Inara menutup buku ketika Abi mengatakan ia perlu bicara. Pintu kamar sudah tertutup dan kegiatan rumah mulai berkurang. Ia melihat tas suaminya tersimpan di dekat meja, tetapi tidak tahu mengapa lelaki itu belum berganti pakaian untuk beristirahat.
'Apa yang terjadi?'
Abi duduk pada kursi, menjaga suaranya cukup rendah. Ia memberitahukan bahwa Radit datang makan siang di rumah Maya, mengembalikan amplop sebelas juta, lalu mengaku kepada Husna mengenai kehamilan Inara dan dirinya sebagai ayah biologis.
Wajah Inara berubah sebelum penjelasan itu selesai.
'Radit mengatakan itu kepada Husna?'
'Iya. Saya tidak ada waktu dia mengatakan. Husna menelepon toko, lalu saya datang.'
'Kamu sudah tahu dia mau bicara?'
Abi menerangkan kerusakan ponsel pada Jumat. Undangan grup telah mendapat jawaban sebelum perangkat mati. SMS pribadi Radit baru diterimanya siang tadi setelah meminjam perangkat pegawai dan memasukkan SIM dengan izin.
'Kalau sudah tahu dari pesan itu, kenapa tidak menelepon aku?'
Abi menunduk. 'Saya langsung menuju rumah. Husna sedang menangis dan meminta jawaban. Saya seharusnya mengabari Non juga sebelum semuanya berlanjut.'
Inara berdiri. Ia berjalan menuju meja, mengambil ponsel, lalu meletakkannya kembali sebelum membuka nomor siapa pun. Jari-jarinya gemetar. Ia tidak ingin menelepon Radit dalam keadaan seperti ini, tetapi diam terasa seperti membiarkan keputusan tentang hidupnya terus dibuat di tempat lain.
'Apa saja yang kamu katakan kepada Husna?'
Abi menjawab tanpa memotong bagian yang membuatnya takut. Ia menyebut bahwa dirinya baru mengetahui kehamilan pada malam pertama, bahwa ada kesepakatan sebelum akad, dan bahwa uang yang diterimanya dipakai untuk utang lama serta mahar.
Inara menatapnya. 'Kamu ceritakan perjanjian kita?'
'Saya menjawab ketika dia menanyakan bagaimana saya bisa menikah tanpa tahu.'
'Jadi sekarang semuanya tahu?'
'Husna tahu dari saya. Ibu mendengar dari dapur sejak Radit bicara. Kami baru mengetahui Ibu mendengar ketika beliau keluar sesudah percakapan kami.'
Inara menggeleng, sekali, kemudian lebih keras. Ia merasa ruangan menyempit. Maya dan Husna, dua orang yang selama ini dipandangnya sebagai keluarga suaminya, sekarang mengetahui sesuatu yang belum sanggup ia katakan kepada ayah dan ibunya sendiri.
'Kamu berjanji menjaga rahasia.'
'Saya tahu.'
'Lalu apa artinya tahu kalau kamu tetap mengatakan?'
Abi tidak menjawab dengan tuduhan bahwa semua ini hanya akibat pilihan Inara. Ia memahami ada haknya untuk marah, sekalipun ia sendiri juga melihat bagaimana Husna terluka karena tidak mengetahui kenyataan.
'Saya tidak ingin terus memberi jawaban separuh kepada Husna. Tapi saya tidak akan mengatakan cara saya tadi tidak menyakiti Non.'
Inara memandang tas Abi. Di dalamnya uang pengembalian masih berada, sementara uang yang dahulu menjadi awal pernikahan mereka sekarang kembali muncul dalam kepalanya sebagai sesuatu yang bisa dituntut.
'Kalau begitu kembalikan uangku,' katanya tiba-tiba. 'Seratus juta. Kamu sudah melanggar.'
Abi memandangnya, wajahnya pucat. Ia tidak mempunyai jumlah itu. Bahkan motor yang selama ini dipakainya baru terjual, dan sebelas juta di dalam tas belum menyelesaikan hubungan keuangan dengan Radit.
'Non tahu saya tidak punya seratus juta sekarang.'
'Itu bukan urusanku. Kamu menyetujui perjanjian.'
Inara mendengar keras suaranya sendiri, tetapi kemarahan membuatnya terus berbicara. Ia menyebut perpisahan dan meminta agar semuanya diselesaikan saja jika Abi tidak dapat lagi menjaga apa yang dulu dimintanya.
Tidak ada jawaban cerai dari Abi. Ia tetap duduk, lalu meletakkan kedua tangan pada lutut agar tidak menggapai orang yang sedang marah kepadanya.
'Kalau Non ingin membicarakan perpisahan, kita perlu bicara dengan sungguh-sungguh,' ucapnya. 'Saya tidak mau menjawab dengan kata yang keluar hanya karena sedang saling menyakiti.'
'Aku tidak main-main.'
'Saya mendengar. Karena itu saya minta kita berhenti sebentar sebelum menambah ancaman lain.'
Inara hendak membalas, tetapi napasnya tersendat oleh tangis yang belum keluar. Ia berbalik ke jendela. Abi tidak mendekati atau memegangnya. Ia mengambil segelas air dan meletakkannya di meja yang dapat dijangkau, lalu mundur kembali ke kursi.
Beberapa menit berlalu. Di luar kamar terdengar langkah lewat, kemudian menjauh tanpa mengetuk. Inara mengusap pipinya dengan punggung tangan dan menatap bayangannya pada kaca yang gelap.
'Apa Ibumu akan menghubungi Abah?' tanyanya akhirnya.
'Belum menghubungi siapa pun. Ibu meminta maaf karena mendengar. Saya bilang perlu bicara kepada Non lebih dahulu sebelum beliau menelepon.'
'Husna?'
'Belum siap bicara lagi hari ini. Dia sedang memikirkan keputusannya tentang Radit.'
Inara mengambil air, meneguk sedikit, lalu meletakkan gelas dengan hati-hati. Berita itu tetap menyakitkan. Namun ia mulai dapat membedakan antara sesuatu yang telah diketahui dua orang dan ketakutan bahwa seluruh rumah sekarang sedang membicarakannya.
Abi menunduk, membiarkan ia berpikir. Ia tidak menyebut kesediaan ibu serta adiknya menjaga privasi sebagai jaminan bahwa tidak ada persoalan lagi. Ia juga tidak mengambil dokumen atau menandatangani tuntutan uang dalam keadaan seperti ini.
Inara menanyakan lagi apakah Maya berada di ruang tamu ketika Abi mulai menjelaskan. Ia membutuhkan urutan yang pasti, bukan sekadar kata bahwa ibunya mendengar. Abi mengatakan Maya masih di dapur, lalu keluar sebelum asar dan mengaku telah mendengar kedua percakapan. Ia tidak mendatangkan ibu serta adiknya untuk duduk bersama membacakan kesepakatan pasangan.
'Meskipun begitu, kamu tetap mengatakan kepada Husna,' ujar Inara.
'Iya. Itu yang saya lakukan. Saya tidak menyalahkan dapur atau pintu rumah supaya bagian saya hilang.'
Inara memandangnya. Ia masih marah, tetapi jawaban yang tidak mencari tempat bersembunyi membuatnya berhenti mengulang pertanyaan yang sama. Ia meletakkan ponsel di meja dengan layar menghadap ke bawah, belum bersedia berbicara dengan orang lain sebelum percakapan di kamar selesai.
'Aku tidak tahu harus bagaimana kalau Abah tahu,' kata Inara.
'Saya juga belum tahu jawabannya. Tapi kita belum perlu memutuskan semua malam ini dengan saling mengancam.'
Inara kembali duduk, kali ini tidak jauh dari meja. Ia belum meminta maaf dan Abi belum menganggap kemarahan itu selesai. Di antara mereka ada percakapan yang masih perlu dilanjutkan setelah suara keduanya tidak lagi meninggi.