapur, mereka mengambil makanan yang masih tersedia. Tidak ada penjelasan kepada Umi yang sudah bersiap tidur tentang mengapa wajah Inara tampak sembap. Ia mengatakan baru lelah, lalu duduk sementara Abi menghangatkan lauk sesuai yang dimintanya.
Makan itu berlangsung singkat. Inara merapikan piringnya sendiri dan meminta Abi tidak perlu mengambil alih semua hal hanya karena mereka baru bertengkar. Abi menyerahkan lap ketika diminta, kemudian membawa gelas kosong ke tempat cuci.
Sebelum kembali ke kamar, Inara berhenti di dekat tangga. 'Besok aku ingin ke rumah Ibu.'
Abi menoleh. 'Non yakin?'
'Aku ingin bicara baik-baik. Tapi jangan bilang mereka harus menyambutku dengan penjelasan panjang. Aku juga belum tahu apa yang bisa kukatakan.'
'Saya tanyakan apakah mereka bersedia menerima. Kalau Non berubah pikiran, bilang.'
Inara mengangguk. Ia tidak meminta suaminya mengatur keputusan Husna, tidak pula merancang alasan untuk menahan taaruf agar semuanya tampak baik. Ia hanya ingin mencoba bertemu tanpa kembali membawa kemarahan yang membuatnya menuntut seratus juta beberapa saat lalu.
Abi memakai telepon rumah untuk menanyakan rencana kunjungan itu. Maya masih terjaga dan mengatakan mereka bersedia menerima. Ia tidak memanggil Husna untuk memberikan jawaban malam-malam; cukup memastikan putrinya tidak mempunyai rencana keluar esok pagi. Sesudah telepon selesai, Abi mengabarkan persetujuan tersebut kepada Inara.
'Kita berangkat setelah sarapan,' katanya. 'Saya minta izin meminjam mobil Abah besok sebelum pergi.'
Inara mengiyakan. Ia tidak perlu mempersiapkan pidato malam ini atau terus menelepon sampai semua orang mengatakan sudah memaafkan. Untuk sekarang, tempat dan waktu yang disetujui cukup menjadi awal yang dapat dihadapi esok.
Malam itu mereka kembali ke kamar dan menyiapkan tempat tidur masing-masing. Tidak ada pelukan yang dipaksakan menjadi tanda damai. Ketika lampu utama dimatikan, Inara mengucapkan selamat malam lebih dahulu. Abi menjawab, lalu membiarkan pilihan yang baru mereka katakan bertahan tanpa ditambahi janji bahwa esok tidak akan ada lagi kesulitan.