'Sembilan bulan sejak akad,' jawab Abi.
Husna memegang gelas yang baru diambilnya. Ia tidak langsung minum. Angka itu terdengar singkat ketika disebut sebagai lama pekerjaan, tetapi tidak ketika dipakai untuk membayangkan akhir sebuah rumah tangga yang telah dihadirinya sendiri.
'Dari sekarang?'
'Bukan. Sejak kami menikah. Waktunya sudah berjalan sebelum hari ini.'
'Lalu Mas akan pergi?'
'Itu rencana yang dulu ditulis. Sesudah sembilan bulan, ada permintaan untuk mengurus perpisahan. Bukan berarti saya boleh mengatakan kami otomatis bercerai hanya karena tanggalnya lewat.'
Husna memandang kakaknya dengan mata merah. Ia ingin marah kepada sesuatu yang dapat disebut jelas, tetapi kini setiap jawaban membuka pertanyaan yang lain. Ada utang ibunya, pilihan kakaknya, rahasia kakak iparnya, dan lelaki yang baru saja membuatnya berharap.
'Mas tidak merasa ini terlalu berat?'
'Saya merasa berat.'
'Kenapa tetap bilang kepada orang lain seolah semuanya baik-baik saja?'
Abi mengusap lututnya. 'Saya belum tahu bagaimana membuka hal itu tanpa mengambil hak Inara menentukan apa yang ingin dia ceritakan. Tapi kepada kamu, diam saya juga punya akibat.'
Husna meletakkan gelas. 'Husna tidak ingin dijadikan alasan Mas menyalahkan Mbak Inara.'
'Saya tidak meminta itu.'
'Karena tadi Radit bicara seperti dia baru sekarang sadar banyak hal. Husna juga tidak bisa memahami semuanya dalam satu siang.'
Abi mengangguk. Ia tidak mendesak adiknya memilih pihak atau menilai pernikahannya. Ia hanya menjawab hal yang memang telah ditanyakan dan mengakui batas pengetahuannya ketika ada bagian yang menyangkut pengalaman pribadi Inara.
Husna bertanya apakah perjanjian itu memuat kewajiban Abi membayar semua bantuan kembali. Abi menjelaskan adanya ancaman pengembalian uang jika rahasia terbuka, tetapi tidak menyebut ancaman tersebut sebagai putusan yang pasti berlaku. Ia sendiri belum menyelesaikan pembicaraan tentang batas dan pilihannya dengan Inara.
'Saya perlu membicarakannya dengan dia,' katanya. 'Bukan meminta kamu yang membereskan.'
Husna mengangguk pelan. Tangisnya belum berhenti, tetapi ia mulai dapat mengikuti jawaban tanpa hanya membayangkan kakaknya terus-menerus menanggung semua orang.
'Kalau Mas sedih, Husna boleh membantu. Tapi jangan lagi meminta Husna menebak dari peringatan yang setengah-setengah.'
'Iya.'
'Dan kalau Husna nanti menolak Radit, jangan merasa harus mengganti keputusan Husna dengan pengorbanan lain.'
Abi menatapnya. 'Kamu tidak perlu menanggung apa yang saya pilih.'
Di dapur, Maya menutup mata. Kalimat itu mengenai bagian yang selama ini ingin dihindarinya. Anak-anaknya telah lama menyesuaikan kebutuhan dengan uang yang tersedia, sementara ia kembali mengambil pinjaman untuk membuktikan kepada orang lain bahwa keluarganya tidak selalu kekurangan.
Husna melirik ke arah dapur, tetapi tidak melihat ibunya dari tempat duduknya. Ia mengira Maya sedang merapikan bekas makan. Ia kembali menatap Abi dan merendahkan suara.
'Apa Husna harus berjanji tidak bercerita kepada siapa pun?'
Abi merasakan keinginan untuk langsung mengiyakan. Janji itu tampak seperti jalan tercepat menjaga rumah Inara tetap tenang. Namun ia baru mendengar adiknya mengatakan tidak ingin lagi dipaksa memahami sesuatu sambil menyembunyikan sakitnya sendiri.
'Jangan sebarkan rincian kehamilan Inara kepada orang yang tidak berkepentingan,' jawabnya. 'Tapi kalau kamu butuh bantuan atau merasa tidak aman, kamu boleh mencari pendamping. Saya tidak ingin kamu sendirian karena takut melanggar janji.'
'Kalau Tante Ratih bertanya kenapa Husna tidak mau?'
'Katakan keputusanmu. Kamu tidak wajib membuka keadaan kesehatan orang lain untuk boleh menolak.'
Husna menunduk. Ia memikirkan kemungkinan menelepon Ratih, mendengar suara perempuan yang selama ini ramah kepadanya, lalu mengatakan sesuatu yang pasti mengecewakan. Ia belum siap melakukannya sekarang. Namun mengetahui bahwa penolakan itu tidak harus disertai pembuktian panjang membuat dadanya sedikit lebih lapang.
Abi bertanya apakah ia ingin bicara dengan Inara. Husna mengatakan belum tahu. Ia tidak ingin bertemu sambil membawa kemarahan yang belum dapat dipisahkan dari rasa sakit kepada Radit. Abi menerima jawaban tersebut tanpa menentukan kapan ia harus memaafkan.
'Khurin sudah tahu?' tanya Husna sesudah terdiam lama.
'Sudah lebih dahulu mengetahui sebagian yang tadi kita bicarakan. Ini bukan hal yang hanya saya simpan sendiri.'
Husna mengangguk. Ia tidak mengenal semua percakapan di rumah Kiai dan tidak lagi ingin mengira dapat menyimpulkan keadaan hanya dari apa yang pernah dilihat ketika bertamu.
Matahari bergeser di luar jendela. Abi mendengar bunyi sesuatu diletakkan di dapur, tetapi tidak menoleh lama. Ia mengambil gelasnya sendiri dan minum, membiarkan jeda di antara mereka tidak selalu harus diisi jawaban yang menenangkan.
Husna berdiri untuk mengambil tisu baru. Saat melewati ujung meja, ia berhenti di dekat amplop uang yang dititipkan Radit. Ia bertanya apakah kakaknya masih ingin mengembalikan uang tersebut.
'Ingin membicarakannya sampai ada kesepakatan,' jawab Abi. 'Tapi uang itu tidak bisa menjadi syarat kamu menerima siapa pun.'
'Sudah Husna katakan tadi kepadanya.'
Abi mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak tiba, ia mengetahui sesuatu yang telah dilakukan adiknya tanpa menunggu dirinya datang mengatur keadaan. Ia berterima kasih karena Husna telah mengatakan batasnya sendiri.
Husna kembali duduk, lalu mengambil buku tugas dari tas kuliahnya. Ia tidak membukanya untuk belajar. Ia menyelipkan beberapa lembar yang mulai terlipat agar tidak semakin rusak ketika tas dipindahkan dari dekat pintu. Abi membantu mengangkat gelas yang hampir mengenai ujung buku. Keduanya melakukan pekerjaan kecil itu tanpa membicarakan Radit selama beberapa menit.
'Sore ini Husna tidak sanggup mengerjakan apa-apa,' katanya kemudian.
'Tidak harus sekarang.'
'Besok mungkin Husna baru bisa memikirkan yang lain.'
Abi mengiyakan. Adiknya tidak memerlukan petuah panjang tentang menerima keadaan. Ia membutuhkan satu sore yang tidak segera diambil alih tuntutan untuk kuat. Abi menaruh kembali gelas di tempat yang aman dan membiarkan buku tugas tetap tertutup.
Dari dapur terdengar kursi bergeser. Maya berdiri, memegang kain lap yang sudah tidak dipakainya membersihkan apa pun. Ia memandang pintu menuju ruang tamu, lalu menarik napas dengan susah payah. Ada bagian dari hari ini yang tidak lagi dapat ditanggungnya dengan berpura-pura tidak mendengar.