Sesudah menunaikan asar, Abi kembali ke rumah Maya dengan langkah lebih lambat. Udara di luar membuatnya menyadari betapa lama ia duduk dalam ruang tamu tanpa memikirkan apa yang harus dikatakan kepada Inara malam nanti.
Husna telah memindahkan piring-piring bekas makan ke dapur. Ia tidak memaksakan diri mencuci semuanya sekaligus. Maya merendam wadah yang masih berminyak, lalu duduk kembali ketika melihat Abi masuk.
'Jangan pulang tanpa makan, Nak,' katanya.
Abi baru teringat makan siang yang terlewat. Ia menerima satu piring kecil dan duduk di sisi meja yang sudah dibersihkan. Opor masih tersedia. Ia makan perlahan sementara Husna menata kembali gelas yang tadi hampir mengenai buku kuliahnya.
Tidak ada yang membuka pembicaraan tentang Radit selama beberapa menit. Kesunyian kali ini berbeda dari ketika semua orang mencoba menyimpan sesuatu. Mereka dapat mengerjakan hal yang ada di depan mata tanpa mengira setiap bunyi sendok harus diisi penjelasan.
Setelah Abi selesai, Maya menanyakan apakah pekerjaannya di toko akan terganggu karena pulang lebih awal. Abi mengatakan telah mendapat izin dan menyerahkan bagian pekerjaan yang belum diperiksa. Ia perlu kembali mengikuti jam kerja berikutnya, bukan menganggap hubungan keluarga dengan Kiai memberinya kesempatan meninggalkan tugas sesuka hati.
Husna mengambil daftar pengeluaran rumah yang selama ini hanya disimpan di kepalanya. Ia menuliskan belanja yang sudah dibayar dengan uang kiriman Abi, lalu menyebut mana kebutuhan yang belum mendesak. Empat juta yang semula dicadangkan untuk pendidikan kini berada dalam sebelas juta yang telah disiapkan, sehingga mereka perlu mengetahui kapan pembayaran berikutnya benar-benar diperlukan.
'Husna kabari tanggalnya kalau sudah ada pemberitahuan,' katanya. 'Bukan berarti semuanya harus dibayar sore ini.'
Abi mengangguk. Ia merasa lebih terbantu oleh tanggal dan kebutuhan yang jelas daripada ucapan bahwa adiknya tidak membutuhkan apa pun.
Maya kemudian mengatakan akan menanyakan pekerjaan katering pada hari yang memungkinkan. Ia bersedia mendengar jam serta upahnya sebelum menerima, agar tidak mengulang kebiasaan melihat uang yang mungkin didapat sebagai uang yang sudah dimiliki.
'Kalau Ibu boleh coba dulu, Ibu coba. Kalau tidak sanggup, Ibu bicara,' ujarnya.
'Jangan memaksakan lalu diam kalau sakit,' jawab Husna.
Maya tersenyum kecil. Ia tidak menanggapi dengan janji akan melakukan semua pekerjaan rumah sekaligus. Setelah percakapan berat sejak siang, kesediaan menerima batas menjadi sesuatu yang lebih mungkin mereka jalankan.
Husna lalu memandang amplop di ujung meja. Ia mengambilnya dengan dua tangan dan menyodorkannya kepada Abi.
'Ini yang tadi dikembalikan Radit. Mas bawa, jangan sampai tertinggal.'
Abi menggeser tas ke pangkuan. Ia membuka pembungkus, memeriksa kembali jumlah sebelas juta, lalu mencocokkan catatan yang ikut dikembalikan. Maya dan Husna menunggu sampai uang selesai dihitung sebelum membantu melipat pembungkus agar tidak robek.
'Sudah sesuai,' kata Abi.
Ia menyimpan amplop ke bagian dalam tas dan menutup ritsleting. Bukti kurir dipisahkan dari uang. Ia menulis satu catatan pendek pada buku: dikirim Jumat, dikembalikan Sabtu, sekarang dibawa pulang. Belum ada pembayaran yang disepakati diterima Radit.
'Apa Mas tetap akan mengirim lagi?' tanya Husna.
'Saya perlu bertanya dulu bagaimana dia bersedia menerima. Mengirim tanpa kesepakatan ternyata hanya membuat uangnya bolak-balik.'
Husna mengangguk. Ia tidak memintanya mengejar Radit sore ini. Ia sendiri belum sanggup mendengar suara lelaki itu lagi setelah apa yang terungkap.
Abi memasukkan buku dan ponsel rusak ke tas. Ia memandang pintu dapur, teringat bagaimana ibunya berdiri di sana sambil mendengar percakapan yang tidak ditujukan kepadanya. Ia tidak dapat menghapus pengetahuan Maya sekarang. Yang dapat dilakukannya adalah memberi tahu Inara dengan urutan yang benar, bukan menunggu istrinya mendengar dari orang lain.
'Saya akan bicara dengan Inara malam ini,' katanya.
Maya mengangguk. 'Kalau dia marah karena Ibu mendengar, bilang Ibu yang minta maaf. Jangan kamu menutupi dengan cerita lain.'
Abi menatap ibunya. Ia tidak menjanjikan Inara pasti menerima atau akan segera berkunjung. Ia hanya mengatakan akan menyampaikan apa yang terjadi, termasuk bahwa Maya belum menghubungi siapa pun.
Husna berdiri dan membawa gelas ke dapur. Ketika kembali, ia menanyakan apakah ada nomor lain yang bisa dipakai untuk kabar mendesak karena ponsel kakaknya masih tidak berfungsi. Abi menuliskan nomor telepon rumah Kiai pada kertas, lalu meminta adiknya memakai hanya jika memang perlu.
'Kalau Ibu kenapa-kenapa, jangan menunggu ponsel saya bisa menyala,' katanya.
Sebelum berangkat, Abi membantu mengangkat panci yang sudah dingin ke tempat penyimpanan. Maya menyebut makanan yang masih dapat dihangatkan esok dan meminta Husna tidak membeli lauk tambahan malam ini. Adiknya mengiyakan sambil menutup wadah. Rumah itu belum bebas dari semua persoalan, tetapi setidaknya makan yang telah disiapkan tidak dibuang hanya karena siangnya berakhir buruk. Abi mencuci tangan, mengeringkannya, lalu kembali memeriksa apakah dokumen penjualan motor telah disimpan bersama barang pribadinya.
Menjelang magrib, Abi meminjam telepon Husna dengan izin untuk memesan ojek. Sesudah kendaraan terkonfirmasi, ia mengembalikan perangkat dan menunggu di teras. Maya memeriksa apakah tasnya sudah tertutup, bukan lagi mencoba memasukkan barang tambahan yang membuat bawaan semakin penuh.
Husna mengantar sampai pagar. Ia belum tampak pulih, tetapi sudah dapat mengatakan akan beristirahat daripada terus memandangi percakapan dengan Radit. Abi mengiyakan dan meminta ia memberi waktu kepada dirinya sendiri.
Di perjalanan pulang, tas berisi sebelas juta berada di depan tubuh Abi. Lampu-lampu mulai menyala sepanjang jalan. Ia menghitung dalam kepala bukan lagi berapa uang yang kurang, melainkan urutan kejadian yang harus disampaikan kepada istrinya: Radit mengaku, Husna bertanya, Maya mendengar, dan ia datang menjelaskan.
Rumah Kiai masih ramai oleh kegiatan sore ketika ia tiba. Abi memberi salam, mengembalikan diri pada rutinitas yang biasa dilakukannya, lalu menyimpan tas di tempat aman. Ia tidak segera membuka percakapan di depan Umi atau Kiai.
Sesudah isya, ketika Inara berada di kamar dan pintu telah ditutup, Abi memanggilnya. Ia menunggu sampai istrinya menoleh sebelum mengatakan bahwa ada sesuatu dari rumah ibunya yang perlu dibicarakan malam ini.