Maya keluar dari dapur dengan langkah yang membuat Husna segera berdiri. Ia meletakkan kain lap pada sandaran kursi, lalu memandang kedua anaknya. Air mata sudah mengalir sebelum ia sempat mengucapkan nama Abi.
'Ibu dengar,' katanya.
Abi mengangkat wajah. Husna masih berdiri di sisi meja, memegang buku tugas yang hendak disimpan. Untuk sesaat keduanya tidak menanyakan apa yang dimaksud, seolah masing-masing berharap ada percakapan lain yang didengar ibunya.
'Dari kapan, Bu?' tanya Abi akhirnya.
'Dari Radit bicara kepada Husna. Lalu waktu kamu datang.'
Husna meletakkan bukunya. Ia mendekati Maya dan menuntunnya duduk sebelum ibunya kembali menangis. Abi menggeser kursi, memberi ruang agar mereka tidak berdiri saling menghalangi di dekat pintu dapur.
'Ibu tidak sengaja mendengar awalnya,' ujar Maya. 'Sesudah itu Ibu tidak sanggup keluar.'
Ia menatap Abi, kemudian meraih tangan anak itu. Jemarinya bergetar ketika menyentuh telapak yang selama ini lebih sering mengangkat barang daripada meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.
'Kenapa Ibu tidak tahu kamu menghadapi semua ini?'
Abi tidak menarik tangannya. 'Saya juga tidak tahu bagaimana menjelaskan waktu itu.'
Maya menangis lebih keras. Husna duduk di sisinya, menahan keinginan untuk kembali bertanya mengapa ibunya mengambil utang baru setelah tagihan lama dibayar begitu mahal. Pertanyaan itu tetap ada, tetapi Maya perlu bisa bernapas dan berbicara sebelum mereka menambah suara di ruangan tersebut.
Abi mengambil tisu dan air. Ia menunggu ibunya minum beberapa teguk, lalu mengatakan bahwa yang didengarnya bukan alasan untuk menyalahkan Inara atas keputusan Maya meminjam lagi.
'Tidak, Nak. Ibu tidak menyalahkan dia.'
Maya menggeleng berulang kali. Ia mengaku merasa malu ketika mengetahui asal uang dahulu. Selama ini ia hanya mendengar utang lama telah ditutup, kemudian melihat pernikahan yang tampak mengubah hidup anaknya. Ia tidak mengetahui syarat pribadi di baliknya.
'Ibu kira kamu sudah lebih mudah. Terus Ibu malah ingin terlihat tidak kalah dari orang lain.'
Husna menatap lantai. 'Kami juga tidak tahu Ibu mengambil pinjaman baru.'
'Ibu tahu. Itu salah Ibu.'
Maya melepaskan tangan Abi sebentar untuk meraih tempat perhiasan di meja kecil. Ia membuka tutupnya, menunjukkan barang yang tadi sempat dipertimbangkan untuk dijual. Kali ini ia tidak mengatakan harga pembelian sebagai ukuran apa yang harus diperoleh kembali.
'Kalau dijual, mungkin tidak sebanyak yang Ibu keluarkan. Tapi Ibu mau berhenti menyembunyikannya.'
Abi meminta ia menaruhnya kembali dahulu. Mereka akan memeriksa bukti pembelian dan pilihan yang tersedia ketika pikiran lebih tenang. Ia tidak ingin ibunya menyerahkan barang kepada orang pertama yang menawarkan uang, lalu kembali menghadapi persoalan karena tidak memahami apa yang ditandatangani.
Husna mengambil kertas kosong dari buku. Ia menulis barang yang masih ada dan meletakkannya di dekat Maya agar ibunya dapat membetulkan jika ada yang tertinggal. Abi menambahkan bahwa setiap hasil penjualan nanti perlu dipisahkan dari uang belanja harian.
'Tapi jangan semua pertolongan hanya berupa menjual barang, Bu,' katanya. 'Ibu bersedia mencari kegiatan yang menghasilkan juga? Sesuai yang sanggup Ibu kerjakan.'
Maya mengangguk. Ia menyebut pernah mendengar tempat katering dekat rumah membutuhkan bantuan menyiapkan pesanan. Sebelumnya ia malu menanyakan karena merasa sudah terlalu tua untuk mulai membantu orang lain.
'Tanya dahulu,' kata Husna. 'Tidak harus langsung diterima hari ini. Jamnya juga perlu jelas.'
Maya mengiyakan. Kertas di meja mulai berisi langkah yang dapat dilakukan, bukan hanya jumlah utang yang tidak dapat mereka bayar sekaligus. Tidak ada kesimpulan bahwa bekerja beberapa hari akan langsung menghapus tiga puluh juta yang dikeluarkan Radit.
Maya lalu memandang putrinya. 'Tentang Radit, Ibu tidak akan menyuruhmu menerima karena dia membayar Jarwo.'
Husna menahan napas. Kalimat yang ingin didengarnya itu ternyata membuatnya menangis lagi.
'Ibu dulu sudah mendorong Husna, Bu.'
'Iya. Ibu mendengar kamu bilang belum siap, tapi Ibu lebih memikirkan kehidupan yang Ibu bayangkan bisa kamu dapat.'
Husna menutup mata ketika Maya memeluknya. Ia tidak segera mengatakan semua sudah selesai. Ia membiarkan ibunya memeluk, lalu mengatakan bahwa kuliah dan keputusan menikah tetap ingin ditentukannya dengan waktu yang cukup.
Abi duduk di samping mereka, merasa lega sekaligus sedih. Ia mengenali pelukan ibunya, pelukan yang pernah diterimanya ketika utang lama selesai dan hidup seolah membuka jalan baru. Ia tidak dapat menjadikan satu pelukan hari ini sebagai jaminan bahwa tidak akan ada kesalahan berikutnya. Namun ibunya sedang mengakui kesalahan itu tanpa menyuruh orang lain menghilangkan akibatnya.
Maya akhirnya meraih bahunya. Abi mendekat, dan untuk beberapa saat ketiganya hanya duduk berdekatan. Di meja, amplop uang tetap tidak disentuh. Kertas daftar barang berada di sebelah map pelunasan Jarwo.
'Ibu minta maaf,' bisik Maya.
Abi menjawab bahwa ia mendengarnya. Ia belum mempunyai rencana yang menyelesaikan semua masalah, tetapi ia meminta ibunya tetap mengatakan keadaan yang sebenarnya meskipun takut membuat anak-anak kecewa.
Maya mengangguk. Husna mengambil tisu baru, kemudian bangkit untuk membuka jendela sedikit. Cahaya sore masuk ke ruang tamu yang sejak makan siang terasa terlalu sesak.
Maya menanyakan apakah ia perlu menelepon Inara sekarang. Abi mengatakan keputusan itu sebaiknya dibicarakan dahulu dengan istrinya, bukan dilakukan semata-mata karena ibunya ingin cepat meminta maaf. Maya dapat menunggu sampai Inara bersedia mendengar. Husna juga mengatakan ia belum siap bertemu sore ini.
'Ibu tidak akan menghubungi tanpa kabar dari kalian,' jawab Maya.
Abi berterima kasih. Ia tidak meminta ibunya menyatakan semua hal yang didengar sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Ia hanya meminta agar rincian pribadi itu tidak menjadi cerita ketika tetangga menanyakan mengapa mereka menangis. Maya menyimpan kertas daftar barang ke dalam map, lalu menaruhnya di tempat yang dapat ditemukan kembali oleh anak-anaknya.
Ketika suara azan asar terdengar dari kejauhan, Abi melihat waktu. Percakapan mereka belum mengakhiri masalah rumah tangganya, tetapi ia tidak lagi harus menebak berapa banyak yang diketahui ibunya. Ia meminta izin menunaikan salat, lalu akan kembali sebelum pulang untuk memastikan uang dan dokumen tidak tertinggal di tengah barang bekas makan.